K.H. Ali Maschan Musa: Agama dan Politik Tak Bisa Dipisahkan
Oleh Redaksi
Substansi memelihara agama adalah dengan memakai pendekatan intrinsik, bukan pada yang ekstrinsik, atau sekedar something to use. Islam artinya kedamaian, yang intinya bagaimana kita berdamai dengan orang lain, bagaimana agar tiap detik kita bisa menyelamatkan orang lain.
Komentar
Dunia yang terlukis dalam wawancara antara dua Kiai di atas membuat saya jadi gemes dengan artikel sebelumnya, soal “menggagas sastra religius”. Gemes karena dunia pesantren yang dibicarakan di dalam wawancara itu ternyatalah sangat luas, dan detilnya sangat menarik, kok gak ada yang nulis cerita pesantren yang utuh dan mencerahkan? Atau sudah ada tetapi saya luput bacanya? Padahal kawan-kawan cendekia di JIL nggak ada yang gak pinter nulis. Pesantren sudah menciptakan “tabungan” modal sosial dan budaya untuk demokrasi (artikel dulunya lagi), dan sekaligus juga sudah jadi sumbu pendek dengan kelompok garis keras berbasis Timur Tengah.
Bau mesiu di Palestina tercium sampai Tenggulun menjadi dendam memabukkan. Tetapi apakah kesejukan Para Kiai Tanah Jawa sampai ke gurun-gurun Arab nan panas? Apakah kehangatannya sampai ke gunung-batu dan salju Afghanistan? Boleh nggak, saya yang awam minta dituliskan satu karya sastra, yang melukiskan kehidupan warnawarni, romantika dan dinamika pesantren di Indonesia? Pada kedua Pak Kiai di atas, saya mau tanya, masuk akal nggak kalau saya berharap, muslim Indonesia, gemblengan pesantren lokal, bisa memperbaiki citra muslim saat ini? Yakni sebagai poligamer dan teroris, yang memberi “award” pada poligami maupun meringis, senyum, ngacung jempol, saat dijatuhi hukuman mati untuk kejahatan teror, bangga pada kegilaannya sendiri. Apa Muslim yang Sejuk bisa memeluk yang panas hingga yang panas bisa reda demamnya dan berhenti meracau dengan dar-der-dor?
Salam bertanya, Bram.
Maaf… hanya mau titip tulisan ini… Insya Allah pas dengan topik di atas.
Spiritualitas Politik Oleh:Webmaster pada 27 Agustus 2003>04:33 am CT Sumber: http://www.keadilan.net/spiritualisme.htm
Jika politik di anggap wilayah yang kotor, maka berkecimpung di dalamnya akan berkonsekuensi mengotori spiritualitas (ruhiyah). Tapi, jika politik adalah medan perjuangan dakwah, maka pada saat yang sama ia akan menjadi sarana tarbiyah, termasuk tarbiyah ruhiyah. Sebagaimana pengalaman politik saya bersama PK Sejahtera selama ini.
Keteladanan Aleg Di tengah “keluguan politik ” anggota legislatif (Aleg) PK (sekarang PK Sejahtera) yang seratus persen pendatang baru di dewan, mayoritas mereka - alhamdulillah—telah tampil menjadi simbol kejujuran. Bahkan, sebagian mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk menentang penyimpangan (kasus suap pencalonan Bupati; pengungkapan sogokan DPR Propinsi; dan lain-lain). Sebagian lagi terus memelihara kepekaan terhadap derita kemiskinan rakyat dan kesederhanaan para kader PK Sejahtera. Sehingga setiap kali akan menikmati gajinya dan berbagai fasilitas dewan, yang terbayang adalah kemiskinan masyarakat dan para kader partai. Padahal di depan matanya “uang haram” bernilai puluhan, ratusan juta, bahkan miliaran berseliweran. Dalam sebuah kesempatan mereka berkata pada saya dengan raut kesedihan: “kalau tidak sungguh-sungguh mempertahankan diri, moral antum akan terkotori oleh aleg-aleg korup itu. Ana ingin lihat bagaimana nanti antum jika sudah masuk Dewan, bisa nggak tetap idealis!”. Masya Allah! Laa haula wa laa quwwata illa billah. Nurani saya terhentak atas tausiyah aleg PKS yang Pantang Korupsi Sogokan.
Keteladanan Fungsionaris Saya telah menjadikan beberapa fungsionaris partai di berbagai level sebagai “teladan”. Ada fungsionaris yang sangat produktif, sehingga saya berkeyakinan, partai benar-benar akan kehilangan jika orang-orang seperti ini absen. Ada fungsionaris yang baru masuk menjadi anggota dewasa, tapi komitmen kerjanya melebihi kader ahli. Saya merasakan ikhwah itu seperti menggantikan 2-3 orang fungsionaris yang kerjanya tak optimal. Saya menemukan fungsionaris yang hari-harinya berpikir bagaimana menggerakkan kader lainnya untuk “menjual” partai dari rumah ke rumah. Ia bertekad untuk menularkan semangatnya ke seluruh kader di berbagai DPD. Ada ketua DPD yang ketika masih tak sadarkan diri akibat dibius dalam operasi bedah, mengigau: “Hidup PK Sejahtera!”. Dokter dan bidan yang mengoprasi sang Ketua bertanya keheranan, “Bagaimana cara membentuk kader seperti ini?”. Nurani saya tertegun, malu dan kagum kepada mereka. Mereka sesuai dengan nama PKS, yakni Partai Kader Sejati.
Keteladanan Kader Tim Lajnah Pemilu Pusat (LPP), ketika keliling ke daerah, telah menyaksikan fungsionaris dan para kader menghidupkan jihad maali (tabungan pemilu) di tengah berbagai kendala keuangan mereka. “Cara mereka menabung seperti memeras cucian yang sudah berkali-kali mereka peras, sehingga yang tidak ada lagi air yang menetes. Walau hanya recehan, mereka tetap menyumbang. Bahkan juga sudah pakai menyisihkan beras yang mereka konsumsi, sebagai tambahan tabungan pemilu”, begitu kata pak Razikun, Ketua LPP, menggambarkan kejadian di satu DPW. Cerita-cerita seperti di atas ini yang membuat saya gemetar dan grogi ketika berhadapan dengan ribuan massa ketika peresmian DPW dan DPD di daerah-daerah. Bukan karena tidak punya bahan untuk pidato, saya gemetar dan grogi karena saya yakin sedang berhadapan dengan orang-orang yang sudah berkorban besar untuk jalannya partai dakwah ini. Pada saat yang sama, saya pun merasa terharu ketika melihat mereka “mojok”, memakan bekal perjalanan bersama anak dan istrinya, di bawah pohon dan terik matahari; atau naik motor “butut” bertiga, berempat, bahkan berlima dengan anak-anaknya. Nurani saya bergetar menyaksikan jihad dan romantisme kader PKS. Mereka benar-benar sesuai dengan nama PKS, yakni Partai Kantong Sendiri dan Partai Keluarga Sakinah.
Keteladanan Tokoh Umum & Simpatisan Seorang tokoh nasional menolak ajakan sebuah partai besar untuk bergabung dan menduduki posisi strategis. Ia lebih memilih menjadi kader PK Sejahtera. Sekalipun dengan ini, ia tidak mendapatkan posisi apapun di PK Sejahtera. Itu semua karena panggilan idealismenya. Padahal, tokoh-tokoh yang lain sibuk melakukan intrik untuk duduk di salah satu partai besar itu. Saya mengetahuinya karena sang tokoh itu kebetulan duduk persisi di sebelah saya saat menolak ajakan itu lewat handphonenya. Ketika itu kami sedang diskusi dengan kader PK Sejahtera.
Di sebuah daerah, seorang Aleg DPRD II dari salah satu partai Islam-yang di sana tidak ada Aleg PK Sejahtera - telah rela melepaskan “kursi empuknya”. Semata-mata karena alasan idealismenya. Katanya : “Dewan telah dipenuhi ‘ular’, bukan manusia”. Lalu ia memilih masuk PK Sejahtera.Walaupun dengan ini, belum tentu ia bisa duduk di kursi “empuk” Dewan pada masa berikutnya.
Seorang ulama besar di NTB, yang tidak ada kaitannya dengan PK Sejahtera, bermunajat di depan Ka’bah ketika berhaji. Ia sangat prihatin akan masa depan ummat dan bangsa Indonesia. Ia meminta petunjuk Allah untuk pemilu masa depan. Hingga ia dapatkan keyakinan bahwa ia harus mendukung PK Sejahtera. Ia mendukung partai ini, walaupun tidak ada barter duniawi.
Saya terkagum-kagum, betapa mereka telah mendukung PK Sejahtera tanpa pretensi jabatan duniawi. Mereka ini memahami PKS sebagai Partai Keikhlasan Sanubari.
<div align=“center”>***</div>
Pengalaman-pengalaman di atas membuat saya merenung. Ternyata kegiatan politik pun dapat memberikan tarbiyah spiritual (ruhiyah) yang luar biasa. Pada saat yang sama, kekuatan spiritual seseorang pun, baru terukur di medan “perang” yang sesungguhnya. Untuk menjadi pedang yang tajam, besi baja harus di panggang dalam bara api dan ditempa palu godam. Apatah lagi untuk masuk surga Ilahi. Allahumma ya muqollibal
Penulis:Al-Muzzammil Yusuf, Wakil Ketua Umum PK Sejahtera
Bismillahirohmanirohim
Assalamualaikum wr wb
Dan salam sejahtera untuk semua pengunjung JIL
Baru baru ini di negara saya, Singapura terjadi sedikit kegawatan. Isunya ialah apabila pemerintah ingin melonggarkan berapa Undang-undang mengenai orang orang yang mengamalkan homoseksual.
Cadangan ini telah ditentang dengan keras oleh Majlis Geraja Geraja Kebangsaan Singapura (National Church Council = NCC). Kata mereka ialah dengan melonggarkan berapa Undang-undang keatas pelaku homoseksual, kerajaan telah dengan sendirinya mengikhtiraf homoseksual sebagai satu kebiasaan yang halal dan tidak bertentangan dengan hukum alam.
NCC juga mengatakan, mengikut kitab Bible homoseksual dilarang dan dalam jangka panjang ia merosakan peradabaan manusia dan aturan berumah tangga.
Petisan yang dibuat oleh NCC sebaliknya ditentang bukan oleh agensi kerajaan tapi ditentang hebat oleh gologan sekular. Kata mereka pihak gereja tidak seharus nya mencampuri urusan politik.
Golongan sekular mengatakan pihak gereja harus menghormati kebebasan individu. Soal seks adalah soal individu.
Nah di sini kita harus bertanya kalau urusan politik kita biarkan seratus peratus di urus tanpa ada campur tangan dari hukum agama. Boleh ke manusia itu dapat membezakan yang mana halal dan yang mana haram ? Saya rasa belum tentu boleh. Sebab fitrah manusia itu cenderung pada hawa nafsunya.
Bebalik kepada agama Islam, memang belum terjadi dalam sejarah ada ulama yang mempolori agar Islam itu dipisahkan dari politik. Cuma yang kita lihat apabila orang Islam itu menjadi politikus ia tidak memasukkan Islam dalam pemerintahannya.
Ia mengunakan Islam untuk kepentingan tujuan politiknya. Apabila telah berkuasa ia akan menekan Islam itu sendiri. Sebab itu kita lihat negara negara mayoriti nya orang Islam masih belum mencapai kemajuan.
Dalam Islam tidak ada teori ” give Ceaser what belong to Ceaser dan give God what belong to God”
Dalam Islam, agama dan politik tidak boleh dipisahkan. Kalau dipisahkan akan hancurlah negara dan rosaklah Akidah. Kerana dalam Islam agama itu berarti kehidupan.
Sekian terima kasih
Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore.
Mampukah kamu sendiri memberikan tanggapan yang sejuk?!
Kalau belum… jangan harap muslim gemblengan pesantren mampu ‘memperbaiki’ muslim luar pesantren.
Perbaiki diri sendiri, dan serulah orang lain [kalau sudah baik]
ibda’ binafsika, saudaraku!
Assalammu’alaikum
Saya setuju dg pendapat KH.ali maschan musa, kita perlu mengajak dialog dg saudara kita yang berbeda prinsip. Saya kuatir kalau kita biarkan mrk akan akan menjadi alat politik bagi pihak2 yang ingin merusak islam atau pemerintah, yang kedua bisa memperpecah persatuan sesama kaum muslim.
Saya juga ingin memberikan saran kepada PB NU yang notabenya adalah organisasi islam terbesar di indonesia, seharusnya tidak lagi memiliki ponpes tradisional, karena image bahwa ponpes NU adalah ponpes tradisional akan membuat bahwa alumni ponpes NU kurang mengerti tentang perkembangan jaman, dan saran kedua agar para Kyai NU tidak ikut mendukung atau menjadi pelaku politik. Karena saya khawatir kalau para Kyai ikut dalam politik trus siapa yang akan mengawasi pemerintahan. Terima kasih.
Wassalammualaikum
Assalamu’alaikum
Nampaknya perlu klarifikasi antara judul wawancara “Agama dan Politik tak Bisa Dipisahkan” dengan isi wawancara Pak Kyai. Sebab, agama pada intinya adalah spiritualitas, sementara politik bertujuan lain dan bersifat profan saja. Keduanya tak bisa disatukan. Saya mempertanyakan kontradiksi kedua hal di atas, dan mempertanyakan antara ucapan Pak Kyai dan isi wawancara: mana yang benar. Untuk tanggapan, kalau agama intinya cuma spiritualitas dan Islam tidak bisa disatukan dengan hal yang duniawi/profan seperti politik, kenapa Pak Kyai tidak mengiyaskannya juga ke ekonomi yang merupakan urusan dunia dan bersifat profan? Maksudnya, apakah Pak Kyai juga akan mengatakan bahwa Islam tidak bisa disatukan dengan ekonomi? Apakah Pak Kyai juga menafikan sistem ekonomi dalam Islam? Ekonomi kan profan juga?! Bagaimana dengan bab-bab buyu’, tijarah, dll., yang ada dalam kitab-kitab kuning itu? Bagaimana juga dengan bab-bab (kitab) al-hudud dalam kitab-kitab kuning, apakah masih dibaca lagi di pesantren-pesantren NU?
——-
Komentar Masuk (6)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)