JIL Edisi Indonesia

Refleksi Akhir Tahun Tahun Intoleransi dan Lilin yang Tetap Menyala

Oleh Ulil Abshar Abdalla

“Dalam aransemen baru yang menekankan dimensi desentraslisasi dan penghormatan atas HAM ini, kita menyaksikan kegamangan pemerintah, baik pusat atau daerah, dalam menghadapi sejumlah kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok garis keras yang memakai “baju agama”. Selain itu, tak mustahil bahwa di dalam birokrasi pemerintah sendiri, ada elemen-elemen tertentu yang boleh jadi menaruh simpati kepada kelompok-kelompok intoleran semacam ini.”

26/12/2011 | Kolom, | Komentar (21) #

Sinterklas dan Natal

Oleh Trisno S. Sutanto

“Seluruh kompleksitas cerita Injil tentang kelahiran Yesus itu hilang ketika masa Natal direduksi menjadi sekadar figur Sinterklas, undangan belanja, dan masa libur panjang di akhir tahun. Mungkin ini ‘nasib’ yang harus diterima ketika suatu perayaan keagamaan kehilangan élan vital-nya, entah terserap menjadi sekadar pernak-pernik budaya konsumerisme global, atau menjadi sekadar seremoni yang membosankan dan membuat orang mengantuk. Di situ pesan-pesan keagamaan mengalami proses insignifikansi maupun irrelevansi—tak lagi mampu memberi horison guna memaknai kehidupan, sekaligus tak lagi gayut dengan pergulatan sehari-hari.”

26/12/2011 | Editorial, | Komentar (9) #

Dua Wajah Asyura

Oleh Muhammad Ruslailang*

Sejarah tidak selalu menyajikan kronik yang berakhir indah, terutama bagi pihak yang konon terkalahkan. Jauh di dalam ingatan penerusnya, mereka merawat kenangan berbeda dari yang disajikan sejarah. Sejarah memang selalu punya sisi ironi. Dan tragisnya, keyakinan hidup kita banyak terbentuk karena pergumulan kita dengan bacaan sejarah itu!

21/12/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Mengucapkan Selamat Natal

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Dengan demikian, bagi umat Islam sendiri, merayakan natal sesungguhnya merayakan hari kelahiran seorang utusan Tuhan yang harus diimani, Isa al-Masih,  yang diduga jatuh pada tanggal 25 Desember. Sebagai implikasi dari keberimanan itu, semestinya umat Islam juga dibolehkan merayakan hari kelahiran Isa dan hari kelahiran para nabi lain sebelum Muhammad SAW. Sebab, Isa bukan hanya milik umat Kristiani secara komunal melainkan juga semua orang yang mengimaninya. Tokoh-tokoh besar seperti Nabi Ibrahim, Musa, Isa al-Masih dan Muhammad SAW bukan kepunyaan kelompok tertentu saja. Para tokoh itu bisa menjadi teladan dan inspirasi bagi siapa pun.”

19/12/2011 | Editorial, | Komentar (91) #

Gerakan Politik Fundamentalisme Reportase Ceramah Prof. Thomas Meyer

Oleh Saidiman Ahmad

Fundamentalisme tidak terkait dengan satu agama. Ia ada pada semua agama. Demikian Prof. Dr. Thomas Meyer (Universitas Dortmund, Jerman) mengenai salah satu karakter fundamentalisme. Pandangan itu dikemukakan dalam ceramah dan diskusi publik bertajuk “What is Fundamentalism?” 22 November 2011. Acara ini diselenggarakan oleh Jaringan Islam Liberal berkerjasama dengan Friedrich Ebert Stiftung. Selain Thomas Meyer, hadir pula Ulil Abshar-Abdalla sebagai pembanding.

19/12/2011 | Reportase, | Komentar (8) #

Musim Semi di Arab, Musim Dingin di Israel

Oleh Ulil Abshar Abdalla

“Saat ini, sikap skeptis-konservatif dalam melihat fenomena demokratisasi di Timteng tampaknya sudah ditinggalkan oleh banyak pemerintahan di Barat. Dalam pandangan mereka, demokratisasi di Timteng untuk sesaat memang akan memfasilitasi serta menguntungkan partai-partai Islamis. Tetapi, arena demokrasi yang bebas, pada gilirannya, akan memaksa partai-partai itu bersikap pragmatis dan realistis, seperti ditunjukkan oleh, misalnya, partai AKP di Turki. Mengutip pendapat Dubes Palestina di Jakarta, Fariz N. Mehdawi, dalam sebuah percakapan pribadi, pengalaman berkuasa dan menyelesaikan masalah-masalah kongkrit justru akan memaksa partai-partai Islamis meninggalkan retorika mereka yang radikal dan ekstrem.”

19/12/2011 | Kolom, | Komentar (6) #

HAM untuk LGBTI

Oleh Muhammad Royyan Firdaus*

“Membaca kasus-kasus diskriminasi terhadap kaum LGBTI, jelas memperlihatkan bahwa negara sudah masuk dalam ranah privat kaum ini karena memaksa mereka untuk meninggalkan identifikasi diri yang dianggap “menyimpang” itu demi sebuah “moral publik” yang konsepnya menggunakan pandangan mayoritas terhadap minoritas. Padahal proses identifikasi diri dan pencarian jati diri seorang manusia merupakan sebuah ranah privat yang tidak dapat diintervensi oleh siapa pun, bahkan orang-orang terdekatnya. Dalam proses pengidentifikasian diri inilah harga diri dan martabat (dignity) seorang manusia melekat. Martabat manusia adalah hal yang paling hakiki sebagai manusia. Dalam konvensi internasional dan UUD 1945 hasil amandemen beserta UU HAM telah juga dinyatakan bahwa martabat manusia adalah termasuk jenis kebebasan pribadi dan haruslah dilindungi tanpa diskriminasi.”

15/12/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (4) #

Menghalau Radikalisme Agama di Sekolah

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

“Kelompok Islam Wahabi berideologi puritan sekaligus radikal terus mendirikan sejumlah pesantren. Tak kurang dari belasan pesantren yang telah dirintis kelompok Wahabi di Indonesia. Sebagaimana sekolah Wahabi di Arab Saudi, sejumlah pesantren Wahabi di Indonesia mengkampanyekan doktrin yang sama. Mereka suka memusyrikkan dan mengkafirkan orang yang berbeda dengan ajaran Wahabi. Tak cukup hanya mengkafirkan dan memusyrikkan, jika suasana sosial-politik sudah pendukung, kelompok Wahabi tak ragu untuk menggunakan cara kekerasan di dalam mengubah pendirian orang Islam lain. Jalan kekerasan itu pernah dilakukan kelompok Wahabi Arab Saudi terhadap umat Islam lain yang dianggap menyimpang. Kelompok Wahabi tak hanya bengis kepada non-muslim, tapi juga keras kepada umat Islam sendiri yang non-Wahabi.”

12/12/2011 | Editorial, | Komentar (17) #

Indonesia Sebagai Kiblat Pemikiran Islam Dunia

Oleh Evi Rahmawati*

“Ulil menegaskan optimismenya bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi kiblat pemikiran Islam di kancah internasional. Ia mengajukan keberatannya terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh dua sarjana dari Washington mengenai sebarapa Islamkah negara-negara Islam itu dilihat dari berbagai kriteria, seperti pengakuan terhadap hak-hak minoritas, toleransi, pluralisme, transparansi sistem pemerintahan, dsb. Dalam riset tersebut posisi Indonesia berada di bawah peringkat Malaysia. Menurut Ulil, Indonesia jauh lebih pantas menuai peringkat di atas Malaysia, sekurang-kurangnya kalau melihat berbagai perkembangan yang kita miliki hingga saat ini. Bahkan, Ulil mempertegas keyakinannya dengan menyertakan nubuat dari Fazlur Rahman, yang menyatakan bahwa masa depan dunia Islam justru ada di Indonesia, bukan di Arab Saudi.”

12/12/2011 | Reportase, | Komentar (7) #

Politik Islam Berada di Titik Nadir

Oleh Jamal Ma’mur Asmani*

Dengan pergulatan intelektual dan aksi sosial yang panjang dan melelahkan inilah, Islam akan tampil sebagai pioneer perubahan untuk mencapai keagungan Islam dan umatnya, Izzul Islam wal muslim dengan mengedepankan paradigma pemikiran dan gerakan Islam yang moderat, progresif, toleran, inklusif dan pluralis. Mereka aktif mengembangkan pendidikan, ekonomi, peradaban, intelektual, militer, informasi, teknologi dan lainnya untuk mencapai masa kejayaan sebagai sebuah bangsa yang bermartabat. Jika umat Islam negeri ini mampu mewujudkan idealisme ini, maka jargon Islam rahmatan lil alamin, sebagai penebar kasih sayang kepada seluruh penduduk alam, tidak hanya untuk umat Islam saja, bisa menjadi kenyataan, karena dengan kebangkitan Indonesia menjadi negara maju, seluruh elemen bangsa, termasuk mereka yang nonislam bisa merasakan manfaatnya. Dan dari sini Indonesia pelan namun pasti akan muncul sebagai pemimpin baru dunia Islam.

12/12/2011 | Kolom, | Komentar (0) #
Halaman: 4 dari 140 ‹ First  < 2 3 4 5 6 >  Last ›