Tokoh,
10/05/2010

Al-Jabiri dan Ihya Ulum al-Aqli

Oleh Novriantoni Kahar

Obsesi al-Jabiri untuk menghidupkan ilmu-ilmu rasional Islam (ihya `ulum al-`aql) pantas disambut dan dilanjutkan lebih giat lagi. Sudah nyata di dunia Islam bahwa proyek menghidupan ilmu-ilmu agama (ihya `ulum ad-din) al-Ghazali yang bersifat bayani dan irfani sudah sukses gilang-gemilang dan begitu hegemonik. Hegemoninya itu mendominasi hampir semua sektor pendidikan dan kebudayaan masyarakat Islam, sehingga umat Islam sulit untuk keluar sejengkal pun dari pantauan radar keduanya.

10/05/2010 10:42 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (28)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

dan syaithon pun tertawa….ente org pintar yang paling goblok!nafsu di atas segala-galanya…

#21. Dikirim oleh jundullah  pada  15/03   06:08 PM

Assalamu alaikum,

Mungkin kita sependapat bahwa Agama di turunkan oleh Allah agar kita manusia mudah menjalani kehidupan dunia ini. Orang2 JIL dengan otaknya yang super cemerlang, janganlah kalian memandang rendah orang yang hanya bersikap sami’na wa ata’na (kami dengar kami patuh). Sebab kita diciptakan tidak sama, momentum yang kita alami berbeda-beda, sukar jika mau dipaksakan dengan kemampuan orang JIL yang diberi nikmat akal yang cemerlang. Ketika misalnya Allah melarang makan babi, silakan orang2 JIL melakukan penelitian dengan otaknya yang cemerlang mencari tahu kenapa daging babi haram di makan? Sebab di jaman nabi Muhammad belum ada fasilitas untuk mengujinya secara ilmiah.
Tentang sedekah banyak atau sedikit, bagi kami, dialah Allah yang membolak balikkan hati manusia. Tidak ada yang salah jika seseorang menyedekahkan uangnya lebih banyak ke ustad, dari kepada orang JIL sewaktu meminta sumbangan, Apakah orang JIL tidak mengetahui dengan akalnya kenapa sumbangannya lebih kecil??? Mungkin ini salah satu bukti kecil bahwa orang JIL kurang memakai nalar, mengapa bisa dia dapat lebih kecil sumbangan atau mungkin tidak dikasih sumbangan. Silakan pakai nalar JIL kalian, jangan cuma menyalahkan orang lain.

Salam,

#22. Dikirim oleh Muhammad Thahir  pada  28/04   12:51 PM

Semoga Allah SWT memberi penulis dan teman-teman sekalian petunjuk Shirothol mustaqim….........
sungguh ini persoalan bidah…..yang dulu pun pernah dikampanyekan oleh kaum mu’tazilah….saya gak tau….apakah ini juga regenerasi kaum yang dicap ulama salafusshalih : SESAT!
wallahu a’lam bi shawab….

#23. Dikirim oleh nur el islamy  pada  26/05   12:31 AM

Mau tanya itu buku-buku Al-Jabiri ada terjemahan Indonesianya apa tidak ya.

Bisa dibeli dimana. Terima kasih

#24. Dikirim oleh Awaludin Akhmad  pada  30/06   03:31 PM

udah banyak dapet duit neh bung novri…......bagus juga tuh pemikirannya…setiap pemikiran yang nyeleneh pasti ada duitnya….subhanalloh…iman dituker dengan duit…kadal fakru an yakuna kufron…..

#25. Dikirim oleh Anak Bekasi  pada  29/07   09:27 AM

memang sih seharusnya umat agama islam yang sudah muslim dan mu’min membuat sebuah inovasi dalam ilmu keislaman dan kemu’minannya tanpa harus menjadi pentaqlid buta yang membenarkan satu atau dua madzhab. sehingga nyata bagi mereka sebagai rahmatan li al’alamin.

#26. Dikirim oleh jaka lalana  pada  17/10   09:25 AM

mari membaca, mendengar dan menyimak dengan baik agar hati dan pikiran kita lebih terbuka dan kaya.Apa maslahat yang diperoleh seorang muslim yang menghujat dan menghina pendapat berbeda dari seorang muslim yang lain, apalagi memvonis mereka dengan kafir, murtad, munafik dan lain-lain dengan memperalat firman Allah dan sabda Nabi yang tidak ada hubungannya dengan bahasan tulisan? Kalau tidak setuju mari membuat tulisan yang argumentatif agar perbedaan pendapat ini menjadi rahmat bagi kita.

#27. Dikirim oleh khairuddin  pada  18/10   08:41 AM

nalar burhani memang harus dikembangkan tapi tetap harus berpegang pada Qur’an dan Hadits. Karena menurut saya nalar burhani dapat berkembang dengan baik pada masa lampau disebabkan oleh kajian teks yang mendalam sehingga secara sadar ataupun tidak nalar burhani ikut terasah.
sedikit kritik untuk nalar burhani dimana ia lebih mengutamakan sesuatu yang rasional dan empirik, secara tidak langsung berarti telah menyederhanakan dan bahkan membatasi keberagaman serta keluasan realitas. Lalu bagaimana cara burhani untuk bisa melakukan empirisme terhadap yang ghoib karena selaku umat islam percaya terhadap ghoib (malaikat dll) adalah masuk dalam rukun iman.
Terima kasih

#28. Dikirim oleh Turhamun  pada  19/10   04:34 PM
Halaman 2 dari 2 halaman < 1 2

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?