Kolom
Redefinisi Konsep Aswaja: Sebuah Gagasan
Oleh Muhammad Luthfi Thomafi
Salah satu wacana keislaman yang sedang marak di tanah air adalah gerakan liberalisme keislaman yang dibawa oleh segenap masyarakat Utan Kayu dan kelompok-kelompok kajian yang berafiliasi pada Nahdlatul Ulama [NU]. Dalam amatan saya, gerakan-gerakan itu cukup sukses, setidaknya dalam tataran wacana dan tema-tema yang dilemparkan. Namun di balik kesuksesan itu, ada satu hal yang ingin saya tulis, berkaitan dengan aktivitas generasi muda NU dalam gerakan liberalisasi keagamaan dan bagaimana sebaiknya NU mengakomodir pergerakan pemikiran generasi mudanya. Secara historis, saya juga mencoba untuk menengok ke belakang untuk menatap kembali konsepsi keberislaman NU.
Evolusi Pemahaman Keagamaan
Oleh Ahmad Fuad Fanani
Dewasa ini, tafsir-tafsir keberagamaan yang muncul di masyarakat lebih banyak berasal dari satu arah, yaitu tafsir dari lembaga keagamaan. Selain itu, tafsir keagamaan yang ada juga terlalu berorientasi pada pemahaman keagamaan yang bersifat vertikal dan legal-formal. Artinya pemahaman keagamaan yang dipupuk adalah yang berhubungan dengan ibadah ritual, doktriner, dogmatis, dan berhubungan dengan kesadaran langit (ketuhanan).
Laskar Jihad, FPI, dan Mujahidin
Oleh Denny JA, PhD
Indonesia selalu punya cara menghalau gerakan Islam garis keras. Di era Orde Baru, gerakan itu ditolak secara represi dan otoritarian. Di era reformasi yang penuh kebebasan, gerakan itu menjadi surut justru karena manuver yang dibuatnya sendiri. Impresi ini muncul secara spontan mengamati persoalan yang timbul secara serentak di tiga organisasi Islam garis keras: Laskar Jihad, FPI (Front Pembela Islam) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia).
Tragedia Bali dan Perlunya “Mental Switch”
Tak usah kita meneruskan sikap menyalah-nyalahkan orang lain untuk kejahatan yang ada dalam tubuh kita sendiri. Kita perlu melakukan “mental switch,” banting setir mental, dan berpikiran yang lebih dewasa: apa yang salah pada diri kita, pada umat kita; apakah kita telah begitu sucinya sehingga tak mungkin berbuat salah?
Dilema Islam Publik
Oleh Luthfi Assyaukanie
Teori sekularisasi yang mengatakan bahwa modernisasi akan menggiring manusia menjadi orang-orang sekuler dan meninggalkan agamanya semakin tak punya tempat. Para ilmuwan sosial seperti Peter Berger, Jose Casanova, dan Rodney Stark kini semakin lantang berbicara tentang peran agama yang semakin besar dalam ruang publik. Agama tak harus bertentangan dengan modernitas. Seorang Katolik atau seorang Muslim bisa dengan baik menerima konsep-konsep modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, pluralisme, dan kebebasan berpendapat.
Terbelahnya Opini Publik Amerika
Oleh Hamid Basyaib
Pemungutan suara di DPR Amerika Serikat (House of Representatives) mendukung keputusan Presiden Bush untuk menyerang Irak secara unilateral. Tapi rasio hasil voting itu penting dicatat, yaitu 296:133. Voting di Senat pun, yang akan berlangsung dalam satu-dua hari ini, diduga akan menghasilkan proporsi serupa. Jumlah 133 yang menolak ini tentu saja punya makna penting, apalagi diukur dari hasil pemungutan suara tentang serangan atas Afghanistan setahun lalu, yang menghasilkan kebulatan suara, kecuali hanya 1 abstein.
“Teater” Ramadan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Apakah makna puasa di bulan Ramadan ini bagi kita semua, umat Islam secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum? Pertanyaan ini layak diajukan terus setiap kita memasuki bulan suci ini, agar kita tidak terlelap dalam sikap yang “lugu”, yaitu menerima kedatangan bulan suci tersebut sebagai kerutinan yang sudah biasa.
Cetak Biru Toleransi di Indonesia
Oleh Abd Moqsith Ghazali
Menjadi hak setiap orang untuk mempercayai bahwa agamanyalah yang benar. Namun, dalam waktu yang bersamaan, yang bersangkutan juga harus menghormati jika orang lain berpikiran serupa. Karena itu soal pribadi, tidak banyak gunanya memaksa seseorang untuk memeluk suatu agama kalau tidak dibarengi dengan kepercayaan dan keyakinan penuh dari orang tersebut. Memeluk agama karena paksaan dan intimidasi merupakan kepemelukan agama yang pura-pura, tidak serius, dan bohong.
‘Wisata Spiritual’ di Tahun Duka
Oleh Novriantoni
Dalam kondisi kesejarahan demikianlah skenario Allah berjalan. Nabi diperjalankan (isra’) dan dinaikkan (mi’raj) menuju ke haribaan-Nya. Soal apakah peristiwa itu berlangsung secara pisik saja, atau pisik dan psikis sekaligus, ramai diperdebatkan sejarawan Islam. Namun, polemik itu bukan bagian bahasan kita. Sebagaimana galib terdengar, perjalanan Israk Mikraj, mempunyai misi menjemput kewajiban salat. Proses negosiasi perihal salat ini, dibahas panjang lebar oleh Ibnu Hisyam dalam kitab Al-Sirah Al-Nabawiyyah. Namun sebatas yang kita cermati, makna Israk Mikraj lebih dari itu. Israk dan Mikraj merupakan sebuah ‘wisata spiritual’ yang melampaui batas-batas material-formal kesejarahan.
Islam dan Terorisme
Oleh Zuhairi Misrawi
Dalam kaitannya dengan terorisme, muncul pertanyaan yang tidak pernah terjawab, adakah korelasi fungsional antara Islam dan Terorisme? Bisakah gerakan keagamaan yang diduga dalang terorisme sebagai representasi Islam, baik dalam ranah ajaran maupun pengikutnya?