Apakah Istilah “Allah” Hanya Milik Umat Islam?
Oleh Ulil Abshar Abdalla
Masalahnya adalah bahwa sebagian umat Islam sendiri melakukan sejumlah tindakan yang justru membuat citra Islam itu menjadi buruk. Menurut saya, pendapat ulama dan sikap pemerintah Malaysia itu adalah salah satu contoh tindakan semacam itu. Jika umat Islam menginginkan agar umat lain memiliki pandangan yang positif tentang agama mereka, maka langkah terbaik adalah memulai dari “dalam” tubuh umat Islam sendiri. Yaitu dengan menghindari tindakan yang tak masuk akal.
Komentar
bung ulil , bukannya diqur’an itu menyebutkan bahwa agama dari adam sampai muhammad itu adalah islam ?
jadi istilah pinjam meminjam istilah kan tidak ada kan ?
karena memang awalnua sama , nah kalau sekaramh menjadi beda itu kan ada penyelewengan.
Tuk DANIEL, YASSER, ABU MIFZAL & INDRA,
Nama Allah itu bukan nama baru yang muncul ketika Islam datang, jadi bukan dicetuskan oleh Islam.
“Allah” itu panggilan untuk tuhan tertinggi orang2 arab kuno. Mereka mengenal berhala2 latta, uzza, manat sebagai bukan sebagai tuhan tetapi sebagai anak2 perempuan Allah, sebagai dewa2 perantara dengan Allah.
Sebelum Islam datang, banyak orang arab bernama Abdullah yang artinya hamba Allah, ada juga AbdulUzza artinya hamba al-uzza.
Karena wahyu keislaman turun di Arab, maka tuhan memperkemalkan dirinya sebagai Allah, yaitu panggilan untuk tuhan tertinggi orang Arab musyrik penyembah berhala. Memang dalam bahasa2 semit (arab, ibrani, aramaic, syriac dll) kata untuk tuhan itu varian dari huruf alif, lam dan ha (bahasa semit tidak punya huruf vocal), dalam taurat, selain dipanggil sebagai “Yahwe” juga tuhan dipanggil sebagai “Ellohim”, dalam bahasa Aramaic dipanggil “Allaha”.
Orang arab musyrik jelas bukan orang Islam, tapi mereka memanggil tuhan tertingginya sebagai Allah, pada saat itu nabi Muhammad tidak protes tuh.. Atau malah kalau begitu kita nggak boleh pake nama Allah, karena ini kepunyaa kaum musyrik penyembah berhala? Harus cari nama lain dong…
Lagi pula yang harusnya protes bukan manusia, tapi Allah, tapi Allah nggak keberatan dipanggil-panggil oleh siapa saja, Allah tidak pernah protes. Tidak ada perintah Allah supaya namanya tidak disebut2 oleh nonmuslim (apa ada dalilnya?).
bagi saya, Tuhan tidak pernah menyuruh manusia untuk mempertentangkan siapa diri-Nya. jika Allah adalah Tuhan dan tiada Tuhan selain Allah maka pada akhirnya dia adalah “Ultima Being”. maaf saya lebih suka terminologi bahasa Indonesia untuk menyebut Allah dengan Tuhan.
Jika Yahweh adalah Tuhan orang Israel,Allah adalah Tuhan orang Arab, lalu siapa Tuhan orang Indonesia?
Sebagai Muslim di Malaysia, biar saya kongsi realitis di negara saya dalam kasus nama “Allah”.
Pertama, tantangan penggunaan nama Allah itu tidak mewakili pandangan seluruh Muslim di Malaysia. Namun, pandangan itu selalu terpencil dan dianggap ‘berdosa’.
Kedua, pengaruh Islam Fekah dan Islam hitam-putih itu terlalu menebal di Malaysia hinggakan Muslim tak bisa lagi melihat sisi-sisi lain daripada agamanya yang kaffah itu, selain halal dan haram.
Aspek-aspek lain beragama seperti tasauf dan tareqat apatah lagi filsafat dilihat ‘mengelirukan’, ‘sesat’, bahkan dibunuh dengan hukum, bukan kematangan akal pikiran. Trend pengharaman buku juga menggila akhir-akhir ini.
Tidak seperti di Indonesia, nama Allah tak lazim digunakan masyarakat non-Muslim. Tidak ada Alkitab terjemahan bahasa Melayu, kecuali dalam slaga Pattani (itu pun di Selatan Thailand dan bertulis jawi). Nama Allah bagi non-Muslim bukanlah kebiasaan. Karena barangkali, bapa persuratan kita, Munsyi Abdullah tak sempat menyiapkannya dulu, kerana orang Malaya ketika itu berkongsi minda yang sama dengan umat Islam Malaysia zaman ini.
Dan manusia takut kepada sesuatu yang dipikirnya baru, bahkan pula berbeda.
Jim
Kuala Lumpur
Pas tadi malam saya mendengarkan bait syair lagunya SLANK :Teriakkannya Allahuakbar tapi kelakuannya barbar.
Saya pernah dengar Cak Nun(yg cintanya terhadap Rasulallah bisa kita simak lewat tembang2 salawatannya)bilang: Seandainya Rasulullah menyaksikan kartun yang melecehkan beliau, apakah menurut anda, beliau akan marah atau tersenyum?.Jadi sekarang siapa yang berani berbeda sikapnya dengan Rasulullah?.
Itulah ironisnya umat islam ini, sebahagian mereka terlalu GR menjadi penegak kebenaran, padahal membuat kerusakan.
Tapi menurut saya kita bisa melihat, membaca sikap orang dalam menyikapi setiap keadan, apakah dia mewakili agama dengan kedamaian atau mewakili syaitan dengan emosinya. Kita hubungkan dengan sikap yang mendukung pemerintah Malaysia diatas. Sederhana kan?
sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa saya memang fundamental, juga claim of truth, berdasarkan agama Islam yang saya yakini mutlak kebenarannya..
Bukan relatif2an..
Kata Allah itu mas berasal dari B.Semit (Arab)..
Islam itu turun di Jazirah Arab..
Nabi kita (?) juga orang Arab..
Sedang umat Yahudi..
Menyebut Tuhan dengan sebutan “YHWH”, huruf vokal yang belum terpecahkan bagi Yahudi sendiri..
Umat Nasrani..
Menyebut Tuhan lebih suka dengan sebutan BAPA, karena bila menyebut lafaz Allah mereka keliru..
Umat Masehi (Kristen)..
Lebih suka menyebut Nabi yang mereka anggap Tuhan yaitu Yesus..
Jadi, kesimpulannya walaupun kita (umat Islam) mau berbaik hati dengan cara berbagi kepada saudara ahli kitab kita tadi..
Dengan mengatakan “Sebutlah Tuhan dengan nama Allah”
Mereka pasti menolak..
Dan pada akhirnya akan merusak keharmonisan antar umat beragama..
Dengan cara memaksakan penyebutan2 yang mungkin tidak lazim di kalangan non-muslim..
Sekian dari saya..
Saya ucapkan “GITU AJA KOK REPOT”
(Maaf saya minjam istilah Paklek sampean).
Allah itu beda sama makhluk,kalau ukuran diukur seperti kepentingan kita didunia ini ya.. nggak ketemu,Tuhan ALLOH itu Rahmatan lil alamin,rugi dong.. kalau gitu Tuhan. Sepertinya Tuhan itu hanya melayani anda saja, kok kecil ya Tuhan, ALLOH MAHA BESAR, Berarti yg kecil itu ya.. Sudut pandang anda saja….....(prihatin). (turu lengger-tkg ngarit,alas wonodiri).
Setuju sama deniel, yasser, dan abu mifzal.
Mari kita hancurkan orang-orang kafir yang menyebut Allah sebagai Tuhannya. Allahu akbar! Hancurkan!!
....................
inilah dia….
sang provokator..
mewakili islam yang kaku,beku,tidak punya nurani,sempit, sombong tapi bodoh…
kasihan amat sih kamu indra…
Wah-wah ternyata di Islam ada juga yang ngelarang-larang gitu…Soalnya sekarang di beberapa kalangan Kristen juga ada yang melarang orang-orang Kristen memakai nama Allah dengan alasan bahwa Allah itu Tuhannya orang Islam. Bahkan mereka menggugat lembaga Alkitab Indonesia yang menerbitkan Alkitab karena memakai nama itu. Kalau buat saya sih simpel aja, kalau ada orang Islam atau Kristen ngotot melarang pemakaian nama Allah, berarti: (1) tidak mengakui keesaan Allah, sebab di dalam Kitab Suci masing-masing jelas disebutkan bahwa Allah itu Esa, lha kok ada Tuhannya orang Kristen, Tuhannya orang Islam, dll,jadi ada berapa Tuhan yang kamu akui? (2)kurang mendalami hakikat Tuhan bahwa Ia sesungguhnya apa yang manusia dapat sebutkan hanyalah penunjuk kepada Dia yang melampaui seluruh pikiran manusia. Karena itulah dalam Alkitab, ketika YHWH mewahyukan dirinya kepada NABI MUSA, Ia bersabda “AKU ADALAH AKU” (Keluaran 3:14). Salam
Islam itu hanya sedikit bahkan hampir punah sedangkan mereka semua hanya ngaku, apakah kita islam
Buat aparat penegak hukum: Kalau mau cari tahu dimana para gembong teroris berada, barangkali bisa dilacak melalui INDRA Cs.
Ngomong-ngomong masalah nama “Allah” milik Kristen atau Islam, kalo gak salah nama “Daniel” itu nama orang Kristen kan ya? berarti nama “Daniel” tidak boleh dipake untuk orang Islam donk? itu kan milik orang Kristen karena orang Kristen yang pertama kali menemukan itu nama.. tentu saja tidak begitu jika kita pikir dengan akal sehat kan?.. itu semua hanya masalah nama sebutan saja, yang penting kita masing-masing umat tahu sifat Tuhannya masing-masing jadi gak perlu ribut-ribut masalah nama.
Penggunaan kata Allah dalam Kristen (di Indonesia dan Malaysia) dan Islam berbeda makna.
Kristen menganggap Allah itu “sebutan”, sedangkan Islam menganggap Allah itu “nama”
NAMA Tuhannya orang Kristen = Tuhannya orang Yahudi yaitu YHWH (dibaca YAHWEH—silakan googling di internet tentang penyebutannya), Jelas ditulis dalam Kitab Yesaya 42:8, Aku ini Yahweh, itulah nama-Ku…
Jadi, ketika umat Kristen hendak “teliti” dengan penggunaan kata Allah, maka akan ada kalimat “Allah saya adalah Yahweh” atau “Allah saya bernama Yahweh”,
apakah orang Islam akan berkata
“Allah saya adalah Allah” atau
“Allah saya bernama Allah” atau
“Allah saya tidak bernama”?
Oleh sebab itu, untuk menghindari kerancuan bahasa, memang lebih baik dibedakan antara Allah dan Yahweh, jadi Tuhannya orang Kristen = Yahweh dan Tuhannya orang Islam = Allah, akan membingungkan jika disebut Allahnya orang Kristen adalah Yahweh.
Hingga saat ini masih ada kebingungan yang tidak ada titik temunya yaitu:
apakah Allah itu berasal dari kata Al + ilah atau bukan.
Apakah Allah itu “nama” atau “sebutan”.
Apakah Allah = atau =/= Yahweh.
OK bagi yang tidak mempersoalkan nama Tuhan, dan menganggap Tuhan itu adalah Tuhan yang sama bagi semua agama,nah kalau demikian kita sedang keluar dari kerangka agama, artinya tidak relevan pula mempertahankan bahwa Tuhan itu “ALLAH” atau Tuhan itu “YAHWEH”, karena Allah dan Yahweh dikenal dari agama Yahudi dan Allah dikenal dari agama Islam, atau agama/kepercayaan lain pra Islam.
Kebingungan penggunaan kata Allah di kalangan kristen misalnya bisa dilihat di http://gkmin.net/?p=124
Bukankah di Indonesia, umat Hindu dan Budha (misalnya) juga tidak menggunakan kata Allah untuk menyebut Tuhan mereka?
Bagi saya, kita masing-masing menggunakan nama Tuhannya sendiri-sendiri tidak menjadi masalah, yang penting kita saling menghormati satu sama lain. Sebagai orang Kristen, saya termasuk yang tidak setuju dengan penggunaan kata Allah di kalangan Kristen. Bayangkan “rancunya” ketika orang Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah, juga orang Katholik bilang Maria itu Bunda Allah, padahal orang Islam menyatakan, Allah tidak beranak dan diperanakkan.
Saya pikir orang Islam tidak akan protes terhadap keyakinan Kristen ketika saya katakan bahwa Tuhan saya adalah Yahweh, dan Yesus adalah Anak Yahweh.
Bukankah tidak akan ada benturan, ketika kita masing-masing berjalan di rel masing-masing, dengan saling menghormati, daripada kita memaksakan diri mencari persamaan-persamaan.
Sikap pluralis tidak harus ditunjukkan dengan menyama-nyamakan dan mempertemukan ajaran masing-masing agama, tetapi sikap menghormati perbedaan satu sama lain.
Oh ya.., kata Allah juga tidak pernah ditemukan dalam Bible, jadi jika Allah dipakai oleh orang Kristen itu adalah adopsi dari ‘budaya’ yang sudah ada. Silakan baca: http://gkmin.net/?p=126
sekali lagi, ketika kita menghayati HAKIKAT Tuhan semesta alam, maka Allah dan Yahweh tidak perlu dipersoalkan, karena kita sedang keluar dari kerangka AGAMA, tetapi ketika kita tunduk pada AGAMA, saya kira Allah dan Yahweh tidak bisa dicampuradukkan. Allah ya Allah, Yahweh ya Yahweh. Bagi yang menganggap tidak masalah, bisakah orang Islam berikrar, “Tidak ada Tuhan selain Yahweh?” Tidak khan?!
Ketika orang Islam di Amerika dan di Eropa bisa bilang “Allah is My Lord” dan orang Islam di Indonesia bisa bilang “Allah adalah Tuhan saya”, apakah orang Kristen di Malaysia dan Indonesia yang (bisa) bilang, “Tuhan Bapa adalah Allah” bisa bilang di Amerika/Eropa, “The Father is Allah”? Tidak khan…
Saya pikir sudah saatnya seluruh umat beragama meneliti kenebaran agama yang ada,dengan memakai pendekatan ilmiah dan mengkomparasikan antara informadi yang ada dalam kitab dengan kenyataan penemuan ilmiah. hasil dari analisanya nanti jelas tidak baku, tetapi setidaknya cukup membantu dalam melihat kebenaran sebuah agama. agar tidak terjadi lagi mempermasalahkan hal-hal ysng sepele. umat Kristen dan Islam dam umat lainya jangan cemas kalau seandainya agama yang diyakini selama ini ternyata bertentangan dengan ilmu pengetahuan. karena agama yang benar _yang datang dari Allah tidak mungkin bertentangan dengan ciptaannya. apabila salah satu dari ahama tersebut bertentangan antara perkataan dan perbuatanNa,artinya terungkap mana yang benar dan maba yang salah. maka kenapa tidak terima kebenaran yang terbukti keberadaannya secara ilmiah. bukankah itu jalan satu2nya?? dari pada mempercayai agama yang tidak jelas kebenarannya….
Klo saya boleh berpendapat, sebenarnya tuhan kita itu sama. terus mengapa kita terkotak
@Anof Krisdianto
kalau Tuhannya sama, kenapa agama berbeda-beda, kenapa “mewahyukan” firman yang berbeda-beda (dalam wujud Kitab Suci)? jangan jangan Tuhan yang dikonsep oleh agama-agama itu memang berbeda-beda.
Sebenarnya tidak perlu menyama-nyamakan Tuhan yang “berbeda-beda” itu, tapi mari kita MENERIMA perbedaan-perbedaan itu.
Kalau Tuhan saya YHWH, Tuhan teman saya ALLAH, Tuhan teman lain Sang Hyang Widi, apakah harus disamakan sehingga YHWH=ALLAH=Sang Hyang Widi,
Apakah kita tahu atau merasa tahu bahwa ALLAH = YHWH? atau ALLAH =/= YHWH misalnya….
Klo saya boleh berpendapat, sebenarnya tuhan kita itu sama. terus mengapa kita terkotak
itu PENDAPAT anda….
bagaimana dengan ini:
Katakanlah:“Hai orang-orang kafir!” aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah Dan kamu bukan penyembah Ilah (Tuhan) yang aku sembah Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Ilah (Tuhan) yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah agamaku (al-Kafirun, 109:1-6)
itu pendapat Quran, Pak…
Seandainya agama Islam turun di Indonesia, kemungkinan besar nama tuhannya adalah “Tuhan”, dan Dia akan disebut pula dengan sifat2 sebagai nama alias, misalnya Sang Hyang Tunggal, Sang Hyang Widhi Wasa, Sang Welas Asih, dll.
Mungkin saja toh?
Mas Ulil, topik seperti ini kok dibahas?, sorry banget topiknya tidak konstruktif dan hanya akan membuat perbedaan yang tidak penting dan tidak perlu dengan rekan2 lainnya, apalagi dengan rekan2 yang fundamentalis-konservatif,mudah2an topik mas Ulil berikutnya dapat memberikan kita2 semua pencerahan yang lebih dalam ya mas…
saya ikitan sharing ya…
Tuhan itu satu, apapun “Nama”nya, karena keterbatasan pikiran kita lah Tuhan kita beri “Label”, meskipun “Satu” namun jalan menujuNya berbeda2 caranya, dan saya sendiri menyakini jalan menuju Tuhan jumlahnya sebanyak kepala orang yang pernah ada di bumi, karena apa? karena Tuhan Maha Besar dan Maha Kuasa untuk menerima ibadah/persembahan/atau rasa syukur/ kepasrahan dari umatnya apapun caranya apapun bentuknya, namun disisi lain saya juga tidak akan berani untuk menyalahkan “konsep “ diluar “konsep” yang saya yakini, karena sesungguhnya Kebenaran dan KeMutlakan itu hanya milikNya dan tidak bisa di “konsep”kan
Guru saya berkata :
Mengatakan bahwa Tuhan SATU saja sebenarnya tidak tepat, karena dengan demikian Tuhan masuk dalam dimensi bilangan dan Tuhan jadi terbatas, mengatakan bahwa Tuhan “Ada dimana - mana” juga menimbulkan pertanyaan bahwa konsekwensi logisnya “dimana – mana” haruslah lebih besar dari Tuhan, sehingga “Tuhan ” bisa berada “dimana-mana” dan bila “Dimana-mana” lebih besar dari Tuhan jelas Tuhan tidak Maha Besar lagi. Maha Ada tetapi bukan Maha Besar, Bingung kan…?
Pasti Bingung, karena kita semua masih berada didalam didalam cengkraman pikiran.(mind) dan kelembagaan agama dan umatnya selalu ingin meng “konsep”kan Tuhan menurut apa yang diyakini berdasarkan “mind” nya.
Jadi, berikutnya kata guru saya :
Tuhan itu tak terpahami oleh pikiran
Tuhan itu tidak terdefinisikan, dan tidak ter”konsep”kan
Tuhan itu Maha Ada dan Maha Tiada.
Tuhan itu melampaui Dualitas
Tuhan itu tak terjelaskan oleh kata- kata
Tak terselami oleh rasa sedalam apapun
Itulah Kebenaran Nya, Kebenaran kita semua
Jadi,
Mudah2an Kita tidak menjadi sombong karena merasa sudah tahu segalanya,merasa paling benar, bahkan karena sudah merasa melakukan kegiatan ritual yang paling tinggi derajatnya maka kita merasa sudah hampir mencapai puncak spriritualitas, padahal dengan kita masih meributkan ‘Label’ meributkan perbedaan2, entah itu agama, aturan, dogma bahkan “Nama Tuhan” sekalipun, semua itu membuktikan bahwa kita masih terjebak dan dan sering dijadikan “budak” oleh pikiran kita sendiri sehingga secara tidak sadar kita kerapkali mensejajarkan agama, syariat, kitab suci dengan Tuhan itu sendiri……….
Jadi masih kah kita meributkan “ Label”??
Semoga pencerahan akan mengunjungi kita semua…
Amin…..
Allah hadir sebelum Adam diciptakan. Allah bahkan hadir jauh sebelum hadir. Allah tidak diciptakan oleh Nabi Muhamad SAW, karena nama itu sudah dikenal sebelum Ibrahim. Hanya saja orang kristen Indonesia kemungkinan menyamakan kata Allah dengan Tuhan. Ada Allah Bapa, Allah Putra dan Allah Ruhulkudus. Tidak jelas mengapa orang kristen meminjam nama tersebut dan lupa mengembalikannya. Kalau Malaysia merasa keberatan dengan penggunaan Allah oleh kristen, mungkin karena istilah yang tidak tepat di atas. Sebagai pemegang hak paten atas nama tersebut, wajar dong kalau Malaysia tidak ingin ada pihak yang memalsukan.
he..he..manusia kok mau menerka sifat tuhan. tuh yang menyatakan seandainya islam lahir di indonesia, wah…emangnya siapa loe? jangan-jangan mau ngaku menjadi tuhan?
Komentar Masuk (130)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)