Wawancara,
11/08/2003

Dr. Moeslim Abdurrahman: Berislam dari Bukhari-Muslim ke Weber-Durkheim

Oleh Redaksi

Orientasi keberagamaan normatif berbeda secara diametris dengan orientasi keberagamaan empiris. Ekspresi religiusitas yang normatif seringkali melupakan fakta sosial yang tidak monolitik, bahkan tidak seideal lukisan dalam kanvas teologis seperti yang tertera dalam kitab suci. Dalam konteks inilah, diperlukan kearifan dan ke-tawadlu-an untuk tidak menghakimi pihak-pihak yang berbeda dengan atas nama keyakinan dan persepsi yang kita anut.

11/08/2003 03:46 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (2)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Saya banyak sekali membaca dan mendengar bagaimana seorang Moeslim Abdurrahman menuturkan pandangan keagamaannya. Dan secara kebetulan, apa yang dirasakan Mas Moeslim sedikit banyak saya rasakan juga. Karena itu, setiap kali saya menikmati tulisan Mas Moeslim, Kang Sobari, Mas Masdar lalu kemudian merujukkan kepada kitab-kitab besar sosiologi, saya menjadi terheran-heran, betapa umat Islam di pedesaan yang hanya mengenal Islam dari kacamata iman menghadapi hambatan besar ketika mereka ingin memasuki dunia modernitas. Penghargaan terhadap kenyataan pluralisme dan tata cara menyikapinya amat terasa miskin.

Anehnya lagi, di perguruan tinggipun banyak sekali saya jumpai halaqah yang hanya bertumpu pada upaya bagaimana “meninggikan” keyakinan beragama. Menurut saya, kita harus merubah paradigma dari menumbuhkan keyakinan beragama kepada bagaimana mengekspresikan keyakinan beragama. Sebab, keyakinan selalu saja bersifat privat, sedangkan ekspresinya selalu melibatkan ruang sosial. Saya kadang bertanya; bagaimana mengukur keberhasilan iman saya dalam suasana umat manusia yang miskin, bodoh, suka kekerasan, mudah tersinggung? Bagaimana kualitas keberagamaan seseorang bisa berperan secara aktif di atas fakta sosial yang kurang menguntungkan secara manusiawi itu?

Dalam suasana seperti ini, agaknya revolusi paradigma harus segera ditegakkan. Agama tidak boleh disimpan di ruang privat tetapi harus berani masuk ke ruang publik. Ini butuh teologi transformatif yang dapat mudah dipahami oleh kader-kader “ulama” dan “Kyai” di pesantren-pesantren agar tidak lagi terjadi kesenjangan antara dunia pesantren dan dunia modernitas. Pesantren harus berani menata sistem teologi yang transformatif. Kitab-kitab kuning harus berani diverifikasi dengan tren sejarah.

#1. Dikirim oleh Abdul Mukti-Ro'uf  pada  14/08   03:08 AM

Assalamu ‘alaikum Cak Muslim, saya kira harus hati-hati dalam berpendapat. Dari sekian banyak keteledoran Cak Muslim, satu saja yang saya ingin komentari.  Soal perlakuan kita terhadap pencuri ayam dan koruptor; saya yakin Cak Muslim belum lupa pelajaran di pesantren. Pemotongan tangan seorang pencuri itu kan ada batas minimalnya. Jadi nggak sembarangan. Saya juga ragu syariat Islam akan berjalan kalau dijalankan oleh aparat hukum yang ada saat ini. jadi, kita harus mencari Qadi’ yang benar-benar adil. Saya kira Cak Muslim sudah tidak fair, dengan mengambil perumpamaan yang keliru. Hormat saya Cak! Kalau tidak lupa kita pernah ketemu di restoran Sunda di daerah Raden Saleh. Saya mohon Cak Muslim, lebih hati-hati!

Wassalamu ‘alaikum
——-

#2. Dikirim oleh Budiman  pada  04/06   01:06 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?