Kolom
“Inflasi” Somasi: Kasus Iklan Islam Warna-warni
Oleh Burhanuddin
“Mengapa orang meributkan somasi kami. MMI tak melakukan anarki. Somasi inilah jalan yang diberikan demokrasi. Berbeda halnya bila kami sudah menjadi penguasa.” Demikian dalih Fauzan al-Anshari ketika banyak pihak yang menyesalkan sederet somasi yang ia layangkan menyangkut iklan Islam Warna-warni, iklan kondom dan entah apa lagi. Benar bahwa setiap kelompok dan individu berhak menyampaikan keberatan atas tayangan suatu iklan dengan membuat somasi kepada pihak terkait. Dalam kasus ILM KIUK, MMI tidak melayangkan ketidaksetujuannya pada KIUK, tak juga kepada Garin Nugroho dan SET sebagai pembuat, tapi mensomasi media yang menayangkan ILM tersebut.
Islam Radikal dan Tudingan Terorisme
Oleh Khamami Zada
Dalam konteks inilah, provokasi menyudutkan Islam bukanlah cara yang tepat untuk memperteguh semangat moderasi di kalangan muslim. Radikalisasi Islam mesti dicairkan secara lebih genuine dan otentik dengan melakukan gerakan dakwah yang menyuguhkan semangat moderasi, toleran, dan damai. Hal ini dilakukan melalui gerakan kultural yang bisa menyadarkan kepada umat bahwa Islam sebagai agama tidak mengajarkan tindakan terorisme.
Islam Politik di Indonesia Kenyataan dan Perspektif Global
Oleh Abd A'la
Islam politik di Indonesia seharusnya belajar dari kegagalan kelompok seperti mereka di tingkat internasional. Salah satu karakteristik menonjol sekaligus kelemahan mereka terletak pada pola gerakannya yang bersifat reaktif. Pola ini membuat mereka terkesan hadir sekadar untuk berbeda dari dan untuk menolak Barat.
Tantangan Kebebasan Berekspresi
Oleh Sudirman HN
Keputusan Surya Citra Televisi (SCTV) menghentikan sepihak penayangan iklan layanan masyarakat “Islam Warna-Warni” akibat ancaman somasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) bisa menjadi preseden buruk bagi kebebasan berekspresi dan kebebasan pers. Peristiwa itu juga mengindikasikan kembali terancamnya dua kebebasan yang menjadi bagian dari hak-hak sipil itu, yang baru kita peroleh setelah reformasi 1998.
Mengapa Anti-Amerikanisme?
Oleh Ahmad Sahal
Tapi jawaban Bush sama sekali meleset dalam menjelaskan penyebab anti-Amerika yang meluas di negeri Arab. Pernyataan Bush tersebut justru semakin menegaskan satu hal yang sering dikemukakan orang tentang Amerika, bahwa Amerika terlalu melihat ke dalam (inward looking), asik dengan diri mereka sendiri seakan-akan mereka berada dalam dunia yang terisolasi, media massanya sangat berwatak parokial ketimbang global, dan tidak (mau) tahu atau tidak peka terhadap dunia luar, terutama dunia Islam.
Islam dan Kebebasan Berekspresi
Oleh Novriantoni
Sekilas terlihat, kasus Nasr Hamid, Amr Khalid, masjid di Libia, sweeping “buku kiri” dan pendudukan media, berdiri sendiri-sendiri dan tampak berbeda. Tapi sebetulnya, semua itu termasuk antrian problem serius dunia Islam: kebebasan berekspresi masih payah. Salah satu tugas penting dan mendesak kemudian, bagaimana kebebasan berekspresi dijamin baik oleh undang-undang maupun masyarakat yang lama terkekang.
Sains, Islam, dan Revolusi Ilmiah
Oleh Sulfikar Amir
Tulisan ini memfokuskan diri pada isu sains dan Islam yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian dari kalangan akademik dan masyarakat Islam di Indonesia. Isu ini menjadi hangat karena adanya keinginan, harapan, dan semangat akan bangkitnya peradaban Islam yang dimotivasi oleh romantisisme sejarah kejayaan peradaban Islam dalam bidang sains beberapa abad yang lampau. Studi mengenai sains dalam Islam sebenarnya sudah dibahas secara serius oleh beberapa sarjana, baik muslim maupun Barat. Secara garis besar, studi ini mencakup dua aspek, yakni historis dan epistemologis.
Dimensi Filsafat dalam Wahyu
Oleh Pradana Boy ZTF
Dalam tradisi filsafat Islam, wahyu bahkan bertindak sebagai sumber pengetahuan (Bakar, 1997). Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui wahyu memiliki status yang spesifik, karena seorang penerima pengetahuan melalui wahyu adalah orang yang memiliki otoritas keagamaan tinggi yang sering diistilahkan dengan Nabi. Sementara manusia biasa menerima keberadaan wahyu sebagai rukun iman yang harus dipercayai secara taken for granted, para filosof berusaha untuk mendudukkan wahyu sebagai realitas keilmuan yang bisa dikaji secara teoretis.
Andai Aku Seorang Muslim Liberal
Oleh Haidar Bagir
Andai aku seorang muslim liberal, maka aku akan melepaskan segenap keyakinan-keislamanku dari segala bentuk otoritas tafsir atas Islam yang tidak sesuai dengan akalku, termasuk otoritas keulamaan. Namun, aku akan menerima tafsir-otoritatif dari siapa pun, dalam arti bahwa otoritas itu bersumber pada bukti-bukti yang meyakinkan secara rasional dan berdasar pada prinsip-prinsip ilmiah yang aku yakini kebenarannya.
Islam Warna-warni
Oleh Luthfi Assyaukanie
“Islam Warna-warni” adalah sebuah ungkapan yang ditemukan tak hanya berdasarkan pilihan eksotisme kata-kata semata, tapi juga berdasarkan dalil teologis (kalamiyyah), fikih (fiqhiyyah), maupun sosiologis (ijtimaiyyah) yang dirujuk ketika rancangan iklan itu dibuat. Dengan kata lain, slogan ini merupakan hasil renungan atas doktrin esensial Islam dan kenyataan sejarah Islam itu sendiri.