Kolom

Agama dan Sikap Terhadap Waria

Oleh Abdul Muiz Ghazali*

“Kita membutuhkan tafsir keagamaan yang lebih menghargai dan memanusiakan kaum waria. Sebagaimana manusia lain, waria juga punya hak untuk mendapatkan perlindungan dan tidak mendapatkan penindasan. Tak seluruh waria berperilaku seksual seperti dituduhkan sebagian kalangan. Banyak di antara para waria yang ahli ibadah, bekerja produktif, berpendidikan tinggi, bermoral baik, dan sebagainya.”

12/09/2011 | Kolom, | Komentar (4) #

Lebaran dan Toleransi Internal

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

...toleransi internal yang dipertunjukkan ormas-ormas Islam terhadap sikap Muhammadiyah yang berbeda dalam lebaran tahun ini bisa juga dikembangkan lebih luas lagi sehingga mencakup hal-hal yang lebih mendasar, seperti soal keyakinan. Dalam pandangan saya, toleransi dalam soal akidah bukanlah hal yang tercela, bahkan sangat baik. Toleransi bukanlah mengakui kebenaran pendapat atau keyakinan golongan yang lain; sekedar memberinya hak untuk “exist”.

03/09/2011 | Kolom, | Komentar (44) #

Mennonite Amerika dan Spirit Pelayanan Kemanusiaan

Oleh Sumanto Al Qurtuby*

“Apa yang dilakukan kaum Mennonite Amerika setidaknya menunjukkan bahwa tidak semua warga Amerika itu pro-perang dan anti-perdamaian, dan tidak semua umat Kristen itu berhati jahat yang selalu memusuhi kaum Muslim seperti yang banyak digambarkan secara keliru oleh sejumlah ormas “Islam ekstrim” di Tanah Air.”

22/08/2011 | Kolom, | Komentar (0) #

Pesantren dan Isu Gender

Oleh Lies Marcoes Natsir

“Bagi saya, dibanding seluruh program yang pernah masuk ke pesantren, tidak ada yang seberhasil program penyadaran keadilan gender ini. Kehadiran mereka membantu penyelesaian problem yang dihadapi kelompok feminis nonagama dalam menyosialisasikan isu gender. Saat itu penolakan terhadap kelompok feminis besar sekali, dan kelompok feminis tidak berdaya menghadapi argumen agama. Program ini juga menolong pemerintahan Abdurrahman Wahid untuk mengarusutamaan gender. Pada 2000 Wahid mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) agar gender menjadi arus utama dalam seluruh rancangan pembangunan –dari perencanaan sampai pelaksanaan. Jadi minimal ada pedoman dan alokasi bujet.
Perkembangan ini pantas membuat Islam Indonesia dikategorikan sebagai Islam paling progresif di seluruh negara Islam dalam hal percakapan soal gender. Ketika negara lain masih menyatakan tabu dengan gagasan ini, kita telah memamahnya dalam berbagai kajian keagamaan.”

15/08/2011 | Kolom, | Komentar (0) #

Jejak Arkeologis Puasa dan Ramadan dalam Al-Qur’an dan Sejarah

Oleh Himawan Pridityo*

Dalam gradasi hukuman, berpuasa adalah sebuah batas terakhir yang menentukan apakah seseorang masih setia dengan institusi sosial tempat ia hidup ataukah tidak. Yang menarik, apabila kita hilangkan atribusi hukuman pada tindak berpuasa, kita justru melihat sebuah perubahan, dari tindak hukuman terendah, menjadi tindak kesetiaan tertinggi. Pada agama-agama kuno misalnya, ada tradisi bagi para calon pendeta untuk berpuasa sebelum naik peringkat menjadi pendeta utama. Dalam hal ini, puasa dianggap sebagai sebuah media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin karena posisi puasa yang istimewa itulah, ayat tentang doa (Q. 2:186) diselipkan ditengah-tengah ayat tentang pewajiban puasa di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan “Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya”. Puasa adalah tindak beribadah yang sangat istimewa.

08/08/2011 | Kolom, | Komentar (7) #

Kenapa Dunia Islam Terbelakang?

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Ada tiga penyakit mental yang dianggap oleh Arsalan sebagai “biang kerok” kemunduran dunia Islam: pesimisme (tasya’um), rendah diri (al-istikhdza’) dan cepat putus asa (inqitha’ al-amal). Pada penutup bukunya, Arsalan mengutip ayat yang dalam pandangannya merupakan kunci kebangkitan dunia Islam, yakni Al-Ankabut (29):69. Bunyi ayat itu: wa ‘l-ladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana – mereka yang berjuang (jihad) di jalanKu, Aku akan menunjukkan mereka jalan-jalan menuju Aku.

08/08/2011 | Kolom, | Komentar (27) #

Tentang Suara-Suara yang Tak “Memuaskan” Sepanjang Bulan Puasa

Oleh Natalia Laskowska*

Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.

05/08/2011 | Kolom, | Komentar (18) #

Ekumenisme dan Masyarakat Terbuka

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Kontak dan saling pengaruh antar peradaban memang sama sekali tak terhindarkan. Hampir mustahil membayangkan suatu peradaban yang “murni” secara total, serta terisolasi sama sekali dari pengaruh-pengaruh di sekitarnya. Memang, dalam setiap peradaban/kebudayaan selalu kita jumpai kaum purist, mereka yang menghendaki kemurnian total bagi peradaban tertentu, serta hendak membersihkan elemen-elemen asing yang “najis” yang akan mengotorinya.

Tetapi, yang menghuni peradaban, bukan hanya kaum puritan saja. Ada orang-orang lain yang, saya kira, jauh lebih banyak jumlahnya, yang ingin saya sebut sebagai kaum ekumenis – mereka yang hendak membangun kontak dan komunikasi antar peradaban dan kebudayaan (hiwar al-hadarat, istilah mantan presiden Iran Muhammad Khatami dulu).

01/08/2011 | Kolom, | Komentar (6) #

Inklusivitas Beragama, Klaim Keselamatan, dan Millat Ibrahim Tafsir atas Ayat 2:120

Oleh Himawan Pridityo*

Barangkali tidak ada ayat Quran yang begitu populer dalam persoalan hubungan antar umat beragama melebihi ayat 2:120. Ayat ini, yang sering kita dengar di setiap khutbah yang berhubungan dengan penjajahan atas bangsa Palestina, hingga konflik-konflik horizontal antara Islam-Kristen di tanah air, seakan menjadi argumen utama yang direproduksi terus menerus untuk membenarkan kepercayaan sekelompok orang bahwa umat beragama lain selalu menaruh rasa benci, dan curiga kepada umat Muslim dan senantiasa mempengaruhi mereka untuk meninggalkan ajaran Islam yang luhur dan lurus.

25/07/2011 | Kolom, | Komentar (22) #

Tiga Soal Pasca Pidato Pembaruan Moqsith

Oleh Alamsyah M. Dja'far*

Meski bukan sesuatu yang benar-benar baru, isi Pidato Pembaruan Abdul Moqsith Ghazali di Taman Ismail Marzuki (TIM), 8 Juli lalu, sesungguhnya memandu publik muslim Indonesia untuk kembali membicarakan bangunan dasar pemikiran dan doktrin keislaman yang sudah terdengar sayup-sayup. Bagi pegiat pembaruan pemikiran keagamaan dan para aktivis toleransi dan perdamaian, apa yang diketengahkan Moqsith amat berharga dan strategis menjadi “manual” dalam memahami situasi keagamaan yang tengah berkembang dewasa ini.

23/07/2011 | Kolom, | Komentar (6) #
Halaman: 3 dari 46  < 1 2 3 4 5 >  Last ›