JIL Edisi Indonesia

Revolusi Post-Islamis di Dunia Islam

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Secara umum, gejala post-Islamisme ini adalah angin segar bagi dunia Islam, sebab ia menandakan bahwa persepsi tentang pertentangan antara Islam dan demokrasi bisa ditepiskan sama sekali. Demokrasi dan Islam, dalam gejala post-Islamisme ini, bisa bergandengan tangan secara damai, layaknya dua pasangan yang sedang pacaran. Pertanyaan yang umum kita dengar di kalangan masyarakat Barat, baik akademis atau non-akademis, Is Islam compatible with democracy?, menjadi kurang relevan lagi.

21/11/2011 | Kolom, | Komentar (11) #

Tiran Arab dan Mitos-mitosnya

Oleh Novriantoni Kahar

Sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 26 Oktober 2011

Kini semua kamuflase tentang sosoknya sebagai pembela Palestina, pemimpin Arab sejati, penguasa Afrika, kekuatan anti-neoimperialisme, tersingkap sudah. Akhir-akhir masa kekuasaannya mengkonfirmasi bahwa penghulu tiran Arab ini (`amid altughaat al-Araby) tak lebih dari sesosok badut yang semau-maunya mengubah skenario dan perannya dalam pentas sejarah. Saking seringnya ia melakukan itu, sampai-sampai kita tidak dapat menemukan benang merah dan tontonan bermutu apa pun dari aksi panggungnya. Robert Fisk, analis senior Timur Tengah di The Independent, menyebutnya sebagai “perpaduan paling edan dari sosok Don Carleone dan Donald Bebek“. Tentu pada sosok The Godfather dan Donald Duck kita masih mendapat tontonan yang bermutu. Pada Qadhafi, semua menjadi begitu memalukan dan memuakkan bagi rakyat Libya.

21/11/2011 | Klipping, | Komentar (6) #

Haji: Ibadah Kaum Materialis

Oleh Muzayyin Ahyar*

Pada masa ini banyak yang berhaji, tetapi banyak pula dari mereka yang berhaji membiarkan tetangganya dalam keadaan lapar yang sangat karena keterbatasan materi, mana nilai keadilan dan kesetaraan dari ibadah haji yang dilakukannya? Banyak yang thawaaf di Ka’bah, tetapi hanya untuk popularitas nama tanpa membawa upaya-upaya perubahan sosial yang lebih positif, mana bentuk nilai tanggung jawab dari ibadah haji yang mereka lakukan? Banyak yang berdoa dengan khusyuk ketika wukuf di Arafah, tetapi khusyuk pula menggunjing sana-sini, dimana bentuk nilai moralitas dari ibadah haji yang dilakukannya?

16/11/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (0) #

Ceramah dan Diskusi Publik “What Is Fundamentalism?”

Ceramah dan Diskusi Publik “What Is Fundamentalism?”
bersama Prof. Dr. Thomas Meyer (Universitas Dortmund, Jerman)

Narasumber pembanding dan pengantar:  Ulil Abshar-Abdalla

Hotel Sofyan Betawi, Jl. Cut Meutia, No. 9, Jakarta Pusat
Senin, 21 November 2011, Pukul 18.00 – 21.00 WIB

16/11/2011 | Agenda, | Komentar (3) #

Reportase Diskusi Kampus UI Depok Post-Islamisme: Islamisme yang Berdemokrasi

Oleh Fariz Panghegar*

“Ulil, mengutip dari Asef Bayat, menjelaskan karakteristik-karakteristik post-islamisme yang membuatnya berbeda dengan islamisme. Post-islamisme menolak sekularisme yang cenderung memusuhi agama, namun kaum post-islamist juga menolak gagasan teokrasi. Ulil menjelaskan konsep sekularisme lama yang bermula di Eropa yang cenderung bersifat anti agama. Muncul varian baru sekularisme yang ramah terhadap agama, salah satunya adalah konsep twin-toleration, di mana negara bersikap netral dengan memberi dukungan yang adil bagi semua agama untuk dapat hidup agar umatnya bisa menjalankan aktivitas keagamaan dengan leluasa dan di lain pihak agama juga tidak memaksakan prinsip-prinsipnya kepada publik. Ulil menambahkan, dalam konsep twin-toleration tidak ada permusuhan antara negara dan agama, yang ada adalah kerja sama di antara keduanya.”

16/11/2011 | Reportase, | Komentar (7) #

Kritik atas Fikih Perkawinan

Oleh Abdul Moqsith Ghazali

Akad nikah dalam fikih Islam cenderung bersifat material, jauh dari hal-hal yang bersifat filosofis dan romantis. Umat Islam sesekali perlu menengok praktek akad nikah umat agama lain. Dalam perkawinan Katolik misalnya, yang menjadi sentral pembicaraan dalam akad nikah adalah soal cinta kasih. Ia adalah soko guru dan fondasi yang akan kuat menopang rumah tangga. Demikian kuatnya ikatan perkawinan yang hendak dirajut, pengkhotbah dalam perkawinan selalu berkata: “Apa yang dipersatukan oleh Tuhan tak boleh diceraikan oleh manusia”.

15/11/2011 | Editorial, | Komentar (39) #

Diskusi Bulanan “Sahabat Nabi: Dipuji, Dicaci”

Diskusi Bulanan Jaringan Islam Liberal
“Sahabat Nabi: Dipuji, Dicaci”

Narasumber: Jalaluddin Rakhmat (IJABI) & Luthfi Assyaukanie (JIL). Moderator: Abdul Moqsith Ghazali
Kamis, 24 Nopember 2011
Jam 19.00-21.30
di Teater Utan Kayu Jakarta

14/11/2011 | Agenda, | Komentar (13) #

Dari Demokrasi Menuju “Dimuqratiyya”

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Di sini, proses berikutnya menjadi sangat penting: yaitu pribumisasi atas konstitusi – proses di mana nilai-nilai yang dijamin dalam konstitusi mempunyai daya gugah bagi masyarakat karena diterjemahkan melalui nomenklatur budaya yang akrab bagi mereka. Dalam kasus Islam, misalnya, jaminan atas nilai-nilai kebebasan, termasuk misalnya kebebasan beragama, akan mempunyai makna yang mendalam bagi umat manakala nilai itu mendapatkan justifkasi dari ajaran Islam sendiri, sehingga, dengan demikian, nilai itu bukanlah nilai yang asing lagi, tetapi nilai yang sudah mempribumi dalam kerangka simbolik yang mereka pahami – nilai yang legitimate.

14/11/2011 | Kolom, | Komentar (10) #

Nilai-Nilai Humanisme Hari Raya Idul Adlha

Oleh Khoirul Anwar *

“Dengan maraknya berbagai aksi kekerasan di Indonesia yang nota bene adalah negara muslim terbesar di dunia, tindak kekerasan, mulai dari teror, perusakan tempat ibadah,  kerusuhan, hingga pengeboman yang kian hari bagai bola salju yang terus menggelinding dan melaju, agaknya hari besar ini patut dijadikan sebagai kontemplasi religius: kenapa negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam tapi di sana-sini terdapat aksi kekerasan? Bukankah Islam melarang manusia bertindak anarkis? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan demikian, dalam hemat penulis, disebabkan oleh kesalahan mereka dalam memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Oleh karena itu Idul Adha kali ini jangan hanya dijadikan sebagai “perayaan ritual” an sich, tapi lebih dihayati sebagai hari di mana Allah melarang umat manusia bertindak anarkis.”

09/11/2011 | Suara Mahasiswa, | Komentar (16) #

Yang Terlarang Bersujud

Oleh Saidiman Ahmad

Seorang teman pengunjung berbisik,”masalahnya bukanlah bahwa anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah ini memiliki keyakinan yang sama dengan umumnya orang Islam. Sekalipun mereka sungguh berbeda, mereka tetap memiliki hak yang sama untuk berkeyakinan dan beribadah.” Saya mengangguk setuju.

07/11/2011 | Reportase, | Komentar (10) #
Halaman: 6 dari 140 ‹ First  < 4 5 6 7 8 >  Last ›