Reportase
Jangan Takut
Oleh Saidiman Ahmad
Banyak sekali orang yang berpikiran maju, tapi mereka enggan angkat bicara. “Kita harus melangkah melampaui ketakutan itu, go beyond the fear,” kata Manji. Persoalannya bukan kenapa ketakutan itu muncul. Tapi bagaimana kita mampu melewati dan mengabaikannya.
Dari Tambun Utara ke Istana Merdeka: Diskriminasi Ibadat Jemaat HKBP Filadelfia
Oleh Evi Rahmawati*
Barisan HKBP terdepan yang diisi oleh ibu-ibu harus berhadap-hadapan langsung dengan massa yang terlihat sudah cukup terbakar emosinya. Menghadapi teriakan massa, beberapa ibu-ibu dari jemaat HKBP hanya bisa menangis sambil terus mengatakan :”Kami hanya ingin beribadah, bukan berbuat rusuh.” Tetapi massa tidak mempedulikan tangisan mereka, bahkan seorang warga perempuan berjilbab yang merupakan bagian dari massa penolak, mengatakan :” Tangisan buaya, palsu!”
Laporan dari FGD Monitoring Pluralisme Sulawesi Selatan RUU-KUB Mengandung Banyak Masalah
Oleh Muhammad Subhi*
“Dengan berbagai problem di atas, mereka berharap pembahasan RUU ini benar-benar menyerap aspirasi dan representasi dari segenap masyarakat, termasuk kelompok-kelompok minoritas. Menurut mereka, kelompok minoritaslah yang sesungguhnya pertama kali harus di dengar karena merekalah yang sering menjadi korban pembatasa. Bahkan jika perlu, draft RUU yang masih bermasalah ditinjau kembali agar tidak menjadi sumber masalah di kemudian hari.”
Indonesia Tanpa FPI
Oleh Evi Rahmawati*
Adalah kabar baik ketika Sabtu 11 Februari lalu masyarakat adat suku Dayak menegaskan sikapnya menolak kehadiran FPI di Bandar Udara Cilik Riwut, Palangkaraya. Mengapa kabar baik? Ini tidak berarti pihak-pihak yang selama ini dibuat gerah oleh satu kelompok kecil yang kerap melakukan tindakan anarkis dalam aksi-aksinya hendak merayakan sedikit kemenangan para pejuang pluralisme. Juga bukan berarti kita melanggar kebebasan suatu kelompok masyarakat dalam berserikat. Tetapi, ini berdasar pada kebutuhan mutlak manusia: kebebasan dari tekanan.
Reportase Diskusi Bulanan "Mendaras Syair Arab Jahiliah" Benarkah Bahasa Alquran Tak Tertandingi?
Oleh Prio Pratama*
Menurut Ulil, terdapat keluncaspahaman di kalangan umat muslim dalam memahami kata jahiliyah sebagai lawan dari pengetahuan atau kecerdasan. Bagi Ulil, terma jahiliyah yang mengacu pada konteks masa Arab sebelum Islam lebih tepat dimaknai sebagai antonim atau lawan kata al-hilm atau magnanimity. Dari sudut pandang ini, al-hilm yang secara letterlijk bermakna murah hati, adalah suatu sikap tidak mempersoalkan kesalahan/kecerobohan dan “ketengilan-ketengilan” yang dibuat orang lain dengan maksud untuk menjaga level ketinggian moral si target “ketengilan”. Secara khusus, Ulil menunjuk contoh “ketengilan-ketengilan” perilaku para tweeps di media sosial Twitter. Dalam Alquran, sikap demikian ini misalnya diperlihatkan dalam QS. al-Furqan 25:63, tentang karakteristik hamba pemurah hati (generous).
Gaungkan Inspirasi Damai Agama!
Oleh Husni Mubarok
Janganlah melihat agama melulu dari segi kekerasannya. Mari kita lihat agama dari segi di mana ia mendorong pada perdamaian. Ada banyak sekali tokoh dunia yang menganjurkan dan mempraktikan perdamaian dan mengaku didorong ajaran agamanya. Demikian diungkapkan Ihsan Ali-Fauzi, Direktur Program Yayasan Paramadina, dalam diskusi bertajuk “Mengenal Wahib, Menebar Toleransi” di Universitas Lambung Amangkurat, Banjarmasin, Kamis (17/11) pagi.
Laporan dari Haul ke-2 KH Abdurrahman Wahid Gus Dur Memanusiakan Manusia
Oleh M Subhi Azhari*
Disinilah, bagi Moqsith, pentingnya memikirkan apa saja yang perlu dilakukan para penerus perjuangan Gus Dur. Banyak pekerjaan Gus Dur yang berhasil, namun banyak pula yang belum tuntas. Antara lain nasib Ahmadiyah yang hingga sekarang masih belum selesai, problem regulasi negara seperti PNPS No. 1 tahun 1965, persoalan GKI Taman Yasmin Bogor juga masalah Syi’ah yang akhir-akhir ini banyak muncul. Kesemuanya adalah pekerjaan rumah para penerus perjuangan Gus Dur.
Tentang Iman dan Anti-Theodise
Oleh Evi Rahmawati*
Bagi Moqsith, sikap yang ditampilkan GM melalui patahan-patahan kata yang terkadang muram itu, justru tampak sebagai sebuah upaya untuk mengatasi arogansi manusia dalam membahasakan Tuhan.
Menurut Moqsith, jika seseorang mengerti bahasa Arab, maka ia akan tahu bahwa arti dari Allahu Akbar bukanlah “Allah maha besar” sebagaimana sering diterjemahkan kebanyakan orang. Allahu Akbar, menurut Moqsith, memiliki arti “Allah lebih besar.” Lantas dengan cergas Moqsith menafsirkan Allahu Akbar sebagai Allah yang lebih besar, termasuk lebih besar dari segala konsep yang dirumuskan manusia tentang-Nya.
Mendekatkan Jembatan Tiga Serumpun Laporan Konferensi Regional Multikulturalisme Asia Tenggara
Oleh Muhammad Subhi*
“...pada era kontemporer persoalan multikulturalisme yang paling menonjol adalah meningkatnya intoleransi di kalangan masyarakat dan negara. Tindakan-tindakan intoleransi muncul bahakn dalam wujudnya yang ekstrim seperti terorisme dan radikalisme. “Kelompok-kelompok keagamaan tertentu mensahkan penggunaan kekerasan terhadap kelompok-kelompok minoritas yang berbeda. Mereka menjadi korban kekerasan baik secara fisik maupun psykis. Mereka juga tidak bisa mengharapkan negara menjamin hak-hak mereka karena Negara adalah bagian dari actor intoleran dalam banyak kasus.”
Talal Asad dan Antropologi Sekularisme Laporan Diskusi JIL "Sekularisme Direvisi: Telaah Pemikiran Talal Asad"
Oleh Siswo Mulyartono*
Sekularisme adalah peristiwa historis yang tertanam (embedded) dalam konteks historis tertentu, yakni Eropa Barat. Pengalaman Barat mengenai sekularisasi tidak bisa dijadikan sebagai standar universal untuk negeri-negeri lain. Oleh karena itu, sekularisme yang selama ini kerap dipandang sebagai kategori universal harus ditelaah dalam konteksnya yang spesifik di Eropa Barat. Inilah tugas antropologi sekularisme.