Wawancara,
24/02/2002

Nirwan Ahmad Arsuka: Alquran bisa Dianulir oleh Teori Ilmiah Baru

Oleh Redaksi

Soal Maurice Bucaille ini, ketika pertama kali ia muncul sejumlah orang bersorak karena implikasi dari penjelasannya adalah Alquran sudah banyak berbicara sejak 14 abad sebelum penemuan-penemuan oleh ilmuwan cemerlang di seluruh dunia. Tapi mereka lupa bahwa teori-teori ilmiah itu bersifat tentatif, setiap saat bisa diubah oleh teori yang lebih bagus. Kalau para pendukung Bucaille tetap berpatokan dengan mencantolkan ayat dengan teori ilmiah maka mereka merisikokan ayat tersebut untuk suatu waktu dianulir pada saat teori ilmiah tersebut difalsifikasi.

24/02/2002 01:11 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (4)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Setelah membaca beberapa kali artikel ini, ada perasaan ingin ikut bergabung dalam diskursus yang menurut saya menarik dari Pak Irwan.

Sebenarnya apa sih persoalan kita selalu terfokus pada teori dan logos yang berputar pada legitimasi sebuah teknologi. Saya hanya coba untuk kembali pada logika sederhana bahwa teknologi hanyalah pisau dari perdaban manusia siapa pun dia adanya. Laboran, tukang sayur, asongan, semua punya teknologi yang dititipkan oleh Pemilik Realitas Pertama—meminjam bahasa Ibnu Sina—untuk menghadapi realitasnya masing-masing.

Persoalan sains yang akhirnya berbuah bencana terjadi tatkala sistem manusia tak lagi berintegrasi dalam menganalisa sebuah fenomene sains. Misalkan, Revolusi Hijau di Indonesia pada 1980-an hanya berhasil mempercepat laju pemiskinan kaum tani yang tidak punya akses pada teknologi, karena dalam berebut paket Inmas harus berebut dengan tuan tanah dan birokrat yang lebih dekat pada penguasa Orba saat itu. Jadi sains yang netral telah diperalat untuk kepentingan kelas tertentu dan dijadikan ‘pisau’ pembunuh.

Pada dataran ini saya pikir perdebatan tentang legitimasi sains harus dibongkar dengan mengikutsertakan peran manusia sebagai Second Creator. Toh, teknologi pada dasarnya hanyalah bagian dari kebudayaan manusia, bahkan ruh peradaban—mengutip Sudjatmoko—yang harus dimulai hidup dan bernafas dalam ranah kemajemukan manusia.

JIka dikaitkan dengan transisi demokrasi yang sedang terjadi, saya mengusulkan adanya demokratisasi teknologi bahkan reorientasi teknologi sebagai alat perjuangan kelas menuju kesetaraan dan kesederajatan. Peran kampus-kampus ‘pusat’ dalam menafsirkan teknologi pertanian harus diarahkan menuju desentralisasi. OK?

Tapi kaya’nya terlalu sederhana bila melihat kondisi saat ini. Pengajaran sains terpisah secara diametral dengan ilmu sosial. So, masih terjadi devide et impera di antara kita.

Minta kritik Mas!
——-

#1. Dikirim oleh bahtiar arifin  pada  14/03   07:03 AM

Al Qur’an bisa di anulir oleh ilmiah baru, itu adalah impossible. Pandangan AL qur’an bisa dianulir ilmiah baru, itu hanya karena Nirwan salah memahami apa yang dimaksud dengan Al Qur’an, dan saya kira hanya sedikit sekali ummat Islam yang memahami apa itu Al Qur’an. Pandangan terhadap Al Qur’an tidak memerlukan paradigma baru, tapi pemahaman yang sesungguhnya. Makna Al Qur’an kan adalah BACAAN, dan bacaan (Al Qur’an) jangan terpaku pada kitabnya, Alam semesta termasuk bumi dengan segala isinya itu juga Al Qur’an atau bacaan, manusia juga bacaan, jadi semua bacaan yang wajib dibaca manusia.  lahirnya ilmiah baru dalam wujud teknolgi, oleh manusia tidak mungkin terwujud, tanpa didahului pembacaan. Pengertian baca atau Iqra adalah multi makna, bisa diartikan baca, bisa diartiakan analisa, penghayatan dsbnya. Begitupula pengertian ayat, kita jangan hanya terpaku pada tulisan yang ada didalamnya sebagai ayat. semua fenomena alam dan kehidupan manusia juga adalah ayat yang sesungguhnya.Begitupula pengertian rasul, jangan terpaku pada Manusianya, tapi pengertiannya ada pada missinya. Jadi sebenarnya pengertian rasul adalah Petunjuk, apapun yang memberikan petunjuk sesungguhnya itu adalah rasul, seperti Jam, Bulan, bintang dlsb. Pemahaman bahwa kemungkinan terciptanya semua wujud bukan karena unsur particle, tapi mungkin dari gelombang, ini keliru, karena gelombang juga masih dalam bentuk wujud, jadi terciptanya seluruh yang berwujud adalah sesuatu yang tidak berwujud, yaitu CAHAYA.Oleh karena itu marilah kita selalu bersikap arif dalam memahami sesuatu secara ilmu Hakiki.

#2. Dikirim oleh M. Rizani.Syam.  pada  10/07   11:50 AM

Islamisasi Ilmu pengetahuan sesungguhnya bukanlah suatu program yang baru, jika kita memaknai Islam sebagai fitrah alam semesta. artinya jika itu muncul sekedar mengingatkan bahwa ada sesuatu yang tidak utuh dalam memandang pengetahuan modern. dengan demikian perdebatan ada tidak ada sesungguhnya bukanlah atau tidak akan menyelesaikan sesungguhnya dari misi besar kemanusiaan yaitu mewujudkan kesejahteraan bersama kehidupan di muka bumi. hal ini berarti menyadari bahwa kekurangan atau berbagai macam bencana bentuk lain dari ketidak beresan sain dalam memandang realitas, yang berakibat pada program-program pembangunan selalu menimbulkan masalah baru. seperti orang yang membuat pintalan baru untuk benang yang telah ruwet. keruwetan sain tatkala ianya dianggap sesuatu yang hadir dengan sendirinya. dan akan terasa sederhana jika kita menghadirkan Allah dalam setiap sistem kita. segala bentuk kebenaran hanya mendekati kebenaran, artinya terdapattingkat toleransi yang dapat diterima oleh komunitas ilmuwan. namun demikian cukup dapat membantu kehidupan manusia dimuka bumi. hall ini bukan karena tidak canggihnya alat atau teknologi yang kita pergunakan tetapi itu merupakan watak alam semesta. sekali lagi tidak ada permasalahan apakah kita berangkat dari kitab Suci Al Qur’an yang sudah diakui kebenarannya, ataupun berangkat dari alam semesta yang juga tidak diragukan kebenarannya. silahkan kita berangkat dari titik yang kita pahami dan insyaallah kita akan bertemu pada sebuah titik, dimana ayat qouniyah dan ayat qouliyah akan saling bertemu.

#3. Dikirim oleh Rum Rosyid  pada  07/08   06:34 AM

Sepengetahuan saya, di dalam Alquran tidak ada disebutkan benda terkecil adalah biji sawi, tetapi hanya menyebutkan dosa/kejahatan/kebaikan walaupun hanya sebesar biji sawi, Allah mengetahuinya. Tentu Allah tidak menyebutkan secara detil benda terkecil itu kepada kita karena menyuruh kita berpikir untuk terus berpikir dan berpikir. Masa iya, Allah yang menciptakan, Allah nggak tahu.

#4. Dikirim oleh Syamsu Alhadi  pada  13/08   10:25 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?