JIL Edisi Indonesia
Shirat al-Mustaqim, Neraka, dan Pogrom
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Gambaran populer tentang dunia metafisik semacam itu hanya bisa lahir dari kehidupan yang mengenal “misteri” dan “pesona”, dari masyarakat yang masih hidup dalam kosmos yang “mysterium, tremendum, fascinan”. Dunia itu sudah hilang. Kita hidup dalam dunia yang hampir seluruh segi-seginya sudah dapat kita kenali, bisa kita perkirakan. Misteri sudah berubah menjadi sekadar hiburan —atau bahkan olok-olok— dalam acara “Kismis” yang —anehnya, konon—ratingnya tinggi.
Dr. Nono Anwar Makarim: Kebebasan Itu Bukanlah Hadiah
Rezim antikebebasan kini tidak lagi didominasi aparatus negara. Di tengah mengendornya kewibawaan negara pasca-runtuhnya Soeharto, sebagian masyarakat merayakannya secara salah kaprah, yakni mendaulat dirinya sebagai rezim sensor atas elemen masyarakat lainnya. Neraca kebebasan setahun terakhir ini makin carut marut dan terlihat murung manakala ada sebagian masyarakat yang bertindak seolah bagaikan polisi, jaksa dan hakim sekaligus.
Melihat Shahrour Mengintip Inul
Oleh Saiful Amien Sholihin
Sebagian kalangan agamawan merasa risih dan takut munculnya Generasi Muda Nge-fans Inul (GMNI). Inul dianggap sebagai virus yang bisa merusak moralitas penerus bangsa. Inul juga dituduh menyebarkan malapraktik dan tindak perzinaan dan perkosaan. Namun jarang sekali yang mempersoalkan sensualitas goyangan para pejoget dangdut laki-laki yang sering ditayangkan di televisi.
“Resep” Salah bagi Problem Aceh
Oleh Sukidi
Diagnosa yang dilakukan pemerintah terbukti salah, di mana persoalan distribusi keadilan dan ekonomi yang diinginkan warga Aceh justru dijawab dengan syariat Islam yang masih berdiri pada tataran simbolis. Alih-alih distribusi kesejahteraan ekonomi yang masih menjadi retorika pemerintah pusat ketimbang langkah pro-aktif di lapangan, dalam hal distribusi keadilan dengan cara menyeret pelaku kekerasan HAM pada masa DOM pun masih jauh panggang daripada api.
Ade Armando: Pornografi bukan Semata Urusan Agama
Dampak negatif meruyaknya pornografi seperti semakin meluasnya perilaku seksual bebas, pelecehan seksual, perilaku seks menyimpang, penyebaran HIV/AIDS, seks permisif di kalangan generasi muda, dan aborsi, sudah banyak dirasakan masyarakat. Tanpa menyandarkan pada argumen teologis tertentu, pornografi menjadi problem kemanusiaan yang semestinya menjadi agenda bersama seluruh komunitas agama. Rekomendasi Sidang Tahunan MPR melalui TAP MPR No. VI Tahun 2002 kepada presiden agar mengambil langkah mencegah pornografi harus menjadi stimulasi lahirnya regulasi yang mengatur secara jelas masalah pornografi.
Ibn Bajah
Oleh Novriantoni
Menurut Bajah, perbuatan manusia dapat bersumber dari dua motivator. Pertama, dari naluri hewaniah (al-gharîzatul hayawâniyyah) yang antara manusia dan makhluk lainnya paralel belaka. Kedua, kemauan makhluk bernalar (al-irâdatul ’âqilah). Anjuran Bajah: kalau Anda (sebagai manusia) disuruh memilih, maka paculah diri dengan lebih banyak mengakomodasi motif kedua. Sebab, hanya itulah perbuatan yang khas manusia. Murni sebagai tindakan manusia, tidak paralel dengan naluri makhluk hidup lainnya.
Benarkah Poligami Sunah..?
Oleh Faqihuddin Abdul Kodir
Nyatanya, sepanjang hayatnya, Nabi lebih lama bermonogami daripada berpoligami. Bayangkan, monogami dilakukan Nabi di tengah masyarakat yang menganggap poligami adalah lumrah. Rumah tangga Nabi SAW bersama istri tunggalnya, Khadijah binti Khuwalid RA, berlangsung selama 28 tahun. Baru kemudian, dua tahun sepeninggal Khadijah, Nabi berpoligami. Itu pun dijalani hanya sekitar delapan tahun dari sisa hidup beliau. Dari kalkulasi ini, sebenarnya tidak beralasan pernyataan “poligami itu sunah”.
Agama, Akal, dan Kebebasan Tentang Makna “Liberal” dalam Islam Liberal
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Sekali lagi, Islam tidak berguna bagi orang-orang yang telah menyangkal kemanusiaan itu sendiri. Sebab agama bukanlah diperuntukkan bagi keledai.
Budhy Munawar-Rachman: Dialog Pluralisme Sering Lupakan Guru Agama
Kami tak mungkin mengajarkan wawasan pluralisme, tapi guru-gurunya bukan pluralis. Bahaya sekali dan akan merusak ide besar kami. Makanya, orang tua juga harus mendapatkan training atau semacam acara bulanan di mana mereka bisa memahami pluralisme.
Uni Zulfiani Lubis: Inul Semakin Berkibar…
Pertarungan Rhoma Irama, si Raja dangdut, dengan Inul Daratista, si Ratu Ngebor, belum mereda. Uni Z. Lubis, seorang perempuan karier yang berkecimpung di dunia pers, ikut prihatin atas pengekangan kreativitas terhadap Inul. Lebih-lebih, Inul yang diasosiasikan sebagai figur perempuan yang sukses merambah wilayah publik, banyak bersinggungan dengan dunia yang sekarang ditekuni mantan wapemred majalah Panjimas ini.