Ber-Tuhan ala Einstein
Oleh Husein Ja’far Al Hadar
Dengan determenisme dan kausalitas ketat yang menjadi konsekuensi logis atas konsep Tuhan Impersonal ala Einstein, maka naluri serta tanggung jawab sosial-ekologis manusia akan terdongkrak. Sebab, bayang-bayang akan bencana ekologis dan kemanusiaan setidaknya akan memberikan bayangan buruk sekaligus pertimbangan signifikan bagi setiap individu yang hendak mengeksploitasi alam maupun manusia. Terlebih, sebagaimana ditegaskan Einstein, tujuan tertinggi dari ketaatan beragama tak lain adalah keselarasan sempurna dengan alam semesta, termasuk manusia di dalamnya.
Komentar
Sangat setuju…
konsep kepasrahan bukan menerima apa adanya, tetapi pasrah terhadap tugas apapun yang datangnya dari Tuhan yang tidak lain adalah tugas kemanusiaan juga. Tugas itu adalah memuliakan makhuk manusia, mensejahterakan , mendamaikan semua umat manusia. Islam sendiri yang berarti perdamaian, bukanlah suatu tujuan tetapi suatu jalan dengan target dan sasarannya adalah tercapainya tugas tugas kemanusiaan itu. Sebenarnya tidak penting Einstein atheis atau tidak , yang penting adalah dia telah menyumbangkan bagian penting bagi tugas kemanusian itu. Sebesar debu perbuatan baik akan pasti mendapat balasan demikian pula sebaliknya.Agama dan Ilmu pengetahuan sangat berkaitan erat , bukankan dikatakan dikatakan bahwa Al Qur an adalah petunjukk bagi orang orang yang berfikir?..salam
Baik Al Kitab maupun Al Quran melarang manusia percaya kepada selain Allah (Syirik). Kalau dipikir-pikir, kayaknya Allah itu cemburuan banget. Bahkan di Al Kitab disebutkan, jangan ada Ilah lain di sampingku, sebab Aku adalah Allah yang pencemburu. Kayaknya Allah itu manusiawi banget, pencemburu banget.Apa misterinya hingga manusia disuruh agar percaya hanya kepada Allah semata dan dilarang percaya kepada selain Allah? Betulkah Allah itu adalah sosok yang pencemburu? Sebelum membaca gagasan Einstein tentang konsep Tuhan Impersonal seperti tulisan di atas, telah terbersit dibenak saya bahwa Tuhan yang kita hadapi adalah SUNNATULLAHNYA, baik yang berupa hukum Alam, maupun hukum sosial, jadi bukan sosok yang manusiawi, apalagi yang pencemburu ataupun sosok yang bisa berduka ataupun murka. Tuhan kita rasakan ADANYA melalui Sunnatullahnya. Dengan Sunnatullahnya yang pasti dan tidak berubah-ubah, kita memperoleh kepastian bahwa benda yang jatuh pasti ke bawah (ingat akibat gravitasi). Bayangkanlah bila ada orang yang tidak percaya kepada hukum gravitasi sama sekali atau percaya kepada Grvitasi namun selain itu masih percaya kepada JIMAT, lantas dengan seenak perutnya bermain-main dengan sembrono ditepi jurang. Bukankah celaka yang akan diperolehnya bila ia jatuh ke jurang? Apakah dengan jimat yang ia pakai maka tidak berlaku lagi hukum gravitasi sehingga ia akan melayang-layang dengan empuk ke dasar jurang? Dalam kontek Sunnatullah inilah dapat saya pahami mengapa manusia diharuskan hanya percaya kepada Allah semata dan dilarang percaya selain kepada Allah. Bagi saya mustahil Allah itu adalah sosok yang pencemburu hingga melarang manusia percaya kepada selain Dia.Mustahil pula Allah berduka atau bersuka apalagi murka. Karena Allah telah menetapkan Sunnatullahnya secara pasti dan tidak berubah-ubah, maka barang siapa yang mengikuti Sunnatullahnya, maka selamatlah ia dan sebaliknya, barang siapa yang tidak mengikutinya, celakalah ia. Itu adalah suatu kepastian yang dapat dilihat secara nyata. Yang menjadi persoalan adalah kita umat manusia belum mengetahui banyak tentang Sunnatullah, baik yang berupa hukum alam maupun yang berupa hukum sosial. Ditangan ilmuwan antara lain seperti Einstein inilah diketahui Sunnatullah itu.
Wassallam Dwades Tampubolon.
Mas, kalo boleh tahu sumbernya ini dari mana? menarik banget… kalo ada minta ya, PDF/word-nya…
Wahai saudaraku janganlah sdra mencari dan menyeru tuhan karena Tidak ada tuhan yang ada hanyalah Allah, dan jangan pula mencari Allah niscaya sdra akan menemukan diri anda Allah “dengan menunjuk kedalam dada saudara” padahal Allah berada diArsy Nya yang Suci dari apa yang dipikirkan manusia. Tetapi carilah Rabb =Tuan \Pemilik anda pastilah sdra akan menemukan Allah dan andapun jadi hambaNya dan milikNya lalu carilah
Illah=Penguasa/Yang Kuasa/ Yang Menguasai jiwa dan raga sdra maupun alam smesta ini pastilah sdra akan bertemu dengan Allah dan jiwa sdrapun akan tentram dalam Genggaman (Kekuasaan)Nya
keren…perlu dibumikan kembali pemikiran tersebut….......
Saya mendapatkan pencerahan dari tulisan ini.
Terimakasih yg telah mewartakan.
makhluk hidup terlebih manusia selalu bersama tuhannya..kemanapun dimanapun iya berada….tuhan adalah pangkal dari sebuah keimanan…penyatuan tuhan beserta manusia adalah hak adanya, dibuktikan dengan manusia punya rasa ingin tahu siapa penciptanya ada pepatah mengatakan “man arofa nafsahu faqod arofa robbahu….”
Tulisan tentang Ber-Tuhan ala Einstein bagus dan mencerahkan. Akan tetapi, kita juga jangan terjebak pada angapan bahwa Tuhan adalah ‘Semesta’ yang demikian transenden atau ‘Sesuatu’ yang tidak peduli pada nasib manusia sehari-hari. Personifikasi dan simbolisasi tak terelakkan mengingat keterbatasan kita secara manuasiawi baik cara pengungkapan artikulatif maupun pengertian sesuai kecerdasan kita. Bagaimanapun juga kepercayaan Einstein tentang Tuhan tetap berkualitas….
sepertinya tuhannya einstein sama dengan tuhannya teolog, hanya saja cara pandang dan cara menggambarkannya yang berbeda.
masalah bertuhan ala einstein ini memang sdh beredar luas dgn judul buku ” Einstein Mencari Tuhan ” namun hendaknya, setiap orang yang berpikiran cerah dan objektif juga harus mengakui bahwa ada banyak fenomena2 alam yang tidak bisa diungkapkan dan berlawanan dengan hukum alam, seperti teori asal semesta yg secara ilmiah msh kabur dan dlm kondisi perkiraan, teori darwin yg tdk bisa menemukan missing link, fenomena sihir, fenomena api yg tidak membakar, dan fenomena2 alam yg di situ tak terjelaskan oleh akal kita yg sempit, belum lagi fenomena norma dan nilai yg juga sulit untuk di satukan kecuali melalui otoritas wahyu, yang fenomenanya sendiri tidak bisa dijelaskan secara ilmiah… yang kesemuanya justru menunjukkan bahwa ada suatu kekuatan tak terhingga yg melampaui hukum alam itu sendiri, sebagaimana yg hendak di tunjukkan einstein dlm teori relafitasnya, suatu kekuatan yg tidak berbentuk angka atau material terbatas dan tak terindera.. siapapun yang hendak mencapainya dengan hanya mengandalkan otaknya tak kan sampai kecuali hanya sampai kulitnya saja, tidak sampai kepada hakikatnya, kecuali dengan tuntunan wahyu dari Zat Asal Yang Maha Mengetahui…
Menmaca pandangan Einstein tentang Tuhan menarik dilirik dengan menjadikan konteks sebagai domainnya. 1) Konteks teologis yang mendudukuan pandangan Einstein vis a vis Gereja. 2) Konteks teologis yang mendudukan pandangan Einstein vis a vis Agama lain (termasuk Islam). Dan 3) Relevansi pandangan Einstein dalam perkembangan studi agama-agama paling up to date.
Einstein telah mengajan umat manusia lintas konteks ruang sekaligus abad untuk menempatkan Tuhan sebgai ‘sososk’ yang tak bisa ketahi. Itu sangat luar biasa. Einstein sungguh menempatkan Tuhan dengan kesadaran kemanusiaan yang proporsional. Einstein telah membuka cakrawala berpikir guna melihat Tuhan bukan dengan kacamata manusia. Saya meyakinkan diri pada Tuhan yang dipahami Einstein.
bertuhan ala einstein kelihatannya dekat dengan yang saya pahami bagaimana bertuhan menurut AlQuran.
Tulisan yang bagus, saya setuju dengan konsep Tuhan yang impersonal ala Einstein. Konsep Tuhan yang sangat personal dan selalu berpihak kepada suatu kaum, bukan konsep Tuhan yang saya yakini. Terima kasih atas tulisan dan pencerahannya. Salam.
Sesungguhnya, kita tidak tahu, hanya Dia lah yang Tahu. Kita tak dapat membenarkan Tuhannya siapa: Einstein atau para teolog itu???
“Teralinginya Allah dari penglihatanmu adalah karena begitu dekatnya Dia denganmu”
Al-Hikam
Assalamualaikum.
Makin banyak kita mendapat informasi pikiran orang/teori, apakah itu yang biasa-biasa saja, atau dari orang yang pintar, maka cara berpikir/kepintaran kita akan tertuntun sesuai dengan tingkat kepintaran kita kearah apa yang Einstein kemukakan. Rasio kita yang tidak pernah diam akan mencari dan mecari Allah. Hati-hati;
Coba liat dengan cermat, pencari Tuhan bagi sebagian orang, ataupun penjelasan yang sepotong-sepotong karena penjelasannya tidak “murni”, maka pastilah ujung-ujungnya adalah bagaimana duit pencari Tuhan secara tidak sadar tersedot ke pemberi penjelasan mengenai Tuhan, dengan berbagai alasan keagamaan/terhipnotis.
Dengan penjelasan/informasi dari Einstein tanpa mengeluarkan uang kecuali beli bukunya, maka kita akan menyadari bahwa memang demikianlah Allah itu. Dengan demikian kita berhati-hatilah hidup didunia ini, bijak, menghargai sesama.
Wassalam
H. Beney
bagus. Saya setuju dengan einstein & spinoza.
Tuhan berpribadi ala agama-agama samawi menggiring pengikutnya pada keegoisan, seakan-akan seluruh alur semesta berpuncak dan menopang pada suatu kaum /agama/ nabi, dan seluruh dimensi kehidupan manusia & kompleksitasnya sudah termaktub dalam kitab ‘suci’ yang ‘sempurna tidak bercacat cela’. sungguh naive, bila kita masih mempercayai tuhan berpribadi / dewa / illah / allah ala agama-agama, di tengah-tengah kompleksitas manusia yang memultiwajah ini.
Keselarasan dalam berhubungan dengan alam semesta adalah salah satu dari tujuan ‘pendirian sholat’ atau dgn gagasan yang lain yaitu ‘sholat daim’ yang apabila dipraktekkan akan membuat pelakunya selalu dapat ‘seimbang’ dalam berinteraksi dengan alam.
Spinoza, Einstein ataupun Nietzhe, tertantang untuk ngasih komentar tentang Tuhan karena mereka mendapatkan informasi yang salah tentang Tuhan. Coba kalau konsep ketuhanan sejati yang diterima oleh mereka, komentar mereka akan lain lagi. Wrong question leads to the wrong answer…
Tuhan menjelaskan dirinya sendiri dalam kitab suci/wahyu lewat bahasa manusia (antromorfis) sebagai yang personal. Belum ada bukti-bukti ilmiah saya kira yang menjelaskan tentang adanya sebuah “kecerdasan impersonal” yang oleh Einstein dikatakan sebagai Tuhan. Bila ada maka saya pikir ia bukanlah Tuhan, bila ada dibumi ia hanya sebatas hukum alam, dan bisa dikontrol dan dimanipulasi oleh manusia.
Kalau ada yang pernah baca Daniel C. Dennet (seorang filsuf ateis) pasti paham pemikirannya tentang “intensional system”. Ide ini sepertinya ada kesamaan dengan yang dimaksudkan oleh Einstein sebagai Tuhan impersonal.
Namun kriterianya seperti apa perlu juga diketahui lebih jauh. Apakah Tuhan yang dimaksudkan ini masih melihat dimensi etis (bagimana hidup baik dan terhormat, alam akhirat) sebagai keutamaan? Perlu juga dipahami bahwa alasan Tuhan mengada tidaklah hanya terbatas pada persoalan ontologis, tapi yang utama saya kira adalah bahwa Tuhan hadir untuk menjawab persoalan etis manusia.
Komentar Masuk (22)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)