Kolom
Wacana Non-Muslim Masuk Surga
Oleh Abdul Moqsith Ghazali
“Jika demikian pandangan al-Qur’an dan diperkuat tafsir para ulama, maka terang bahwa surga tak dimonopoli komunitas suatu agama. Ia adalah milik publik yang bisa dihuni umat agama mana saja yang beriman dan beramal saleh. Umat Islam yang tak melakukan amal saleh tak secara otomatis masuk surga bahkan bisa masuk ke dalam neraka. Sebaliknya, orang non-Islam yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga. Nabi Muhammad bersabda, “saya melihat seorang pendeta berada di dalam surga sedang memakai baju sutera karena ia beriman”. Yang dimaksud dengan pendeta ini adalah Waraqah ibn Naufal.”
Fikih Penegakan Hukum
Oleh Hasibullah Satrawi*
“Fikih penegakan hukum menekankan pentingnya penegakan hukum dengan mengikuti pola piramida terbalik. Lapisan bawah sekaligus dasar dari bangunan piramida ini adalah rasa ketuhanan. Adapun lapisan tengahnya adalah keadilan. Dan lapisan ketiga adalah ketentuan hukum normatif.
Melalui pola piramida terbalik di atas, rasa ketuhanan akan menjadi semangat sekaligus penjaga bagi para penegak hukum untuk menegakkan hukum sesuai dengan keadilan dan ketentuan yang berlaku. Hingga para penegak hukum tidak merasa mempunyai kesempatan atau ruang kosong untuk mempermainkan penegakan hukum yang ada. Mengingat tak ada ruang sekecil apa pun yang bebas dari pengetahuan Tuhan.”
Mewaspadai Transmisi Radikalisme Arab
Oleh Hasibullah Satrawi*
“Kebangkitan kaum radikal di dunia Arab pascarevolusi merupakan kabar buruk bagi bangsa ini. Hampir bisa dipastikan, cepat atau lambat, kebangkitan kaum radikal di dunia Arab akan mengalami proses transmisi ke Indonesia. Baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Hasil penelitian Imdadun Rahmat tentang transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia (Erlangga, 2006) menarik untuk diperhatikan. Penelitian tersebut mengungkap dengan jelas proses transmisi gerakan radikal Timur Tengah yang berjalan mulus melalui beberapa alumni lembaga pendidikan di sana. Bahkan salah satu tokoh gerakan ini pernah hadir secara langsung dan tinggal di Indonesia (seperti Abdurrahman al-Baghdadi, aktivis gerakan Hizbut Tahrir di Lebanon). Masih menurut penelitian tersebut, transmisi gerakan radikal Timur Tengah ke Indonesia telah berlangsung semenjak akhir tahun 1980-an.”
Tentang Men-jamak Salat Tanpa Halangan dalam Tafsir al-Razi
Oleh Syech Bakar*
“Dapat dipahami bahwa pendapat yang membolehkan men-jamak salat tanpa halangan tidak keluar dari dalil-dalil al-Qur’an dan hadis. Tentunya melaksanakannya pun bukan berarti keluar dari koridor agama. Dengan pembolehan ini seorang akan lebih mudah menjalani kehidupan yang kompleks, yang disibukkan dengan pekerjaan.”
Agama dan Sikap Terhadap Waria
Oleh Abdul Muiz Ghazali*
“Kita membutuhkan tafsir keagamaan yang lebih menghargai dan memanusiakan kaum waria. Sebagaimana manusia lain, waria juga punya hak untuk mendapatkan perlindungan dan tidak mendapatkan penindasan. Tak seluruh waria berperilaku seksual seperti dituduhkan sebagian kalangan. Banyak di antara para waria yang ahli ibadah, bekerja produktif, berpendidikan tinggi, bermoral baik, dan sebagainya.”
Lebaran dan Toleransi Internal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
...toleransi internal yang dipertunjukkan ormas-ormas Islam terhadap sikap Muhammadiyah yang berbeda dalam lebaran tahun ini bisa juga dikembangkan lebih luas lagi sehingga mencakup hal-hal yang lebih mendasar, seperti soal keyakinan. Dalam pandangan saya, toleransi dalam soal akidah bukanlah hal yang tercela, bahkan sangat baik. Toleransi bukanlah mengakui kebenaran pendapat atau keyakinan golongan yang lain; sekedar memberinya hak untuk “exist”.
Mennonite Amerika dan Spirit Pelayanan Kemanusiaan
Oleh Sumanto Al Qurtuby*
“Apa yang dilakukan kaum Mennonite Amerika setidaknya menunjukkan bahwa tidak semua warga Amerika itu pro-perang dan anti-perdamaian, dan tidak semua umat Kristen itu berhati jahat yang selalu memusuhi kaum Muslim seperti yang banyak digambarkan secara keliru oleh sejumlah ormas “Islam ekstrim” di Tanah Air.”
Pesantren dan Isu Gender
Oleh Lies Marcoes Natsir
“Bagi saya, dibanding seluruh program yang pernah masuk ke pesantren, tidak ada yang seberhasil program penyadaran keadilan gender ini. Kehadiran mereka membantu penyelesaian problem yang dihadapi kelompok feminis nonagama dalam menyosialisasikan isu gender. Saat itu penolakan terhadap kelompok feminis besar sekali, dan kelompok feminis tidak berdaya menghadapi argumen agama. Program ini juga menolong pemerintahan Abdurrahman Wahid untuk mengarusutamaan gender. Pada 2000 Wahid mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) agar gender menjadi arus utama dalam seluruh rancangan pembangunan –dari perencanaan sampai pelaksanaan. Jadi minimal ada pedoman dan alokasi bujet.
Perkembangan ini pantas membuat Islam Indonesia dikategorikan sebagai Islam paling progresif di seluruh negara Islam dalam hal percakapan soal gender. Ketika negara lain masih menyatakan tabu dengan gagasan ini, kita telah memamahnya dalam berbagai kajian keagamaan.”
Jejak Arkeologis Puasa dan Ramadan dalam Al-Qur’an dan Sejarah
Oleh Himawan Pridityo*
Dalam gradasi hukuman, berpuasa adalah sebuah batas terakhir yang menentukan apakah seseorang masih setia dengan institusi sosial tempat ia hidup ataukah tidak. Yang menarik, apabila kita hilangkan atribusi hukuman pada tindak berpuasa, kita justru melihat sebuah perubahan, dari tindak hukuman terendah, menjadi tindak kesetiaan tertinggi. Pada agama-agama kuno misalnya, ada tradisi bagi para calon pendeta untuk berpuasa sebelum naik peringkat menjadi pendeta utama. Dalam hal ini, puasa dianggap sebagai sebuah media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin karena posisi puasa yang istimewa itulah, ayat tentang doa (Q. 2:186) diselipkan ditengah-tengah ayat tentang pewajiban puasa di bulan Ramadhan. Dalam sebuah hadits qudsi dijelaskan “Puasa itu milikku (Tuhan) dan hanya Aku jua yang akan membalasnya”. Puasa adalah tindak beribadah yang sangat istimewa.
Tentang Suara-Suara yang Tak “Memuaskan” Sepanjang Bulan Puasa
Oleh Natalia Laskowska*
Suara azan yang pagi itu memenuhi baik tubuh maupun ruh saya dapat bersaing dengan suara nyanyian Caruso. Keduanya begitu memuaskan. Saya sering merindukan suara azan itu, apalagi pada bulan Ramadan. Bunyi panggilan sahur yang disampaikan dengan timbre suara yang halus, itu bukan sekedar panggilan informatif saja. Indahnya mampu membuat kita kenyang. Ini adalah satu pemuasan dalam puasa. Tiada salahnya.