Tokoh,
10/05/2010

Al-Jabiri dan Ihya Ulum al-Aqli

Oleh Novriantoni Kahar

Obsesi al-Jabiri untuk menghidupkan ilmu-ilmu rasional Islam (ihya `ulum al-`aql) pantas disambut dan dilanjutkan lebih giat lagi. Sudah nyata di dunia Islam bahwa proyek menghidupan ilmu-ilmu agama (ihya `ulum ad-din) al-Ghazali yang bersifat bayani dan irfani sudah sukses gilang-gemilang dan begitu hegemonik. Hegemoninya itu mendominasi hampir semua sektor pendidikan dan kebudayaan masyarakat Islam, sehingga umat Islam sulit untuk keluar sejengkal pun dari pantauan radar keduanya.

10/05/2010 10:42 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Saya setuju dengan pemikiran tetapi dengan tanpa mencaci maki hasil ijtihad ulama yg terdahulu,apa ketika dulu ada ilmuwan abad lalu mengatakan bumi itu datar dan matahari mengelilingi bumi,  lantas kita caci maki, tunjukkan bukti bahwa ijtihad saudara lebih afdhol,tentu saja ijtihadnya disertai dengan dasar keimanan dan bukan hawa nafsu

#1. Dikirim oleh Hisam ashadi  pada  10/05   12:01 PM

Waktu saya tamat SR (1965) ada beberapa teman (5 dari 32 siswa) yang masuk PGA/pesantren. Alasan mereka waktu itu ialah untuk apa berlama-lama belajar masalah dunia (SMP/SMA) sementara kita akan menuju ke “sono.” Kalau awal-awalnya saja niat mereka sudah begitu, bagaimana mereka akan mau bersusah-susah memeras otak dan tentunya mereka akan lebih menjadi penghapal dan penaklid yang setia. Demikian juga siswa yang masuk ke sekolah umum; kami diajar lebih banyak sejarah/akhlak yang ujung-ujungnya hanya menjadi penghapal tahun-tahun perang zaman dulu.

#2. Dikirim oleh zulkifli harahap  pada  10/05   05:02 PM

Entah ini pesimis atau bukan, tapi sepertinya rasionalisme agama nyaris tidak mendapat ruang di masyarakat kita. Hampir semua orangtua selalu menanamkan doktrin2 agama sejak anak mereka lahir. Dan seringkali, doktrin2 itu bahkan menutup mata sama sekali terhadap realita2 zaman. Pengertian ibadah hanya sebatas ritual dan tindakan2 sosial yang “dirumuskan”. Lalu orang2 berlomba untuk mengenal rumus paling tersembunyi, mencari2 di MASA LALU, kemudian mendoktrinkannya lagi kepada generasi MASA DEPAN. Tanpa adanya “kebetulan” dalam hal faktor2 yg mempengaruhi kehidupan seseorang (keluarga,hubungan sosial,dsb), rasionalisasi ini agaknya hanya akan menjadi topik kita2 yg ada di sini.

#3. Dikirim oleh wawan  pada  11/05   01:17 AM

Tulisan yang bagus dan sangat mencerahkan. Iya ya, seharusnya kita merindukan pokok-pokok pikiran yang lahir dari dunia islam untuk mempercepat tercapainya tujuan Milenium Development Goals atau penanganan perubahan iklim global misalnya…................ dari pada sibuk menyusun strategi membangun konsep khilafah atau menggelar majlis dzikir di lapangan monas…..

#4. Dikirim oleh Teguhsuseno  pada  11/05   08:28 AM

Satu bentuk capaian artikulasi dan suguhan wacana yang gemilang. Saya setuju dengan ulasan ini, tentang konflik dan subjektifitas layak dipanggungkan untk menilai objektifitas dan ikut hadir dlm latar historisnya. Menarik tentang bayani, irfani dan burhani. Seharusnya ke 3 hal tersebut haruslah equal. Kajian tentang ilmu pengetahuan jika bisa lebih banyak dimunculkan, agar sebanding lurus dengan auto kritik sosial relegiuitas teman-teman di jaringan. Terima kasih

#5. Dikirim oleh R.dzulkarnain  pada  13/05   08:12 AM

Masalahnya sekarang adalah bagaimana membangkitkan itu, karena masyarakat kita dulu juga senang dgn klenik/irrasional. Nah sekarang krn ada agama mungkin jadi lebih mudah memahami agama ke yg bayani dan irfani, sementara rasional jadi kurang sekali. Apalagi saat ini banyak dimanfaatkan untuk tujuan komersil, seperti wisata rohani, zikir sampai nangis2 setelah itu dimintai sumbangan. Saya punya pengalaman unik di kantor ketika saya dan beberapa teman bersama saya mengikuti ceramah dari seorang ustad, tentang perlunya beramal sambil menceritakan bagaimana hebatnya dampak itu pada kehidupan si pengamal. Pada akhir sesi si Ustad membuka sorban untuk tempat sumbangan. Kawan saya ini menyerahkan seluruh isi dompet yg jumlahnya ratusan ribu dan satu kawan lagi melepas kalung seharga jutaan. Sekitar sebulan kemudian saya ditunjuk kantor menjadi panitia mencari bantuan bagi Madrasah di suatu Desa yg sudah akan roboh. Kemudian saya minta sumbangan kepada kawan2 termasuk ke kawan yg dulu nyumbang gede ke ustad. Saya sangat terkejut ketika dia hanya menyumbang dlm jumlah yg paling kecil dibandingkan kawan2 lain, padahal secara rasional mestinya dia bisa menyumbang lebih besar karena bukan tanggal tua dan kita sudah meninjau lokasi dan memotret kondisi Madrasah yg sangat mengenaskan tersebut. Jadi disini bukan rasio yang dipentingkan tetapi lebih pada bagaimana membangkitkan hal2 yg tidak rasional menjadi seolah2 rasional dan mungkin menakut2i.

#6. Dikirim oleh nurcahaya  pada  14/05   06:44 AM

1.Berbicara Islam hrs tau gagasan idealnya yaitu dg mempelajari Al Quran & Al Hadits
2. Hikmah adalah ilmu islam yg hilang dan tak pernah tercatat serta hanya terdapat pd kebeningan hati para Mujtahid
3.Tiap kita punya situasi dan kondisi yg berbeda ada yg lapang ada juga dlm kesempitan tentu mereka punya pilihan tindakan yg berbeda dan imanlah yg mengontrol tindakan mana yg paling dekat dg Nya.
4.Kita sedang berkomunikasi dan tak berpuisi krna hrs dimengerti oleh lwn bicara kita n bkn utk kesenangan pribadi. Jdi hrs jelas mna gagasan ideal mna ijtihad sbagai hikmah yg sgt plexibel itu
5.Satu catatan yg hrs di ingat” Dalam islam ketika darurat boleh memakan babi tpi bukan berarti boleh sekenyangnya dan aji mungpung tpi makan secukupnya kemudian jgn menjadi betah tpi bungkuslah sebagai bekal untuk mencari rusa maka ketika mendapatkannya maka buanglah babi itu. Atas nilai2 sprti inilah islam ini sebenarnya dibangun. Wasalam..

#7. Dikirim oleh M. Lukman  pada  21/05   04:40 PM

Islam tidak melulu berada dalam konteks doktrinisme.Dan tidak semua dimensi doktrin bisa dijelaskan secara ilmiah dan rasional. Allah memberikan otak agar manusia bisa memilah dan memilih mana yang aspek yang dibalut doktrin dan mana aspek yg bisa dipecahkan dangan nalar dan rasional.Allah memberikan Alquran untuk menuntun otak manusia agar tidak menyimpang dari kaidah kebenaran yang sudah ditetapkan Islam. Semua kebenaran yang tidak bisa ditawar karena itu sudah menjadi ketentuan Allah.Ketentuan Allah itu tidak harus ada alasan yg rasional karena Allah Maha Mengetahui hakekat segala sesuatu. JIL selalu menganggap bahwa Islam dengan segala bentuk atribut dan simbolnya didominasi oleh kharakteristik arab seperti jubah,pemikiran,tradisi,dll.Apabila Allah sudah menetapkan sebuah hukum misalnya maslah jilbab dan penutup aurat atau masalah lain,maka itu adalah suatu hal yang MUTLAK,ABSOLUT,TIDAK BISA DITAWAR.Tidak bisa dihubungkan dengan masalah tradisi suatu kaum.Itu adalah hukum Allah,bukan hukum manusia yang bisa ditawar.Jika itu adlah ketentuan Allah tidak peduli apakah itu tradisi arab,Indonesia.Itu adalah hak pregrotif Allah.

#8. Dikirim oleh devi hariandi  pada  25/05   09:43 AM

Coba kita tinjau pemikiran muhammad abduh yang sempat dikucilkan oleh para muslim lainya sewaktu di Alazar kairo. seharusnya pemikiran seperti itu lah yang layak untuk kita teladani. bukan malah mempermasalahkannya karena menganggapnya sebagia neomuktazilah dsb. Islam di Indonesia akan sangat jauh dari impiannya ketika para umatnya masih menggunakan cara pandang yang sangat tradisionalis seperti yang bisa kita lihat. dengan semakin ketatnya persaingan Globalisasi terlebih westernisasi umat Islam Indonesia membutuhkan semacam keseimbangan pemikiran agar tidak gagap atau ketinggalan menghadapinya.

#9. Dikirim oleh Ibad  pada  29/05   05:15 PM

Argumen Demonstratif/empiris, perlu orang yang faham IPTEK. sebenarnya memang prasarat untuk memahami Wahyu Illahi. Perintah pertama kepada nabi adalah Iqro’ artinya kita harus memahami hukum logika dasar alam semesta atau sunnatulloh. Problem di Indonesia yang mengaku Kyai, Ustadz dll. biasanya orang yang gak diterima di perguruan tinggi ITB, UI, UGM dll.Maka himbauan saya kepada temen temen yang punya dasar logika baik ayo turun gunung jadi Kyai atau ustadz

#10. Dikirim oleh Anwar R Soediro  pada  03/06   01:04 PM

Kepada Bung Novriantoni Kahar atau kepada siapapun yg ingin memberi jawaban, kl menurut anda pribadi, Pernikahan Beda Agama itu sah atau tidak? Dalam hal ini pihak lelaki adalah muslim & pihak perempuan adalah Katholik. Soalnya setahu sy kan ada sebagian ulama yg menghalalkan & ada yg tdk mengharamkan.
Terima kasih sebelumnya.

#11. Dikirim oleh Singa Padang Pasir  pada  07/06   01:29 PM

Allah itu memberikan otak kepada manusia tiada lain hanya untuk digunakan berfikir, jadi manusia dlam kehidpannya di dunia harus berfikir tentang sesuatu apapun, namun Allah adalah Tuhan yang maha luas ilmunya dan Allah memberikan sedikit ilmunya kepada manusia, maka sejauh apapun manusia berfikir maka ia tidak akan melebihi setetespun ilmu Allah, bagaimanapun tidak bisa melebihi. Oleh karena itu Allah membuat ketentuan untuk manusia berfikir, bagaimana seharusnya manusia berfikir, maka Allah memberikan undang-undang-Nya yaitu berupa Kitab dan yang memberikan penjelasan kitab itu yaitu para Rasul, mka jika manusia mengikuti Kitab itu dan Rasul itu maka selamatlah dia. Apakah kitab yang harus kita ikuti sekarang dan Rasul siapa?? maka jawabannya adalah Al-Quran dan Nabi Muhammad. Kata Nabi : Aku telah tinggalkan dua perkara jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan sesat selamanya yaitu : Al-Quran dan As-Sunnah.

#12. Dikirim oleh Nurdin Mulyana  pada  08/06   01:07 AM

Menarik sekali.  Terkesan dengan istilah memberanakkan kata-kata.  Banyak sekali buku-buku semacam itu di toko buku, ada yang baca nggak ya?

#13. Dikirim oleh budi  pada  12/06   02:41 PM

Agama Islam adalah agama yang selalu relevan disetiap zaman dan tempat. Islam tidak menyulitkan anak Adam dalm meraih kebahagiaan dan kehidupan yang indah. Dengan syarat mereka tetap berpegang teguh kepada ajaran dan hukum hukum NYA. Kejadian keadaan dan apapun yang akan ada di bumi ini,ALLAH sudah mengetahuinya , dan ALLAH sudah mempersiapkan untuk hamba2 NYA yaitu Alqur’an dan Alsunah. semuanya sudah sempurna . kita tinggal mengikuti petunjukNYA. Apakah kalian merasa lebih pintar dr yg menciptakanmu ?

#14. Dikirim oleh sazkia  pada  16/06   11:29 AM

saya sependapat dengan beberapa bagian dari pemikiran al jabiri, walau saya pribadi juga mengagumo ghozali..kedua tokoh tersebut dan tokoh yang lain telah menelurkan gagasan yang gemilang bagi perkembangan pemikiran umat islam. menjadi masalah krusial sekarang adalah, bagaimana mengerahkan segala semangat perjuangan intelektual Islam menuju upaya mengembangkan ilmu-ilmu yang praktis dan pragmatis. selama ini seringkali bicara tentang perkembangan islam atau konten dari islam itu sendiri, yang muncul adalah wacana2 kontemplatif..nah mengapa tidak dari sekarang kita berusaha mengerahkan perhatian untuk lebih mengempiriskan apa yang kita pikirkan tentang islam. saya kuatir pengembangan dengna menggunakan label islam hanya sampai pada tataran superfisial. ini sebenarnya justru mereduksi islam itu sendiri.
tentang keseimbangan akhirat dan dunia, yang sering jadi landasan dalam pengembangan pendidikan islam modern, saya pribadi mash terpengaruh pemikiran ghozali, bahwa keseimbangan semacam itu absurd dan tidak boleh terjadi. yang ‘sebaiknya’ (ini pandapat subyektif saya) adalah mengusahakan dunia -misal dengan mengembangkan diri di pengetahuan modern- akan tetapi orientasi tujuan hakiki adalah akhirat. dengan ini saya rasa, kestabilan spiritual lebih dapat terjaga, daripada berusaha seobyektif dan seadil mungkin dalam memandang dunia dan akhirat secara seimbang.

#15. Dikirim oleh luluatul chizanah  pada  17/06   07:01 AM

Ada yang lebih dalam dari akal yaitu akah yang tercerahkan bukan saja oleh kesadaran filsafat tetapi juga kesadaran hakikat. Agama perlu dikenalkan sebagai value bukan simbol-simbol.Jika masjid, kuil, gereja dihancurkan apakah agama akan hilang. saya kira tidak. tempat tempat ibadah itu jugau hanyalah simbol. Kita juga membangunmasjid, gerja dan sinagog di dunia maya. Yang paling penting adalah bagaimana memberi ruang ruang untuk berpikir, bgaimana mengajarkan mereka untuk membuat pertanyaan, bukan jawaban..salam

#16. Dikirim oleh abujasmine  pada  21/06   12:31 AM

Riwayat Isra mi’raj yang diperoleh lewat Abu Dazar Ghafari, Malik bin Sh’sha’ah ataupun Anas bin Malik (yang setelah melampaui beberapa orang lagi/sanad, baru menjadi catatan Imam Bukhari dan Imam Muslim), samasekali tidak muncul dari Al Quran.Sebaliknya mereka saja yang menarik Al Qur-an ke dalam kisah Isra Mi’raj mereka.
Akar kata-kerja asraa (dalam QS17:1), kemudian manusia mengistilahkannya menjadi kata benda: israa. Demikian pula, akar kata-kerja araja-ya’ruju, yg oleh Al Quran ditampilkan dalam sembilan ayat, di antara teradapat kata-jadian (mabniy) ma’aarij (QS70), kemudian manusia membuat istilah mi’raj (bentuk tunggal dari ma’aarij). Bila memang apa yang diriwayatkan dalam hadits yang panjang itu benar dan rasional, Al Quran akan mengatakannya seperti itu. Sebetulnya, kalau kita tidak tergopoh-gopoh mengimaninya artinya mengfungsikan alat (teknos) manusia yang tertinggi yakni akal, sepertinya kata kerja asraa bi ‘abdihi (Allah telah memperjalankan seoranghambaNya) tidak akan terlalu jauh ngelantur hingga timbul kesan untuk perintah shalat Rasulullah Al Mustafa SAW harus menjemputnya ke Mustawa, Baitul Makmur, lauhul mahfudh atau sidratul muntaha tempat-tempat tidak populer (disebut sekali saja dalam Al Quran) yang pada gilirannya hadits-hadits itulah menjelaskannya.Ya, namun kita sudah kadung menyepakati bahwa hadits berfungsi menjelaskan atau menjabarkan Al Quran,jika tidak begitu kita dicap inkarusunnah, kafir, aliran sesat, mu’tazilah, wahabi atau sekularis dst. (persis seperti kisah dosa besar, kafir zaman kemuelut dunia Islam ketika belum sampai 25 tahun sepeninggal Rasulullah).
Sebetulnya kalau mau berfikir sederhana QS17:1 menyatakan bahwa Allah ingin memeperluas wawasan RasulNya.seperti halnya tentang Kaum ‘Ad, Tsamud, Fir’aun atau bani Israil, kini giliran menceriterakan sebuah lokasi yakni tempat para nabi di Yerusalem. Dan salah satu hasil karya gemilang adalah (yg dlm bahasa Al Qur-an masjid terjauh/Aqsho)sinagoge yang pernah dibangun oleh nabi Sulaiman, namun karena laku lampah bani Israil selalu membikin malapetaka (latufsidunna fil ardhi marratayn), di antaranya bani Israil memusuhi dan mencelakakan nabi Isa AS, (liyasuu-u wujuuhakum:mencoreng muka sendiri) akhirnya kisah dan hasil karya yang gemilang itu punah oleh tangan Titus Vespianus thn 70M. Akhir ayat QS17:7 menyebutkan: ….wa liyutabbiruu maa ‘alaw tatbiraa.Artinya:…..dan mereka   menghancurkan total apa yang jadi kebanggaan bani Israil. Karenanya apa yg disampaikan ust Chodjim tidak usah lewat jalur Isra-Mikraj. Soal perintah sholat sudah jelas tertera pada QS20:132 atau QS29:45 di Makkah dan digencarkan di Madinah, di antaranya QS17:78-80. Jelasnya perintah shalat itu (di antaranya)ada pada surah Israa atau surah Bani Israil.
Karena itu, kalau mau berbicara Al Qur-an, kuasai dulu beberapa ayat. Pada mush-haf telah disiapkan ruku’ (‘ain) hingga terbentuklah pargraph. Demikian pula surah Makiah atau Madaniah. Itu semua punya makna dan hari dikaji.  Kuasai dulu Al Qur-an, baru menyusul hadits, itu urutan berilmu agama. Masih banyak item-item yang harus dibuka, tunggu respon.

#17. Dikirim oleh mustafa Adnani  pada  04/07   05:22 AM

Memang !!! Tapi mudah-mudahan kedepan mudah diwujudkan Bung. Hemat saya, selama JIL masih eksis berkibar di Nusantara insyaallah Ihya’ ulum al-‘Aqli akan terus menggelinding bak bola yang ditendang

#18. Dikirim oleh Khoirul Anwar  pada  10/07   09:08 AM

Melihat Islam dari kacamata JIL, memang merepotkan cara analisanya. Karena sejak mula JIL berpikir dengan mengedepankan Akal sebagai standar kebenaran. Menyodorkan pola antagonisme, menyisipkan interpretasi konteks, menetapkan kaidah minoritas sebagai paradigma. Jelasnya tidak mungkin berjalan diatas kebiasaan yang ada. Bahkan menentangnya dengan konsep konsep kontektual, sambil membekukan dan membungkam konsep tekstual. Mengenyampingkan kesepakatan para Ulama. Itu yang bisa ditangkap. Sebagaimana Mustafa adnani. Seolah dalam mengkontribusi Alquran dengan tafsiran tidak diperlukan lagi hadist. Lalu apakah 25 tahun sesudah Nabi ada telah konsensus berpecah belah. Tentu tidak, karena sanad sanad masih ada sebagai penyambung lidah Rasulullah. Mungkin yang diperlukan adalah menggali lagi sejarah pengenalan Al-Quran, melalui Bimbingan Nabi.

#19. Dikirim oleh Zulkarnai El- Madury  pada  05/08   01:06 PM

subhanallah sekali ya smile

#20. Dikirim oleh meida prefik  pada  04/12   11:17 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?