Kolom
Alexander Aan Bukan Tan Malaka
Oleh Ardi Winangun*
“Namun lain dari Tan Malaka, sebagaimana diberitakan di Majalah Tempo, 15 April 2012, ia (Aan) tidak mampu menemukan jalan tengah di antara paham yang diyakini dengan agama yang dianut. Meski ia sudah ke sana-sini mencari jawaban tentang agama, lewat berbagai pengajian, ia selalu gagal. Sehingga ia menyimpulkan, saya mati-matian mendamaikan realitas dengan agama, tapi tak bisa.”
Demokrasi dan Problem Konsensus
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Keadaan di mana kita hidup sekarang ini agak mendekati gambaran yang dibayangkan mazhab konflik. Makin besar pengaruh politik identitas saat ini, makin besar pula kemungkinan munculnya sejumlah konflik, baik yang terang-terangan atau tersembunyi. Dan tampaknya, konflik yang dimotivasikan oleh identitas yang sempit itu juga kian susah didamaikan. Saya khawatir, situasi yang akan terjadi di masa mendatang sebagai akibat dari merebaknya politik identitas ini ialah bukannya tercapainya konsensus rasional seperti yang dibambarkan oleh teori demokrasi liberal-pluralis, tetapi kondisi yang mirip-mirip hegemoni – yakni kelompok tertentu memaksakan “identitas” tertentu kepada kelompok lain yang berbeda.
Berharap Pada Nahdhatul Wathan
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Nahdhatul Wathan (NW) tak banyak menjadi obyek penelitian. Riset tentang ormas keagamaan Islam di Indonesia lebih deras pada Nahdhatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. Ada berbagai faktor yang bisa ditengarahi dari minimnya riset-riset tentang Nahdhatul Wathan. Pertama, organisasi keagamaan dan kemasyarakatan yang didirikan TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid ini tak digerakkan dari pusat ibukota, Jakarta, melainkan dari daerah terpencil, yaitu Nusa Tenggara Barat (NTB). Dengan ini, gerak dan aktivitas NW sulit terpantau media-media nasional, baik cetak maupun elektronik. Minimnya pemberitaan tentang NW ini menyebabkan pengetahuan publik tentang NW menjadi terbatas. Tak banyak peneliti yang tahu perihal Nahdhatul Wathan.
Tafsir Ayat La Ikraha Fi al-Din
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Tidak banyak manfaatnya memaksa seseorang memeluk suatu agama, kalau tidak diikuti kepercayaan dan keyakinan dari orang tersebut. Agama yang dipaksakan, menurut Jawdat Sa’id, sama dengan cinta yang dipaksakan. “Tidak ada agama dengan paksaan, sebagaimana tidak ada cinta dengan paksaan”. Memeluk suatu agama sejatinya harus diikuti dengan keyakinan yang mendalam terhadap ajaran yang ditetapkan agama itu. Bahkan, setiap orang punya hak memilih antara beragama atau tidak beragama. Nabi pernah menawari salah seorang budak perempuannya, Rayhanah binti Zaid, untuk masuk Islam. Namun, Rayhanah lebih memilih Yahudi sebagai agamanya. Nabi tak marah pada Rayhanah hingga akhirnya ia sendiri yang memutuskan masuk Islam. Ini sebuah teladan. Sebagai majikan pun Nabi tak memaksa budaknya mengikuti agama yang dianutnya.
Hukum Nikah Beda Agama
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
Memilih pasangan hidup makin tak mungkin dibatasi sekat geografis, etnis, warna kulit, bahkan agama. Jika dahulu orang-orang di Indonesia menikah dengan orang yang paling jauh beda kabupaten, sekarang sudah kerap dengan orang beda provinsi bahkan negara. Dahulu, biasanya orang menikah dengan yang satu etnis, kini menikah dengan yang beda etnis sudah jamak terjadi. Orang Jawa tak masalah menikah dengan orang Minang. Orang Sunda pun tak pantang menikah dengan orang Bugis. Tak sedikit orang berkulit sawo matang menikah dengan yang berkulit putih, juga hitam. Orang Arab menikah dengan yang non-Arab. Bule Amerika menikah dengan perempuan Batak.
Agama dan Otak Manusia
Oleh Luthfi Assyaukanie
Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama. Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.
Dua Model Kebebasan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Dalam pola keberagamaan yang dewasa semacam ini, seseorang didorong untuk bertanggung-jawab secara moral atas segala tindakan yang ia lakukan. Jika yang bersangkutan memutuskan untuk menaati ajaran agama yang ia percayai, maka ketaatannya itu bukanlah disebabkan kerana adanya “polisi moral” yang memaksanya untuk taat. Sebaliknya, ia taat karena ia tahu bahwa ketaatannya itu membawa maslahat yang besar, baik bagi dirinya atau masyarakat secara lebih luas. Ia taat karena dia sadar bahwa dengan itulah dia menjadi manusia yang bermakna.
Dalam pola keberagamaan yang dewasa itu, seseorang dajarkan bahwa pada akhirnya, kesalehan atau ketidaksalehan adalah perkara yang menyangkut hubungan antara dirinya dengan Tuhan. Tak ada orang lain yang berhak mencampuri urusan yang sangat personal semacam ini.
Kemenangan Kecil bagi Demokrasi di Malaysia
Oleh Andy Budiman
Yang pasti, angin perubahan memang kian menguat. Beberapa saat setelah vonis bebas, @anwaribrahim berkicau di Twitter “In the coming Election, voice of the people will be heard and this corrupt government will be toppled from its pedestals of power.”
Merespon Keragaman dalam Bingkai Madzhab
Oleh Husein Ja’far Al Hadar*
“...sebagaimana dikemukakan Dr. Muhammad at-Tijani as-Samawi (seorang ulama Syiah jebolan Universitas Sorbonne, Prancis) bahwa sejatinya al-Syi’ah hum Ahlussunnah (Syiah [Ja’fari] itu sejatinya juga pengikut sunah Nabi alias Ahlussunnah). Maka kita dari Sunni pun harus juga menegaskan bahwa Ahlussunnah hum al-Syi’ah (Ahlussunnah itu sejatinya juga pengikut Khalifah Ali Bin Abi Thalib, alias Syi’ah).”
Islam Radikal dan Peran Sentral Kelompok Moderat-Progresif
Oleh Jamal Ma’mur Asmani*
Demi masa depan Islam yang gemilang, potensi radikalisme dan terorisme Islam harus dihilangkan. Sistem kaderisasi kelompok ini harus diputus agar tidak menjalar ke tempat yang lain. kader-kader muda Islam harus diselamatkan dari virus mematikan ini. Mereka justru harus dididik sebagai kader yang dinamis, progresif, dan produktif dalam mengembangkan Islam sebagai agama cinta damai, cinta kemajuan, dan cinta kasih sayang. Ada beberapa langkah yang harus dilaksanakan.