Kolom
Pseudo Toleransi: Metode Dakwah al-Qardlawi dan Masa Depan Pluralisme
Oleh Prio Pratama*
“Dengan konsep toleransi yang semu ini, jangankan mendakwahkan keberagamaan yang inklusif, eksklusivisme beragamapun bahkan menjadi sangat sulit untuk dihidari. Bagaimana mungkin seorang yang meyakini bahwa Islam sebagai satu-satunya jalan keselamatan, bisa membiarkan penganut agama lain hidup tenang dengan keyakinannya. Orang yang menganut paham pseudo toleransi seperti ini tidak akan pernah bisa benar-benar toleransi. Yang ia bisa hanya pura-pura toleransi. Dikatakan begitu, karena ia tidak akan berhenti mencari-cari kesempatan kapan waktunya mengkonversi keyakinan orang lain itu ke dalam Islam. “
Ahmadiyyah, Terorisme dan NII
Oleh Djohan Effendi*
Dilihat dari segi cita-cita politik agaknya ada kesamaan ideologis antara kalangan radikal yang menginginkan pelaksanaan syariat Islam, pelaku terorisme dan pendukung ide NII. Bahkan, dalam perspektif ideologis, terdapat kesamaan ideologis dengan partai-partai Islam yang pada saat amandemen UUD masih menginginkan pemberlakuan kembali Piagam Jakarta khususnya menyangkut tujuh kata yang dihapuskan, “dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi pemeluknya”. Tentu saja kesamaan ideologis itu juga dapat dilihat dari para Pemerintah Daerah yang memprakarsai kelahiran apa yang disebut sebagai perda-perda syariah.
Pluralisme “?”
Oleh Usep Hasan Sadikin*
Melalui semua penokohan tersebut kita menemukan kuatnya kedewasaan iman. Sejatinya kedewasaan iman merupakan keyakinan yang tak menutup terhadap perbedaan, lalu meyakini dari interaksi perbedaan, keimanan akan terus tumbuh menuju keutuhan. Kurang lebih, itulah makna pluralisme agama.
Tak Ada Satu Tempat pun yang Aman dari Teror Sejarah Singkat Terorisme di Indonesia
Oleh Daniel Awigra*
Sejumlah aksi teror di Indonesia, sejauh dapat diungkap oleh Kepolisian Republik Indonesia memiliki target utama mendirikan Negara Islam Indonesia. Mereka menggunakan aksi teror untuk mempercepat pendirian Negara Islam. Selagi target operasi mereka belum tercapai, dan mereka masih menghalalkan cara-cara kekerasan, selama itu pula bahaya terorisme akan selalu ada di negeri ini. Meski demikian, sangat disayangkan, polisi tidak pernah bisa mengungkap secara tuntas apa sejatinya target operasi terorisme di Indonesia selain mendirikan Negara Islam.
Apa yang bisa dilakukan untuk menyelesaikan persoalan terorisme di tanah air? Tentu saja hal ini tidak mudah. Selain ada persoalan perjuangan ideologis di antara para pelaku teror, persoalan lemahnya ekonomi Indonesia, tarik-menarik kepentingan sosial politik dan ekonomi global akan terus membuat pasang-surut persoalan terorisme.
Toleransi Beragama: Argumen al-Qur'an dan Hadis
Oleh Asrar Mabrur Faza*
“Seorang pakar tafsir Islam klasik, Ibn Jarir al-Thabari mengutip pendapat yang mengatakan bahwa pengungkapan syari’ah dan manhaj pada ayat di atas menunjukkan adanya keragaman agama yang telah dijadikan Tuhan. Dalam kitab Torah, ada syari’at. Dalam Bibel ada syari’at. Dan dalam al-Quran juga ada syari’at. Namun, hanya ada satu al-din (agama) yaitu ketauhidan dan keikhlasan kepada Tuhan. Dalam ungkapan Qatadah: al-din wahid wa al-syari’ah mukhtalifah (Agama itu satu, sementara syari’at adalah beragam).”
Dampak Intervensi Militer Sekutu ke Libya
Oleh Saidiman Ahmad
Sejak beberapa tahun terakhir, sesungguhnya rezim Qaddafi sedang mencoba membangun komunikasi yang baik dengan Barat, terutama Amerika Serikat. Qaddafi tidak lagi seperti Saddam Husein atau Ahmadinejad yang terus-menerus menyuarakan anti-Barat dan AS. Qaddafi justru adalah sedang membangun aliansi dengan Barat. Kalau kepentingan minyak menjadi dasar utama serangan ke Libya, bukankah lebih baik Barat dan AS mempertahankan rezim Qaddafi yang terbukti semakin melunak dan bisa diajak kerjasama ketimbang menjatuhkannya dan memberikan kekuasaan kepada pemberontak yang belum diketahui berasal dari mana dan belum tentu kooperatif?
Sikap Nabi terhadap Nabi Palsu Tanggapan terhadap Tanggapan Dr. Syamsuddin Arif dan Ahmad Rofiqi
Oleh Akhmad Sahal*
Penting untuk dicatat, paparan Ibn Hisyam tentang laporan Ibn Ishaq tersebut adalah dalam konteks pembahasannya tentang fenomena munculnya dua Nabi palsu: Musailamah dan al-Aswad. Dari situ bisa disimpulkan sekurang-kurangnya dua hal: gejala kemunculan nabi palsu pada masa itu sangat erat kaitannya dengan gerakan pembangkangan terhadap pembayaran Zakat, yang sudah berlangsung semenjak masa Nabi, dan semakin membesar pada masa khalifah Abu Bakr. Kedua, al-Aswad al-‘Unsi jelas jelas melakukan penyerangan terhadap delegasi Nabi bernama al-Muhajir bin Umayyah bin al-Mughirah.
Islam Sebagai “Agama Antroposentris”
Oleh Sumanto Al Qurtuby*
“Ke depan, kaum Muslim wajib memprioritaskan urusan sosial-kemanusiaan ini. Sudah saatnya Islam harus dijadikan sebagai “agama antroposentris” yang memberi ruang besar pada masalah-masalah mendasar yang dihadapai umat manusia (kemiskinan, ketertindasan, keterbelakangan, dlsb) bukan berkutat pada “proyek penyalehan diri” kepada Tuhan. Di mata tuhan, “pahala sosial” jauh lebih berharga ketimbang “pahala individual”. Dalam sebuah Hadis Qudsi diceritakan bahwa ada seorang manusia yang ingin mendekatkan diri kepada Tuhan, lalu Tuhan menjawab, “Jika anda ingin mendekatkan diri kepada-Ku maka berbuat baiklah kepada orang-orang susah di sekitarmu.”
Fiqh Keluarga yang Melindungi Hak-Hak Perempuan
Oleh Husein Muhammad
“Hari ini dan ke depan, demokrasi dan hak-hak asasi manusia akan menjadi pijakan dasar bagi bangsa Indonesia dalam pengambilan setiap kebijakan untuk pengaturan kehidupan bersama seluruh warga negara. Oleh karena itu kita berharap ke depan akan hadir produk-produk fiqh baru di satu sisi dan legislasi hokum nasional di sisi lain, yang menjamin perlindungan terhadap hak-hak perempuan, pemenuhan keadilan dan kesejahteraan bagi semua. Dan kita masih harus menunggu dengan penuh kesabaran dan ketekunan perjalanan bangsa ini untuk mengakhiri dikhotomi Hukum Agama versus Hukum Nasional. Semoga.”
Seksualitas Perempuan
Oleh Husein Muhammad
“Ada kisah yang menarik. Imam Bukhari menceritakan bahwa dalam perang Uhud, ketika banyak orang meninggalkan Nabi, Siti Aisyah dan Ummu Salim menggulung pakaian bawah mereka sehingga betis mereka terbuka. Mereka membawa air dan menuangkannya ke mulut tentara yang luka yang kehausan. Khansa bint Amr, penyair perempuan Arab terkemuka, berdiri di hadapan Nabi membacakan puisi-puisinya dengan seluruh ekspresinya yang memukau. Nabi mengagumi sekaligus memujinya.”