JIL Edisi Indonesia
Komaruddin Hidayat dan Rm. Mardiatmaja: Pendidikan Agama bukan Tugas Guru Agama Saja
Minggu ini, masyarakat diramaikan dengan RUU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). RUU yang diajukan guna merevisi UU 2/1989 ini ternyata menuai banyak protes dari masyarakat.
Goenawan Mohamad: Sejarah Tak Bisa Diubah dengan Senjata
Jargon pembebasan rakyat Irak dari tirani Saddam Husein sebenarnya hanyalah kedok untuk menutupi lack of mission yang dimiliki George W. Bush dan kaum neo-konservatif di sekeliling Bush. Sejatinya mereka ingin membuktikan bahwa kedigdayaan Amerika bisa mengubah hitam-putihnya warna dunia. Sayangnya, sejarah tak pernah sudi ditundukkan oleh kekuatan militer manapun.
Perang Media dan Media Perang Netralitas Wartawan Peliput Perang
Akhirnya, pasukan Amerika Serikat dan sekutunya berhasil menduduki Irak. Benar-benar menyedihkan! Tentu saja kita tak lupa, invasi ke Irak ini tak hanya mengandalkan peralatan perang yang canggih. Propaganda perang melalui jaringan media telah digunakan Amerika dan Inggris, bahkan sebelum pertempuran itu dimulai. Uniknya, perang kali ini konsumen berita sangat dimanjakan oleh sajian yang beragam sehingga jaringan televisi sekuat CNN, Fox News atau NBC harus “bertempur” habis-habisan dengan televisi Al-Jazeera dan Al-‘Arabiyya untuk memperebutkan opini publik.
Perang dan Tafsir Agama
Oleh Novriantoni
Agaknya, bila beberapa kesan di atas dicermati dalam konteks Indonesia, akan banyak juga pelajaran yang bisa ditimba. Saat ini, nyaris enerji kita tersedot oleh horor invasi AS dan sekutunya atas Irak. Dalam lapangan keagamaan, kekhawatiran akan meningkatnya radikalisme nampaknya mulai mendapat pembenaran. Dalam suasana perang, nyaris tak ada—mungkin tak etis ataupun tak relevan—wacana tentang toleransi dan perlunya mempertahankan visi keagamaan yang lebih mementingkan moderasi.
Setelah Baghdad Jatuh
Oleh Ulil Abshar-Abdalla
Dalam retorika yang berkembang di masyarakat Islam, orang-orang yang mendorong proses pembaruan pemahaman Islam, kerap dipandang sebagai “antek” atau boneka kepentingan bangsa asing (AS dan Yahudi). Retorika itu sengaja diembuskan untuk membangkitkan sentimen negatif umat Islam terhadap tiap gagasan pembaruan. Aneka tuduhan pada kaum Muslim progresif dan liberal sebagai pengimpor gagasan-gagasan asing dari Barat akan amat mungkin makin menguat setelah kejatuhan Baghdad yang tragis. Sebagai pengimpor gagasan asing, kaum Muslim liberal-progresif akan rentan menjadi sasaran kemarahan umat Islam.
Unjuk Rasa Kemanusiaan
Oleh Novriantoni
Naluri kemanusiaan masih hidup. Dia belum meninggal dan tak akan pernah mati. Demikian Syekh Yusuf Al-Qardlawi mengomentari tingginya gelombang protes dunia atas aksi unilateral AS atas Irak (http://www.qaradawi.net). Al-Qardlawi mungkin tepat adanya. Unjuk rasa kemanusiaan yang masih kita saksikan di banyak tempat sampai kini, nampaknya tak mudah berhenti, bahkan potensial terus meningkat.
Azyumardi Azra Bush Sering Pakai Istilah-istilah Biblikal
What went wrong with America? Apa yang salah dalam diri Amerika? Jawabannya kira-kira, horison warganya yang cupet bertemu dengan sosok presiden yang fundamentalistik serta kelompok Hawkish di sekitar Bush yang selalu melihat dunia seperti paku yang harus dipalu. Tata dunia multipolar menjadi kemustahilan di saat Amerika yang hyperpower ini disetir oleh segelintir orang yang berpandangan agresif dan konservatif.
Paradoks Amerika: Radikalisme Berkedok Demokrasi
Oleh Abd A'la
Serangan sepihak terhadap negara lain seperti yang dilakukan AS atas Irak saat ini merupakan tindakan yang hanya mengundang tumbuhnya dendam serta kebencian berkelanjutan. Sejatinya, hal itu merupakan “pendidikan” paling baik bagi pengembangan kekerasan dalam bentuk lain, seperti terorisme dan fundamentalisme agama. Sadar atau tidak sadar, AS dengan kebijakannya itu telah ikut berperan aktif dalam menumbuh-kembangkan gerakan-gerakan radikal dan anarkis tersebut.
Dita Indah Sari Pengecut, AS Mengeroyok Negeri yang Sudah Sekarat!
Sepekan sebelum Irak diguyur bom dan aneka ragam peralatan perang paling mutakhir di bumi ini, Dita Indah Sari melakukan misi perdamaian di negeri yang kini luluh-lantak karena perang itu.
Kritik Atas Jilbab
Oleh Nong Darol Mahmada
Pandangan yang mengatakan bahwa jibab itu tak wajib bisa kita baca di buku ini. Bahkan Al-Asymawi dengan lantang berkata bahwa hadis-hadis yang menjadi rujukan tentang pewajiban jilbab atau h
ijâb itu adalah Hadis Ahad yang tak bisa dijadikan landasan hukum tetap. Buku ini, secara blak-blakan, mengurai bahwa jilbab itu bukan kewajiban. Bahkan tradisi berjilbab di kalangan sahabat dan tabi’in, menurut Al-Asymawi, lebih merupakan keharusan budaya daripada keharusan agama.