08/05/2009

Asal Muasal Jagat Raya: Cinta ala Rumi atau Evolusi ala Hawking-Darwin?

Oleh Malja Abror

Jawaban model berseloroh seperti ini mengingatkan kita pada jawaban Santo Agustinus ketika ditanyakan kepadanya tentang apa yang dilakukan Tuhan sebelum peristiwa Big Bang itu terjadi. Jawab Agustinus: Tuhan sibuk membangun neraka buat orang-orang yang melontarkan pertanyaan seperti itu

08/05/2009 17:26 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (79)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 4 halaman 1 2 3 >  Last »

Teori evolusi Darwin dan teori Big bang adalah hasil pemikiran manusia non muslim yang kebenarannya merupakan pertanyaan besar, saya berfikir mereka hanya membuat cerita bohong dengan mengatakan kejadian tsb terjadi milyaran tahun yang lalu(?), mereka bermodalkan pede yang berlebihan demi popularitas karena yakin tidak akan ada orang yang akan menelusuri kebenaran cerita bohong itu, alasannya kalau kita habiskan waktu untuk berdiskusi dan meneliti hal hal absurd seperti ini maka energi kita akan habis percuma, semakin dalam meneliti teori absurd ini maka akan semakin lupa akan keterangan Allah dan RosulNYA, paling bahaya adalah kalau sampai pada satu pemikiran bahwa terjadinya alam semesta berjalan secara sendiri tanpa kasih sayang dan kekuasaan sang Pencipta Allah SWT,naudzubillahi min dzalika, kondisi ini akan terjadi kalau yang membaca dan meneliti teori tsb adalah orang orang yang pengetahuan agama Islamnya dangkal, hanya bermodalkan pendidikan agama di SD, SMP, SMA dan saat kuliah(yang hanya beberapa semester), jadi dipastikan tidak akan ada alat kontrol ?, sementara tugas muslim yang utama ialah beribadah kepada Allah dengan berbuat banyak hal yang bermanfaat bagi umat manusia demi meningkatkan Taqwa kepada Allah, hindarilah pemikiran yang menjurus kepada musyrik. Muslim yang baik ialah yang bermanfa’at bagi umat manusia,Kenapa kita harus mencari pembenaran pribadi dengan teori omong kosong ini sementara Al Qur-an Allah dan hadits Muhammad tidak menitik beratkan dalam hal hal seperti ini.
‘Kun fayakun’ adalah firman Allah, tidak layak kita meragukannya, akhli tafsir bisa menguraikan dengan lebih jelas mengenai makna ayat ini. Allah maha pintar maka semua yang terjadi akan melalui proses yang sudah diatur oleh Allah, sebagai contoh bagaimana perjalanan hidup manusia dari tidak ada menjadi ada dan kemudian mati untuk kemudian akan dibangkitkan dan berkumpul dipadang mahsyar menghadapi pengadilan Allah. semua ini telah difirmankan oleh Allah dengan jelas, bagaimana terbentuknya janin melalui air mani terpancar dalam rahim lalu Allah tentukan ruhnya pada saat usia kandungan 4 bulan, lahir kedunia untuk beribadah, sesuai dengan jatah waktu akan dimatikan dan menunggu di alam Qubur sampai terjadinya Qiamat dan disambung dengan yaumil ba’ats. Salah satu pertanyaan Allah dalam hisabNYA ialah bagaimana menggunakan kepintaran kita selama hidup ?, alangkah ruginya kita kalau kepintaran kita habis digunakan untuk mempelajari teori Darwin dan Big bang, sampai uban tumbuh tidak akan ada jawaban yang memuaskan, jadi marilah kita gunakan waktu kita untuk yang bermanfaat untuk islam.

#1. Dikirim oleh supriyanto  pada  20/05   10:48 AM

teori darwin sulit dilogikakan, demikian halnya tentang cerita adam dan hawa.

kalau manusia keturunan adam dan hawa semua, kenapa bahasanya, warna kulitnya, bentuk tubuhnya ,tingkat budanya berlainan.

contohnya orang eropa orang mesir dll sejak berabad-abad yang lalu sudah pakai baju tetapi saat ini masih ada sekelompok manusia yang belum pakai baju.

#2. Dikirim oleh tia  pada  21/05   03:58 AM

@supriyanto : anda telah dibutakan oleh iman anda sendiri.

#3. Dikirim oleh ALI  pada  21/05   02:01 PM

Saya setuju komentar dari pak Supriyanto. Kalo ilmuwan mengatakan 10 Milyar th yang lalu, 9 M, 8M, atau 6M thn yg lalu terjadi sesuatu siapa sih yang mo ngebantah ato mengiyakan dan lagi emang gak ada buktinya kok jadi ngabisin waktu aja mo ngebahas yang memang gak bisa dibuktiin. Mendingan kalo kita sudah Syahadat kita tentunya percaya apa yang dikatakan dalam Al Quran maupun Hadis. Jadi selain kita dapet pahala kita juga gak perlu cape2 ngebahas omongan ilmuwan yang banyak berhayal mendingan kita ngebahas urusan lain yang lebih terasa manfaatnya.
Masih banyak omongan ilmuwan yang bisa kita bahas, kita terapkan lalu kita rasakan manfaatnya daripada ngebahas omongannya yang gak ada manfaatnya buat dibahas. Buang2 waktu aja. Cape dehhhhh.

#4. Dikirim oleh uton  pada  21/05   04:05 PM

@supriyanto : anda telah dibutakan oleh iman anda sendiri

#5. Dikirim oleh ali  pada  21/05   10:33 PM

Saya kurang setuju dg pernyataan si penulis laporan pada bagian akhir, bahwa teori evolusi berseberangan dengan pernyataan “kunfayakun”. Padahal ibu Karlina sudah menjelaskan permasalahannya.

Si penulis berpegangan pada tafsirannya bahwa dg kunfayakun lalu segalanya langsung terjadi dan tersedia. Pada kenyataannya, kunfayakun selalu terkait dg proses. Ketika Allah menyatakan kunfayakun, alam bergerak mengikuti kehendak-Nya - “resep yang sesuai” - menuju kondisi yang dikehendaki Sang Pencipta. Diskrepansi ini hanya pada tataran tafsir, bukan keimanan.

Dg kata lain, mengakui bekerjanya evolusi tidak mengurangi setetes pun keimanan seseorang akan kuasa Allah.

#6. Dikirim oleh panji  pada  22/05   02:29 AM

Salam

Ada yang menerima darwin,adapunla yang menolaknya. Penerimaan dan Penolakan itu semuanya hanya berasal dari pikiran. Pikiran yang dipengaruhi oleh referensi2.

Pikiran tidak dapat dibatasi dia akan selalu berkelana, selalu ingin tahu. Membatasi sebuah pikiran hanya mengingkari fitrah dari pikiran itu sendiri. Pembatasan terhadap pikiran merupakan sebuah penjajahan untuk sebuah kefitrahan itu sendiri. Padahal pikiranlah yang membuat manusia untuk bisa maju, untuk bisa membangun. Pembatasan hanya dilakukan oleh para penguasa entah itu agama maupun negara supaya dapat menguasai manusia. Karena dengan pikiranpun manusia dapat menjatuhkan mereka.

Dan sungguh disayangkan masih banyak umat islam yang masih patuh untuk dijajah pikirannya oleh penugasa2 yang mengutip ayat2 suci. Tidaklah mengapa jika penjajahan atas pikiran itu membuat mereka merasa hidup bahagia. Jika mereka masih terganggu oleh para manusia yang bebas akan pikirannya maka menandakan dia masih belumlah bahagia.

Kebahagiaan bagimu, kebahagiaan bagiku. Marilah kita bersatu dalam kebahagiaan dan saling membangi kebahagiaan kita bersama.

#7. Dikirim oleh DanarRudyn  pada  22/05   03:52 PM

@Supriyanto dkk

Kalau saya tidak salah ingat, di buku Biologi SMA yang membahas masalah teori abiogenesis ada kalimat bijak yang dicantumkan dipendahuluan salah satu bab yang memuat teori tsb. Bunyinya kurang lebih begini : “tentu saja banyak teori dan pendapat yang membahas tentang asal usul kehidupan, tetapi karena kita sedang membahas dalam pandangan ilmu biologi maka segala pendapat, argumen dan fakta-fakta yang dibahas disini adalah berdasarkan ilmu biologi”

Saya melihat titik perbedaannya ada pada sifat dari ilmu pengetahuan dan agama yang sangat berbeda. Ilmu pengetahuan selalu menuntut bukti empiris yang bisa ditelusuri secara kasat mata minimal rangkaian bukti-bukti empiris yang menbgarah pada hipotesa awal dari ilmu pengetahuan. Sedangkan agama mendasarkan pada keyakinan tanpa perlu menunjukan bukti-bukti empiris. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya menghadapi perbedaan ini?

Apabila menggunakan argumen yang diambil dari dalil-dalil agama dan kitab suci untuk menyanggah pendapat sains, maka yang pasti hasilnya akan seperti mencampur minyak dan air. Tentu kita masih ingat diabad pertengahan gereja demikian mendominasi kehidupan sosial dan politik negara-negara Eropa, sampai-samapi seorang ilmuwan bernama Galileo Galilei harus dihukum mati karena berani melawan keyakinan gereja, walaupun akhirnya Galileo yang terbukti benar dan Ptolomeus yang didukung gereja akhirnya terbukti salah.

Kejadian-kejadian semacam inilah yang disusul oleh banyak kejadian lain akhirnya membuat masyarakat Barat akhirnya dengan lapang dada menerapkan konsep sekulerisme dalam kehidupan beragama dan bernegara. Kurang lebih lima abad yang lalu masyarakat barat yang dominan kristen berani mengambil langkah penting dan bersejarah dalam penentuan kehidupan mereka selanjutnya.

Sementara kita (islam) sampai saat ini masih dengan gagah berani menentang konsep sekulerisme diterapkan. Apakah itu berarti kita sudah ketinggalan selama 500 tahun dibanding umat nasrani? Walahualam

#8. Dikirim oleh Charles Darwin  pada  22/05   04:35 PM

hmmm buat supriyanto dkk, ada sedikit kesalahan sejarah yang mengganggu. galileo galilei tidak pernah dihukum mati oleh inkuisisi. gereja memerintahkan galileo untuk menghentikan publikasinya mengenai heliosentrisme, dan galileo sebagai anggota gereja yang taat menghentikannya. tidak ada cerita galileo dihukum mati karena teorinya itu.....

#9. Dikirim oleh wahyu sulaiman  pada  22/05   08:59 PM

@uton : Ilmuwan tidak menyimpulkan sesuatu berdasarkan khayalannya. seorang dinamakan ilmuwan bila ia berpikir secara ilmiah dan rasional.

#10. Dikirim oleh ALI  pada  24/05   03:04 PM

Dear all,
===
...
Sedangkan agama mendasarkan pada keyakinan tanpa perlu menunjukan bukti-bukti empiris. Lalu bagaimana sikap kita seharusnya menghadapi perbedaan ini?
...
Apabila menggunakan argumen yang diambil dari dalil-dalil agama dan kitab suci untuk menyanggah pendapat sains, maka yang pasti hasilnya akan seperti mencampur minyak dan air.
...
===Dikirim oleh Charles Darwin===

===
teori darwin sulit dilogikakan, demikian halnya tentang cerita adam dan hawa.

kalau manusia keturunan adam dan hawa semua, kenapa bahasanya, warna kulitnya, bentuk tubuhnya ,tingkat budanya berlainan.
...
===Dikirim oleh tia ===

====
Lebih jauh, menurut Karlina, teori evolusi harus dipahami bahwa dengan teori itu, para ahli sains meyakini adanya sejarah panjang yang melatar belakangi terbentuknya alam semesta dengan segala makhluk yang ada di dalamnya. Dengan teori evolusi ini, mereka ingin mengatakan bahwa alam semesta ini bukanlah peristiwa ahistoris, alam semesta punya sejarah panjang yang dilaluinya setapak demi setapak. Inilah yang sama sekali bertolak belakang dengan keyakinan dalam agama bahwa jagat raya beserta seluruh isinya muncul dengan sekonyong-konyong begitu saja persis ketika Tuhan bersabda:  Kun Fa Yakun (Ada lah, maka segala sesuatu sekonyong-konyong ada). Munculnya alam semesta secara sekonyong-konyong inilah yang ditolak oleh para ahli sains.

===kutipan dari alinea terakhir arikel===

Kutipan Injil:
“… Rohku tidak akan selama-lamanya tinggal di dalam manusia, karena manusia adalah daging, tetapi umurnya hanya seratus duapuluh tahun saja.” (Kejadian 6:3)
.....
Berfirmanlah Allah kepada Nuh, “Aku telah memutuskan untuk mengahiri segala makhluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi.” (Kejadian 6:23)

===

Yang menarik,
Kita semua beragama, dan melakukan ibadah salah satunya dengan berdoa. Doa dan ibadah adalah bentuk komunikasi manusia dengan Tuhan.
Siapakah yang berkepentingan dengan doa dan ibadah yang kita lakukan sebagai makhluk yang beragama.
Bukan Tuhan tentunya, tapi manusia.
Apapun teori tentang “asal muasal” jagad raya itu adalah misteri Tuhan. Hanya Tuhan yang tahu. Jadi apapun teorinya versi Kitab Suci, intinya pasti mengarah kepada Sang Pencipta yang melakukan “perbuatan penciptaan”. Soal apa bentuknya,itu hanya untuk membuat manusia memahami dan menerima “kebesaran”, “kekuasaan”, “kemahaan” TUHAN.

Yang menjadi pertanyaan, kita berkepentingan dengan TUHAN, dengan komunikasi dalam doa dan ibadah. Apakah TUHAN ada kepentingan dengan kita?

Kalau sekedar teori penciptaan, apapun bentuknya saya masih dapat mengutak-atik supaya dapat diterima. Apakah Darwin, apakah versi kitab suci.

Untuk renungan saja :
“Mengapa Tuhan menciptakan manusia?”
“Apa kepentingan Tuhan dalam menciptakan manusia?”
“Apakah benar bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dengan manusia sebagai ciptaan sesuai dengan citra Nya?”

Salam

#11. Dikirim oleh Aloysius ST  pada  25/05   10:49 AM

sudahlah kalo ngak setuju sama darwin,yang setuju kan sah2 saja,kalau masih ada yang menyalahkan,panggil aja Tuhan tanyakan yang bener yang mana bereskan,yang katanya beriman kan dekat sama Tuhan panggil aja…

#12. Dikirim oleh rio  pada  25/05   01:02 PM

Untuk Bung Ali,
Komentar anda pendek dan tidak bisa saya mengerti, saya tidak merasa dibutakan oleh ke imanan saya, sampai saat ini saya masih berusaha keras untuk meningkatkan keimanan saya, mudah mudahan usaha ini akan mendapat ridho dan magfirah Allah. Semakin banyak kitab kitab Islam yang dibaca, semakin terasa kebodohan kita dihadapan Allah yang maha tahu, karena sumber tulisan para penulis Islam adalah dari Allah, mereka mendalamai al Qur-an dan Hadist Rosulullah kemudian mentafakuri ke hebatan alam semesta ciptaan Allah, terasa penekanannya untuk lebih meningkatkan Taqwa.Saya hanya mengajak rekan-rekan Islam untuk memikirkan yang perlu dan bermanfaat(Insya Allah).
Salam.

#13. Dikirim oleh Supriyanto  pada  26/05   04:00 PM

Untuk Rio,
Saya kaget,kok ada hamba Allah yang berani bicara seperti yang anda tulis :
“panggil aja Tuhan tanyakan yang bener yang mana bereskan”.
Orang Islam meyakini, komunikasi langsung dengan Allah akan terjadi nanti di yaumil hisab,dimana mulut kita akan dikunci, anggota tubuh kita yang akan menjawab dan menjadi saksi atas semua perbuatan dan perkataan kita selama hidup di dunia. Allah kelak akan memperlihatkan wajahNya hanya kepada hamba yang mendapatkan ridho dan magfirohNya nanti di alam akhirat.  Terserah anda apakah anda yakin dengan yaumil akhir atau tidak, yang pasti semua mahluk harus bertanggung jawab atas perbuatannya masing masing. Kita harus berhati-hati dalam berkata dan berbuat. Siapa yang perduli pada teori Darwin dan Big bang nanti di yaumil hisab?.
salam.

#14. Dikirim oleh supriyanto  pada  26/05   04:20 PM

Supriyanto dkk, dll, dsb

Ketika sedang hangat-hangatnya peristiwa tsunami yang menghancurkan Aceh, saya mendengan perdebatan yang sangat manarik di ruang tunggu kantor samsat ketika saya sedang memperpanjang STNK. Orang pertama mengatakan bahwa itu adalah hukuman dari Tuhan (entah apa salahnya orang Aceh sampai Tuhan menghukum dengan tsunami), sedangkan orang kedua mendebat mengatakan bahwa itu bukan hukuman dari Tuhan, karena Tuhan adalah maha penyayang, jadi tidak mungkin menimpakan bencana kepada umat yang disayanginya.

Disebuah blog perdebatan dengan topik yang hampir sama juga terjadi. Seorang bloger yang dari gayanya menulis saya kelompokan kedalam islam garis keras mengatakan bahwa itu adalah cobaan kepada umatnya, konon menurut dia Tuhan sedang menguji sampai dimana ketebalan imannya dengan cobaan seberat itu. Bloger yang lain membantah, dengan mengatakan bahwa kalau tsunami itu menghantam daerah yang mayoritas non muslim, maka akan dengan mudahnya dikatakan itulah hukuman bagi orang-orang kafir yang tidak memeluk islam.

Entah mana yang benar, tapi satu hal yang saya simpulkan adalah bahwa kelompok-kelompok agamis cenderung berpendapat dan menarik suatu kesimpulan hanya mendasarkan pada kitab suci yang dibacanya, sedangkan kelompok abangan (agama KTP) masih berusaha mencari jawaban-jawaban ilmiah, tetapi pada saat pikirannya sudah mentok, maka mereka pada akhirnya akan mendasarkan pendapatnya dengan bersandar pada kitab-kitab suci.

Saya sendiri mencoba berada ditengah-tengah, bahwa mendidik umat berpikir secara rasional berdasarkan bukti-bukti ilmiah bukanlah suatu dosa. Argumen saya sederhana saja, Tuhan memberi kita otak justru untuk dipergunakan menganalisa dan dikembangkan secara terus menerus dan berkelanjutan. Entah apa jadinya kalau kita hanya semata-mata mengharapkan mujizat Tuhan setiap kali kita menghadapi masalah. Ditemukannya obat-obatan untuk melawan berbagai macam jenis penyakit, ditemukannya tekhnik rekayasa genetika untuk memperpendek masa tanam padi dan hasil panen yang lebih baik, dan lain-lain adalah hasil perjuangan otak manusia (ilmu pengetahuan). Tapi disini saya tidak menafikan peran Tuhan, namun cara berpikir sdr. Supriyanto sudah sangat ketinggalan jaman dan perlu direformasi.

Sekarang masalahnya adalah apakah keinginan manusia untuk selalu mencari jawaban ilmiah harus dibatasi? Kalau harus dibatasi siapa yang menentukan batasan itu dan apa kriteria pembatasan itu?

Tanpa perlu menunggu jawaban dari pertanyaan itu saya yakin sdr. Supriyanto dan orang yang sepaham dengannya tidak akan pernah bisa dan beranai memberikan batasan, karena batasan itu bersifat statis sedangkan ilmu pengetahuan bersifat dinamis dan kemungkinan menghasilkan hal-hal yang berguna bagi umat manusia akan selalu terbuka lebar. Pada saat batasan diberlakukan dan ternyata hal yang dibatasi itu malah membawa kemaslahatan bagi umat manusia, apakah batasan yang sudah terlanjur dikeluarkan oleh para agamawan akan diralat lagi?

Kesimpulannya adalah jangan ragu-ragu untuk mendukung sekulerisme, karena sekulerisme menjamin ilmu pengetahuan berkembang terus tanpa takut akan rambu-rambu yang dipasang oleh orang-orang yang menjadikan agama hanya sebagai topeng untuk mencapai tujuannya.

#15. Dikirim oleh charles Darwin  pada  27/05   04:30 PM

@uton dan supriyanto
wajar saja dunia islam menjadi terbelakang karena banyak muslim berpikir seperti anda. Seorang ilmuwan bekerja tidak dalam kategori muslim-nonmuslim, teori yang dikeluarkan harus didasarkan atas fakta-fakta ilmiah dan dapat dibuktikan oleh ilmuwan lain. jadi kalau ada teori yang diakui secara universal dan dalam waktu yang lama, maka asumsinya teori tersebut sudah lulus uji. itulah kenapa anda sekarang bisa saling diskusi via internet, karena temuan para ilmuwan yang diaplikasikan oleh para perekayasa (engineer). Kemajuan dunia ini dicapai bukan oleh para pembaca Kitab Suci yang tidak mempergunakan akalnya untuk mendapatkan Kebenaran yang hakiki.

#16. Dikirim oleh Fahmi  pada  27/05   05:12 PM

kita ini memang manusia bodoh yang kadang-kadang ngaku pinter,apa kiat tahu bahwa kita pernah keluar dari rahim seorang wanita yang bernama ibu, apakah kita juga tahu bahwa laki-laki itu adalah bapak kita?kita tidak pernah tahu to? kita tahu karena diberitahu.Untuk peristiwa yang kita alami saja kita tidak tahu, apalagi peristiwa-peristiwa besar,itulah gunanya kitab suci yang memberi tahu dari mana dan kemana kita pergi, termasuk alam ini.Kalau Darwin benar tentang teori evolusinya, berarti kita juga sedang berevolusi artinya bentuk kita yang sekarang ini akan berubah pada masa yang akan datang. kenyataannya dari dulu sampai sekarang manusia ya seperti ini, kera dari dulu ya seperti itu.Gitu aja kok repot

#17. Dikirim oleh sutama  pada  27/05   11:26 PM

Untuk Charles Darwin,
Dalam Islam kita sebagai hamba Allah diwajibkan untuk berusaha/bekerja dan berdo’a, apa yang kita inginkan harus di usahakan dengan berbagai macam cara,tapi cara-cara yang kita lakukan harus dijaga tetap berjalan dalam koridor aturan Allah, dimana Allah menjelaskan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh,cara yang haram harus dihindari. Belajar sain & teknologi adalah salah satu kewajiban pembelajaran ilmu Allah, Rosul Muhammad jelas bersabda bahwa ‘urusan duniamu diserahkan kepadamu karena kamu lebih tahu dariku’, Menuntut ilmu adalah kewajiban umat Islam. Pernah juga sahabat Umar bin Hattab menegur seorang yang duduk terus di masjid setelah melakukan sholat, sewaktu ditanya ternyata dia sedang berdo’a untuk satu keinginannya, Umar berkata: bekerjalah dan terus berdo’a untuk mencapai apa yang kamu inginkan.
Dalam surat Al Jumu’ah ayat 9 dan 10,Allah berfirman :
9. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
10. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.
Ini sebagai bukti bahwa hamba Allah diperintahkan untuk terus berusaha dan tetap mengingat Allah(berdo’a) atas segala yang kita inginkan.
Yang saya tidak bisa terima ialah teori evolusi Darwin, Ini yang berlawanan dengan hukum Allah, Dengan jelas Allah berfirman kepada Malaikat dan Jin bahwa akan diciptakan khalifah(Adam) dan dijelaskan bahwa Adam adalah mahluk sempurna dan pintar,setelah Adam diajari oleh Allah maka Malaikat mengakui keunggulan Adam kecuali Jin. Adam tercipta tidak mengikuti proses pembibitan janin dalam perut(hamil),itu kehendak Allah.
Saya seorang mahluk yang tetap bekerja dan berusaha sambil terus berdo’a adalah implementasi dari perintah Allah dan RosulNya.Saya tidak menunggu rezeki jatuh dari langit, saya mencari rezeki melalui proses yang rasional. Saya kalau sakit pergi ke Dokter bukan ke dukun atau ahli sihir,untuk penyembuhan sakit saya makan obat sesuai resep dokter bukan air pencucian ayat-ayat Qur’an. Saya tidak pernah berkonsultasi dengan tukang ramal(paranormal) yang dilarang oleh Allah.
Jadi jelas Allah dan RosulNya memerintahkan Hamba Allah terus bekerja dan berdo’a.
Saya berusaha untuk melakukan segala macam perbuatan,pekerjaan,dan urusan dunia lainnya dengan tujuan beribadah kepada Allah, semua proses diusahakan menjauhi/menghindari hal-hal yang haram. Hidup ini satu kesatuan, kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat(salah satu do’a umat Islam yang diperintahkan oleh Rosululullah), Menurut pengertian saya sekulerisme adalah faham pemisahan antara urusan dunia dan agama, urusan agama hanya di masjid dan urusan dunia bebas dari aturan agama, saya terus akan berusaha untuk tidak terpengaruh oleh faham ini.
Mengenai bencana alam(tsunami,tanah longsor, banjir,lumpur lapindo dsb), umat Islam yang taqwa akan mensikapinya secara positif(khusnu zhon), bahwa semua ini adalah cobaan dari Allah untuk menguji tingkat kesabaran kita, perintah Allah kalau kita mendapat cobaan bersikaplah sabar, kalau kita mendapat kenikmatan bersikaplah syukur, karena cobaan dan kenikmatan adalah ujian dari Allah yang akan membawa manusia ketingkat yang mulia dihadapan Allah(sesungguhnya yang mulia disisi Allah adalah manusia yang bertaqwa).
salam
supriyanto.

#18. Dikirim oleh supriyanto  pada  28/05   10:19 AM

Silahkan baca buku ini untuk referensi untuk topik di atas

Revelation, Rationality Knowledge and Truth
http://www.amazon.com/Revelation-Rationality-Knowledge-Truth-Mirza/dp/1853726400/ref=sr_1_1?ie=UTF8&s=books&qid=1243483807&sr=1-1

Bisa dibaca secara online di:
http://www.alislam.org/library/books/revelation/index.html

Atau di-download di:
http://www.alislam.org/library/books/RRKT.pdf

Salah satu ulasan pembacanya:
“For me the most interesting concept in this book was that of “guided” evolution. The author proves with convincing arguments that although there is no doubt that the various species have developed from the lowest to the highest forms via evolutionary processes, however, ‘natural selection’ that invariably depends on the occurrence of random mutations, cannot scientifically explain the advancement of species from one form to the next. In fact, this dependence on random mutations makes such advancement, as is seen in nature, a mathematical impossibility. The atheists are so in awe of the process of natural selection that they have made it into a god that has creative abilities, but their own science is sufficient to refute this belief.”

#19. Dikirim oleh Irenaeus Ahmad  pada  28/05   11:15 AM

@tia

Tia apa yanng Anda angkat dalam komentar no. 2 seperti yang saya kutip dibawah ini sangat menari buat saya.
==================================================
kalau manusia keturunan adam dan hawa semua, kenapa bahasanya, warna kulitnya, bentuk tubuhnya ,tingkat budanya berlainan.
==================================================
Pernyataan ita di atas menimbulkan pertanyaan baru dari saya untuk orang yang tidak terima teori Darwin dan semacamnya, yaitu: siapakah moyang kita sesudah Adam dan Hawa? Dalam cerita dikatakan bahwa Adam dan Hawa mempunyai dua orang putra, jika kita keturunan anak-anak Adam dan Hawa yaitu Kain dan Abel, siapakah istri Kain dan Abel. Apakah mereka mempunyai saudari tetapi tidak disebutkan? Atau.......?

Jadi bahasa agama lebih bernuansa metafora sedangkan bahasa ilmia mengacu kepada fakta. Jadi hendaknya direnungkan dengan pikiran yang jernih. Jangan emosional karena pikiran kita terbelenggu oleh dogma kepercayaan kita.Saran saya; ketika kita membaca alkitab tidak hanya membaca apa yang tertulis tetapi juga apa yang tersirat.

Terima kasih ita karena telah mengangkat isu ini.

hila

#20. Dikirim oleh hila  pada  28/05   03:39 PM
Halaman 1 dari 4 halaman 1 2 3 >  Last »

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?