JIL Edisi Indonesia

Minoritas Muslim Perlu Fikih Minoritas

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Belajar dari pengalaman Mekah, yang perlu dikembangkaan minoritas muslim dalam berelasi dengan mayoritas non-Islam di Barat adalah al-fiqh al-akbar (fikih makro) bukan al-fiqh al-asghar (fikih mikro). Jika fikih mikro terlampau sibuk untuk mengatasi persoalan “receh” atau “trivial” dalam fikih seperti soal penyembelihan hewan kurban, maka fikih makro lebih mengembangkan penegakan moral atau etika publik. Dengan pengembangan al-fiqh al-akbar, peluang umat Islam untuk mencari titik temu dengan pengikut abrahamic religion lain seperti Kristen dan Yahudi lebih mungkin dilakukan.”

07/11/2011 | Editorial, | Komentar (2) #

Berakhirnya “Kepemimpinan Ide”?

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

... jika perubahan di masa lampau cenderung bersifat elitis, di masa depan, basis perubahan sosial akan jauh lebih demokratis. Peran publik pada umumnya, terutama publik kelas menengah yang mempunyai derajat keterdedahan (exposure) yang tinggi terhadap berbagai jenis informasi, akan memiliki peran lebih besar lagi.

Watak perubahan dan gerakan sosial yang “tanpa wajah” ini tampak juga di Amerika Serikat saat ini. Dua gerakan sipil yang menyedot perhatian banyak pihak saat ini, Tea Party dan Occupy Wall Street Movement, menunjukkan ciri serupa: gerakan tanpa mullah dan perumus gagasan. Dua gerakan ini tampak sekali tak diinspirasikan oleh gagasan seorang “filsuf revolusioner” seperti seorang Herbert Marcuse pada dekade 60an, misalnya. Dua gerakan ini nyaris seperti tanpa “kepemimpinan ide”.

07/11/2011 | Kolom, | Komentar (5) #

Menyortir Aspek Lokalitas,  Mengambil Aspek Universalitas Islam

Oleh Muzayyin Ahyar*

“Ulil Abshar Abdalla dalam tulisannya yang sangat kontroversial beberapa tahun lalu di harian Kompas, menyatakan bahwa umat manusia adalah keluarga universal yang dipersatukan oleh kemanusiaan itu sendiri. Kemanusiaan, tegas Ulil, adalah nilai yang sejalan dengan Islam, bukan berlawanan dengan Islam.
Islam dengan pandangannya sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin mendskripsikan keuniversalan Islam tersebut. Allah bukan hanya Tuhan yang diperuntukkan bagi etnis Arab saja, tetapi semua etnis dan suku yang mengakui dzat-Nya dan menjalankan nilai universal yang merupakan the greatest goal dari sebuah praktek yang telah di buat oleh-Nya.”

02/11/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (15) #

Laporan Diskusi Buku The Clash of Ijtihad Benturan Ideologi di Tengah Keterpurukan Bangsa

Oleh Muhammad Subhi*

Menurut Hisanori Kato, fundamentalisme agama tidak selalu muncul dari pemahaman agama yang sempit, tetapi bisa juga karena kondisi ekonomi yang membuat orang menjadi fundamentalis. “Dari penelitian yang saya lakukan, memang ditemukan bahwa kemiskinan dan keterbelakangan mendorong sikap-sikap beragama yang fundamentalis. Faktor ekonomi ini bisa mendorong pencarian identitas, dan agama dapat dengan mudah berubah menjadi isme guna memenuhi kebutuhan akan identitas tersebut. Dan isme yang paling sering muncul di kalangan agama adalah fundamentalisme” jelasnya.

01/11/2011 | Reportase, | Komentar (0) #

Kebebasan “Pilih-Pilih”

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dalam penafsiran saya, kebebasan yang dimaksud dalam Al-Baqarah:256 mencakup dua jenis kebebasan sekaligus. Pertama, kebebasan eksternal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk masuk atau tidak masuk ke dalam agama tertentu. Kedua, kebebasan internal, yakni kebebasan bagi seseorang untuk memilih sekte, mazhab, dan golongan tertentu dalam agama yang dipeluk oleh yang bersangkutan. Dengan demikian, sesorang bebas untuk memeluk atau tidak memeluk agama Islam, misalnya. Manakala orang itu memutuskan untuk masuk Islam, maka ia juga memiliki kebebasan untuk mengikuti golongan apapun yang ada dalam Islam: Sunni, Syiah, Mu’tazilah, Wahhabiyah, Ahmadiyah, dsb. Sebab, Islam bukanlah entitas yang monolitik; di dalam Islam, sejak masa-masa formatifnya sendiri, kita jumpai banyak sekte, mazhab, dan golongan yang berbeda-beda.

01/11/2011 | Editorial, | Komentar (13) #

Islam Berkemajuan: Prinsip Kritisisme dalam “Ideologi” Muhammadiyah

Oleh Muh. Asratillah Senge*

“Ahmad Dahlan adalah salah satu ulama Islam yang berusaha mendekatkan antara rasionalitas dan pengamalan serta pengalaman keberagamaan. Dengan kata lain Sang Pencerah tersebut berusaha menjadikan ilmu pengetahuan sebagai teman akrab bagi agama”

01/11/2011 | Kolom, | Komentar (8) #

Reportase Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal Ikonoklasme dalam Agama-Agama: Perbandingan Hindu, Kristen dan Islam

Oleh Prio Pratama*

Tindakan menorehkan tanda baru (inscribing a new sign) bagi kemunculan suatu gerakan pembaruan adalah lumrah, yang menjadi masalah apakah ia civilized (beradab) ataukah uncivilized (tak beradab). Islam liberal sebagai sebuah gerakan pembaru juga memiliki tandanya sendiri, dan tanda Islam liberal itu pastilah ditorehkan dengan cara beradab, bukan cara barbar, kekerasan atau apalagi dengan merusak patung atau ikon-ikon.

28/10/2011 | Reportase, | Komentar (0) #

Meneguhkan Warisan Gus Dur

Oleh Sholahuddin

Ide-ide Gus Dur ini tidak bisa dipisahkan dari locus, dimana dia adalah seorang pemikir keagamaan yang lahir dari tradisi pesantren, pejuang hak minoritas, politisi, pecinta sastra, peziarah kubur, hingga seorang manusia biasa yang menggemari berbagai hal yang sepele laiknya, wayang, sepak bola dan sebagainya. Dalam konteks tulisan ini, apa yang bisa diambil dari pribadi Gus Dur adalah sikapnya yang konsisten terhadap hak minoritas dan kekebasan beragama di Indonesia.

27/10/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Doa Untuk Tuhan Sebagai Manusia Yang Resah

Oleh Wildanshah

Sejarah agama selalu diwarnai dengan pertumpahan darah, seperti pada masa Voltaire, di Prancis, ada perselihan antara protestan dengan katolik, di India pada masa Gandhi juga terjadi saling bantaian antara Hindu dengan Islam. Bahkan, Indonesia  sebagai negara berslogan “Bhineka Tunggal Ika” merupakan panggung berdarah krisisnya toleransi. Banyak korban sia-sia karena semangat “kebutaan” beragama. Maluku, Poso, dan Bekasi  menodai sejarah sopan dan ramahnya ibu pertiwi. Tanpa sadar bangsa Indonesia sudah meng-agama-kan konflik.

25/10/2011 | Suara Mahasiswa, #

SYARI’AT, UNTUK SIAPA?

Oleh Ahmad Shams Madyan

Tantangan kita memang cukup berat untuk meletakkan ‘Islam’ dan ‘Syari’at’ dalam konteks pluralitas agama. Manakah yang didahulukan, klaim-klaim kebenaran sendiri, ataukah kerendahan hati untuk menerima ‘yang lain’ sebagai orang-orang yang juga berhak memilki klaim kebenaran yang berbeda?

24/10/2011 | Kolom, | Komentar (10) #
Halaman: 7 dari 140 ‹ First  < 5 6 7 8 9 >  Last ›