Bulan Konsumerisme Agama Renungan di penghujung Bulan Ramadan
Oleh Muhammadun As
Fenomena Ramadan yang penuh dengan sakralitas seolah pupus karena sudah bersifat marerialistik-komsumtif. Tradisi massif yang membudaya dimana-mana, dengan makan yang lezat, baju baru, mengecat rumah, telah mengalokasikan anggaran yang berlipat ganda dari hari biasanya. Di sisi lain, para pedagang menawarkan barang-barang yang menawan hanya pada bulan ini merupakan manifestasi dari konsumerisme agama.
Komentar
Saya sangat setuju dengan tulisan, Mas Muhammadun AS, logikanya, umat islam indonesia yang lebih dari 80%, dan melakukan puasa, harusnya yang terjadi adalah penghematan sumber daya alam ( baik makanan, air, BBM, hutan, tambang,dll) yang cukup besar. Tetapi kenyataannya yang terjadi malah sebaliknya, keperluan beras,daging,telur,BBM,dll kebutuhan perut malah meningkat. Harusnya kita bercermin pada puasa yang dilakukan ulat, dia membungkus diri dengan kepompong, tidak makan dan minum sama sekali,dan kelak setelah puasanya selesai, akan menjadi kupu-kupu yang indah, yang pekerjaannya yaitu membantu penyerbukan tanaman dimuka bumi, sehingga bumi ini menjadi hijau, sedangkan manusia, apa yang terjadi setelah puasa?, jika saat puasanya sendiri makan dan minum dan hawa nafsu konsumerisme malah meningkat? masa sih manusia kalah sama ulat? malu dong ah ![]()
Saya ingin memberikan tanggapan dari sudut pandang yang berbeda.
Penulis melihat konsumerisme sebagai hal yang kurang baik dan sepatutnya dicegah. Tapi sebenarnya, kalau kita mau menelaah dari proses ekonomi yang terjadi, justru saat Lebaran inilah proses ekonomi melalui transaksi perdagangan menjadi tinggi. Dengan meningkatnya proses ekonomi, maka mesin produksi pun tetap bisa berjalan. Dengan berjalannya proses produksi, maka ini akan memberikan banyak pekerjaan bagi para pekerjanya. Sehingga para pekerjanya tetap mendapatkan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan keluarganya.
Kegiatan belanja yang meningkat menjelang lebaran, menyebabkan banyak tersedianya kesempatan bekerja bagi orang lain yang akhirnya juga akan memberikan kebahagian bagi para pekerjanya. Para pekerjanya mendapatkan cukup uang untuk pulang kampung mengunjungi saudara, membelikan baju baru, dan sebagainya. Orang-orang kaya yang biasanya hanya menyimpan uangnya di Bank (atau dibawah bantal), melalui konsumerisme lebaran akan mengalirkan uang tersebut kepada orang lain (tentu melalui proses pembelian berbagai barang atau jasa). Bahkan pada saat hari lebaran pun, banyak juga yang membagi-bagi hadiah lebaran pada orang miskin. Ini adalah proses yang harus disyukuri.
Seperti kita ketahui proses ekonomi itu sangat tergantung dari aktifitas kegiatan transaksi perdagangan yang terjadi. Adanya kebutuhan (demand-side) akan memicu ketersediaan pasokan (supply-side). Ini akhirnya akan memicu ketersediaan lapangan kerja. Tanpa adanya kebutuhan, akan menurunkan pasokan, kegiatan ekonomi melesu, dan pengangguran meningkat.
Kerja alam semesta ini memang unik. Disatu pihak ada yang melakukan “pemborosan”, dilain pihak ada yang mendapatkan “berkah”. Manusia hidup tidak sendiri, tapi saling berinteraksi satu sama lain dengan manusia yang lain. Kebutuhan bagi manusia yang satu merupakan kelebihan bagi manusia yang lain. Dengan demikian dinamika kehidupan ini akan berjalan terus silih berganti. Alam mempunyai mekanismenya sendiri dalam melakukan keseimbangannya.
Jadi konsumerisme itu tidak selamanya buruk. Yang mungkin perlu dicegah adalah kemubaziran atau penghamburan sumber daya tanpa memberikan manfaat bagi siapa pun.
salam,
-ai-
Setuju sekali. Selesai puasa bukan berkurang berat badannya malah makin gemuk. Anggaran belanja rumah tangga makin meningkat dapat dilihat dari naiknya harga bahan pokok. Banyak terlihat orang yang murung dan selalu cemberut dalam melakukan pekerjaannya karena bingung cari tambahan uang tidak bisa. Artinya belum menyentuh inti dari puasa sebenarnya masih berkisar tidak makan dan minum, memakai busana muslim kesana kemari, memperdengarkan musik2 Isalam dimana2. Selesai puasa bukannya menjadi manusia baru yang lebih baik tetapi semua kembali seperti sediakala
Mas, yang anda istilahkan dengan kata “Konsumerisme” itu berdasarkan ilmu ekonomi yang saya pelajari di bangku kuliah adalah gerakan membela hak - hak konsumen.
yang anda maksud barangkali sifat Konsumptif.
Ada Paradoks yang saya dapati dalam tulisan Muhammadun, di lain sisi kelompok anda mengagungkan kebebasan berekspresi, goyang ngebor dan lain - lain yang anda semua anggap sebagai kebebasan seni dan budaya manusia, sementara kok, budaya belanja baju baru, membahagiakan anak - anak kita, menjamu saudara - saudara kita dengan makanan yang terbaik anda anggap sebagai perilaku konsumptif dan bertentangan dengan ajaran agama?
tidakkah penting bagi kita untuk menjalin silaturrahim melalui pola - pola budaya jamuan seperti itu?
apa yang anda lihat sebagai fenomena pembelanjaan lebih di akhir ramadhan - sesuai dengan konteks kebebasan berfikir dan berekspresi - tidak lain adalah salah satu cara dan usaha masyarakat kita memberi arti silaturrahim di hari raya, bentuk ekspresi yang patut kita hargai sebagai usaha untuk merekatkan jalinan silaturrahim dalam kemasan yang indah dan jamuan yang lezat.
selain itu, “ghirah” berbelanja dan menyebarkan dana tersebut, jangan dilihat dari satu sisi saja, coba anda lihat betapa rezeki para pedagang yang tertolong dengan adanya momentum ekonomi seperti ini.
dalam artian, one act leads to another action, dana yang tersalur dalam momen lebaran seperti ini dapat menjadi power bagi muslim lainnya yang menikmati saat - saat seperti ini.
jadi barangkali kita jangan terlalu apriori dengan perilaku belanja umat kita pada saat lebaran, they deserve to enjoy what they’ve earned all this time…
selama hal tersebut tidak berujung ke hal yang bersifat mubazir, saya fikir tidak menjadi masalah, barangkali yang perlu anda cermati adalah, bagaimana pemerintah dapat berupaya agar kegiatan ini dapat diarahkan demi kemaslahatan ummat.
Wallahu A’lam bis Shawaab. Terima Kasih.
Fikri F. Rumi
——-
Komentar Masuk (4)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)