Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?
Oleh Ulil Abshar Abdalla
Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.
Komentar
kita harus prihatin dengan tetangga kita. prihatin dalam artian kasian. melihat latar belakang tidak adanya kebebasan berekspresi di rumah tetangga, saudara muda kita lagi belajar. banayk kesalahan dan hal0hal lucu lainya, semuga mengalir hanay sebatas senyum..
kelak mereka dewasa.
mohon maaf, sebelumnya saya hanya ingin mengingatkan bahwa hanya umat islam yang akan diakui keberagamaannya oleh Allah (Q.S Ali Imran:19). terima kasih.
Hmm, Allah yang sejati, ya milik semua umat manusia. Nggak bisa dikapling-kapling milik agama tertentu saja. Mestinya ulama yang berfatwa belajar sejarah dan tata bahasa arab juga. Repot deh, apalagi bila fatwa itu menjadi kebijakan negara. Berbahaya.
Salam,
Destika Cahyana
Kok lucu ya Malaysia itu. Lucu atau bodo memang susah dibedakan. Seperti susahnya mebedakan mujahid dan teroris, pejabat dan penjahat. tapi yang jelas…bahasa adalah milik semua umat manusia. Bahasa Indonesia banyak mengambil dari bahasa Sansekerta yang notabene bahasa Hindu. Bahasa Jawa juga demikian. Nati kalao orang Hindu marah karena bahasanya banyak dipinjam orang Indonesia dan disuruh “mengembalikan”, kita pasti akan kebingungan. Ada banyak persoalan yang kayaknya jauh lebih penting daripada rebutan bahasa.Tapi benarkah mereka memang merebut bahasa kita. Jangan -jangan kita sudah terjangkit Yudeo-Kristianiphobia.
perbedaan persepsi tentang makna Allah memiliki perbedaan lexical semantik yang dipengaruhi oleh makna teologis dari ajaran agama dan budaya. Allah dalam teologi islam sangat berbeda dengan Allah dalam teologi kristen dan yahudi umpamanya. jadi sangat wajar jika ada pemeluk agama tertentu merasa keberatan jika Allah dipakai oleh agama lain atau sebaliknya kata allah dipakai dalam agamanya. jadi ini bukan semata pandangan umat islam saja tapi juga pandangan orang kristen umpamanya (http://www.truthwatch.info/modules.php?op=modload&name=News&file=article&sid=83)
jadi pembuat editorial di atas tolonglah sedikit obyektif.
Wassalam
Ada sekelompok orang Islam yang kadang lucu cara berpikirnya. Ngakunya agamanya paling benar, paling masuk surga, tetapi sekaligus stress menghadapi kenyataan di dunia sehingga dirinya nggak percaya diri lagi. Akhirnya ya itu nglarang ini-nglarang itu yang gak masuk akal. Kayak belum lama ini FPI Jogja ngamuk di Paguyuban aliran kepercayaan Sapto Darmo karena katanya cara berdoanya mirip salat tapi menghadap ke timur. Waktu nuntut akhmadiyah bubar katanya asal nggak ngaku Islam silahkan mau melakukan apa saja, ternyata Sapto Darmo yang Jelas2 dari dulu nggak ngaku Islam juga kena gebuk. Saya kuatir nanti ada kelompok orang kristen syria kuno yang sembahyangnya mirip Islam nyuruh orang Islam gak boleh salat karena mereka lebih dulu ada dari Islam.
Bagi saya, sebagai seorang muslim berpendapat bahwa bicara tentang menyebut tuhan (cukup diawali huruf t, karena tanpa T, tuhan sudah besar adanya, dan saya cukup ber"engkau” saja dengannya)yang penting adalah esensi tentang tuhan. Karena islam lahir di arab, maka tuhan memperkenalkan dirinya dengan “Allah”. Mungkin kalau islam lahir di Indonesia, dia barangkali akan memperkenalkan dirinya dengan Gusti, Pangeran, dsb. Sekali lagi, pemahaman saya sebagai muslim yang bertauhid adalah bahwa berapapun jumlah agama yang ada di alam semesta ini tuhannya hanya ada satu, apapun agama yang dianut orang di alam semesta ini tuhannya pasti sama. Dialah yang menoleh dengan nama apapun kita sebut, dan tersenyum kemanapun kita menghadap. Justru saya akan sangat senang kalau semua orang yang berbeda agamanya dengan saya mengganti panggilan kepada tuhannya (yang tuhan saya juga) dengan sebutan Allah. Dan bukankah agama yang dibawa oleh para nabi sebelum islamnya Muhammad adalah islam juga ?. So what ? ............. Dan
Assalam Mualaikum Wr.Wb.
Hanya koreksi sedikit; anda mengatakan bahwa kata Allah sudah jauh dipakai oleh masyarakat arab sebelum Islam lahir, menurut Saya justru disitu letak masalahnya,semenjak Nabi Adam diturunkan ke dunia,saat itulah Islam lahir,dan pada era Nabi Muhamad SAW lah, Islam itu disempurnakan, sehingga menurut Saya,memang yang berhak memakai kata ‘Allah’ hanyalah agama Islam, karena Yahudi dan Nasrani sudah keluar dari Islam,.makasih. Wassalam
ISLAM ADALAH AGAMA ALLAH YANG PALING SEMPURNA.Yang tidak bersekutu dgn tuhan2 yg diakui agama lain yang menyamkanNYA dgn yesus. ALLAH adalah rabb nya umat ISLAM yang maha tunggal.
Dari Oxford Advanced Leaners’ Dictionary dijelaskan bahwa Allah itu adalah nama Tuhan berbagai agama yang ada di Timur Tengah. Dengan penjelasan ini berarti bukan hanya Islam saja yang menyebut Tuhannya dengan Allah.
Zul
Memang benar hanya umat Islam yang diakui keberagmaannya oleh Allah, namun pihak Kristen juga pasti berpendapat bahwa hanya umatnya yang yang diakui oleh Allah. Jadi mana yang benar? yang pasti untuk Muslim yang benar adalah Agama Islam dan untuk Pemeluk Kristiani yang benar adalah Agama Nasrani. Dari zaman dulu juga begitu. Ini merupakan 2 keyakinan yang berbeda dan tidak bisa saling mengalah (meskipun diantaranya lebih banyak persamaan dibandingkan perbedaan). Bayangkan dengan adanya sejumlah perang diantaranya, Umat Islam dan Kristen tetap berpegang teguh atas keyakinannya masing-masing, gak pernah jera tuh mereka? .(jadi kalau diliat dari hasilnya, sebetulnya itu perang keyakinan atau perang kekuasaan sih?!)benar-benar merupakan keyakinan yang kuat untuk keduanya, saya salut.
Untuk kepentingan umat Muslim, Kita boleh punya kenyakinan sendiri tetapi harus tetap menghargai dan menghormati keyakinan umat lain. Tentunya kita ingin agar umat lain untuk selalu menghargai, menghormati bahkan menjamin keberadaan keyakinan kita. Namun bagaimana kita akan dihormati, dihargai dan dijamin keberadaannya apabila kita sendiri tidak melakukan hal yang sama kepada mereka? Orang-orang penganut Kristen yang merupakan agama mayoritas di dunia saja menghargai keyakinan kita (meskipun tidak semua penganutnya seperti itu), masa kita yang minoritas tidak mau bertindak serupa? bisa apes sendiri nanti kita. (yang ada nanti perang kekuasaan dengan mengataskan agama lagi?)
Menurut pendapat saya karena dalam kitab Yahudi dan kristen, nama tuhan bisa berbeda2 untuk tiap negara, di sini Allah, di inggris God, ditempat lain mungkin mengikuti bahasa ibu negara tsb, lain dengan islam, dimanapun di dunia ini Alqur’an menyebut Allah untuk tuhan, maka dari itu klaim Yahudi dan kristen untuk menjadikan Allah sebagai tuhannya kurang kuat. Lagian juga itukan urusan negara Malaysia, kita nggak usah ikut campur urusan negara lain.
Bagi kelompok kelompok literalis klaim-klaim seperti ini sudah merupakan tradisi berfikir mereka, sulit sekali untuk bisa diajak berfikir historis dan logis bahwa setiap produk-produk pemikiran/ide tidak akan pernah lepas dari konteks historis-nya.
Semangat untuk berfikir inklusif harus dijadikan tradisi , bahwa kita umat islam jangan malas dan takut untuk bersikap kritis terhadap setiap pendapat yang lahir dari pemikiran manusia, apakah itu datangnya dari ulama kaliber klasik sekalipun, kebenarannya tidak 100% mutlak benar alias tidak tertutup kemungkinan untuk salah.
wah, kok pada ribut neriakin siapa yang berhak menggunakan nama allah? toh itu cuma penyimbolan manusia tentang apa yang mereka anggap kuasa. mendingan kita mikirin dunia ini mau dibawa kemana, generasi muda kita yang semakin kehilangan arti sebagai manusia. kebenaran itu relatif dan subjektif, termasuk kebenaran tentang tuhan. walalupun ada klaim kebenaran, itu hanyalah subjektif-berkelompok. marilah kita hadapi kondisi dunia ini untuk membagun dunia yang lebih “baik”. tidak cuma berpangku tangan mencari surga dan neraka yang gak bakal jelas, sekarang.
Sepertinya rame nih bicara tentang tuhan.Perbedaan pemahaman tentang esensi tuhan inilah yang merupakan akar konflik umat beragama selama ini. Dan inilah yang merupakan kesalahan pengajaran agama islam selama ini, yaitu tidak dimulai dengan pendalaman tentang apa dan siapa itu tuhan. Pokoknya selama pemahaman semua orang, apapun agamanya, bahwa yang dimaksud dengan tuhan itu adalah sumber segala sumber (causa prima), maka tidak penting dengan nama apa dia disebut dan dengan cara apa dia disembah. Soal nanti siapa yang diterima cara ibadahnya, biarlah kita lihat sendiri nanti, tuhanlah yang akan menunjukkan kepada kita siapa yang benar, mau dikasih pahala/disiksa, mau dimasukkan ke surga/neraka itu haknya. Bukankah di al kitab (qur’an) dinyatakan bahwa : kalau umat agama tertentu mau disiksa, mereka adalah hambanya, atau kalau mereka mau diampuni, itu haknya. Jadi tugas kita sebagai muslim adalah berlomba-lomba berbuat baik dengan sesama umat manusia, apapun agamanya. Bukankah tugas utama Muhammad diutus adalah untuk memperbaiki moral/akhlak ?. Selama umat agama apapun tidak menghalangi umat lain untuk beribadah dan tidak mengusir umat lain yang berbeda agama dari suatu negara, itulah adalah kebenaran. Justru sekarang ini umat islamlah yang paling sering menghalangi umat agama lain untuk membangun rumah ibadah dan melaksanakan ibadah masing-masing. Buat saya sebagai muslim, justru keimanan saya terasa lebih bermakna ketika saya beribadah dengan cara saya di tengah hiruk pikuk orang lain beribadah dengan caranya. Di telinga saya, lantunan panduan suara di gereja, terasa semakin merdu saat saya sedang berdzikir. Kalau orang agama lain bisa begitu syahdu beribadah dengan bernyanyi, justru mendorong saya supaya khusyu shalat dan tartil membaca qur’an dengan suara yang syahdu pula. Jadi buat apa ribut-ribut soal agama ?, kita jalankan saja agama masing-masing dengan cara masing-masing, tuhan saya mau diambil juga silahkan….....
Setuju sama deniel, yasser, dan abu mifzal.
Mari kita hancurkan orang-orang kafir yang menyebut Allah sebagai Tuhannya. Allahu akbar! Hancurkan!!
Ass.Wr.Wb.
Setuju banget… dgn akhi Abu Mifzal dinegara manapun di dunia ini Tuhannya Umat Islam yaitu: ALLAH(SWT) atau klo kurang puas tanyain dech / buat sample beberapa org dari berbagai negara yang Muslim pasti mereka menyebut Tuhannya : ALLAH(SWT), begitupun sebaliknya yang Non Muslim anda tanyain juga pastilah jawabannya berbeda2. Jadi Klaim Yahudi & Kristen Tuhannya ALLAH(SWT) sangat2 lemah dan tanpa alasan yang kuat.
Sebagaimana Firman ALLAH(SWT) : “Innani anallaah Laailahailla ana…” artinya “Sungguh Aku ALLAH(SWT) dan Tidak ada tuhan selain AKU” jadi ALLAH(SWT) sendiri yang menyebut namanya ALLAH(SWT) sebagai Tuhannya Umat Muslim.
Wassalaam
Perlu diketahui bahwa Tuhannya bangsa Israel/ Yahudi dan Umat Kristen bernama YahWeH bukan Allah..krn Allah adalah nama tuhannya bangsa Arab/umat islam.dpt diteliti dalam ayat2 berikut :
“Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali
ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku YaHWeH.” <Yer 16:21>
Sebab Akulah YaHWeH,Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel, Juruselamatmu. <Yes 43:3a>
Semoga menjadi jelas,mengapa Malaysia melarang menggunakana kata
Allah oleh non muslim.
Perlu diketahui bahwa nama TUHANnya bangsa israel/yahudi/umat kristen adalah YaHWeH bukan Allah. Nama Allah tidak terdapat dalam bahasa asli kitab perjanjian lama dan perjanjian baru. Krn nama Allah adalah nama sesembahan bangsa arab pagan. Perhatikan ayat2 berikut ini :
“Aku ini YaHWeH,itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung” <Yes 42:8>
“Sebab itu, ketahuilah, Aku mau memberitahukan kepada mereka, sekali ini Aku akan memberitahukan kepada mereka kekuasaan-Ku, supaya mereka tahu, bahwa nama-Ku YaHWeH.” <Yer 16:21>
Sebab Akulah YaHWeH,Tuhanmu, Yang Mahakudus, Tuhan Israel, Juruselamatmu. <Yes 43:3a>
Semoga menjadi jelas mengapa pemerintah melarang non muslim menggunakan nama Allah dalam alkitabnya.
Orang muslim membaca kata Allah dengan lafal Alloh dan orang kristen membacanya dengan lafal Allah. Lafal Alloh tidak dikenal dalam bahasa Arab karena tidak adanya vokal “o” dalam huruf “l”, lafal Alloh ini adalah nama diri, jadi tidak bisa diterjemahkan. Adapun lafal Allah, yang katanya berasal dari kata al-ilah, adalah nama jenis, jadi bisa diterjemahkan dengan kata Tuhan (bahasa Indonesia) atau The God (bahasa Inggris). Lafal Alloh menunjuk kepada robb(Tuhan) dan ilah(Tuhan) yang sebenarnya bagi seluruh manusia dan para Nabi dan Rosul menyeru kepada umatnya masing-masing mengabdi kepada Alloh saja dan tidak mensekutukan Dia dengan sesuatu. Jadi Alloh adalah Tuhan bagi seluruh manusia meskipun banyak manusia yang tidak mengakuinya, dan nampaknya hanya kaum muslimin yang mengakuinya.
Komentar Masuk (130)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)