Kolom
Agama dan Otak Manusia
Oleh Luthfi Assyaukanie
Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama. Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.
Dua Model Kebebasan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Dalam pola keberagamaan yang dewasa semacam ini, seseorang didorong untuk bertanggung-jawab secara moral atas segala tindakan yang ia lakukan. Jika yang bersangkutan memutuskan untuk menaati ajaran agama yang ia percayai, maka ketaatannya itu bukanlah disebabkan kerana adanya “polisi moral” yang memaksanya untuk taat. Sebaliknya, ia taat karena ia tahu bahwa ketaatannya itu membawa maslahat yang besar, baik bagi dirinya atau masyarakat secara lebih luas. Ia taat karena dia sadar bahwa dengan itulah dia menjadi manusia yang bermakna.
Dalam pola keberagamaan yang dewasa itu, seseorang dajarkan bahwa pada akhirnya, kesalehan atau ketidaksalehan adalah perkara yang menyangkut hubungan antara dirinya dengan Tuhan. Tak ada orang lain yang berhak mencampuri urusan yang sangat personal semacam ini.
Kemenangan Kecil bagi Demokrasi di Malaysia
Oleh Andy Budiman
Yang pasti, angin perubahan memang kian menguat. Beberapa saat setelah vonis bebas, @anwaribrahim berkicau di Twitter “In the coming Election, voice of the people will be heard and this corrupt government will be toppled from its pedestals of power.”
Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab
Oleh Husein Ja’far Al Hadar*
“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”
Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif
Oleh Jamal Ma’mur Asmani*
Demi masa depan Islam yang gemilang, potensi radikalisme dan terorisme Islam harus dihilangkan. Sistem kaderisasi kelompok ini harus diputus agar tidak menjalar ke tempat yang lain. kader-kader muda Islam harus diselamatkan dari virus mematikan ini. Mereka justru harus dididik sebagai kader yang dinamis, progresif, dan produktif dalam mengembangkan Islam sebagai agama cinta damai, cinta kemajuan, dan cinta kasih sayang. Ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan.
Refleksi Akhir Tahun Tahun Intoleransi dan Lilin yang Tetap Menyala
Oleh Ulil Abshar Abdalla
“Dalam aransemen baru yang menekankan dimensi desentraslisasi dan penghormatan atas HAM ini, kita menyaksikan kegamangan pemerintah, baik pusat atau daerah, dalam menghadapi sejumlah kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras yang memakai “baju agama”. Selain itu, tak mustahil bahwa di dalam birokrasi pemerintah sendiri, ada elemen-elemen tertentu yang boleh jadi menaruh simpati kepada kelompok-kelompok intoleran semacam ini.”
Musim Semi di Arab, Musim Dingin di Israel
Oleh Ulil Abshar Abdalla
“Saat ini, sikap skeptis-konservatif dalam melihat fenomena demokratisasi di Timteng tampaknya sudah ditinggalkan oleh banyak pemerintahan di Barat. Dalam pandangan mereka, demokratisasi di Timteng untuk sesaat memang akan memfasilitasi serta menguntungkan partai-partai Islamis. Tetapi, arena demokrasi yang bebas, pada gilirannya, akan memaksa partai-partai itu bersikap pragmatis dan realistis, seperti ditunjukkan oleh, misalnya, partai AKP di Turki. Mengutip pendapat Dubes Palestina di Jakarta, Fariz N. Mehdawi, dalam sebuah percakapan pribadi, pengalaman berkuasa dan menyelesaikan masalah-masalah kongkrit justru akan memaksa partai-partai Islamis meninggalkan retorika mereka yang radikal dan ekstrem.”
Politik Islam Berada di Titik Nadir
Oleh Jamal Ma’mur Asmani*
Dengan pergulatan intelektual dan aksi sosial yang panjang dan melelahkan inilah, Islam akan tampil sebagai pioneer perubahan untuk mencapai keagungan Islam dan umatnya, Izzul Islam wal muslim dengan mengedepankan paradigma pemikiran dan gerakan Islam yang moderat, progresif, toleran, inklusif dan pluralis. Mereka aktif mengembangkan pendidikan, ekonomi, peradaban, intelektual, militer, informasi, teknologi dan lainnya untuk mencapai masa kejayaan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Jika umat Islam negeri ini mampu mewujudkan idealisme ini, maka jargon Islam rahmatan lil alamin, sebagai penebar kasih sayang kepada seluruh penduduk alam, tidak hanya untuk umat Islam saja, bisa menjadi kenyataan, karena dengan kebangkitan Indonesia menjadi negara maju, seluruh elemen bangsa, termasuk mereka yang nonislam bisa merasakan manfaatnya. Dan dari sini Indonesia pelan namun pasti akan muncul sebagai pemimpin baru dunia Islam.
Nestapa Kerukunan Beragama di Mesir
Oleh Hasibullah Satrawi*
“Kini persoalan kerukunan umat beragama di Mesir menjadi masalah yang tak kalah serius dari persoalan pelengseran Mubarak. Setidak-tidaknya karena konflik yang ada terus menimbulkan korban jiwa. Bila kaum pemuda revolusi rela mengorbankan jiwa raga untuk menggulingkan Mubarak, pengorbanan yang sama kini harus dilakukan untuk menjamin masa depan kerukunan umat beragama di sana. Termasuk bila kaum pemuda revolusi harus menjadikan para perusak kerukunan yang ada sebagai “Mubarak-Mubarak” baru yang harus digulingkan dan dibawa ke pengadilan. “
Revolusi Post-Islamis di Dunia Islam
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Secara umum, gejala post-Islamisme ini adalah angin segar bagi dunia Islam, sebab ia menandakan bahwa persepsi tentang pertentangan antara Islam dan demokrasi bisa ditepiskan sama sekali. Demokrasi dan Islam, dalam gejala post-Islamisme ini, bisa bergandengan tangan secara damai, layaknya dua pasangan yang sedang pacaran. Pertanyaan yang umum kita dengar di kalangan masyarakat Barat, baik akademis atau non-akademis, Is Islam compatible with democracy?, menjadi kurang relevan lagi.