Kolom,
02/10/2003

Agama, Ilmu Pengetahuan, dan Commonsense

Oleh Otto Gusti

Pergumulan dengan “teori interaksi komunikatif” Habermas menyingkapkan beberapa peluang bagi dialog antar budaya, agama, dan juga ilmu pengetahuan yang menjadi persoalan masyarakat modern. Dialog seperti itu diharapkan tidak menghasilkan keterpinggiran agama dari kehidupan sosial, tapi melahirkan rasa saling menghargai peran dan posisi masing-masing guna membangun sebuah masyarakat yang lebih manusiawi, demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.

02/10/2003 04:51 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Menurut Habermas yang seperti diuaraikan oleh Mas Otto, bahwa dialog rasional antar agama dengan Ilmu pengetahuan merupakan salah satu basis penting guna mewujudkam kehidupan bersama yang damai. Yang sebelunnya dipetakan bahwa terjadi kesenjangan pemahaman bahkan benturan antar keduanya. Dengan Ilmu yang dipresentasikan barat dan agama yang dipresentasikan Islam. Menurutku ini akan memberikan harapan yang besar bagi peradapan dan perdamaian manusia.

Akan tetapi proses dialog yang bagaimana?. Dan harapan ini akan semakin membesar seiring kerasnya benturan yang terjadi. Ide ini akan terealisasi, akan tetapi jika ternyata proses dialog ini terkontaminasi oleh berbagai kepentingan poltik dan keserakahan kekuasaan, maka akan lain jadinya. Ketika agama diterjemahkan secara rasional akan membawa dampak dan terobosan bagi nilai kemanusiaan, yang beorentasi pada pembebesan dan pencerahan nilai kamanusiaan. Yang menjadi tanda tanya, bahwa ada beberapa poin dari nilai teologis dari keagamaan yang SANGAT DIYAKINI mustahil untuk ditembus secara rasional atau nalar.

Dan menurutku jika hal ini terjadi maka dialog dikhawatirkan akan menghasilkan seperti apa yang disebut kubu manang dan kalah, karena ada argumen yang tidak seimbang secara rasional. Yang akhirnya senjata bahasa menjadi mematikan. Ketika wilayah keyakinan tak bisa diterjemahkan secara rasional, dialog rasional dengan senjata bahasa akan mematikan teologi sebagai keyakinan. Yang terjadi adalah sebaliknya yaitu harapan yang besar akan berubah menjadi kekecewaan dan berbuntut ketidakpuasan.

Disini sekulerisasiyang dipahami sebagai fenomena terdesaknya nialai dan golongan agama dari ruang publik, dari perhatian masyarakat dan negara. Ketika suara lembaga agama yang meyangkut etis moral tak lagi mendapat porsi dan respon-seperti terajadi di barat-, maka kekhawatiran golongan agama terhadap melemahnya fungsi agama. Yaitu sebagai paramater aklaq dan moralitas. Disini menjadi tanda tanya besar, bahwa konsep dialog rasionalitas perlu dikritisi.

Sebenarnya aku sendiri berpendapat bahwa dialog interfaith dan juga dengan ilmu sangat memberikan harapan yang besar.

#1. Dikirim oleh panduwagung  pada  16/10   09:10 AM

Sedikit menanggapi apa yang ditulis Saudara Otto Gusti mengenai teori yang dikemukakan habermas mengenai pentingnya untuk mencapai ‘konsensus rasional’. Jika konsensus ini bisa dijadikan tujuan agar masyarakat plural dapat hidup berdampingan, maka sudah seharusnya juga setiap orang menyadari bahwa rasio pada diri setiap manusia memiliki perbedaan. Lantas yang dimaksud ‘konsensus rasional’ ini berdasarkan apa ? kenapa tidak diungkapkan saja dengan istilah ‘kesepakatan bersama’ ? toh, pada intinya rasio setiap orang itu berbeda. Seolah-olah ‘rasional’ merupakan sesuatu yang sempurna. Bagaimana ?

Kurang lebih saya setuju dengan pemikiran Habermas mengenai adanya miss-understanding terhadap pemahaman sekularisasi, dsb. Terima Kasih…

#2. Dikirim oleh Hikmawan Saefullah Indra  pada  06/11   08:11 PM

Saya sepakat dengan yang diatas. Membangun komitmen kan juga dicontohkan Rasulullah dengan perjanjian Hudabiah. Well, what do you think? Jadi sebenarnya Rasulullah sudah cukup mewariskan contoh-contoh dari A sampe Z. Tinggal kita saja yang harus tajam melihat perbandingan tersebut. Salah total apabila kita meninggalkannya. Kekafiran akan muncul apabila kita nggak dapat menerjemahkan agama dengan berbasis amal makruf nahi mungkar, dengan visi islam sebagai rahmatan lil alamin.

Mungkin dalam perbedaan, kita bisa melihat dari basis berpikir kita (amar makruf nahi mungkar). Tapi kita lihat ke depan yang lebih menjanjikan adalah Islam sebagai rahmatan lil alamin. Kita semua terjebak dalam pemikiran yang taktis atau gampangnya diumpamakan seperti orang yang terjebak dalam kekalutan dan bagaimana bisa survive. Yang ada cuma mati atau hidup, fight or fly. Tidak ada istilah setengah hidup atau setengah mati. Yang ada menang atau kalah.

Tapi itu semua settingan dari sistem yang terlalu materialism dan kapitalistik. Ukuran maju atau mundur hanyalah kemegahan dan kekayaan semata. Faktor-faktor sosial tidak diperhitungkan secara matang. Dan celakanya, hampir semua orang yang mengaku beragama dan punya kepintaran, ikutan tersetting dalam kekalutan, sehingga memunculkan apatisme dalam masarakat. Akhirnya orang hanya memandang agama sebagai racun dan sekulerisme lah yang menjadi jalan tengah yang buntu. Ironis memang, tapi itulah kenyataan dan faktanya.

#3. Dikirim oleh lyulka  pada  27/02   12:03 PM

memang, Habermas mengutarakan dialog sebagai turunan dari teori tindakan komunikatifnya. Dialog ini bisa berkembang dalam beragam ranah. Tak terkecuali dialog antar-iman. Dalam dialog, menurut Habermas, diperlukan sikap betul, jujur, terbuka. sebab, dialog tidak akan terjadi jika salah satu komunikan tidak berlaku jujur, betul, dan terbuka tersebut. Yang ada adalah monolog-monolog dari keduanya. Atau paling minim adalah dialog palsu (pseudo-dialog). sehingga kesepemahaman yang diharapkan tidak akan terjadi. kebetulan saya sedang menyusun tesis mengenai konsep dialog perspektif Jurgen Habermas dan Majid Tehranian. mungkin, pembaca yang lain bisa membantu saya. Majid juga menawarkan konsep dialog sebagai pereda dalam konflik antar iman. tetapi keduanya berangkat dari titik tekan yang berbeda. Habermas bersal dari teori kritis mazhab frankfrut sementara Majid berangkat dari timur.
——-

#4. Dikirim oleh kelik nursetiyo w  pada  15/02   04:03 PM

ketika mempertahankan atau tetap membawa-bawa Konsep agama, entah kristen, Islam dll dibicarakan, maksudku dijadikan topik ketika dialog (sebenarnya komunikasi, itu yang tepat, karena istilah Inggris dan Jerman dengan dialog itu berbeda, tepatnya komunikasi) dalam persfektif teorinya Habermas, artinya kita sama sekali tidak menangkap atau memahami esensi teorinya itu, soalnya, dia tidak menghendaki bahasa dan sudut pandang agama apapun di dalam teorinya, itu masuk kepada private reason, jadi dalam teori tindakan komunikatif itu, publik reason yang dibicarakan. Maaf yah, ini hanya contoh, ketika comment yang diatas masih membahasakan Islam sebagai rahmatan Lil Alalmin ini artinya masih Private reason terbawa dalam tindakan komunikatif (bukan konsep itu tidak baik, itu baik hanya tetap biarkan di wilayah Private reason). Jangan lupa ketika Habermas mengemukakan teorinya itu Eropa Barat (Jerman) sudah memisahkan agama dari Negara, sehingga asumsi mereka sudah tidak berbicara lagi sebatas Private Reason,mereka sudah otomatis memahaminya di Publik reason itu.
Pertanyaannya bisa gak kita bernegara, berbangsa,Indonesia, khususnua Islam, kristen (kaena dua kakak adik ini saling “membunuh karakter terus”, oh yeh saling membunuh beneran juga kok, ahk..ini emang kesalahan kedua pihak sih..!!kasihan memang…!!) berkomunikasi tanpa dipengaruhi atau tanpa untuk upaya dakwah, missi, atau atas nama Agama?? atau bisa dan benar-benar bisa gak kita memisahkan agama dari negara? (kalau saya bertanya begini sudah jelas responnya seperti apa. maklum karena Agama yang selalu jadi ukuran kita hidup dan bernegara, sehingga simbol-simbol dan spirit agama menjadi instruksinist dalam perilaku kita bernegara dan berwarga negara, bukan berwarga agama.)Itulah salah satu sisi yang ditantang oleh Habermas dalam “prescriptnya=yang ideal seharusnya dilakukan, ini?
Ketika sudah sampai seperti ini, banyak yang tidak setuju. Saya maklum, itulah uniknya Indosia dan negara yang berkiblat agama lainnya, artinya karena private reason terus yang dikedepankan, karena kita terlalu cinta agama bukan cinta inheren agama atau esensi keberagamaan.
Inilah masalahnya di Indonesia.
Aku sarankan siapa saja (termasuk saya juga tersu melakukannya) untuk membaca lebih komprehensif tentang teorinya habermas itu dimulai dari buku: Jurgen Habermas, “Religion and Rationality:Essay on Reason, God and Modernity, edited and with an introduction by Eduardo Mendieta”, Cambridge, Massachusetts, The MIT Press, 2002,akan lebih baik. Terjemahan bukunya yang diterbitkan Kreasi wacana jilid I dan II itu dimulai dari buku itu sebenarnya. Apalagi kalau langsung baca yang Ruang publik, akan makin kacau, sehingga ngertinya separu-separuh. Jangan lupa Habermas setidaknya yang bicara soal teori-teorinya itu menulis 16 essay yang terbit sebagai buku. di Indonesia setahuku yang terjemahan dari 16 itu baru 3 ditambah 1 yang ditulis dalam seri filsafatnya Hari budiman dari Kanisius itu, jadi mari kita yang senang bersosial dan filsafat makin belajar.
-Emboen-

#5. Dikirim oleh emboen  pada  01/01   11:52 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?