Kolom,
01/02/2012

Agama dan Otak Manusia

Oleh Luthfi Assyaukanie

Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama. Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.

01/02/2012 18:33 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (18)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

pemikiran Ultra religion dapat memberikan dimensi-dimensi dalam pandangan yang mampu mengarah kemajuan evolusi secara integral.

#1. Dikirim oleh michael jourdan  pada  01/02   07:16 PM

Saya setuju bahwa Tuhan dan Akhirat adalah konsep hasil kebudayaan manusia.

Tetapi bukan berarti yang imajiner itu tidak berarti.

Kebudayaan manusia tidak akan bisa berkembang pesat tanpa bantuan konsep2 yang imanjiner. Itu terbukti di masa lalu, dan pasti juga di masa datang.

Judhianto
Lihat juga tulisan saya: Bilangan i, Cinta, dan Tuhan

#2. Dikirim oleh Judhianto  pada  01/02   07:29 PM

Menurut yg sya ktahui,islam berdiri brdasar dari dua dalil,yaitu dalil aqli(akal) & naqli (non akal).kita harus seimbang dlm mnggunakan kdua dalil tsb.dmikian juga mnurut sya dan umumnya kaum muslimin, agama islam bukanlah skedar hasil karya mnusia,melainkan ajaran Allah yg d turnkan kpd Rasul2-Nya utk dsampaikan kpd umat manusia

#3. Dikirim oleh Abdullah  pada  01/02   11:15 PM

saya tidak sepenuhnya setuju, karena menurut saya agama adalah wahyu yg jelas2 butuh kajian mendalam dalam mengartikan dan menfsirkan wahyu2 tersebut. Untuk bisa membaca, mengartikan,menafsirkan sampai menjalankan agama memang harus menggunakan akal budi. Akal budi pun tidak semata2 logika, dibutuhkan sebuah keyakinan atas agama agar umat menjalankan perintah ritualnya. Tdk ada alasan utk tdk melakukan ritual sebuah agama sebelum seorang umat mengerti alasan atau rasional sebuah perintah agama. Misalnya baru mau menjalankan puasa jika ia paham rasional atau alasan logis dari puasa. Akal manusia terlalu kecil utk mengerti besarnya kajian yg dibahas oleh agama.

#4. Dikirim oleh motulz  pada  01/02   11:16 PM

Benarkah ini stekmen dari anda( Luthfi)?. saya kurang yankin, sebab, jika anda berakal tak mungkin berkata seperti stekmen yang kayaknya seperti disediakan oleh programer Barat…..saya katakan demikian, karena anda mengaku muslim, sedang muslim sebodoh apapun ia, tahu bahwa agama islam ini bukan ciptaan akal, tetapi bersumber wahyu…....Tak heran jika yang berkata orang kafir, sebab selain islam,, semua agama adalah ciptaan manusia, (ini ilmiyah / haQ , bisa diuji di laboratium.

#5. Dikirim oleh joko  pada  02/02   01:05 AM

“Agama adalah akal”. Maksudnya Pertama; Agama Islam itu selari dengan akal” (ini kepastian). contoh;.....“Mesihkah selain islam yang mereka cari?. padahal apa yang dilangit dan dibumi, semuanya islam / tunduk kepada-Nya,baik taat atau terpaksa dan kepada-Nya mereka dikembalikan” (Ali-Emran***).

Anda (luthfi)jika merasa tidak tunduk lantaran punya kekuatan akal, mengapa akal anda tidak sampai kemaksud ayat ini?....Mengapa anda sekarang telah ber-UBAN-Muka kereput_ dan sebentar lagi kepada-Nya anda kembali?. ...Alangkah beruntungnya anda jika diterima disisi-Nya. dan ruginya orang-orang yang taat…...Alangkah untungnya orang yang tidak pernah bersekolah lalu mendapat ijazah sarjana….. Ketahuilah akal anda ini ibarat akal PAULUS JIL purba, yang berkata; “Kamu bukan selamat lantaran amal perbuatan yang soleh mengikut syariat, tetapi lantaran hanya beriman kepada Kristus. Iblis bukan saja beriman kepada Allah, tetapi dia berdialog langsung, oleh sebab membangkang, maka tahulah sendiri wahai Luthfi!

#6. Dikirim oleh joko  pada  02/02   01:19 AM

(“Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia. Tanpa akal tak ada agama. Hanya makhluk hidup yang berakal yang beragama. Yang tak berakal tidak menciptakan agama dan tak pernah peduli dengan agama. Yang membedakan manusia dari hewan-hewan lainnya adalah akal yang dimilikinya. Akal adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi makhluk-hidup yang panjang.”)

Bismilahirrahmanirrahiim.
Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu. QS 29:(43)

Sebenarnya, Al Qur’an itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu [3]. QS 29:(49).

Kalau kita perhatikan ayat2 ALLAH diatas itu bahwa
orang2 yang beragama itu adalah yang berilmu.

Ilmu adalah produk akal.

Kalau akal/otak tidak brfungsi baik, produk agama itu tidak ada,seperti binatang.

Jadi manusia yang tidak memfungsikan akalnya,dia tidak tahu agama,sama dgn binatang.

Bukankah demikian?

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

 

 

#7. Dikirim oleh alatif  pada  02/02   06:30 AM

Akal dan kecerdasan digunakan untuk mengokohkan keimanan, memilah antara yang benar2 datang dari Nabi dan dipraktekkan oleh sahabat ataukah hasil rekayasa akal tanpa dalil, dan memahami Alquran dan as-sunnah, bukan untuk menolak dan membantahnya, kalaulah ada pertentangan maka yang disalahkan adalah akal, bukan nash.

Kalau diserahkan kepada akal, maka saat anda masih punya wudlu dan kentut, maka mestinya cebok bukan mengulang wudlu. Kalau dibiarkan menurut akal, maka cara sholat yang kita lakukan sekarangpun mestinya cukup dengan hanya merapatkan tangan krn lebih praktis, tidak jumpalitan, tidak menghabiskan waktu, jumlahnyapun tidak perlu sesuai rakaat yg baku, dll

Yang jelas, itu bukan hadist. Kalaulah diyakini sebagai hadist sebagaimana penulis, maka hadistnya batil dan mungkar (An-Nasai). Penulis berhak untuk terancam dgn hadist mutawatir ‘Barang siapa yang sengaja berdusta atasku maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari neraka.’ Dalam hadis lain, ‘Barang siapa menceritakan hadis dariku, yang diduga ia adalah dusta, maka ia termasuk dari dua pendusta.’

Lihat http://kaahil.wordpress.com/2009/10/27/bantahan-jil-agama-adalah-akal/

#8. Dikirim oleh Lutfi  pada  02/02   06:57 AM

Satu catatan menarik seputar keterpautan agama (termasuk di dalamnya ritual, serta tradisi keagamaan)dengan akal manusia. Hal yang juga sangat “menarik” bahwa akal mempunyai “otoritas” dalam keberlangsungan satu ritual keagamaan; berlangsung atau tidaknya satu upacara agama, tergantung akal.
Entahlah, dari mana teori ini tersimpulkan. Dengan teori ini juga, tidak menutup kemungkinan kalau itual dalam Islam (ibadah) juga akan mengalami pergeseran.
Teori selanjutnya akan berbunyi: Tuhan dan ketuhanan bisa diakali, karena akal itulah Tuhan.

#9. Dikirim oleh zulfan syahansyah  pada  02/02   07:12 AM

kalimat “Agama bukan hanya akal, tapi merupakan produk akal manusia” adalah rancu. coba lihat kalimat induk “bukan hanya akal” dijelaskan dengan “tapi”. paragrap berikutnya malah menonjolkan akal. terkesan ada usaha menonjolkan akal. bahasa mencerminkan akal. bila bahasa jelek seperti ini mencerminkan akal bung lutfi yang kacau balau. baca ilmu logika dong kalomau mengagungkan akal. bahasa bagian dari akal juga lho.

#10. Dikirim oleh dr taufik spog  pada  02/02   09:40 PM

Benar, tetapi mesti ingat bahwa hanya agama islam yang benar…ia bisa diuji dilaboratium. karena itu tiada paksaan atau tipuan untuk memeluk islam. karena jika dipaksa dan ditipu, maka setelah hilang paksaan itu, maka kembalilah ia kafir. dan setelah sadar dari tipuan itu maka juga kafir semula.

segala apa yang wujud di jagat alam ini ASLAM / berserah tunduk dengan Allah baik taat atau terpaksa, dan kepada-Nya dikembalikan.(Tak ada yang kekal bukan?). beruntunglah orang-orang yang tunduk karena taat, karena dibalas surga, dan rugilah mereka yang membangkang, karena agama ini wajib diamalkan di bumi/ negara, bukan setelah mati di dalam kubur.

#11. Dikirim oleh joko  pada  03/02   03:16 PM

“Afala ta’qiluun” / “Apakah mereka tidak berakal?”.
.....Jika akal itu, tuhan, takmungkin Tuhan berfirman demikian. jika surga & neraka tidak ada, maka untunglah mereka yang mengikuti hawa nafsu, seperti membunuh, mencuri merampok atau menggauli isteri orang dan yang kaya raya yang ganteng tetapi kafir. sebaliknya rugilah mereka yang taat tunduk kepada segala perintah-Nya serta mereka yang cacat, yang buruk rupa, karena segala kesenangan dunia hanya dimiliki oleh golongan pertama saja, sedangkan cita rasa dan keinginan manusia sama saja dengan golongan pertama. selamat menggunakan akal.

#12. Dikirim oleh joko  pada  03/02   03:23 PM

Assalamualaikum
Kepada mas luthfi terima kasih adanya tulisan ini sehingga aku dapat bertemu dengan yudhianto, dimana tulisannya begitu bermanfaat, sesuatu misinglink yang sangat diperlukan dalam mencari kebenaran.
Wassalam

H. Bebey

#13. Dikirim oleh H. Bebey  pada  04/02   04:30 PM

Kebanyakan kita beragama berdasarkan ajaran keturunan.Sedikit sekali di antara kita yang benar-benar belajar agama.Satu-satunya sumber pengetahuan agama masyarakat kita diperoleh dari acara pengajian,yang penyampaiannya secara otodidak, jauh sekali dari nilai-nilai akademik.Sehingga antara Ajaran Agama Islam dengan budaya Arab tidak bisa dibedakan. Padahal Arab belum tentu Islam. Islam belum tentu Arab.

#14. Dikirim oleh Nirafdi Pitopang  pada  07/03   05:21 PM

Mas luthfi, mau nanya nih,,,Yang nyiptain akal tuh siapa?,,,maaf ini pertanyaan bodoh.

#15. Dikirim oleh anton  pada  07/03   06:49 PM

Perampungan peta gen manusia saat ini tidak memberikan hasil bahwa manusia berkerabat dengan kera. Orang tidak perlu tertipu oleh upaya para evolusionis untuk mengeksploitasi perkembangan ilmiah baru ini sebagaimana telah mereka lakukan dengan yang lain-lainnya.
Seperti diketahui, perampungan terakhir peta gen manusia sebagai bagian dari Projek Genom Manusia merupakan perkembangan ilmiah yang sangat penting. Namun, sebagian hasil dari projek ini diselewengkan oleh beberapa terbitan evolusionis. Dinyatakan bahwa gen simpanse memiliki 98% kesamaan dengan gen manusia. Ini dikemukakan sebagai bukti bagi klaim bahwa kera berhubungan dengan manusia, dan seterusnya, sebagai bukti bagi teori evolusi. Kenyataannya, ini adalah bukti “palsu” yang diajukan para evolusionis yang mengambil keuntungan dari kurangnya pengetahuan publik tentang subjek ini.
Klaim 98% Kesamaan Adalah Propaganda yang Menyesatkan
Pertama, harus ditegaskan bahwa konsep 98% kesamaan antara DNA manusia dan simpanse yang sering dikemukakan para evolusionis bersifat memperdaya.
Agar dapat mengklaim bahwa bentuk genetis manusia dan simpanse memiliki 98% kesamaan, genom simpanse juga harus dipetakan, seperti halnya manusia. Keduanya harus dibandingkan, dan hasilnya harus didapatkan. Namun hasil semacam itu tidak tersedia, karena sejauh ini, hanya gen manusia yang telah dipetakan. Belum ada riset seperti itu dilakukan pada simpanse.
Pada kenyataannya, 98% kesamaan antara gen manusia dan simpanse, yang adakalanya memasuki agenda, adalah sebuah slogan bertujuan propaganda yang secara sengaja diciptakan beberapa tahun silam. Kesamaan ini adalah sebuah generalisasi yang dibesar-besarkan secara luar biasa dengan dilandaskan pada kesamaan dalam rangkaian asam amino dari sekitar 30-40 protein dasar yang ada pada manusia dan simpanse. Suatu analisa rangkaian telah dilakukan dengan metoda yang disebut “hibridisasi DNA” pada rangkaian DNA yang berhubungan dengan protein-protein ini dan hanya sejumlah terbatas dari protein itu yang telah dibandingkan.
Namun, sebenarnya ada sekitar seratus ribu gen, dan karenanya ada seratus ribu protein yang dikodekan oleh gen-gen ini pada manusia. Karena itu, tidak ada dasar ilmiah untuk mengklaim bahwa semua gen manusia dan kera 98% sama hanya karena kesamaan 40 dari 100.000 protein.
Di lain pihak, perbandingan DNA yang dilakukan pada 40 protein ini juga kontroversial. Perbandingan ini dibuat pada tahun 1987 oleh dua orang ahli biologi bernama Sibley dan Ahlquist, dan dipublikasikan dalam terbitan rutin bernama Journal of Molecular Evolution. 15 Namun, ilmuwan lain bernama Sarich yang menguji data yang diperoleh oleh kedua ilmuwan ini menyimpulkan bahwa tingkat kepercayaan atas metoda yang mereka gunakan kontroversial dan bahwa data tersebut telah ditafsirkan secara berlebih-lebihan.16 Dr. Don Batten, ahli biologi lainnya, juga menganalisis masalah ini pada tahun 1996 dan menyimpulkan bahwa tingkat kesamaan yang sebenarnya adalah 96,2% dan bukan 98%.17
    
 
15 Sibley and Ahlquist, Journal of Molecular Evolution, vol. 26, hlm. 99-121
16 Sarich et al. 1989. Cladistics 5:3-32
17 C. E. N. 19(1): 21-22, Desember 1996-Februari 1997

#16. Dikirim oleh Ahmad Nadzie  pada  09/03   05:48 AM

nurani terdalam tanpa ambisi dan nafsu yang dapat memahaminya….kesadaran sebagai makhluk Tuhan.

#17. Dikirim oleh Ahmad Yanis  pada  16/03   01:56 AM

agama produk Allah om, diciptakan juga akal untuk menerimanya.. jangan di balik-balik, mungkin anda juga akan mengatakan islam produk Muhammad..

#18. Dikirim oleh andi  pada  07/05   05:51 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?