Gadis Arivia Effendi: Biarkan Nurani Menerjemahkan Teks
Oleh Redaksi
Mencari sisi kebenaran agama dengan merujuk kepada teks-teks normatif adalah biasa. Tapi menelusuri sisi kebenaran penghayatan keagamaan dengan menggunakan hati nurani merupakan pengalaman spiritual yang mengesankan. Apalagi pengalaman ini dialami oleh Gadis Arivia Effendi yang lama bergelut di dunia filsafat yang lazim mengunggulkan rasio.
Komentar
Gadis, sudah berusaha memberikan “kelayakan” filsafat bertahta tanpa diskriminasi gender. Hal ini penting untuk dikritisi, karena bagaimana pun filsafat sebagai “master” ilmu tidak beleh bergerak dalam paradigma yang tidak adil. Ia harus adil. Oleh sebab itu filsafat feminisme yang satu-satunya (menurut saya) hadir saat ini ketengah kita betul-betul membukakan keterbelengguan paradigma maskulin dan feminim dalam hal, termasuk juga dalam filsafat.
Ya, kuncinya adalah hati. Meski dalam hal ini aplikasinya berbeda. Meski tren yang ada belakangan ini adalah kampanye penyerapan agama yang liberal, tanpa batas, apakah hati kita menerima?
Penggunaan jilbab adalah soal hati. Hati kita menerima, it’s okey, kita anggap baik. Hati tidak menerima, itu urusan anda juga.
Kemerdekaan untuk bebas dan tidak menyoroti kemerdekaan berpikir orang lain.
Agama mengekang ataukah kita yang dikekang oleh agama. Kuliah yang menjemukan? Maka tidak kuliah? Kotbah yang menjemukan maka tidak perlu jumatan?
Saatnya hati ditanya lagi tentang agama…..
Cukup menarik!
Sebagai penggemar disiplin ilmu ini (yakni: filsafat), saya sangat sangat mendukung pemikiran, argunetasi serta ide-ide tentang kebebasan hingga secara pribadi saya infin tahu lebih banyak sekaligus ikut mempelajari backround pemikiran tentang agama, terutama dari Gadis Arivia Effendi.
Sekelumit pertanyaan yang ingin saya lontarkan seputar “Nurani membenarkan teks”. Apakah dalam hal ini nurani masih memiliki ketergantungan, atau anggap saja masih memiliki kaitan dengan teks? dengan kata lain nurani memiliki otoritas mutlak terhadap teks sehingga posisi teks bersifat sekunder dan nurani bersifat primer; jika demikian, apa berarti konsep teks beserta pengertian, kandungan dan intisari mengikuti jejak nurani?. Dapat dikatakan,
1. Tatkala kita menghayati konsep dan ajaran agama mengikuti kehendak hati hati, sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan kita, hingga pada puncaknya agama akan mengikuti kehendak hati kita? berawal dari sini berarti kita telah menciptakan agama seperti yang dilakukan oleh Karl Jaspers, Martin Heidigeer dan Paul Sartre yang terkemas dalam Eksistensialisme, walaupun nampak sedikit perbedaan diantara mereka. Manusialah yang menciptakan agama dan agama dianggap tiada? apakah demikian!.
2. Nurani merupakan awal dan pijakan ke arah pemahaman religius, namun nurani manusia dalam setiap fisik manusia sangat beragam dan kadangkala bertentangan, ini dinamakan ciri dan karakter. Disamping nurani memiliki 2 kaca mata, kejahatan dan kebaikan. Bagaimana kinerja 2 sisi kontradiktif mampu menciptakan 1 sisi konstruktif? meminjam istilah matematis, bagaimana kita membenarkan teori positif+negatif=positif! Disini saya tidak menafikan nurani, hanya saja bagaimana cara nurani manusia yang memiliki 2 sifat, baik dan buruk, dapat melahirkan konsep kebeningan hati dan kejernihan jiwa (anggap saja sebuah ketenangan batin)? padahal -maaf, kali ini saya ingin mengaca ke teks- kita disuruh waspada terhadap nurani…:)
Tentang konsep kewajiban dan kepedulian…. “Kewajiban itu artinya sesuatu mengekang, sangat tertutup, kuat dan berotoritas. Kepedulian di sini mengandung sisi fleksibilitas”. Dalam pernyataan beliau, seakan-akan kewajian itu mengunci mati kebebasan manusia, sisi yang menghantui sekaligus momok masyarakat…(ihii..kayak ada hantu beridentitaskan kewajiban, just kidding!) padahal kewajiban mengandung unsur kepastian…!
Sebenarnya lebih jauh saya sendiri bertanya-tanya, konsep kepedulian atau ide nurani membenarkan teks itu berfungsi untuk konteks ajaran agama secara umum ataukah terbatas pada satu disiplin ajaran dalam sebuah agama. Khan agama mengandung unsur-unsur, yang dimaksud disini dalam unsur apa! kalau digeneralisasikan, bisa buyar rek!
kalau dalam hal hukum, unsur kepastian hukum harus ada, kalau misalnya pakai konsep kepedulian, lantas Bapak Hakim mau mutusin berdasarkan nurani dia sendiri, khan kolusi bisa berkembang ke mana-mana.
Pada hakekatnya, jika menurut saya, kepedulian itu hanyalah dampak kewajiban atau tahapan perkembangan seseorang terhadap suatu kewajiban. Jika seseorang taat terhadap agama hingga ia hidup bersama kewajiban, dengan sendirinya kelak akan melahirkan sebuah kepedulian.
Saya pernah membaca teks agama yang artinya: “Sembahlah Tuhanmu hingga muncul sebuah keyakinan (ketenangan jiwa)”. Saya sendiri belum mengetahui secara pasti, bagaimana kinerja nurani nona Gadis Arivia Effendi membenarkan teks ini?
Saya sangat mendukung sebuah kebebasan interaktif-dialogis, bukan kebebasan pasif seperti sifat orang yang cuek bebek…:) sebagaimana dilakukan segelintir orang.
Terima kasih
Mbak Gadis,
Saya setuju dg Anda bhw hati nurani memegang peran penting, termasuk dlm memahami teks agama, dan bhw beragama dg hati akan melahirkan sikap keberagamaan yg sejuk, damai dan fleksible. Namun, Anda tentu juga tahu ada sebuah hadis, entah sekedar ungkapan ulama, bhw al-din huwa al-‘aql, la dina li man la ‘aqla lah (literally kira2 berarti: agama itu akal, tdk ada agama tanpa akal. Ini berarti, hati nurani saja tdk cukup utk mengetahui pesan2 keagamaan melainkan juga diperlukan bantuan akal/pikiran.
Satu hal lagi, kalau setiap orang hanya merujuk kpd hati nurani utk menghayati ajaran agama (Islam), lantas bagaimana kita harusnya menegakkan hukum utk menciptakan kehidupan bermoral? Hati nurani sangat subjektif sifatnya, dan selalu cenderung utk membenarkan diri sendiri, apalagi kalau ia sudah dikuasai oleh hawa nafsu. Kalau orang2 yg korupsi misalnya ditanya apakah mereka tdk sadar bhw tindakan korupsi mereka itu bertentangan dg ajaran agama atau moralitas universal, di antara mereka kadang2 ada yg akan menjawab bhw korupsi mereka adalah demi menghidupi keluarga dan sanak saudara yg miskin…dg kata lain karena perasaan kasih sayang kpd sanak saudara…dan kasih sayang berkaitan dg hati nurani bukan?
Nah, karena kecenderungannya yg sangat subjektif atau inward looking ini, Islam menuntun manusia utk tdk hanya menghayati agama secara “pribadi” lewat penajaman (dan penyucian) hati nurani yg memang sangat penting, tapi juga secara kolektif dg cara meng-cross check pemahaman itu dg sesama muslim dlm sebuah komunitas ummat, yg karenanya juga, mempersyaratkan adanya formulasi2 hukum atau aturan2 moralitas/etika kolektif di mana terdapat wacana “kewajiban” dan “hukuman”. Kalau Islam ini sepenuhnya bersifat psikologis spt Anda yakini, Anda sebenarnya sedang mereduksi Islam sekedar seperti ajaran Buddhisme, di mana etika pribadi jauh lebih ditekankan ketimbang hukum2 bermasyarakat, if at all any. Berbeda dg Yahudi yg menekankan keketatan hukum atau Kristen (dan Buddhisme to some extent) yg lebih mengutamakan etika cinta dan permaafan, Islam mengelaborasi kedua dimensi agama Ibrahim pendahulunya ini dan menempatkan hukum dan cinta kasih secara selaras dan seimbang, walau ditekankan bhw “memberi maaf itu jauh lebih baik bagimu”.
So, saya kira, buat mbak Gadis, ketajaman pedang hati nurani Anda harus tetap senantiasa disabetkan ke keketatan logika dan pd saat yg sama harus dibilas setiap saat dg air kolam keterlibatan dlm kehidupan ummat. Islam, as far as I know it, is not just the religion of the heart but also, and probably more importantly, it is the religion of the intellect and the ummat.
Itu aja, dan mohon maaf jika saya justru yg salah dlm memahami hasil wawancara mbak dg mbak Nong.
Wassalam
Bersikap terbuka, apalagi mau terbuka, itu tidak mudah. Tapi kalau kita mau membuka diri, rasanya Tuhan akan membukakan hati kita. Nah, pendapat Mbak Gadis—seperti bisa dibaca dari wawancara dengan Nong—saya pikir menarik. Di samping langka. Saya sendiri kebetulan bersikap sama dengan Mbak Gadis, saya tak mau didekte oleh teks-teks itu. Apalagi jika teks itu sudah disertai pendapat orang yang menggunakan teks itu. Pendapat saya: Firman Tuhan kok ditafsirkan.
Yang lebih fatal lagi jika orang memandang teks itu sebagai wahyu. Wahyu adalah wahyu. Teks adalah teks. Kalau yang didewakan itu teks yang dibuat oleh manusia seperti kita juga, ngapain kita mesti dewa-dewakan. Sebab ia tak beda dengan koran atau majalah yang kita baca setiap hari, diproses lewat mesin cetak. Bahkan, kadang masih ditambah stempel Departemen Agama. Ya…..
Maka, mari kita cari Gadis-Gadis yang lain, yang mau menggunakan hati melihat segala sesuatu di sekelilingnya. Syukur kalau ditambah dengan mau merenung, betapa apa yang ada di sekeliling kita itu semuanya indah, bukti bahwa Tuhan itu Mahasegalanya. Jangan apa yang dibuat Tuhan itu kemudian dirusak hanya karena pikiran kita sudah terkena “virus”. Biarkan hati dan pikiran kita bebas dan merdeka dalam melihat segala sesuatu. Salam buat Mbak Gadis, terima kasih.
Bagaimana anda melihat konsep daulah islamiyah/khilafiyah? Karena bila khilafiyah dipandang sebagai fardhu ain untuk (mengusahakan) penegakannya, maka tentu saja agama bukanlah lagi area pribadi individu2. Sebenernya bagaimana sekularisme dalam islam, sih? Please tell me more.
Secara pribadi saya sangat apresiatif dengan pemaparan mbak Gadis tentang pengalaman dan pengamalan beragamanya. Pada entry point, Anda menjadikan agama sebagai suatu spirit dan titik pijak untuk seluruh lini kehidupan beragama. Senada dengan ide dan pengalaman tersebut bagi saya, agama adalah sebuah interpretasi kita dalam pencarian terhadap Tuhan (secara vertikal) dan interaksi dengan makhluk (secara horizontal) sebagaimana Cak Nur pernah mencetuskan sekularisasinya sebagai sebuah langkah untuk menemukan entitas spirit kehidupan yang sebenarnya, yaitu keberpijakan pada nilai-nilai tauhid.
Menurut saya, di sinilah manusia harus menemukan jati diri keberagamaannya. Di sinilah sebenarnya proses pencarian terhadap Tuhan, dan agama berproses. Dan yang pasti, langkah manusia untuk menemukannya akan berbeda-beda. Seperti mba Gadis yang lebih mengutamakan kepedulian, maka sebenarnya yang harus digarisbawahi adalah keterbukaan dan kedewasaan manusia untuk menerima perbedaaan proses tersebut. Keluasan berfikir dan keterbukaan untuk menerima perbedaan itu akan menafikkan kita dari truth claim yang selama ini selalu membelenggu proses keberagamaan manusia.
Satu hal lagi yang perlu diantisipasi adalah keterpanggilan manusia untuk membentuk tradisi. Budaya ini juga masuk pada wilayah agama, di mana tauhid akan menurunkan nilai-nilai, dan di sinilah manusia menuntut dirinya untuk mempertahankan nilai-nilai yang selanjutnya menjadi sebuah tradisi.
Dalam beragama manusia sering terjebak pada kesalahan memegang tradisi, karena mereka hanya mengmbil simbol sebagai tradisi dan bukanlah spirit yang diambil sebagai tradisi.
Dalam beberapa hal saya setuju dan respek terhadap apa yang dikatakan mbak Gadis, namun dalam beberapa hal perlu dicermati dan dikaji lebih dalam.
Bukankah ‘hati’ tidak selalu bersih, sebagaimana tubuh dan pikiran kita? Siapakah yang berani menjamin bahwa ‘hati’ merupakan kacamata terbaik dalam melihat sesuatu fenomena? Tidak perlukah mikroskop bila memang benda itu kecil? Tidak perlukah kita gunakan teleskop bila benda itu berada jauh dari kita? Hati siapa yang mampu ‘membaca’ sebaik itu? Hati siapa yang paling ‘dekat’ dengan Tuhannya?
Saya jadi teringat pada sebuah cerita tentang perjalanan seorang guru sufi beserta sang murid. Perjalanan mereka konon sampai di sebuah sungai. Mereka harus menyeberang tapi tak ada perahu/sampan di sana. Sepi sekali. Tak ada seorangpun yang dapat dimintai tolong. Kemudian sang guru berkata: “Peganglah tanganku dan ucapkanlah kata (doa) yang kuucapkan. Tirukanlah.” Kemudian sang sufi membaca doanya dan mulailah sang murid menirukannya.
Sang guru kemudian berjalan menuju sungai, dan aneh mereka berdua tidak tenggelam, kaki mereka menapak seperti berjalan di atas tanah.
Sang guru terus mengucapkan doanya, doa yang sama dan diulang ulang. Sampai di tengah sungai, sang murid merasa telah hafal dengan doanya, dan berkeinginan mengucapkan doanya sendiri tanpa berimam kepada sang guru. Dan saat itu tiba-tiba kaki sang murid terperosok ke dalam sungai, nyaris tenggelam bila tak cepat ditarik sang guru. Sang guru kemudian berkata kepada sang murid: “Kau kira apa yang keluar dari hati dan mulutmu akan sama dengan apa yang keluar dari hati dan mulutku? Sungguh kamu tak tahu hati siapa yang paling dikehendaki oleh Tuhannya?”
Kemudian sang murid berimam kembali sang guru dan akhirnya mereka sampai di seberang dengan selamat.
Begitulah, cerita di atas. Mudah-mudahan menjadi renungan kecil yang bermanfaat.
Wawancara dengan Gadis Arivia seharusnya dinilai “gagal” mengangkat figur pemikir perempuan. Dari semua uraian nampak dangkal dan tidak punya landasan teoritik. Sayang, sebagai pengkaji filsafat ternyata tidak bisa mengapresiasi agama secara cerdas. Jangan-jangan Gadis hanya pengumpul teori dan “memamahnya” secara mentah-mentah.
Biasanya “teori hati” dipakai oleh orang ketika akal mengalami kebuntuan. Dalam agama hal ini sangat terjadi. Tasawuf misalnya, sangat disukai oleh orang-orang beragama yang memang sudah tidak punya kemampuan baik untuk berpikir. Atau mungkin juga karena malas.
Seharusnya Gadis bicara lebih teoritik dengan kerangka filsafatnya. Apalagi pewancara (Nong) sudah membuka lebar-lebar apresiasi pribadi agama Gadis. Tapi ya sudahlah, memang kemampuannya segitu. Bicara yang lain aja mungkin lebih baik. Kalau agama hanya dibicarakan dalam perspektif personal psikologis secara dangkal begitu, saya mending dengar ceramah A’a Gym. Lebih asyik ketimbang, baca uraian “filosof” yang malas berpikir kritis.
Faiz manshur
Pada dasarnya setiap manusia memiliki hati nurani yang sama. Sama di sini yang dimaksud adalah sama bersihnya. Karena hati nurani manusia pada awalnya suci. Karena berbagai pengalaman hidup akhirnya hati nurani ini tertutup dan kotor. Kalau setiap manusia bisa membersihkan hatinya, dengan sendirinya akan bisa melihat dan merasakan kebenaran.
Silakan membaca buku Hati Nurani yang ditulis Irmansyah Effendi Msc. penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama. Dalam buku ini, hati nurani dibahas tuntas dengan bahasa yang sederhana dan gamblang.
——-
Komentar Masuk (10)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)