Reportase,
18/12/2009

Bersama al-Suyuthi, Belajar Membaca Teks Alquran secara Kasual

Oleh Malja Abrar

Dalam metafor al-Ghazali, Alquran adalah bagaikan lautan yang terdapat banyak mutiara di dalamnya. Ada sebagian orang yang hanya berada di tepi pantai, sebagian lagi berada dalam radius ratusan meter dari garis pantai, sebagian kecil masuk jauh ke bagian tengah lautan, dan hanya beberapa yang dengan nyali kuat menyelam ke dalam lautan dan berhasil memungut mutiara-mutiara di dasarnya.

18/12/2009 15:47 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pada prakteknya siapa saja harus diberi kesempatan seluas luasnya untuk menggali Ilmu pengetahuan dalam hal ini Al-Qur an. Menurut saya cara membaca Al qur an yang paling tepat adalah menanyakan secara langsung kepada pembuatnya. Setiap manusia/orang beriman memiliki Qur an atau kitab petunjuknya sendiri, karena ia lahir, besar dan hidup di jaman yang berbeda. Al Qur an atau ayatnya turun setelah ada kejadian, sebagaimana Rasul , manusia juga memeliki kejadian kejadian penting sepanjang hidupnya. Al- Qur an yang ada sekarang adalah semacam penuntun, tetapi runtutan ayatnya akan berbeda pada setiap manusia. Pengalaman hidup, pengalaman batin/rohani , lingkungan dan bacaan yang berbeda menjadikan intepretasi setiap manusia akan berbeda. Jika dipaksakan menjadi sama , maka hanyalah akan menjadikan manusia menjadi mahkluk munafik yang beragama tidak berdasar akal dan hati nuraninya. Tetapi karena ketakutan, was was, dan keraguan. Kedekatan dalam bentuk komunikasi(sholat) menjadi sangat penting, sholat (yang benar) sendiri bisa dilaksanakan jika ada kontak hati dengan Yang Maha mendengar, Mengetahui dsb. Sedangkan dalam kehidupan berhadapan dengan sesama manusia kontak hati (batin) dengan Muhammad Rosullullah adalah syarat perlu. Jika seseorang itu benar benar beriman maka petunjuk Allah dan Rosulnya akan selalu ada melalui jalur apa saja. Membaca bukan sekedar “membaca” tetapi mencandra, menganalisis tentu saja semuanya harus Atas Nama Tuhan.

#1. Dikirim oleh bejo  pada  26/12   06:03 PM

Apa yang dipaparkan pemakalah masih perlu dikaji ulang krn masih perbedaan pendapat para ulama.. Kalau saya pribadi lebih setuju dengan jumhur ulama.

#2. Dikirim oleh Misbah Mudhy  pada  28/12   09:59 PM

Salam,

Adakah penyusunan Quran secara kronologis yg sudah di cetak, saya ingin memiliki sebagai literatur saja.
Jika ada yg d cetak, apakah tidak menimbulkan pro-kontra?

Wassalam.

#3. Dikirim oleh ratnaboy  pada  30/12   05:22 AM

memang orang2 yang ada di JIL ini manteb2, beginilah seharusnya kader2 NU kritis berani dan ga asal, AKU IRI SAMA KALIAN. like you bro

#4. Dikirim oleh malam yang indah  pada  03/01   07:48 PM

jika saya boleh mengkotak-kotakan agama, saya lahir dikalangan keluarga nahdiyin.. sepanjang pengetahuan saya pembahsaan tentang islamnya mandeg. hanya berkutat pada masalah surga dan neraka, berbuat bnaik masuk surga dan salah masuh neraka, ngeri sekali memang.terus terang saja saya sangat antusias dengan pemikiran JIL.. bolehlah saya ikut serta didalamnya mengkaji islam secara mendalam..

#5. Dikirim oleh Junianto Haibara  pada  18/07   04:13 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?