JIL Edisi Indonesia
Membendung “Syahwat” Politik Muhammadiyah
Oleh Ahmad Fuad Fanani
Polemik fatwa resmi Muhammadiyah untuk mendukung Amien, tentu harus diingat kembali. Dukungan itu terbukti banyak menimbulkan riak-riak konflik di internal Muhammadiyah. Selain itu, asumsi awal bahwa dengan keluarnya dukungan resmi menjadikan suara PAN naik dan Amien confidence maju dalam pilpres, akhirnya hanya menjadi impian yang jauh dari kenyataan.
Danarto: Awalnya, Saya Salat Berbahasa Jawa
Bagaimana seorang yang mengaku dirinya Abangan, buta huruf Arab, dan tidak bisa mengaji ketika salat? Inilah sekelumit pengalaman spiritual yang dituturkan sastrawan Danarto, penulis novel dan cerpen bercorak sufistik atau realisme-magis seperti Godlob dan Asmaraloka serta buku perjalanan hajinya itu Orang Jawa Naik Haji kepada kami.
Agama dan Pencerahan
Oleh Luthfi Assyaukanie
Dua ratus dua puluh tahun lalu, Immanuel Kant menulis sebuah risalah kecil berjudul “Apa Itu Pencerahan?”. Menurut Kant, pencerahan adalah bangkitnya manusia dari rasa ketidakmatangan. Orang-orang yang tercerahkan selalu berpikir ke depan dan selalu memikirkan kemungkinan yang lebih baik dari kondisi yang ada. Karena itulah mereka berani menggunakan pemahamannya sendiri dan membuang jauh-jauh pandangan-pandangan dari masa silam yang tak lagi relevan.
Tafsir Humanis atas Kepemimpinan
Oleh Faqihuddin Abdul Kodir
Ditengah hiruk pikuk menjelang pemilihan presiden, alangkah baiknya kita sekarang ini mengkaji kembali tafsir atas konsep kepemimpinan yang langsung diambil dari sumbernya, Alqur’an dan Hadis. Sebagai upaya sebatas kemampuan manusia, tafsir tidak pernah lepas dari konteks pengetahuan, kondisi sosial dan politik. Karena itu, sejarah peradaban Islam mengenal berbagai ragam penafsiran, baik dalam satu disiplin ilmu, apalagi dalam disiplin ilmu yang berbeda.
Khilafah Islam: Khilafah Yang Mana?
Oleh Jajang Jahroni
Orang yang percaya dengan sistem khilafah beranggapan bahwa Islam tidak hanya menjadi agama semata, namun juga sebagai sistem politik. Era kekuasaan Nabi selanjutnya diteruskan oleh para Sahabat yang melembagakan sebuah sistem politik yang disebut khilafah. Mimpi tentang ‘kejayaan Islam’ sebenarnya sah-sah saja sepanjang didasarkan pada realitas sejarah. Padahal kenyataannya, Islam —tepatnya sejarah Islam— tak mewariskan sistem politik dan kekuasaan yang tunggal.
Andi A Malarangeng: Oposisi Bukan Sekadar Berbeda
Andi Alfian Mallarangeng Selasa lalu (11/5) membuat kejutan politik. Ia mengundurkan diri dari Persatuan Demokrasi Kebangsaan, partai yang ia dirikan dan ia jadikan pelabuhan hatinya. Alasannya, partainya mendukung pencalonan Wiranto sebagai calon presiden dari Golkar. Bagi Anto, sapaan akrab pria yang identik dengan kumisnya ini, posisi yang terbaik untuk partainya saat ini adalah menjadi pihak oposisi bersama dengan kekuatan lain mengontrol pemerintah yanag berkuasa.
Tuhan Kebaikan, Tuhan Kejahatan
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Pertanyaan saya kemudian, apakah betul bahwa sumber kejahatan itu di luar Tuhan? Apakah tidak mungkin kejahatan ada dalam Tuhan sendiri? Kalau kejahatan secara mutlak di luar Tuhan, apakah dalam konsepsi monoteisme hal itu tidak berujung kepada kemusyrikan, karena akibatnya adalah adanya dua Tuhan: Tuhan Kebaikan (The Hero) dan Tuhan Kejahatan (The Villain)? Apakah itu tidak menyekutukan Allah?
Muru’ah Kiai Politik
Oleh M Mas'ud Adnan
Saya tak tahu apa padanan kata yang pas untuk menerjemahkan muru’ah ini. Bisa saja berarti image, citra diri, nama baik, atau harga diri seseorang. Kiai yang semula sangat dihormati kini dihujat akibat perbedaan politik. Masyarakat awam pun bingung karena merasa tak punya panutan. Tapi kenapa Alwi maupun Said Agil dan beberapa kiai tetap asyik berkecimpung dalam dunia politik?
Melawan Hegemoni Takdir Sebuah Refleksi Teologis Melawan Ketertindasan
Oleh Zulfan Barron
Penindasan dapat dikategorisasi ke dalam dua bagian. Pertama, ketertindasan struktural. Pada bagian ini, ketertindasan dan kemiskinan disebabkan oleh struktur yang berada di luar diri yang tertindas. Kedua, ketertindasan mental. Ketertindasan semacam ini lebih disebabkan oleh faktor dalam diri kaum yang tertindas itu sendiri. Bila dilacak ke akar filosofisnya, faktor agama adalah salah satu variabel dominan yang membentuk mental masyarakat tesebut.
Teten Masduki: Korupsi itu Syirik Sosial
Hubungan tinggi-rendahnya korupsi dengan religiusitas suatu negara terkadang sulit ditentukan. Negara yang dikenal religius seperti Indonesia, dalam beberapa survei justru sangat tinggi dalam urusan korupsi. Sebaliknya, sejumlah negara sekuler justru berhasil menekan tingkat korupsinya. Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terjadi?