Akar-akar Sekularisme Dalam Islam
Oleh Redaksi
Dimoderatori oleh Luthfi Assyaukanie, diskusi berikut mengangkat isu sekularisme dalam Islam yang merupakan salah satu tema terhangat dalam Milis tersebut.
Komentar
Assalamu’alaikum
Pendapat yang terdapat didalam kolom artikel dapat saya katakan sebagai suatu yang kosong dan tidak bernilai sama sekali sebab didalamnya hanya terdapat bualan-bualan kosong belaka.
Kalau kita mau sebentar saja berkata jujur, berfikir dan merenungkan kembali akan apa-apa saja yang telah kita lakukan cobalah kita katakan bahwa saat ini umat Islam tidak membutuhkan dialog panjang lebar adu debat yang menyebabkan terjadinya perpecahan antara kaum muslimin, umat Islam kini butuh makanan!!!!!! semua orang yang berdebat panjang lebarpun pada akhirnya akan butuh makan.
Umat Islam perlu gizi agar mereka tumbuh kuat dan sehat yakni “makanan ruhani dan jasmani”, bukan lagi slogan-slogan kosong dapatlah kita katakan saat ini, bahwa yang dinamakan cendikiawan muslim tidak lebih dari sekadar orang-orang yang hanya ahli adu debat, bahkan adu domba!!!!!,,, dapatkah mereka mengembalikan kejayaan Islam kembali, bila hanya dengan adu debat ???? apa sih sebenarnya kekurangan para cendikiawan Islam saat ini?????
Jawabannya adalah kesatuan dalam Islam, hingga tiada lagi yang namanya Islam liberal, Islam kiri, Islam kanan dan fundamental akan tetapi Islam adalah Islam bukan suatu ucapan saja tapi juga pelaksanaan. oleh karenanya bersatulah kita sebagai ummatan wahidan dalam satu wadah Islam.
Alluhumma allif bainana wabaina qaumina amin
Wassalamu’alaikum
Islam bukan negara, atau daulah dan juga bukan kampung! Tapi di kampung Islam itu ada. Daulah Islam itu juga ada, serta negara Islam itu adalah cita-cita kita, bukan?
Sekuler bukan negara, atau daulah dan juga bukan kampung! Tapi kampung sekuler itu banyak; sekarang daulah sekuler itu makin mantap (dengan KKN sebagai gincunya). Negara sekuler itu harus kita “perangi”, bukan?
“... kamu lebih mengetahui duniamu!”. Bukankah begitu?
Yahudi-Amerika lebih pintar dari kalian mengenai sekularisasi dan manfaaatnya. Kalian sudah pintar atau belum?
Menurut gue, ideologi negara kita cukup akomodatif terhadap pandangan- pandangan orang yang punya agama, dan cukup ideal untuk suatu konsep yang bersandarkan syariah islam. Yang bikin gue bingung hanya yang ngotot menggolkannya dalam bentuk ideologi. Yang dalam otak para narasumber adalah rasa frustasi terhadap kondisi real dalam negeri kita yang kita kenal tinggi rasa relijiusnya tapi full dengan KKN, dan hukum menjadi nihil. Sehingga kita terjebak dalam feudalisme kapitalistik. sehingga membuat yang lain mencari alternativ alternativ yang lain.tapi itu sah sah saja dalam berwacana.ketimbang harus turun kejalanan nentengin molotov kan bisa berabe bawaannya.sebenarnya turunnya rasulullah untuk memperbaiki ahlak.dan ahlak rasulullah itulah hukum bagi kita,termasuk tata cara beliau mengurus negara.karena ahlak beliau adalah suri tauladan untuk ummat islam yang ada dinegeri ini.tapi lantaran semua kita sudah jadi bajingan maka inilah hasil dari semua ulah kita yang rada kapiran,waljahiliyah.dan itu tanggung jawab kita semua .nasib suatu bangsa nggak akan berobah kecuali kaum itu mau merobah nya sendiri.dan memang prubahan itu pedis dan sakit serta penuh dengan pengorbanan.karena perubahan itu tidak serta merta turun dari langit.
Sebagai orang awam, saya rasa ada dua hal yang perlu disisipkan untuk “membuahi” diskusi tuan-tuan yang sangat mendalam ini. Pertama, perlunya untuk diperjelas gradasi dan kedudukan setiap rujukan yang mengarah kepada wacana tentang sekularisasi dan kemungkinannya untuk diaplikasikan dalam bentuknya yang paling nyata; strukutur kemasyarakatan seperti negara atau setidaknya semacam komunitas percontohan yang bersumber dari ruh agama, atau setidak-tidaknya lagi memenuhi keinginan kita seperti yang tercermin dalam perbincangan ini. Yang saya maksudkan adalah pastinya kemungkinan bahwa kita mendudukan setiap teks dan segala macam sumber pengetahuan mengenai masalah ini yang “saling beragam” satu sama lain. Akan halnya teks yang kita pakai pun sebagai rujukan entah berbahasa Arab atau tidak sesungguhnya tidak pernah terjamin “kebenaran” dan “kemungkinannya” sesuai dengan ruh (katakanlah) Islam yang sesungguhnya. Mungkin agak berlebihan memang, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa sebagian diantara kita pun seringkali menyisakan pertanyaan atas setiap teks (kitab ataupun fatwa-fatwa) yang kita terima dan kita baca. Bukankah suatu kenyataan yang tak bisa dihindari bahwa sebagian diantara kita berbeda dalam memandang suatu teks? Mereka yang terbiasa dengan alam pesantren akan sangat khas mendudukkan teks-teks tersebut sebagai sesuatu yang layak untuk sangat dihormati berdasarkan “kapasitas” sang pengarang yang dimulyakan, dan akan berbeda dengan kalangan lain yang tidak memakai cara pandang yang sama. Belum lagi soal akurasi dan penggambaran (terutama teks Arab) yang konon seringkali berlebihan dalam menampilkan suatu fakta. Pada konteks ini saja sangat mungkin akan timbul suatu perspektif yang perlu untuk terus didialogkan satu sama lain. Kepentingannya adalah harapan agar saling berdiskusi satu sama lain dan tidak ada kesan monopoli. Yang paling konservatif pun perlu diajak untuk menjajagi kemungkinan adanya sisi lain dari suatu teks yang tercapai oleh “cara pandang biasa.” Jarang misalnya orang berbicara lebih mendalam antar sesama muslim yang mengaku teguh beragama mengenai rujukan politik seprti tulisannya Imam al-Mawardi atau kitab Al-Mughni fi abwabi al-tauhid wa al-adli yang membahas tentang al-imamah. Bukan soal cara pandang kita yang perlu disampaikan, tetapi pada proses penumbuhan kesadaran bahwa kita semua memang perlu untuk terus berinteraksi dan saling membuka diri untuk suatu cita-cita kehidupan yang paling ideal. Kedua sehubungan dengan perlunya untuk memberikan gambaran bentuk struktur dan model khusus yang dimaksudkan dalam perbincangan kita, atau setidak-tidaknya keberanian untuk mengungkapkan imaji kita masing-masing mengenai suatu negara misalnya berikut perangkat-perangkat yang dibutuhkannya. Ini sangat perlu untuk terus memperkokoh keberlanjutan perbincangan ini, sekaligus menepis anggapan bahwa yang kita omongkan ini adalah sesuatu yang “khas kaum pemimpi”. Kegagalan (mungkin bukan itu maksudnya) yang sering dikeluhkan oleh masyarakat awam seperti saya adalah karena ternyata tidak ditemukannya suatu rumusan yang aplikatif dan betul-betul bisa dilaksanakan bersama diantara kita semua. Selanjutnya tentu perlu untuk diuji secara bersama-sama apakah memang ia menjadi alternatif yang punya nuansa baru. Selanjutnya lagi tentu menjadikannya lebih bisa berdamai dengan eksternal yang nyata-nyata ada dan bersama kita di dunia ini. Melihat ciri fakta masa lalu menurut saya tetap diperlukan, meski yang sebenarnya diharapkan adalah kesadaran bahwa segala sesuatu tak ada yang (perlu untuk betul-betul) diulang, termasuk dalam memprogandakan kebaikan di masa tersebut (atas nama kegagalan kita hari ini). Setahu saya, hampir semua tokoh-tokoh Islam di masa lalu berani “melanggar” suatu ketentuan yang dianggap baku demi menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada waktu itu disertai dengan kesungguhan dan pertaruhan dirinya demi untuk perjuangan tersebut. Katakanlah, peristiwa Tsaqifah Bani Sa’adah dan atau tampilnya kaum khawarij dalam memperjuangkan “jihad dan ijtihadnya” tentang suatu kebenaran. Kejujuran untuk mengungkapkan fakta-fakta historis tersebut sesungguhnya sangatlah perlu untuk mendamaikan setiap prasangka pemikiran yang “cenderung saling” mempertahankan dir, meskipun secara implisit. Dan kita perlu itu…........ Wallahu a’lam
——-
Komentar Masuk (4)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)