14/07/2009

Agama Lama dengan Baju Baru

Oleh Saidiman

Agama yang dipinggirkan dan direpresi selalu menemukan cara untuk tampil kembali ke permukaan. Tetapi sesuatu yang telah melalui peminggiran dan represi itu tidak muncul kembali dalam bentuk yang benar-benar sama dengan sebelumnya. Trend beragama yang muncul dalam era globalisasi ini adalah sesuatu yang lain dari agama sebelumnya. Jonathan Benthall menyebutnya “para-religion.”

14/07/2009 12:32 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Orang-orang modern… semakin tak mampu lagi mengerti suatu perbedaan antara Agama dan pelaku agama…. salah satu contohnya adalah tak bisa lagi membedakan “esensi tak lekang waktu” dari Al-Islam dengan prilaku “kebaruan” dari ummat islam…. Eh dengan seenaknya apa-apa yang baru dan dilakukan oleh ummat islam kemudian dijadikan Hujjah sebagai munculnya “kebaruan” dari al-Islam atau “islam new version”...
Padahal Islam dan Muslim adalah dua hakikat yang berbeda nyata….
Konteks lama-baru adalah terletak pada “baju” pelaku (penganut) agamanya dan bukanlah pada esensi dari suatu agama.

#1. Dikirim oleh kabayanist  pada  15/07   01:09 PM

Dear Mas Saidiman,

Kehidupan adalah perjalanan, begitulah biasanya para spritualis mengatakan. Kalau ada perjalanan harusnya ada tujuan. Buat apa kalau ada perjalanan tapi tidak punya tujuan. Dalam perjalanan ada yang butuh “kendaraan”, dalam konteks perjalanan hidup, kendaraan itu adalah “agama” untuk mencapai tujuan hidup. Karena ada sebuah perjanjian dengan yang namanya “waktu”. Seringkali kita bermusuhan dengan waktu karena kecepatan kendaraan kita tidak sesuai dengan hitung-hitungan jarak dan waktu yang harus ditempuh.

Menengok jalur-jalur waktu yang sudah berjalan, pada mulanya agama dijadikan sebagai sebuah bingkai keyakinan akan perbuatan-perbuatan indah agar pada akhir perjalan ada sesuatu yang diceritakan sebagai keindahan. Keindahan biasanya diterjemahkan dengan kebahagian, kebahagiaan sering diterjemahkan sebagai surga. Jadi surga adalah kebahagiaan yang indah.Ini yang menjadi pernyataan agama, katakan sebagai “agama klasik”.

Perjalanan hidup juga meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu dinamai sejarah. Setelah jejak-jejak yang melalui jalur-jalur waktu di tengok, lalu orang berpikir soal kepentingan, sehingga keyakinan agama dimasukan ke dalam ranah rasional.Karena dalam ranah rasional dapat berlaku logika yang membuat absolutnya sebuah penilaian. Keabsolutan ini menjadi pusat grafitasi para penganut dan yang akan jadi penganut. Artinya nilai logika menjadi parameter sebuah “kebenaran” untuk sebuah kepentingan. Namun permukaan bumi kita tidak rata dalam bundarnya. Ada gunung, laut sungai,sehingga memunculkan nilai logika yang berbeda. Agama Timur Tengah akan berbeda logika dengan agama yang lahir di luar Timur Tengah. Maka kebenaran kepentingan berdasarkan logika yang berbeda juga akan memunculkan perilaku yang berbeda.

Perbedaan akan pemikiran rasional yang logis terhadap sebuah agama akhirnya menjadi belenggu yang melahirkan fanatisme yang sudah keluar dari kepentingan awalnya. Karena fanatisme yang terdorong untuk bercerita kebenaran rasional akhirnya memunculkan konflik, konflik agama namanya. Karena rasional akhirnya mengkerdilkan “raksasa iman” yang sejati yaitu keindahan surga yang damai maka orang mengembangkan pemikiran (rasional) yang baru untuk menciptakan indahnya damai.

Maka Mas Saidiman memberi judul AGAMA LAMA DENGAN BAJU BARU, cerdik!

Dengan diskusi dalam perbedaan dengan menempatkan damai sebagai yang indah, seperti indahnya alam karena adanya banyak warna, dimensi dan rasa tentunya harus meninggalkan notulen yang nyata.Pesan-pesan yang bersifat membawa damai harus berkumandang lebih keras tanpa harus bercengkerama dengan rasionalitas. Sekali lagi, rasionalitas akan sebuah keyakinan dan kebenaran hanya akan mengkerdilkan raksasa iman apapun bingkai agamanya. Agama sebagai kendaraan kehidupan untuk mencapai tujuan dengan cerita kebahagiaan yang indah hanya dengan bahan bakar RASA bukan RASIONAL. Dalam campuran RASA ada yang namanya cinta, sabar, pasrah, jujur. Bahan bakar RASA yang paling tok cer berlabel IKHLAS.

Katakanlah dalam setiap jengkal perjalan hidup dengan ucapan RASA terima kasih kepada Tuhan, sebagai aksesoris ucapan syukur. Maka hidup akan jadi simpel. tidak perlu banyak teori rasional.
Maka BAJU yang lama akan tetap layak dipakai, karena bernilai ABADI.

#2. Dikirim oleh Aloysius  pada  16/07   07:54 AM

sebetulnya apa yang dikatakan saudara saidiman, tentang masalah moderenisem vs religion itu menurut saya sudah wacana lama yang dimunculkan kembali.
tetapi kalau menurut aku agama akan senantiasa hidup dengan mengikuti perkembangan zaman..

#3. Dikirim oleh umar  pada  18/07   02:59 PM

Globalisasi sebagai keharusan sejarah bukanlah suatu desain yang diproduksi secara irasional oleh manusia. Melainkan suatu produk masyarakat global yang menjadi karakter utama manusia itu sendiri. Perubahan sosial kehidupan yang mengiringi globalisasi mengharuskan manusia sebagai makhluk sosial membenahi diri dengan mencari alternatif-altrnatif hidup agar tetap eksis di jagad profan ini. Salah satu varian alternatif yang dipilih manusia adalah spritualitas yang publik mengenalnya dengan nama agama. Relevansi spritualitas dengan realita era postmodern sekarang dengan sendirinya muncul ke permukaan dikala manusia kembali melakukan pencarian kembali tentang makna diri, hidup, manusia, alam dan Tuhan. Kehidupan yang sangat individualis, orientasi materil, kompetitif non proteksi, pengkerdilan diri dan mental instan membuat manusia jenuh. Sebab semua hal itu bermuara pada satu topik yang sama yaitu materi yang profan.
Agama sebagai fenomena zaman tumbuh hadir dalam masyarakat sesuai zamannya seperti yang dijelaskan Karen Amstrong. Realita abad globalisasi kini hanya menampilkan wujud baru dari model pencarian manusia atas berbagai kejenuhan hidup yang mutlak di tengah-tengah mereka. Walaupun pilihan beragama yang sejatinya adalah pencarian Tuhan itu semakin variatif ditawarkan oleh zaman sekarang ini. Spritualitas tanpa bertuhan bukanlah barang baru, jika menelisik kedalaman historis masa lalu. Ketika sesembahan fisik dewa-dewi bukan hanya satu-satunya ekspresi keberagamaan manusia di lokal kebudayaan tertentu. Tawaran kehidupan yang bahagia, transenden, suci dan non materil telah dimunculkan oleh nabi-nabi “kecil” yang terlupakan oleh sejarah. Globalisasi dan era postmodern sekarang hanyalah suatu pengulangan historis sisi-sisi kehidupan yang tak tercatat oleh ingatan manusia.

#4. Dikirim oleh Satriwan  pada  19/07   03:20 PM

Dear Satriawan,
==
“Globalisasi sebagai keharusan sejarah bukanlah suatu desain yang diproduksi secara irasional oleh manusia”.
==
Saya kutip tulisan Anda bukan karena setuju atau tidak setuju, tapi ini adalah karena prolog yang sangat menarik.

Ada orang yang beranggapan globlisasi adalah “jaman atau era atau waktu” yang sudah mendekatkan pada kondisi “kiamat”. Kiamat bisa diterjemahkan lurus ataupun secara “belok”.
Intinya kiamat adalah “musnah” atau “selesai” atau “mati” secara global maupun individu.

Dalam konteks agama sebagai “kendaraan” tujuan hidup yaitu mati, kiamat bisa berarti jalanan rusak membuat perjalanan jadi lambat, ada jembatan patah sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan, kalaupun harus mencari alternatif apakah waktu mau menunggu, atau bisa saja kendaraannya “rusak”. Sehingga tidak dapat sampai tujuan yang diinginkan.

Barangkali (soal baju baru) yang dimaksud Mas Saidiman juga kekhawatiran akan “kiamat” sehingga harus “memperbaiki” kendaraannya atau mengembalikan ke “default setting” sehingga perjalanan dapat dilanjutkan sesuai yang diharapkan.

Spiritualitas bisa berbentuk religius yang monotheisme (GOD) ber"label” agama, bisa berbentuk “aliran kepercayaan” yang monotheisme. Kalau dulu spritualitas bisa berbentuk polytheisme (GODS)yang kedua-duanya antara spiritualitas yang GOD ataupun yang GODS di dalamnya ada desain dan sketsa antara badan dan jiwa.

Rasionalitas yang menggiring manusia menuju GOD sebagai CAUSA PRIMA sehingga GOD menjadi pusat segala puja-puji badaniah.
Spiritualitas yang juga menggiring manusia menuju GOD sebagai CUASA PRIMA yang terus menerus menjadi penyebab.

Celakanya, dengan kemampuan rasional berkeyakinan yang terbatas menjadikan kehidupan menjadi irrasional.
Spiritualiatas mampu menembus keterbatasan rasional, karena itu sebagai Causa Prima yang terus menerus tidak mengenal ruang dan waktu.

Rasional adalah hitung-hitungan antar manusia dan manusia, untuk keselarasan.
Spiritual adalah interaksi manusia-GOD-manusia-GOD-manusia-dst…. juga sebagai alat navigasi kita seperti GPS yang akan memberikan peta akan kemungkinan-kemungkinan adanya halangan di jalan dan kondisi kendaraan juga. Ini karena ada “frekwensi” antara “human wave” dan “GOD wave” yang berinteraksi

Intinya saya setuju dan sependapat dengan Anda.

#5. Dikirim oleh Aloysius  pada  22/07   03:47 AM

Bukankah agama itu sejak manusia diciptakan. Sebagai media dialog antara Maha Pencipta dengan yang diciptakan-Nya. Manusia pertama, yakni Adam, statusnya Nabi, kemudian Nuh statusnya rasul, utusan Tuhan. Demikian selanjutnya hingga Muhammad sebagai Rasulullah. Agama itu garis lurus sejak manusia diciptakan dan baru akan berakhir, bila hari agama (yaumud dien)tiba.
Apa pun zaman silih berganti, agama akan tetap eksis. Apa pun ilmuwan bilang apa, suka atau tak suka.
Bila kita simak Al-Qur’an dengan seksama, berapa zaman, dinasti, kekuasaan, raja-raja, sistem pemerintahan apa pun silih berganti. “Dentuman Ilahiah” wahyu Ilahy tetap dan akan tetap menggema. Namrud, Fir’aun, Tsamud, ‘Add, hancur binasa hingga—apalagi nanti di hari agama.
Kenapa agama tetap dan akan eksis. Jawabnya sederhana, Allah Yang Maha Ar-Rahmaan menghendaki demikian. Untuk hal ini tak perlu analisa intelektual yang jelimet, tak usah cari referensi kesana kemari.
Kenapa? Oleh karena, justru bila kita mendasarkan eksistensi agama itu pada kaum intelektual yang mendasarkan pada akalnya semata, bisa terancam sesat. Persoalan kita adalah bukan mempersoalkan apakah agama itu eksis di era globalisasi atau tidak, akan tetapi, apa makna kehadiran kita ditiap detiknya untuk menyambut hari agama itu.
Menurut saya, inilah esensi kekhalifahan manusia itu, “khaira ummatin” yang dihamparkan di muka bumi ini. Mau contoh sempurnanya? Simak dengan batin yang bersih, bening dan ikhlas, setiap langkah dan jejak Muhammad Rasulullah.

#6. Dikirim oleh isoelaiman  pada  23/07   10:38 AM

Agama pada dasarnya adalah petunjuk kebenaran. kebenaran mengalami degradasi karena pengaruh waktu. oleh sebab itulah revitalisasi kebenaran mengemuka. Revitalisasi kebenaran=agama baru=wahyu baru. Ia tidak dikondisikan, tapi dituntun oleh Yang Mutlak.

#7. Dikirim oleh Indah gunawan saputra  pada  30/07   04:50 AM

Agama koq dibahas dalam bahasa yang sulit..bagi orang kampung seperti saya, agama adalah berbuat kebaikan buat diri sendiri, keluarga dan lingkungan kita…menjalankan kehidupan ini sebagai amanah…hanya kedamaian bagi orang yang menjalankan agama dengan benar…tidak berbantah-bantahan tapi nasehat menasehati

#8. Dikirim oleh sitiaisyah  pada  01/08   05:21 AM

Islam merupakan dienul,yang di turunkan ALL0H kepada rasul2-NYA.sedangkan tradisi dan m0dernisasi hanyalah buatan manusia yang fana,menurut kepentingan mereka sendiri.Lain halnya dengan ISLAM yang mengatur semua sendi kehidupan yang padanya takkan ada satu atau seorangpun,yang di rugikan olehnya,merupakan suatu perjanjian final.tradisi ataupun modernisasi pabila tertolak oleh kaidah islam maka harus di tinggalkan.

#9. Dikirim oleh dani  pada  03/08   05:06 AM

bukan apa agamanya yang paling penting saat ini, tatapi seberapa besar agama yang kita anut mampu memberikan konstribusinya pada lingkungannya.

#10. Dikirim oleh deskam  pada  29/08   07:34 PM

ASSALAMUALAIKUM.
setiap pemeluk agama islam harus fanatik dengan agamanya(islam) .setiap pemeluk agama islam harus yakin bahwa agama islam adalah agama yang paling benar dan di ridhoi oleh
ALLAH SWT(TUHAN PENCIPTA ALAM BESERTA ISINYA)dengan tidak melupakan toleransi terhadap pemeluk agama lain.ISLAM (agama ISLAM)  menghargai dan menghormati pendapat dan perbedaan pemikiran orang lain.islam tidak mengajarkan pemaksaan dan kekerasan selama islam(agama islam)tidak diganggu dan di rusak sifat ajaran dan akidahnya.islam adalah
agama rahmatan lilalamin.

#11. Dikirim oleh pramujiono  pada  06/10   01:50 PM

Di antara sunnatullah, segala sesuatu diciptakan berpasangan. Dalam kondisi itu manusia selalu dalam tegangan dikotomi, termasuk modernitas-religion, globalisasi-nasionalisasi dan lainnya. Pada akhirnya tegangan dikotomi itu melahirkan sintesa yang lalu direaksi dengan antitesa, namun akhirnya akan tercapai sintesa. Sebab,umumnya tidak ada yang benar-benar ekstrim ke salah satu kutub. Bahkan kecenderungan alamiah keduanya akan semakin ke tengah sehingga tercapai sintesa karena bersikeras tentang kebenaran relatif hanya berarti tidak jujur, sebagai refleksi sikap mau menang sendiri.

Oleh karena itu masing-masing kutub, baik modernisme maupun religion dan lainnya tetap akan mempunyai artikulasinya sendiri. Apakah itu disebut para relegion bagi agama atau post modernisme bagi modernitas tidak harus berarti pseudo. Sebab setiap masa ada artikulasinya sendiri dan sebaliknya.

Meski demikian tak dapat dipungkiri unsur radikal bebas yang merusak dan membuat degradasi akan menyebabkan kiamat sebagai sunnatullah akan terjadi. Maka yang bisa dilakukan guna memenuhi curiositas manusia yang selalu ‘membelum’ialah mengartikulasikan zaman sesuai posisi dan porsi masing-masing guna mendukung fungsi utama sebagai khalifatul ardi yang rahmatan lil alamin.

#12. Dikirim oleh tf  pada  08/10   02:39 AM

Agama dianalogikan sebagai baju? Pemikiran yg dangkal.agama itu ada dihati para pengikutny.ud deh jil buat agama baru aja.agama baju baru gmn?

#13. Dikirim oleh Maximilianus  pada  15/09   05:46 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?