Wawancara
Dr. Moeslim Abdurrahman: Korban Pertama dari Penerapan Syariat Adalah Perempuan
Kalau kita belajar dari pengalaman di Sudan atau Pakistan atau negeri Islam lainnya yang lebih dahulu melakukan penerapan syariat Islam, saya kira, pihak pertama yang paling merasakan dampak pelaksanaan syariat islam adalah kaum perempuan. Ini karena banyaknya regulasi dalam Islam dalam pelbagai hal. Misalnya, soal pengenaan pakaian dan lain-lain.
Ismartono SJ: Sebaiknya Syariat Dilaksanakan dalam Komunitas Terbatas
Salah satu sebab konflik yang terjadi antar agama adalah kesalahpahaman dalam memahami konsep-konsep yang digunakan dalam agama-agama tersebut. Hal ini juga terjadi dalam agama Islam dan Kristen. Sebagian orang Islam menganggap saudara Kristen mereka sebagai bukan monoteis, hanya karena konsep Trinitas yang mereka yakini. Tapi, penjelasan Kristen sendiri, sesungguhnya, sangat berbeda dari pemahaman orang-orang Islam.
Zainun Kamal: Penganut Budha dan Hindu adalah Ahlul Kitab
Konsep ahlul kitab dalam sejarah Islam selalu berkembang. Pada masa Nabi, ahlu kitab kerap dikaitkan hanya kepada agama Yahudi dan Nasrani, karena pada masa itu, Nabi Muhammad hanya berinteraksi kepada dua agama besar itu. Tapi, setelah Islam meluas, konsep ahlul kitab juga semakin luas. Beberapa ulama Islam, seperti al-Sahrastani dan al-Baghdadi, menganggap agama lokal Iran (Zoroaster) sebagai ahlul kitab.
Dr. Djohan Effendi: Harus Ada Kebebasan Untuk Tidak Beragama
Beragama adalah pilihan sukarela seseorang yang tidak bisa dipaksa-paksa. Siapa saja bebas untuk menentukan agamanya, apakah ia akan memilih Islam, Kristen, Hindu, Budha, atau agama lainnya. Bahkan, menurut Dr. DJohan Efendi, orang juga bebas memilih untuk tidak beragama.
Nurcholish Madjid: Dalam Hal Toleransi, Eropa Jauh Terbelakang
Kemajemukan atau pluralitas adalah sunnatullah. Dalam banyak ayat, Alquran menyebutkan tentang kemajemukan sebagai sesuatu yang memang dikehendaki Allah. Karena itu, siapa saja yang berusaha menolak pluralitas sama artinya dengan menolak sunnatullah.
Komaruddin Hidayat: Hamzah Haz Bukan Representasi Islam Politik
Ketika Islam dibawa dalam medan politik, maka akan banyak sekali klaim yang mengatasnamakan agama ini. Dan karena yang berperan dalam bidang politik itu berasal dari latar belakang yang beragam, maka sifat Islam yang universal dan luas akan mudah dibatasi oleh pemahaman dan pernyataan para politisi tersebut.
Azyumardi Azra: “Penerapan Syariat Bisa Kontraproduktif”
Syariat Islam yang diterapkan secara terburu-buru hanya akan memunculkan paradoks dan konflik di antara kaum muslim dan juga masyarakat Indonesia secara umum. Pemaksaan penerapannya, tanpa mempertimbangkan visibilitas dan viabilitasnya hanya akan menjadikan syariat Islam kontraproduktif bagi masyarakat.
Jalaluddin Rakhmat: “Perempuan Boleh Memegang Posisi Politik Apapun”
Sidang Istimewa telah berlalu. Gus Dur telah meninggalkan istananya. Namun, naiknya Megawati menjadi Presiden ke-5 menampakkan ironi yang kasat mata. Dua tahun lalu, Mega yang memenangkan pemilu 1999 dijegal langkahnya untuk menjadi presiden dengan alasan gender. Ironisnya, sang penjegal dengan berapi-api menutupi kedok politknya dengan menggunakan alasan agama. Kini, sang penjegal itulah yang mengantarkan Mega meraih singgasana presiden. Bahkan, tidak saja mengantarkan, tapi juga mem-back up Mega untuk menjadi wakilnya.
Masdar F. Mas'udi: “Keadilan Dulu, Baru Potong Tangan”
Di dalam konsep Islam tentang kehidupan bermasyarakat, yang menjadi tujuannya adalah ‘adalah, keadilan. Maka syariat secara sosial adalah segala tatanan kehidupan bermasyarakat, apakah ekonomi, politik, dan sebagainya, yang menuju kepada terciptanya masyarakat yang adil. Maka dalam hal ini benar yang dikatakan oleh Imam ‘Izzuddin: Fa-ainama tujadu al-‘adalah fa tsamma syar’ullah, di mana ada jaminan keadilan, dalam sistem apapun, sistem tatanan apapun, yang dapat menjamin keadilan, di sanalah terdapat syariat Allah.