Wawancara

Romo Eddy Kristianto: Perlu Kearifan Membiarkan dan Memberi Waktu

Cara-cara represif tidak selamanya akan berguna dalam menyikapi kelompok-kelompok sempalan dalam komunitas suatu agama. Adakalanya, teknik membiarkan dan memberi tenggat waktu merupakan kearifan yang perlu ditempuh. Demikianlah penurutan Romo Eddy Kristiyanto, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta, dan anggota Komisi Teologi di Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tentang pengalaman Gereja Katolik dalam menangani kelompok-kelompok yang dianggap sesat atau sempalan, kepada Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) Kamis lalu (5/1/2006).

15/01/2006 | Wawancara, | Komentar (1) #

Siti Musdah Mulia: Situasi Sosial-Keagamaan 2006 Bisa Lebih Buruk

Menjelang penutup akhir tahun 2005, hanya ada satu peristiwa sosial-keagamaan yang menggembirakan. Yaitu pengakuan bahwa eksistensi Jamaah Islamiyah (JI) di tanah air, dengan jejaring terornya adalah fakta, bukan mitos belaka. Selebihnya, banyak gejala sosial-keagamaan tahun 2005 yang mengharukan. Lalu, apakah kondisi sosial-keagamaan di Indonesia akan lebih cerah di tahun 2006?

08/01/2006 | Wawancara, | Komentar (3) #

Ioanes Rakhmat: Kelahiran Yesus Mengandaikan Harapan

Meski dari sudut sejarah tak ada tanggal paling pasti tentang kelahiran Yesus, namun perayaan Natal per 25 Desember sudah menjadi tradisi Kristen berabad-abad. Makna perayaan hari besar suatu agama tidak mesti bertempat pada akurasi hitungan hari dan tanggal, tapi bagaimana merevitalisasi makna-makna di balik perayaannya. Demikian perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Dr. Ioanes Rakhmat, pengajar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta, Kamis (21/12) lalu.

01/01/2006 | Wawancara, | Komentar (3) #

Butet Kertaradjasa: Surga Yang Mengejar-Ngejar Saya…

“Suatu kali, saya stress karena ada masalah pribadi. Saya lalu berpikir, kalau datang ke gereja, mungkin itu akan menyembuhkan persoalan. Bayangan saya begitu. Tapi, orang segereja justru nontonin saya dengan wajah penuh heran. Makhluk asing mana yang datang ini, begitu mungkin pikir mereka.” Itulah sepenggal pergulatan iman ahli monolog dan aktor kondang, Butet Kertaradjasa, kepada Novriantoni dan Mohammad Guntur Romli dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK), Kamis (15/12) lalu.

28/12/2005 | Wawancara, | Komentar (15) #

Radhar Panca Dahana: Semua Orang Merindukan Tuhan, Tapi…

Makna simbol-simbol agama yang digunakan dalam masyarakat, tak selalu seluhur yang mereka klaim dan dakwakan. Permainan simbol, tak jarang menyihir, menjebak, menipu, sekaligus memerangkap orang yang terkesima. Ilmu tentang penafsiran simbol-simbol, semiotika, selalu perlu untuk mengungkap makna di balik simbol-simbol tersebut. Berikut perbincangan Burhanuddin dari Jaringan Islam Liberal (JIL) Kamis lalu (8/12) dengan Radhar Panca Dahana, penyair yang kini mengajar sosiologi kebudayaan di Universitas Indonesia.

19/12/2005 | Wawancara, | Komentar (4) #

Lily Zakiyah Munir: Pesantren Harus Pertahankan Jati Dirinya

Mengaitkan dunia pesantren dengan terorisme merupakan penilaian yang gegabah. Namun beberapa faktor internal dan eksternal pesantren mungkin saja ikut mempengaruhi corak keberagamaan yang diajarkan dunia pesantren. Berikut perbincangan Novriantoni dan Mohammad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Lily Zakiyah Munir, direktur Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes), Kamis (1/12) lalu.

11/12/2005 | Wawancara, | Komentar (2) #

Syu’bah Asa: Dakwah Para Teroris Itu Bertuah

Tayangan testimoni para pelaku bom Bali II beberapa pekan lalu menunjukkan bahwa gejala bom bunuh diri sudah menjadi tren internasional yang menjangkiti anak bangsa. Apakah generasi muslim Indonesia sudah mengalami radikalisasi sedemikian rupa, sehingga tidak lagi kecut nyali untuk melakukan bom bunuh diri? Berikut perbincangan Novriantoni dan Mohamad Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Syu’bah Asa, wartawan senior dan penulis buku Tafsir Ayat-Ayat Sosial Politik, Kamis (17/11) lalu.

04/12/2005 | Wawancara, | Komentar (2) #

Yudi Latif: Negara Belum Jadi Essential Outsider

Perbedaan agama saja tak pernah sekonyong-konyong menciptakan intoleransi beragama dalam suatu masyarakat, sepanjang masih terdapat apa yang disebut Geertz sebagai mix tide atau aspek-aspek kesamaan di sisi lain,seperti kesamaan suku dan kelas ekonomi. Karena itu, ketika konflik-konflik bernuansa agama terjadi, yang perlu dilakukan pemerintah bukanlah intervensi untuk menyamakan sudut pandang agama yang beragam, tapi bagaimana menciutkan jurang perbedaan pada aspek-aspek lain yang bersifat non-agama.

28/11/2005 | Wawancara, | Komentar (0) #

Martin L. Sinaga: Tingkat Kecemasan Hidup Menentukan Peringkat Keberagamaan

Hasil survei Pippa Norris dan Ronald Inglehart tentang tingkat keberagamaan suatu masyarakat mungkin mengejutkan sebagaian orang. Tesis utama keduanya dalam buku The Sacred and the Secular menyatakanbahwa kecenderungan umat manusia untuk beragama sangat terkait dengan tingkat kecemasan hidupnya (existential security). Semakin tinggi kecemasan hidup, semakin beragama suatu masyarakat. Dan begitulah sebaliknya.

21/11/2005 | Wawancara, | Komentar (3) #

KH. Husein Muhammad Kembali ke Fitrah, Kembali ke yang Substansial

Seringkali formalisme fikih mengungkung makna dan tujuan yang lebih substansial dari satu ibadah. Apalagi jika formalisme itu diwujudkan dengan mengancam dan melakukan kekerasan kepada orang lain yang berpandangan berbeda. Demikian sebagian perbincangan Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan KH. Husein Muhammad, Pengasuh pondok pesantren Darut Tauhid Arjawinangun di Cirebon,  tentang makna puasa dan idulfitri.

07/11/2005 | Wawancara, | Komentar (1) #
Halaman: 7 dari 29 ‹ First  < 5 6 7 8 9 >  Last ›