Wawancara
KH Husein Muhammad Islam Masa Lampau Itu Membebaskan
Ketika orang mengatakan bahwa dia lebih tinggi daripada orang lain, sebetulnya ia telah melangkahi aspek tauhid yang benar. Karena itu, saya kira kita memerlukan penerjemahan yang baru atas aspek akidah.
Achmad Chodjim: Kita Selalu Butuh Tafsir yang Sesuai Zaman
Katakanlah kita melihat ada ayat, ”Bunuhlah dan perangilah orang-orang kafir itu!” Ayat ini kalau mau kita angkat bukan untuk mencari sosok si kafir, tapi bagaimana kita harus bisa membunuh sifat ketertutupan manusia di dalam hidup yang semakin maju ini.
Ihsan Ali-Fauzi: Suicide Terrorism Lebih Dipicu Oleh Nasionalisme
Faktor pendorong utama terorisme bunuh diri (suicide terrorism) dalam kurun waktu 1980-2003, bukanlah fundamentalisme agama. Ia lebih didorong oleh spirit nasionalisme suatu kelompok masyarakat untuk mengusir orang yang mereka anggap menjajah ibu pertiwi mereka. Demikian hasil diskusi buku Dying To Win: The Strategic Logic of Suicide Terrorism karangan Robert Pape (2006) antara Jaringan Islam LIberal (JIL) dengan Ihsan Ali Fauzi, mahasiswa Ilmu Politik di Ohio State University Amerika Serikat, Kamis (5/10) lalu.
Jalaludin Rakhmat: Rahmat Tuhan Tidak Terbatas
Saya sering bicara tentang Islam di banyak gereja. Lalu banyak orang yang bertanya, sejak kapan Islam mengajarkan pluralisme? Kalau dalam Katolik baru dimulai sejak John Paul II atau Paus Johanes Palus II. Saya lalu katakan, pluralisme ada sejak zaman Rasulullah.
Dr. Rumadi dan Abd Moqsith Ghazali: Gus Dur Adalah Jendela, Garansi, Lokomotif
Buku Gus Dur terbaru, Islamku, Islam Anda, Islam Kita, yang pekan lalu diluncurkan (21/8), merekam konsistensi garis besar pemikiran dan sikap Gus Dur dalam soal-soal keagamaan dan kebangsaan. Gus Dur tetap kokoh di jalur keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan. Itulah setidaknya kesaksian dua intelektual muda NU, Dr. Rumadi dan Abd. Moqsith Ghazali kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (21/9) lalu.
Endy Bayuni: Paham Keagamaan Ditentukan Pengalaman
Pemahaman keagamaan seseorang selalu ditentukan oleh banyak faktor. Namun pengalaman pribadi-pribadi tiap orang dalam menghayati soal-soal keagamaan adalah faktor terpenting dalam corak keberagamaanya. Demikian pendapat Endy Bayuni, Pemimpin Redaksi The Jakarta Post, Kamis (15/9) lalu, kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL).
Nadia Madjid: Persepsi tentang Islam akan Berubah oleh Empat Hal
Persepsi media massa Amerika tentang Islam juga sangat ditentukan oleh bagaimana umat Islam menampilkan potret dirinya di hadapan dunia. Karena itu, dibutuhkan cara-cara kreatif dalam mengetengahkan paras Islam sesungguhnya kepada publik dunia. Demikian perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis lalu (8/9), dengan Nadia Madjid, praktisi media Amerika, yang sudah bekerja di Voice of America sejak 5 tahun silam.
Sidney Jones: Gagasan Salafi-Jihadi Sedang Diterjemahkan
Konflik dan silang sengketa Timur Tengah senantiasa berdampak sampai jauh ke Indonesia. Proses radikalisasi masyarakat Indonesia pun berlangsung lewat persebaran gagasan-gagasan yang muncul di Timur Tengah. Bagaimana itu bisa terjadi? Berikut perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Sidney Jones, Project Director International Crisis Group (ICG) untuk kawasan Asia Tenggara Kamis, 31/8, lalu.
Endo Suanda: Seni Tidak Hanya Berfungsi untuk Tujuan yang Luhur
Keluasan dan komplekstitas ekspresi seni tidak semestinya dihukumi dan dininai dengan satu sisi sudut pandang saja. Sudut pandang agama saja, misalnya, tidaklah memadai untuk menentukan hitam-putihnya nilai kesenian. Mengapa demikian? Berikut paparan Endo Suanda, pakar etnomusikologi, tentang hubungan agama dan kesenian kepada Jaringan Islam Liberal (JIL), Kamis (24/8, lalu.
Goenawan Mohammad: Teks Proklamasi Dibuat Tergesa-Gesa
Bagi generasi sekarang, perayaan 17 Agustusan sudah kehilangan daya magisnya; bak ritual tanpa makna. Tapi bagaimana orang-orang terdahulu memaknai kata merdeka dan membayangkan konsep Indonesia setelah terlepas dari belenggu penjajah? Berikut perbincangan Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Goenawan Mohamad, esais yang saban minggu menulis Catatan Pinggir di Majalah Tempo, Kamis (17/8) lalu.