Bangkitnya Kembali Gerakan Pemikiran NU Catatan dari Muktamar Pemikiran Islam NU
Oleh Hasan Basri
Begitulah kesan yang muncul setelah mengikuti Muktamar Pemikiran Islam NU, yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Salafiah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo pada tanggal 3-5 Oktober lalu. Acara ini diperkarsai “maskot-maskot” kaum muda NU, seperti Masdar F Mas’udi, Ulil Abshar-Abdalla dan Zuhairi Misrawi. Muktamar ini pun diselenggarakan di tengah badai kontroversi, kesalahpahaman dan ketakutan yang berlebihan terhadap pemikiran bebas.
Komentar
Salam Takdzim Satu Kata dari saya: Bravo Kaum Muda NU!
Membaca Tulisan Hasan Basri, bahwa boleh jadi selama ini kita mewarisi Islam setengah jadi, menurut saya bukan Islamnya yang setengah jadi (sebagaimana ayat yang turun saat Nabi SAW Haji Wada’). Namun memahami teks dan konteks secara integratif-lah (holistik) yang sangat mungkin setengah, atau bahkan hanya sepersepuluh saja dilakukan. Akibatnya, keislaman yang mampu kita warisi hanya setengah, atau bahkan cuma sepersepuluh, atau bahkan kurang!
Kalau kita mewarisi NU setengah jadi, itu sangat mungkin. Hal itu disebabkan kepentingan politis? Juga sangat mungkin. Namun yang perlu kita ingat NU adalah wadah untuk -salah satunya- membantu umat dalam mewarisi Islam seratus persen.
Saya setuju atas tanggapan saudara M. Lukman dari Yogya yang menanggapi tulisan Hasan Basri, bahwa Islam yang kita terima dari Rasulullah adalah bukan “Islam Setengah Jadi” tapi merupakan “Islam Ideal”. Namun untuk mengaktualisasikan “Islam Ideal” tersebut dalam realitas kehidupan bukanlah pekerjaan yang mudah tapi merupakan sebuah perjuangan yang maha berat, makanya kita semua sedang dalam proses untuk menjadi manusia yang “benar-benar muslim”. Perbedaan dalam memahami teks-teks keagamaan yang merupakan acuan kita untuk menjadi “benar-benar muslim” yang kadang kala akhirnya membuat kita menjadi “benar-benar tidak muslim”.
Wallahu’alam bisshowaab.
Ketakutan akan bahaya pemikran yang baru, akan menimbulkan bahaya baru yang mungkin jauh lebih besar. Lagipula bahaya pemikiran baru tidak sebesar bahaya ketidaktahuan.
Yah, sebagian anak muda NU di Jakarta yang diwadahi dalam; (1) Lakpesdam, (2) P3M, dan (Madrasah Desantara) serta (ISlamlib ?) memang punya corak liberatif dalam memahami Islam. Mereka berjalan efektif salah satunya ada dukungan Founding dari AS. Pertanyaannya, bisakah geliat pemikiran ini tanpa bergantung dengan AS ? Bagaimana dengan Pesantren2 ?. Saran saya generasi muda NU harus membuat proyek yang holistik tentang pembaruan pemikiran dalam model ISlam NU. Tidak hanay membuat peta saja seperti yang dibuat Zuhairi.
Saya ingin turut menyatakan penghargaan saya pada para pemikir muda yang digolongkan sebagai “maskot-maskot” kaum muda NU. Bagaimana pun, sekalipun saya tidak banyak lagi mencermati perkembangan pemikiran keagamaan di lingkungan generasi Muda Muhammadiyah, generasi muda NU jelas sekali lebih artikulatif dalam mengelaborasi pemikiran-pemikiran keislaman mutakhir, baik yg berkembangan di tanah air, Timur Tengah maupun Barat.
Namun, ada satu hal yg menurut saya masih harus ditunggu. Yaitu sampai kapankah para pemikir muda NU ini merasa lebih dewasa dalam berpikir dan berkreasi mandiri tanpa harus selalu “numpang” pada nama besar NU, lingkungan sosial keagamaan dari mana mereka memang berasal. Jika mau lebih berani berpikir bebas, kenapa masih harus menyebutkan NU atau mengaitkan diri dengannya, jika tanpa itu pun mereka bisa besar sendiri. Fenomena yg sama juga bisa ditemukan di kalangan generasi muda Muhammadiyah, sebagaimana terlihat dlm kelompok Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Kenapa Muhammadiyah masih harus dibawa-bawa di situ?
Ini penting karena bagi para pemikir bebas NU, sebab saya kira tidak selamanya perkembangan pemikiran mereka mencerminkan atau merepresentasikan watak pemikiran keislaman NU, kecuali memang mau dipaksakan demikian. Saya terkesan dengan Nurcholish Madjid, yang bisa besar tanpa harus dibesarkan oleh NU atau Muhammadiyah, bahkan HMI. Malahan, dia yg membesarkan HMI dan generasi HMI berikutnya hanya numpang beken pada kebesaran HMI tanpa berusaha memiliki kualifikasi intelektual yang bisa menyamai Cak Nur. Malahan, HMI pun dijadikan kendaraan untuk tujuan-tujuan politik dan profesi jangka pendek.
Di tingkat global, saya kadang-kadang bertanya: apakah organisasi keagamaan sarjana-sarjana Muslim seperti alm. Fazlur Rahman, Seyyed Hossein Nasr, Mahmoud M. Ayoub, Ismail R. Al-Faruqi, Ali Abdul Raziq, Hassan Hanafi, Muhamed Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid, Abid Al-Jabiri, Abdul Karim Soroush dll. Apakah mereka juga menjadi pemikir besar dan kenamaan karena mereka punya organisasi semacam Muhammadiyah dan NU di negeri masing-masing? Saya ragu tidak demikian. Mereka adalah orang-orang yang mampu berpikir mandiri tanpa harus mengasosiasikan diri dengan satu organisasi keagamaan primordial yang justru potensial mengekang mereka secara intelektual dan sosial. Sekalipun harus diakui mereka tetap mengklaim diri masuk dalam salah satu kategori Sunni atau Syiah.
Sekian Abu Ahmad
Hanya dengan cara seperti Cak Nur, saya kira di masa depan kita akan menyaksikan pemikir-pemikir yg bebas warna dan bisa diterima oleh semua kalangan, karena tidak lagi merasa perlu memiliki dan dimiliki oleh organisasi keagamaan yang gaung perseteruannya masih terasa sampai kini. Waallahu a’lam.
——-
salam kenal mas hasan basri,,,,,,,,,,,,
q sangat kagum sekali dengan ceritamu yang terkait dengan anak muda NU,,,, tapi perlu di garis bawahi bahwa sekarang NU sudah terpecah belah dikarenakan kurangnya koordinasi antara person dan pengurus2 lainnya,,, eksistensial NU sudah menurun dibandingkan dengn muhammadiyah,, sekarang banyak anak muda yang tidak tentang Nu secara integral dia hanya tahu namanya saja n keturunan,,, saya memohon kepada mas agar dibangkitkan lagi kesadaran anak muda NU agar turut berjuang ,,,,,,,,,,
horas ,,,,,,,,,,
Komentar Masuk (7)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)