Editorial,
26/09/2011

Antropomorfisme dan Teks Suci

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

... manusia yang melakukan kegiatan penafsiran banyak jumlahnya, dan karena itu penafsiran akan selalu banyak dan beragam. Teks suci dalam agama tertentu memang satu. Tetapi penafsiran atas teks itu tidaklah mufrad/tunggal, melainkan jamak/banyak. Keragaman tafsir adalah “nasib” yang tak terhindarkan dalam komunitas agama manapun.

26/09/2011 16:42 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (24)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Salut buat Ulil, yang memperjuangkannya tanpa lelah.

#1. Dikirim oleh Boetje Tanjoeng  pada  16/01   10:55 AM

Kelemahan al Quran,adalah masih memerlukan tafsir sehingga masing2 orang dengan tafsirnya.Kalaulah AlQuran langsung dari tangan Tuhan pasti jelas artinya.Sebab Tuhan pasti mengetahui kemampuan berfikir semua orang di Bumi ini.

#2. Dikirim oleh nur  pada  16/01   02:10 PM

@nur:
Alam semesta ini juga langsung dari tangan Tuhan, tapi sering disalah-mengerti, disalahpahami. Tuhan yg menciptakan alam ini tau kemampuan berfikir manusia, tapi kita masih juga salah mengelolanya.
Anda & saya juga langsung dari tangan Tuhan, tapi masing2 kita punya kelemahan.

#3. Dikirim oleh Arie  pada  16/01   04:11 PM

saya sepakat bung ulil. bahkan dalam pandagan saya kalau penafsiran itu diposisikan atau memposisikan diri sbg sesuatu yang mutlak alias suci, ia dengan sendirinya telah mengingkari prinsip ketauhitan. ia telah menyekutukan TUHAN : menandingi yang suci.
-

#4. Dikirim oleh hery  pada  16/01   04:34 PM

Saya tinggal di Amerika.Saya perhatikan banyak sekte2 kristen merdeka menafsirkan Injil atau Bible.

Di setiap jalan terdapat 5-7 gereja yang satu sama lain berbeda sekte atau penafsiran.

Saya merasa kagum mereka dapat hidup berdampingan secara damai,dan saling menghormati.

Kalaulah ulama2 Islam dapat menghormati penafsiran yang berbeda beda itu, barulah umat Islam yang banyak jumlahnya ini dapat hidup damai-berdampingan dan harmonis.

Setelah tercapai kondisi demikian,barulah kita dapat menggunakan energi dan waktu untuk membangun ekonomi atau kesejahteraan umat yang masih tertinggal dgn umat2 lainnya.

Penafsiran Alquran, tidak boleh dimonopoli oleh pemerintah dan sekelompok Islam. Mari berlomba lomba berbuat kebajikan kepada masarakat.

The Beauty of God’s Creation & Teaching.
The True Islam is The religion of justice for all, affection, compassion,love, peace, beauty and prosperity.

We reject Islamic violent extremism, and Promote peace,love, tolerance, compassion, accept different thought, ideas and interpretation of Islamic teaching.

Muslims should also make great progress and produce superb works of Technology, science, culture, art, and aesthetics, as well as live Islam in the best way, and thus represent it to the world.

Wassalamu;alaikum wrwb

Pengalaman saya tinggal di Japan dan USA.
yang penduduknya majoritas Kristen dan Shinto.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

#5. Dikirim oleh alatif  pada  16/01   11:30 PM

@nur : bukan kelemahan, tapi malah kekuatan. dengan kebertafsiran maka quran akan tetap relevan sepanjang masa. tafsir2 baru akan terus bermunculan sesuai kebutuhan zaman. tanpa kebertafsiran maka sudah sejak dulu2 quran sudah basi seperti koran kemaren

#6. Dikirim oleh zaini  pada  17/01   05:37 AM

Tulisan Bung Ulil ini tulisan biasa saja, artinya bagi kalangan penggiat kajian agama, sosial, teknik sekali pun dan lain-lain tak ada istimewanya. Yaitu bahwa penafsiran/ pemahaman terhadap satu teks suci/ postulat dll oleh banyak orang potensial akan berbeda-beda. Saya setuju, jangan memutlakan terhadap tafsiran.  Yang tidak saya setujui adalah manakala Sang Penulis punya kecenderungan untuk berpandangan ‘miring’ terhadap salah satu penafsir, dalam contoh ini adalah terhadap mereka yang tidak setuju dengan Ucapan Natal. Di sini nampak Bung Ulil, sedikit ingin menghakimi mereka, tentu dengan ‘vonis’ yang buruk. Inilah ketidakadilan dalam tulisan ini. Namun jika disajikan dengan nuansa ‘netral’ maka tulisan ini baru memiliki bobot tersendiri. Trims

#7. Dikirim oleh Abduh  pada  17/01   02:15 PM

Saya sepakat dengan isi tulisan ini, dan merasa tercerahkan dengan tulisan ini. Bukan hal baru, sudah dipahami secara naluriah, hanya di sini terformulasikan dalam rumusan yang cergas. Terimakasih Bung Ulil.

#8. Dikirim oleh MKW  pada  18/01   02:34 AM

Saya setuju dengan tulisn di atas, sebuah kitab suci terkadang memang sengaja membuat tulisan yang maknya terkesan “wagu” sehingga penafsirannya diserahkan kembali kepada umat..

Dengan adanya penafsiran maka sebuah kitab suci tetap dianggap relevan dengan zaman, sekalipun dampak negatifnya kitab suci tersebut bisa ditafsirkan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan si penafsir..

Walau ini terkesan sebagai pembenaran dari sebuah kitab suci tapi kenyataan di lapangan memang seperti itu.. Tidak ada yang perlu ditutupi..

#9. Dikirim oleh Anindya Yumika Dewi  pada  18/01   04:24 PM

setiap insan memiliki naluri “dakwah”. siapapun akan senang bila pendapatnya/pemahamannya diamini, diikuti dan didukung orang lain. apalagi jika pendapat yang dikemukakan menyangkut permasalahan agama. demikian juga dengan bung ulil. sangat manusiawi jika setiap tulisannya disisipi “dakwah” agar pembacanya setuju dan mengikutinya. pembacapun bebas menentukan sikap setuju atau tidak. tidak semua yang dipaparkan teman2 jil saya amini. tapi yang jelas saya paling sebel dengan teman2 yang mengkonter jil dengan kata2 yang kurang patut jauh dari semangat ukhuwah.

#10. Dikirim oleh muhnan rais  pada  19/01   04:36 AM

Al-quran tidak menjelaskan maknanya dengan pundaknya sendiri, tetapi al-quran memerlukan pembaca yang akan menafsirkan maknanya. sehingga terjadilah perbedaan dalam penafsiran aaaaaaaaaa9beragam. jangan heran kalau adanya perbedaan dalam sudut pandang, perbedaan itu sunatullah. bagaimana mengecilkan terjadinya perbedaan? jawabannya: kita harus mengunakan epistemologi (metode) yang sama, mampukah kita menyatukan metode (menyamakan metode yang kita gunakan)? inilah yang menjadi kemelut umat Islam,

#11. Dikirim oleh saim  pada  19/01   11:07 AM

Saya termasuk yang tidak setuju mengucapkan selamat natal,karena natal adalah perayaan keagamaan agama kristen,natal menyangkut keyakinan/prinsip hidup,sedangkan kata"selamat’‘berarti mengiyakan,merestui ,menyetujui,mengakui,membenarkan,sementara saya termasuk orang yang meyakini,menyetujui,mengiyakan,hanya agama saya yang akan membawa keselamatan (@muslim) beda dengan ucapan selamat jalan,selamat makan,selamat tidur dsb.???!

#12. Dikirim oleh Jararenkqel ht  pada  21/01   02:26 PM

Mencerahkan gus..

#13. Dikirim oleh Halimah  pada  21/01   07:54 PM

mencerahkan gus…

#14. Dikirim oleh Halimah  pada  21/01   07:56 PM

ulil jelaskan dulu bagaimana masyarakat itu menganggap teks itu suci? kadang2 itu sesuai dg konteks zamannya… kalau asal kritik semua bisa, ulil hrs lebih tajam membaca kondisi sosial masyarakatnya, jangan asal hantam begitu.

#15. Dikirim oleh murtadi  pada  22/01   12:05 PM

disini trlalu banyak orang yang pintar ngomong,bahas sesuatu, sampai-sampai dia nggak sadar kapasitas keilmuannya nggak memadai buat ngomongin sesuatu tersebut, banyak orang yang ingin menafsirkan alquran sesuai keinginannya tanpa panutan terhadap ulama terdahulu, seolah - olah keilmuannya melebihi ulama-uama terdahulu, padahal kalau dilihat, mereka hanya orang-orang yang kapasitas keilmuannya hanya setinggi dengkul, da yang profesor dalm ilmu islam tapi nggak hafal alquran, ada yang belum pantas disebut cendikiawan malah berlagak pemiir hebat. padahal mereka hanya orang-orang yang ngga berguna bagi islam itu sendiri

#16. Dikirim oleh srill  pada  22/01   03:04 PM

Negara Indonesia adalah negara merdeka. Seluruh Manusia yang ada di dalamnya pun berstatus merdeka. Jadi, Indonesia adalah negara bebas. yang mau berpendapat pengucapan natal haram (kontra), Silakan! yang mau menghukuminya halal (pro), Silakan! Tapi, ingat… Tidak usah yang Pro mengganggu yang kontra dan sebaliknya.

#17. Dikirim oleh Nur Wahyudi  pada  22/01   11:36 PM

Quran tidak pernah secara spesifik mengharamkan pengucapan Selamat Natal, tidak ada juga hadis Nabi yang melarang mengucapkan Selamat Natal? so what? Ini murni penafsiran, dengan memperhitungkan aspek aqidah dan kemaslahatan umum, saya kira kemaslahatan lebih postif sedangkan soal dugaan pendangkalan aqidah itu terlalu dibesar2kan… saya kira tidak masalah kalau HANYA mengucapkan Selamat Natal, kecuali kalau sambil kebaktian di gereja

#18. Dikirim oleh Oces  pada  24/01   09:49 PM

buat sdr #srill

janganlah anda terlalu memitoskan para ulama terdahulu. betapapun mereka manusia biasa yang tidak sunyi dari kekeliruan dan keterbatasan. sekarang jaman serba canggih yang sama sekali beda dengan jaman ulama klasik. ulama paling top yang diakui adalah imam empat: maliki, hanafi, syafii dan hambali. mereka hidup pada jaman yang relatif masih sederhana, toh dalam menafsirkan ayat yang sama terkadang mereka tidak sejalan.
sayapun mau tanya, timbulnya perbedaan itu oleh sebab kepintarannya atau lantaran keterbatasannya?

#19. Dikirim oleh muhnan rais  pada  25/01   02:37 PM

Sdr muhnan.

Mnrt saya, ulama terdahulu memang lebih unggul dibandingkan dg yg terkini, apalagi jika dibandingkan dg orang2 jil ini. Mereka disebut ulama jika sudah hafal al Qur’an dan hafal 300.000 hadis dg sanadnya. Mereka baru berani mengeluarkan fatwa kalau sudah menghafal 600.000 hadis. Hampir tidak ada orang masa kini mampu mencapai keilmuan setingkat itu, maka kita sudah selayaknya bersandar pada pendapat mereka.

#20. Dikirim oleh Muslim  pada  27/01   04:45 AM
Halaman 1 dari 2 halaman 1 2 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?