Klipping,
04/03/2010

Agama, Riwayatmu Kini

Oleh Saidiman Ahmad

Barangkali benar bahwa para pemuka agama sekarang masih memiliki sejumlah peran sosial. Tetapi kita saksikan dengan mata telanjang bahwa peran-peran itu semakin hari semakin terkikis dan cepat atau lambat akan habis. Pada kondisi semacam ini, kekhawatiran akan ada parade kemunculan agama-agama baru sungguh tidak beralasan. Yang terjadi justru adalah bahwa semakin banyak manusia yang sangsi terhadap mitos-mitos kebenaran yang diciptakan oleh para pemuka agama.

04/03/2010 10:12 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (41)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Adalah sangat tidak masuk akal tentang adanya kekwatiran munculnya agama baru yang dapat menimbulkan kekacauan. Bukankah islam lahir untuk “merevisi” agama samawi pendahulu ?. Seharusnya silahkan saja kalau ada yang mau mengaku “nabi” dan “agama” baru yang datang untuk merevisi agama yang ada saat ini, jangankan mau mengaku “nabi”, mau mengaku “tuhan"pun silahkan, asal ada yang mau percaya, dan dilakukan dengan cara2 yang damai dan tidak melanggar keamanan dan ketertiban. Adalah tugas para otoritas dan agama pemuka agama (untuk islam terutama MUI ?) untuk memperkuat iman umatnya masing-masing. Dakwah macam apa yang telah dilakukan selama ini sampai2 Ahmadiyah yang dianggap sesat bisa banyak pengikut ?. Mengapa fenomena “batu Ponari” bisa terjadi di kampung para kyai ?. Saya pengurus masjid (DKM), omong kosong dengan pembinaan oleh mereka yg mengaku otoritas agama slama ini, undangan pertemuan ?, bulletin ?. diklat ?, no way. Masjid mau ambrukpun tidak tahu.

#1. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  04/03   11:00 AM

Kalo saya berpendapat, ilmu pengetahuan yg mampu mensejahterakan manusia adalah penting, jadi kedua hal yg menjadi tugas pemerintah yaitu tentang mencerdaskan bangsa & mensejahterakan masyarakat itu wajib menjadi strong point dalam fokus fungsi pemerintah.

Namun agama juga memegang peranan vital, menurut saya, untuk menyadari apa eksistensi & fungsi manusia di muka bumi ini dikaitkan dgn alam semesta lingkungannya ciptaan Tuhan itu.

Pemahaman mengenai Tuhan dikaitkan dgn keberadaan kita di dunia ini penting, sehingga manusia tak akan terjebak kedalam materialisme melulu, yg pada gilirannya akan merusak lingkungan hidup serta hubungan cinta-kasih dgn sesama manusia.

Jadi agama itu sangat penting, namun, kekhawatiran Patrialis Akbar dan Suryadharma Ali bahwa dgn munculnya agama-agama baru bisa menimbulkan kekisruhan dan aksi anarkistis itu sangat berlebihan, tak masuk akal dan sangat paranoid.

Apa hubungan antara merebaknya agama baru dgn kekisruhan & tindak anarki? penjelasan ilmiahnya bagaimana? kalo menurut saya, seandainya pun timbul anarkisme itu, itu adalah karena EGOISME sekelompok manusia saja yg masyaallah, lantas dijadikan alasan pembenar bagi kedua menteri tsb diatas untuk mencegah timbulnya “agama baru”.

#2. Dikirim oleh Anton Isdarianto  pada  04/03   01:33 PM

Intinya harus ada perombakan dalam diri umat islam yang masif. Memang bukan hanya tugas seorang pemuka agama tapi tugas semua pemeluk agama. Yang pintar harus mengajar, yang bodoh harus menurut..

#3. Dikirim oleh Cahyo Gio  pada  04/03   05:56 PM

Assalamualaikum.
Benua India dengan cikal agamanya, Cina dengan agamanya, dan Mesir dengan agamanya, semua diulas dengan jelas atas dasar fakta sejarahnya. Memang bahwa Islamlah yang merupakan hasil win-win solusi untuk menjebatani umat manusia berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, tapi bukan untuk mengenyampingkan agama lainnya.
Semuanya berlangsung cukup lama ribuan tahun.
Zaman berkembang, demikian pulalah akal selalu sebagai pemicu kemajuan jaman untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, juga tentunya kehancuran kehidupan.
Sempalan agama selalu timbul dengan segala cara, dan sangat jarang bersifat stiril terhadap duit.
Dimodali dengan pengalaman hidup, fakta sejarah agama yang tersedia dengan mudah, dan kemampuan akal mengambil keputusan bijak/arif, sebaiknya kita bekerja guna mempertahankan/ meningkatkan kesejahteraan, dan secara pribadi membekali diri dengan prinsip agamanya yang diyakini dengan arif tanpa menyinggung orang disekelilingnya, sematamata hanyalah bersujud pada Allah.
Tenanglah hidup ini. Amien.
Wassalam H. Bebey

#4. Dikirim oleh H. Bebey  pada  05/03   12:30 AM

Kalo semua Agama tidak bisa mengatasi semua permasalahan yg ada, kenapa Anda masih beragama????

#5. Dikirim oleh lyan  pada  05/03   06:33 AM

membaca kajian & analisan yang ada pada tulisan ini, nampak sekali kurangnya pemahaman penulis terhadap apa itu agama dan apa fungsinya. terbukti dengan ditimbukannya kesan bahwa agama saat ini sudah ketinggalan jaman. tidak dapat mengatasi permasalahan manusia, penyakit, dan segala permasalahan lainnya. sangat naif sekali apabila hal ini dikaitkan dengan umat muslim. mungkin hal ini benar dan bisa berlaku untuk umat diluar muslim. selain itu kenpa juga harus memperhatikan atau melihat analisa dari filsuf barat. apa yang baik dari mereka ??? selain itu kalo penulis mengerti permasalahannya, sebenarnya silakan saja apabila ada yang ingin mendirikan agama baru, tapi jangan mengacak2 agama yang sudah ada. jangan memakai nama Islam apabila masih mengakui ada nabi terakhir yang lain selain Nabi Muhammad SAW. Timbulnya keengganan masyarakat untuk dekat dengan agama bukan karena kurangnya peran kyai atau ustadz tapi lebih kepada anda yang gemar menawarkan pemahaman yang aneh.anda dengan sengaja merendahkan peran agama. dan anda justru bangga dengan pendapat orientalis barat. sebagai penutup, saya hanya bisa menghimbau untuk mengghentikan pemahaman yang tidak benar ini. mungkin anda saat ini tidak percaya lagi dengan apa itu dosa dan neraka. tapi anda mesti percaya setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawabannya kelak. kalo anda merasa kebal dan kuat menahan kerasnya neraka,silakan anda terus sebarkan pemahaman ini. Buat admin yg terhormat, saya sangat salut pd anda jika tulisan saya ini ditampilkan. tapi jika anda mendelet nya, maka anda tidak demokratis. anda melanggar kebebasan berpendapat saya. kalo anda admin memang penganut kebebasan HAM, silahkan tampilkan tulisan ini.saya selalu pantau website ini. terima kasih

#6. Dikirim oleh bunga  pada  05/03   08:02 AM

Saya pikir, sekarang dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan semakin banyaknya kalangan yang bersekolah, maka pemahaman akan agama akan lebih rasional. Jadi ketergantungan pada kiai atau ulama akan hilang atau berkurang, karena mereka mampu menggunakan nalarnya sendiri. Jadi bukan soal agama baru, tetapi lebih pada pemahaman yang lebih rasional. Untuk kalangan yang mulai merasakan kekurangan power dan pundi2 uangnya maka ia akan mulai berkoar dengan berbagai ancaman. Sebaiknya para ulama atau kiai juga bekali diri dengan menambah ilmu pengetahuan.Lakukan dakwah dengan diskusi, jangan bicara sendiri.

#7. Dikirim oleh myra  pada  06/03   03:53 AM

Menurut hemat saya kajian penulis memang faktual dan tidak bermaksud mengecilkan peran agama, justru tulisan ini memberikan tantangan kepada agama-agama dunia untuk berbuat lebih dari sekedar bicara soal surga dan neraka. Lihat negara kita tercinta, begitu agamis tetapi korupsi paling tinggi di dunia jadi memang benar ada gejala dekadensi peranan agama, tempat-tempat ibadah selalu penuh tetapi ketidak-adilan, kemiskinan, penghormatan terhadap ham masih jauh dari harapan padahal itu semua diajarkan oleh semua agama dunia. Bagi saya ini adalah sebuah paradoks. Tetapi saya pribadi masih optimis dengan peranan agama ke depan karena pengalaman spiritual saya sering merasakan begitu banyak hal yang tidak akan bisa terjadi tanpa campur tangan Allah SWT.

#8. Dikirim oleh EKO  pada  06/03   06:57 AM

Aliran agama muncul, pemahaman/pengartian baru akan teks-teks keagamaan tak terbendung, pengaku nabi jadi kepala berita dan dihitamkan namanya oleh efek pemediaan, masyarakat mayoritas penganut paham mainstream (dengan tak jarang apriori dan taklid) resah dan menuduh sesat dan mengganggu akidah mereka para oknum ini, tak jarang anarkis dan tidak dengan hikmah reaksi mereka, justru memfrustasikan niatan baik mereka untuk meluruskan agama mereka yang murni, pemerintah sebagai otoritas penjamin kekondusifan atmosfer keberagamaan menangkap problem ini hanya sebagai kekalutan akibat tak ada regulasi yang mengatur kebebasan beragama yang rigid sehingga muncul keresahan tapal batas klaim spiritualitas pokok agama tertentu atau perbedaan yang tak tertahankan akan penghayatan ajaran baru yang benar-benar eksentrik, lalu bereaksi dengan mengeluarkan kebijakan pragmatis yang bertujuan agar dapat secara instan mengompres dahi elemen masyrakat yang panas agar kondisi keberagamaan tak mengalami pemanasan global versi nasional, dengan asumsi dasar agama adalah komoditi yang perlu dilabeli logo SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk dapat dikonsumsi masyarakat Indonesia yang amat agamis ini alias diberi kotak-kotak yang jelas secara korpus-ortodoks-tekstual, dengan konsekuensi agama/kepercayaan yang tak sesuai SNI tersebut dapat dikata ilegal, haram, dan dapat disebut komoditi gelap serta dikriminalisasikan.
Sedang, dimensi lain tentang kepercayaan, semisal, kenapa muncul begitu banyak paham yang disebut banyak pihak menyimpang, seperti sindrom apokaliptik sosial ini, penyebabnya, asal-usulnya, studi historio-psikolo-sosialnya; apakah valid untuk membatasi hak percaya seseorang untuk agar tak mengganggu kondusivitas hak percaya orang lain yang disinyalir lebih mayoritas, haq, dan memiliki segala alasan untuk menggerumus bahkan dengan jalan yang keras orang yang berpercaya lain itu, alias kedalaman intrusi negara ke ruang privat religiositas warganya; serta proteksi akan minoritas yang tertindas dengan sudut pandang ala JIL ini, tampaknya jarang ditekankan dan dihayati benar-benar. Pun, tesis fobistis akan regulasi ini seperti salah satunya terurai dalam artikel di atas, bila disampaikan dengan artikulasi yang agak tendensius mengecilkan arti agama, akan mendapat tepukan tangan yang tak menggembirakan seperti komentar di atas. Yang jelas, bukti akan dampak fatal yang langsung akan kesalahlangkahan kebijakan ini akan nyata dalam waktu dekat atau panjang dan menjadi diskursus dialektika kita dalam bab beragama dan bernegara—semoga secara merata dan secara relatif akurat, pembacaan kita atasnya mendewasakan kita menjadi manusia ciptaan Tuhan yang melakukan kehendakNya yang baik.
Bila cakrawala berhikmat para penguasa negara ini—dan rakyatnya—yang tentunya (semoga) tak sempit, maka dengan kebijaksanaan memandang dan mengendapkan permasalahan serta mengubur emosi, fenomena ini akan dengan jernih dan terang benderang tergambar.

#9. Dikirim oleh yp riyanto  pada  06/03   04:03 PM

agama adalah alasan manusia meyekat diri untuk tidak dapat bersama-sama dengan manusia lain padahal hidup di dunia yang sama. bahkan agama adalah penyebab kuat manusia saling menghancurkan, saling membinasakan kalaupun bersatu sebenarnya itu hanya semu.
apakah ini tujuan allah menciptakan agama2 ?
saya fikir tidak !!
hanya manusialah yang kerdil mengartikan agama sebagai sesuatu yang tidak boleh di telaah lebih jauh dngan sifat kemanusiaan yang di karuniakan allh SWT, bahkan sangat mengkerdilkan diri atas nama ajaran agama untuk mematematikan agama yang membuat kerdilisasi sakralitas yang justru menciutkan makna agama. begitu jugalah islam. sebagai agama rahmatan lil alamin, islam itu tumbuh berkembang di segala zaman, mengikuti zaman bahkan membuat zaman.
Islam adalah agama akbar, islam dan alquran harus di telaah dengan masa kini bukan dengan statusquo yang stagnan dengan telah masa lalu.
jangan takut berfikir lebih untuk mentelaah islam dan alquran dengan masa saat ini, karna agama di ciptakan allah untuk membuat jiwa tentram, hati tenang, ucap sopan, laku santun, adab mulia di zaman hidup sang pemeluknya.
jadi pilihlah agama yang membuat jiwamu tentram, hatimu tenang, ucapmu sopan, lakumu santun, adabmu mulia, dan tidak menebar kebencian bagi sesama umat manusia… apapun agamanya itu.

#10. Dikirim oleh bani santoso  pada  06/03   08:21 PM

‘‘bismillah’‘
  salam

  dlam perkembangan manusia y9 semakin maju.‘ternyata semakin jauh dari segi agama. itu tdk juga sepenuhnx.‘disebabkan apakah merka sadar agama itu telah membuat mereka ttp bertahan dalam kondisi jiwa yang tumbuh disadari/tidak..masalah y mis.teknologi dan entermaint kadang sebagian peran or9.menganggap dibatasi kebebsan dalam kreasi ini contoh faktor y9 membuat kd9 lari dari sesi agama.‘tpi bukankah mereka dlm berbuat itu ttp mengakomodasi segi agama /’‘yaitu untuk masyarakat.’‘masalahnx rasio y9 kurang paham yang menanggapi agama telah mendorong kebebsan dan berpikir mememukan hal tersebut.‘jd fungsi agama ttp ada tngal kita y9 berani memberi 1 pandangan baru mengeai masalah sosial tersebut y9 jelas.‘sehingga tercipta agama sebagai sahabat penemuan untuk dunia y9 lebih maju,damai,dan tahan selama2x.’‘’
wassalm

#11. Dikirim oleh mady  pada  07/03   02:50 AM

Apakah memiliki atau meyakini suatu agama masih menjadi penting? bukankah umat manusia pada hakekatnya juga diciptakan oleh Tuhan yang pasti sama, sehingga ketika ia harus mempercayai keyakinan terhadap Tuhan yang telah menciptakan dirinya (termasuk alam jagad ini)apakah ia harus memilih suatu agama, atau tidak beragama tetapi ia yakin betul dengan keesaaan tuhan, dan kemudia ia menyembah dengan tata cara sendiri di luar semua agama yang ada. Pertanyataannya adalah “apakah ia patut disalahkan? patut di hukum?.
Kadang saya juga sering bertanya, mengapa dengan adanya agama-agama justru memunculkan perselisihan? bahkan pembunuhan dan kekerasan lain atas nama agama yang ia anut? kalau hal ini terjadi mengapa Tuhan yang mereka sembah juga tetap membiarkan kekerasan atas nama agama? mestinya Tuhan membela dong, karena dengan mati-matian orang yang menyembahnya itu sudah membela Tuhan. Mengapa dengan orang yang memiliki keyakinan dan kemudian menyatakan dirinya berada dalam organisasi ke agamaan (komunitas)harus menyatakan perang terhadap organisasi dan keyakinan orang lain? Pada saatnya nanti (ketika agama jangan-jangan hanya akan mampu mengedepankan dialog hubungan dengan kegundahan hati seseorang dengan Tuhan yang diyakininya)tanpa bisa menjawab tuntas persoalan-persoalan kehidupan materiil di bumi ini. Karena harus di sadari bahwa kehidupan dibumi ini adalah kehidupan materiil semata. Nah ketika bersinggungan dengan kepercayaan akan adanya hari akhir (kiamat) dan adanya neraka dan surga, maka seluruh dan segala sesuatu kehidupan ini dicampur adukkan jadi satu, semua harus atas nama Tuhan, dan seterusnya. Pada saatnya kelak, orang akan makin pintar, jangan-jangan dengan beragama justru akan memunculkan konflik-konflik yang makin tajam hanya karena sebuah keyakinan, dan kemudian ia akan meninggalkan cara-cara apa yang dianut (ritual dan ajakan/ceramah)dan diyakini selama ini, tanpa meninggalkan keyakinannya terhadap Keesaan Tuhannya. Apakah Tuhan akan marah? tuhan tidak akan menerima? saya kira bukan kapasitas manusia untuk menjawabnya. Hanya Tuhanlah yang mampu.

#12. Dikirim oleh Salman  pada  07/03   03:07 AM

jujur saya sangat sedih membaca semua isi artikel di sini, manakala yang menulis itu menyatakan dirinya itu adalah muslim, lain hal nya jika anda non-muslim, maka itu saya bisa pahami karena itu adalah bentuk ketidaktahuan mereka terhadap islam.
sungguh sangat menggelitik ketika muncul sesuatu hal yang tidak sejalan dengan pemikiran anda!! lalu melebelkan sesuatu dengan “mitos-mitos kebenaran” dan memplesetkan dengan dibalut intrik jika kaidah-kaidah islam seolah-olah “sesuatu di dalamnya adalah ciptaan pemuka agama” belaka.!
Apakah ini sudah sampai pada masa titk paling nadir tersulit dimana telah lahir golongan yang orang-orang yang merongrong ke-tauhidan islam, dan sungguh ironis itu dilakukan oleh golongan islam itu sendiri?? bukankah ini telah turut menyumbangkan kesesatan pola pikir tentang islam secara massif. jika kita sebagai orang yang beriman tidak pernah meragukan apa yang telah Allah wahyukan kepada kita umat islam, Al-Quran dan Hadist adalah pedoman yang hakiki, yang telah teruji dan sesuai hingga akhir zaman.
kenapa harus diputar balikkan dengan pikiran dan logika yang terlalu di cari-cari alasan pembenarannya..
atau mungkin ini adalah pesan jika islam sedang dalam ujian yang berat, manakala dulu khilafah islam berhasil diruhtuhkan akibat konspirasi yahudi-imperialis barat hampir satu abad silam, dan panji-panji islam dihapus lenyap oleh mustafa kemal seorang muslim tapi dengan idiologi sekuler si kaki tangan yahudi.
umat muslim harus bisa belajar dari hal tersebut bahwa patut diduga…jika kaum zionis belum puas dengan apa yang telah mereka capai, dan terus ingin mengulang kembali dimana pun panji-panji islam mulai berkibar..
oleh karena ketika apa yang saya baca menjadi sangat ironis dan sadar jika di negeriku indonesia sudah mulai terdapat pemikir-pemikir islam yang telah dipengaruhi kaum liberal barat.
dan dengan tujuan tak lain dan tak bukan!! adalah untuk menghacurkan islam dari dalam, tanpa perlu mengotori tangan mereka….melainkan memamfaatkan golongan islam itu sendiri..

#13. Dikirim oleh imam  pada  07/03   03:11 PM

saya suka sekali dengan JIL ini, anda para petinggi atau penulis di web ini memiliki jalan berpikir yang sangat sangat sangat amat logis. dan hebat dalam analisa. sayangnya anda hanya bekerja dengan akal, tanpa hati. jarang saya membaca tulisan anda yang menyinggung urusan hati.
kenapa? karna hal ini tidak bisa diajarkan, hal ini yang dijunjung tinggi sejak lama, dan hal ini yang mulai terlupakan, tapi jangan lupa, hal ini ADA. kalau saya salah, debat atau bantah saya, saya terbuka, menurut saya anda melihat agama yang anda liberalkan ini sama dengan agama yang lain. “agama hasil revisi”.

apa yang membuat pemikiran seperti anda berkembang? karna menurut saya ada hal yang terlupakan, ketika JIL mengajarkan nilai2 yang menurut saya tidak bisa dicapai semua orang… hal ini salah satunya adalah karna orang tidak mencari atau melihat adanya ilmu ini yaitu ilmu makrifatullah..
tapi ini tidak bisa sembarang dicapai, tentunya bisa bagi sebagian orang, karna jika anda masih bisa yakin dan percaya dengan al-quran, anda percaya dengan kun fa yakun…

ilmu yang harus kita ikuti jalannya, syariat, tarekat, hakikat, ma’rifat..

kalau anda, gaya JIL (yang menurut saya langsung mengajarkan cara hidup dengan gaya orang yang mencapai ilmu ma’rifat).. anda seperti mengajarkan orang bermain gitar, hanya dengan memberi tahunya “yang ini detekan pake jari, buat nentuin nada, dan yang ini di kocok, buat hasilin nada”
tapi tak ada kunci2 yang anda ajarkan..

hal yang sangat kekanak kanakan.. dan anda mengajarkan kebebasan, karna kita manusia sudah hidup di dalam jubah yang salah, jubah yang tidak manusia, jubah yang dibatasi oleh maksud atau tujuan tujuan lain yang tidak sesuai dengan kemanusiaan,
tapi anda tidak sepenuhnya mengajarkan kebebasan, kenapa? karna anda menafsirkan kebebasan kepada individu individu. ANDA HANYA MEMBENTUK JUBAH BARU

yang anda perlu lakukan adalah menuntun individu individu sehingga terbuka jalan pikirannya, bukan mengajarkan mereka bagaimana perilaku orang yang pikirannya terbuka.

jujur sampai saat ini saya benci JIL karna hal ini. tapi kebencian tidak membuat anda menjadi musuh, karna anda memang bebas menentukan jalan anda sendiri. saya hanya seorang mahkluk tuhan, warga bumi.

#14. Dikirim oleh zubbbois  pada  07/03   08:38 PM

Agama sebagai sebuah petunjuk praktis, akan selalu mengalami kedaluarsa.
Ingat ajaran Ibrahim, Musa, Daud, Isa dianggap kedaluarsa dan digantikan oleh ajaran baru. Ajaran Muhammad (Islam yang sekarang) sebagai keluarga rumpun Islam tidaklah berbeda dengan ajaran nabi yang lain - ia akan kedaluarsa pada saatnya.
Kita dapat melihat dalam masalah kontemporer sekarang ini seperti perubahan iklim, penegakan HAM, peningkatan kesejahteraan manusia—ulama Islam gak ada suaranya. Apa yang kita dengar dari lembaga representasi Islam Indonesia seperti MUI hanyalah isu-isu kacangan gak bermutu.
Allah menetapkan Muhammad sebagai nabi terakhir bukan berarti solusi yang dibawa Muhammad akan abadi - karena tak ada satupun yg abadi kecuali Allah sendiri. Muhammad terakhir karena Allah telah menyapih manusia—peradaban manusia telah sampai pada masa dimana ia dilepas untuk menemukan solusinya sendiri—Alah tidak mengutus lagi pembantunya karena manusia sudah harus berdiri diatas kakinya sendiri.
Biarlah Islam menjadi sumber inspirasi manusia, bukan menjadi petunjuk praktis. Sudah saatnya kita sampai apa yang ditulis dalam Al-Baqarah 285 berikut: “Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”
Islam tidak berbeda dengan ajaran nabi lainnya, dititik ini kedudukan Islam sama dengan ajaran nabi lainnya - ia harus menjadi sumber inspirasi, bukan petunjuk praktis. Karena sebagai petunjuk praktis, sebagaimana ajaran nabi lainnya - ia telah memasuki masa kedaluarsanya.

#15. Dikirim oleh Harun  pada  07/03   09:59 PM

semakin banyak yg lari dari agama, semakin bagus, karena karena semakin banyak pula pengganti yg jauh lebih berkualitas dari mereka yg lari.

#16. Dikirim oleh dapit  pada  07/03   11:52 PM

Dari zaman Nabi Adam sampai sekarang saya fikir keadaan manusia kurang lebih sama… yang beda mungkin peradabannya sebagai hasil buah pikir manusia sebagai mahluk yang dimuliakan di Bumi ini.
Untuk menunjang kehidupan di bumi ini, manusia oleh Tuhan sudah “DIBERI” ilmu pengetahuan untuk mengelola alam kehidupannya di dunia.
kata “diberi” maksudnya adalah Tuhan yang membri dan tidak butuh pembalasan dari manusia.
Demikian juga ISLAM sebagai agama manusia dari pemberianNya, dimana sesungguhnya Dialah Allah yang mengenggam semua yang berasal dariNya.
Yang akan terkikis dan habis adalah manusia baik yang percaya ataupun yang tidak.

#17. Dikirim oleh Bunyamin  pada  08/03   06:33 AM

saudara telah mengkampanyekan ateisme di situs yang ada label agama. jaringan ISLAM liberal. sebaiknya saudara buang kata Islam jika saudara mau sportif. sy hargai pemikiran saudara sebagai keyakinan saudara. tpi saya risau karena saudara pake label ISLAM.jg kobarkan agitasi pada orang2 yang beragama. kampanyekan pikiran saudara dengan gentle. jg dengan menyakiti.

#18. Dikirim oleh abenk ayok  pada  08/03   06:58 AM

Harus dicabut itu. Dari Aspek bahasa hukum, istilah “penodaan agama” tidak memiliki makna yang jelas.

#19. Dikirim oleh Alex A I  pada  08/03   07:55 AM

Saya cuma ingin tulis sebuah kalimat saja, yang mungkin akan cocok untuk semua tulisan disini, termasuk tulisan diatas :

“Kesempurnaan agama itu tidak hanya jika kita dapat menerimanya lewat akal, tapi juga dapat menerimanya lewat hati (qalbu). karena banyak hal dalam ber agama, yang mungkin tidak masuk dalam akal kita, namun dapat terpatri kuat dalam hati (qalbu) kita. dan karena itulah sampai saat ini saya masih beragama, karena dengan beragama, saya menjadi tidak terpenjara oleh sempitnya akal manusia, saya dapat terbang tinggi, karena saya yakin Allah SWT tidak membatasi hidup kita hanya dengan akal, tapi juga membekali kita dengan kekayaan hati.

Salam

#20. Dikirim oleh Ocehanburung  pada  08/03   08:34 AM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?