Editorial,
22/08/2004

Buruan Cium Gue dan Soal Moral

Oleh Novriantoni

Namun masih tersisa beberapa pertanyaan mendasar. Umpamanya: tidakkah di balik “misi mulia” itu tersirat pengandaian bahwa masyarakat mengidap sindrom ketidakdewasaan yang abadi, sehingga selalu memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk?

22/08/2004 23:11 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Sebenarnya tulisan “Buruan Cium Gue dan Soal Moral” cukup menggugah dalam artian memberikan pandangan dari sudut lain tentang film BCG yang ramai2 di Gugat oleh MUI dan Aa Gym, yaitu bahwa gugatan itu berasal dari anggapan bahwa masyarakat belum memiliki kedewasaan dalam bersikap. Namun setelah membaca lengkap tulisan tersebut saya malah heran dan lucu. Saya pikir tulisan itu harusnya ditunjukan kepada penulisnya sendiri yang tidak berusaha meng-up date informasi apa yang dilakukan oleh penggugat (Aa Gym) setelah beliau menyatakan keberatannya. Saya pikir apa yang dilakukan oleh Aa Gym atau Masyarakat Daarut Tauhid malah menunjukan kedewasaan dalam bersikap beliau menyatakan dengan terbuka dan melalui cara-cara dialog dengan para produser, artis film dan stake Holder lainnya.  Dan setelahnya beliau mensosialisasikan pendapatnya kepada masyarakat melalui gerakan membangun bangsa Gema Nusa. Bukannya gerakan tersebut sangat demokratis dan humanis. Saya pikir, mungkin penulis juga setuju, sebaiknya dalam menulis didasarkan pada seluruh fakta yang muncul tidak memotret satu sisi dari banyak sisi yang dimunculkan atau mengungkapkan ciri gajah hanya dengan meneliti kakinya. Semoga bermanfaat.

#1. Dikirim oleh Masrifa  pada  23/08   01:09 AM

Mungkin yang dimaksudkan penulis ada benarnya, akan tetapi penyeru kepada kebenaran yang didalamnya tentu ada moral adalah merupakan perintah yang ada dalam Al forqan. Apa yang dilakukan Beliau-Beliau dalam mengkritisi Film “BCG” adalah sebagian dari tugas agama. Pun demikian mengkritisi Penggusuran, Nepotisme, Kolusi, Deskriminasi, serta korupsi juga merupakan tugas semua manusia. Mungkin lebih baik kita melakukan apa yang bisa kita lakukan sesuai perintah agama berdasar kemampuan kita. Apabila saling mendukung mungkin gerakan itu akan menjadi lebih baik, dan akan mengisi kelemahan dari gerakan itu. Mungkin Beliau-Beliau masih satu tahap dalam melangkah, itulah peluang kita untuk bergerak ditempat yang lain yang belum tersentuh. Dengan demikian gerakan itu akan meliputi setiap lini ketidakbenaran.

#2. Dikirim oleh Sugeng Y  pada  23/08   04:08 AM

Film BCG saya kira pantas menerima kritikan, dari berbagai komentar yang saya baca di berbagai media, dapat disimpulkan film ini memang kurang bermutu. Saya barangkali sangat mendukung protes AAgm, MUI, serta para agamawan itu, dari pada memprotes aksi-aksi korupsi, penggusuran dan diskriminasi yang tengah menggerogoti urat nadi negri ini.

Permasalahannya begini. Korupsi dan semacamnya itu adalah permasalahan sosial dan politik yang njelimet sekali. Saya kira telah banyak usaha dan protes yang telah dilakukan oleh element masyarakat dan para agamawan sendiri. Ujung-ujungnya ‘ngendap’ di pengadilan. Barangkali, aksi koar-koar kita terhadap tragedi kemanusiaan, korupsi dan semacamnya akan sia-sia selama pengadilan dan para elit kita belum berani menegakkan hukum yang sebenar-benarnya. Apa gunanya perjuangan agamawan kalo kita tidak lagi mempunyai sosok hakim seperti Baharuddin Lopa. Apa gunanya rakyat teriak-teriak tentang korupsi kalo para elitnya seperti orang tuli, lihatlah Deklarasi Koalisi Kebangsaan, itu menandakan apa?

Saya kira membicarakan tentang urgensi para agamawan dalam membela HAM dan semacamnya tidak segampang yang penulis bayangkan. Saya kok lebih respek dengan para ikhwan dan akhawat (barangkali kita menyebutnya kelompok usroh) di tanah air yang berkeliling berdakwah kemana-mana untuk menghembuskan nafas pencerahan spiritual kepada para pemuda-pemudi bangsa, di kampus-kampus di desa-desa terpencil, serta para kiyahi-kiyahi yang ada di pondok-pondok pesantren berjuang berkeringat bersama rakyat, yang barangkali namanya tidak pernah termaktub di koran-koran, merekalah menurut saya yang pantas di katakan sebagai pejuang kemanusiaan yang sejati.

Dan protes para agamawan terhadap BCG saya kira memang pantas dilakukan untuk saat ini, karena disamping aktual ia lebih gampang untuk dicerna oleh kita semua dari pada masalah-masalah kemanusiaan dan korupsi itu tadi. 

Saya sebenarnya juga sangat setuju dengan mas Novri jika permasalahan kemanusiaan dan korupsi ini harus mendapat porsi yang lebih. Tapi itu butuh kecerdasan ekstra dalam bergulat dengan raksasa kekuasaan yang mengerikan itu. Apakah teman-teman Islib bisa melakukannya, dan bukan hanya sekedar berwacana?

#3. Dikirim oleh rani  pada  24/08   10:08 AM

Salam Takdzim

Bang Novri,

Tentang film BCG, saya cenderung tidak mempemasalahkan.Artinya,secara moral tidak membuat kaum muda untuk mengikutnya. Siapa sih yang berhak mengklaim bahwa film itu akan menjeruskan kaum muda pada dekadensi moral,apakah A’a Gyim atau MUI?.Apa sih kritria baik n buruk apa landasannya moral , atukah kepentingan?

Apakah bang novri. pernah dengar lagunya Iwan Fals , Manusia Setengah Dewa. Soal moral adalah soal privat individu.Kalaupun Film BCG itu membuat kaum muda merasa diracuni, ataupun MUI atau A’a Gyim punya tanggung jawab moral terhadap kaum muda,seharusnya bukan demikian sikapnya?.

Bagaimana bangsa ini mau maju , klo soal seni n kreatifitas dipasung atas nama moral bahkan agama ?. Seharusnya yang menanggani pemerintah bukan MUI dan A’a Gym.

Satu keinginan saya, JIL atau Mas Ulil , bang Novri , sebagai sebuah institusi gerakan ilmiah terhadap kaum muda, beranikah membuat pernyataan tertulis di media atau dimanapun terhadap film BCG hubungannya terhadap moral kaum muda Indonesia?

Dan menyikapi pernyataan MUI dan A’a Gym , seperti yang dilakukan terhadap peristiwa BOM Bali , bahkan iklan Islam warna warni SCTV yang anti terhadap Islam Politik ?

terima ksih

Met ketemu di UIN Jakarta ,

Dino

#4. Dikirim oleh Munfaidzin Imamah  pada  25/08   01:09 AM

Sebaiknya kita memahami bahwa sudah menjadi tugas bagi ulama (MUI) dan da’i seperti Aa Gym untuk mengingatkan kita semua, termasuk kalangan dunia film, bahwa norma agama harus ditegakkan bukan demi kepentingan norma itu sendiri, tapi justru demi kepentingan masyarakat.  Itu kalau kita masih sepakat bahwa akhlaq masyarakat itu perlu diatur melalui agama.

Adalah sah-sah saja ada pemikiran bahwa dengan tindakan MUI dan Aa Gym maka seolah-olah masyarakat itu tidak mampu menyaring dirinya sendiri untuk menjadi dewasa dan mampu memilih dan memilah mana yang yang cocok untuk dirinya. Kalau bicara masyarakat, maka MVP juga bagian dari masyarakat, dan produknya seperti BCG itu juga produk masyarakat, khususnya masyarakat film.

Pertanyaannya adalah apakah masyarakat film kita juga sudah dapat dikatakan dewasa?  Apakah mereka sudah mampu menghasilkan produk yang berkualitas tinggi?  Sudah mampukah mereka mengerti bahwa sinema itu merupakan bagian dari seni dan budaya yang dapat mewarnai citra dan jati diri bangsa?  Atau sudah sanggupkan mereka memperbaiki cara fikir mereka yang ingin menguras habis isi dunia sinema ini demi kepentingan industri dan kapitalisme semata?

Lahirnya BCG dan produk sampah sejenis itu sudah membuktikan bahwa insan film kita itu belum sanggup bahkan hanya untuk mendewasakan dirinya sendiri.  Demokrasi didunia perfilman itu bukan hanya dicirikan dengan bebasnya ber-ekspresi untuk melahirkan produk sinema apa saja, tapi juga dituntut menghasilkan produk bermutu baik.

Kalau kita tidak mau berbicara moral,  setidaknya apa yang MUI dan Aa Gym lakukan dapatlah dipandang sebagai peringatan bahwa uang kita itu sebenarnya tidak cocok digunakan untuk menonton produk sinema yang buruk seperti itu.  Mubadzir.

Tetapi, MUI dan Aa Gym dengan Darut Tauhid-nya, sebagai entitas ulama dan da’i, memang sudah tugasnya mereka mengingatkan masyarakat.  Kalau bukan MUI dan Aa Gym maka pastinya kita akan salah alamat kalau mengharapkan entitas semacam MVP atau Adnan Buyung Nasution Law Firm sebagai garda paling depan didalam menjaga ahlaq bangsa kita ini.

Wass, Asif Iskandar

#5. Dikirim oleh Asif Iskandar  pada  25/08   10:08 AM

Bisa dibayangkan jika pertandingan tinju tanpa wasit pasti nyawa melayang !!

Nah begitu juga dengan kehidupan ini pasti ada batas2 atau norma2 yang diperlukan. Sering kita dengar kata kata yang klasik bahwa jangan memasung kreatifitas. Sangat yakinlah kita bahwa kreatifitas harus terus dikembangkan secara positif dan bukan yang negatif seperti menganjurkan perzinahan dalam hal ini (berciuman tanpa nikah adalah zina).

Dan yang terakhir saya ingin mengatakan bahwa tanpa BCG pun Indonesia tetap survive.

#6. Dikirim oleh Harry  pada  26/08   04:09 AM

Bahwa BCG dapat dinilai buruk sebagai karya sinematofrafi dan buruk juga dalam produk budaya; sudah banyak komentarnya.

Yang perlu dicermati adalah paragraf terakhir artikel itu: mengapa kepedulian dan reaksi kalangan agamawan terhadap kategori soal pornografi dan pornoaksi selalu lebih gesit dan lantang dibandingkan reaksi atas isu-isu moral kemanusiaan seperti penggusuran, diskriminasi, manipulasi, korupsi, dan lain sebagainya?

Novriantoni menggugat: apakah isu moral itu hanya urusan pornografi dan pornoaksi? Sementara isu kemiskinan, penggusuran, korupsi, manipulasi, dsb, bukan merupakan isu moral sehingga para pemuka agamawan tidak perlu tampil ke depan untuk membela kepentingan publik?

#7. Dikirim oleh Hardi Darjoto  pada  26/08   09:09 AM

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Film BCG yang saat ini menjadi buah bibir masyarakat Indonesia memang menarik untuk didiskusikan, tidak lebih. Begitu saya melihat iklan film, (sebelum protes-protes mencuat) saya sudah yakin bahwa film ini sangat tidak bermutu tanpa perlu melihat lagi. Karena lihat saja temanya, masakan di jaman Indonesia sedang butuh pencerahan demi kehidupan lebih baik malah tentang ciuman. Banyak tema lain yang bisa diangkat orang-orang perfilman yang saya yakin dapat memberi pencerahan pada masyarakat, kalau boleh saya kasih contoh kebobokran pemerintah (mungkin sedikit ekstrim ya..). Kalau saja tema ini diangkat menjadi film dan dikemas dengan baik, didukung advertising yang dahsyat saya sangat yakin masyarakat akan tertarik dan ikut menonton. Syukur-syukur akan makin meningkatkan gerakan moral (baru ini yang rakyat jelata bisa) menentang kezaliman yang dilakukan pemerintah kalau itu ada (saya yakin ada). Sejak tadi saya tidak menyinggung aspek moral dan agama dari film ini karena saya langsung yakin, bahwa menonton film kampungan macam ini haram.

Lucunya, ada salah satu aktor film ini dan juga penulis tanggapan artikel ini menyatakan bahwa negara kita tidak akan maju jika kratifitas dilarang, ya ciuman dalam film ini. Saya sangat kasihan pada orang-orang ini, rendah sekali standar kalian dalam melihat kemajuan kratifitas berpikir dan karya. Banyak contoh hasil karya film bermutu yang tidak melibatkan ciuman “asmara”. Contohnya, film all president’s men. Ini adalah salah satu film terbaik dan merupakan hasil kebebasan berpikir yang bermutu, dan tanpa ada ciuman kan (setahu saya). Ada pula dalih dari kru film ini dalam membela apa yang mereka sebut hasil karya dan kerja keras. Mereka mengatakan “Film-nya nggak cuma tentang ciuman ada juga pendidikannya. Makanya tonton dulu dong”. Begitu saya mendengar komentar ini, saya langsung berucap “Wah, saya bukan orang bodoh yang mau-maunya nonton film kayak gitu dan ikut memperkaya mereka, meski cuma Rp. 12,000.00”.

Mungkin teman-teman menyimak pernyataan Raam Punjabi, “Saya ini korban ketidakjelasan pihak-pihak yang tidak memberikan aturan jelas. Film seperti apa yang diinginkan”. Saya tertawa mendengar ini. Masak kawakan film seperti dia mesti diajari film seperti apa yang baik untuk masyarakat, bukan yang baik untuk “kantung uang” punya dia. Saya sangat yakin bahwa film BCG ini dibuat hanya untuk meraup untung sebesar-besarnya dari trend remaja Indonesia sekarang yang sangat-sangat permisif (meski itu jelas haram) dan menurut pendapat saya ini menunjukkan masyarakat kita yang sudah sakit, tapi tidak mengaku sakit dan malah marah jika ada yang berusaha mengobatinya. Alhamdulillah, Aa Gym dan saudara-saudara di MUI berhasil mendesak penarikan film menyedihkan ini.

Yang sangat disayangkan jika gerakan para ulama tersebut terhenti hanya sampai di sini. Kalau sampai terjadi mereka bukanlagi ulama, cuma orang-orang yang mengaku ulama.

Semoga bermanfaat.

Wasslamu’alaikum Wr. Wb.

#8. Dikirim oleh Hengki Kristian Audita  pada  26/08   01:09 PM

Betul seperti apa kata Bung Novri. Sebaiknya kita meyakini bahwa masyarakat kita memiliki sifat naluriah untuk membimbing dirinya sendiri menuju suatu kedewasaan emosional, intelektual, sosial, dan al-al lainnya. Pengaruh-pegaruh luar yang mungkin alamiah, maupun artificial (yang diciptakan oleh segolongan orang untuk kepentingannya sendiri) tidak memegang peranan penting dalam membentuk arah perkembangan masyarakat selanjutnya.

Ambillah contoh tayangan mistis yang begitu bertubi-tubinya ditayangkan oleh seluruh stasiun TV swasta. Tayangan-tayangan tersebut merupakan fenomena yang unik karena biasanya suatu acara hanya akan ditiru oleh pihak lain bila memang terbukti acara tersebut berhasil menarik minat pemirsanya. Inilah anehnya, karena kalau kita berasumsi bahwa masyarakat kita telah cukup ‘dewasa’ untuk memilih hal-hal ‘bermutu’  bagi kepentingan dirinya - misanya sudah bisa memilah mana ‘wine’ yang berkelas dan mana yang anggur biasa, mana ‘sigar’ yang pantas untuk orang-orang terdidik seperti dirinya dan mana cerutu murahan - maka sulit dimengerti mengapa acara yang dishot secara buram, monoton, tanpa struktur tertentu, dan dilatarbelakangi oleh narasi dengan intonasi suara seperti orang berbicara sambil merejan di WC bisa diapresiasi sebagai bagian dari kedewasaan. Ataukah di sini telah ada manipulasi dari pihak penyelenggara rating atau dan pihak TV?

Tetapi kita tidak usah gusar dengan itu semua. Walaupun pada kenyataannya di masayarakat kita memang masih ada saja yang percaya akan tahyul, pesugihan, ilmu kebal dan sebagainya, tapi mereka itu jumlahnya sangatlah sedikit. Manifestasi yang dapat diamati hanyalah insiden-insiden kecil seperti pembantaian dengan isu dukun santet beberapa tahun yang lalu, kasus kanibalisme untuk mendapatkan kesaktian, lalu ada isu kolor ijo yang sempat meneror ibu-ibu dan gadis-gadis perawan. Bila ada yang mensinyalir bahwa tayangan mistik tersebut justru akan lebih mempertebal kepercayaan yang keliru akan hal-hal gaib yang tidak logis, kita patut mencurigai bahwa mereka itu memiliki agenda untuk kepentingan sendiri atau hanya sekedar mencari popularitas saja.

Kedewasaan ini lebih terlihat lagi kemajuannya dalam hal kehidupan seksual. Kalau sebelumnya masyarakat kita menganggap seseorang itu dewasa secara seksual pada usia 17-20 tahun, maka sekarang ini remaja-remaja kita yan masih duduk dibangku SMTP (usia 12-16 tahun) sudah banyak yang memiliki kematangan seksual dan sudah biasa memanfaatkan kedewasaannya itu. Beberapa pihak dari generasi terdahulu memang masih merasa keberatan akan percepatan kedewasaan ini. Mereka ini seharusnya merasa malu terhadap diri sendiri karena tidak bisa melihat realitas yang terjadi disekitar mereka. Mereka ini tidak lebih dari sekedar sekelompok dinosaurus yang akan menerima nasib sama seperti para dinosaurus.

Saya ucapkan selamat bagi ISLAMLIB dan Bung Novri secara khusus akan kejeliannya dan kepekaanya dalam memilih topik ulasan yang benar-benar memerlukan pembedahan secara ilmiah yang sudah menjadi tradisi dan ideologi Islamlib.

Sekali, lagi bravo!

Wassalam

#9. Dikirim oleh Agung  pada  26/08   02:08 PM

Film ini mengekspos kenyataan hidup anak muda Indonesia jaman sekarang. Kalau ada yg gak bener itu wajar kita ini bukan bangsa malaikat sekalipun kita rajin ibadah. Saya melihat bangsa Indonesia ini sering merasa dirinya adalah Tuhan sehangga berani melakukan tindakan yg menghakimi dan menggunakan agama dan nama ALLAH sebagai pembenaran misalnya polygamy. Saya heran kenapa kalau masalah pornografi dan free sex orang Indonesia beraninya nomor 1 untuk ngeributin masalah ini seolah2x udah seperti mau perang tetapi kenapa kalau masalah sosial yg lebih sensitif seperti KKN, terorisme, penindasan, penggusuran, dll pada menanggapinya dengan biasa saja. Apakah masalah moral menurut pandangan budaya Indonesia itu hanya sebatas Free sex dan pornografi saja sementara orang korupsi didiamkan saja dan mereka tanpa merasa berdosa enak2xkan pergi jalan2x dgn mobil mewahnya. Memang bangsa Indonesia ini bangsa yg gak jelas. Termasuk juga saya

#10. Dikirim oleh Aswin  pada  27/08   05:09 AM

Saya pikir pencabutan bcg hanya pengalihan perhatian masyarakat saja terhadap pemilu 2004. menurut saya, masalah pornografi/aksi seperti ingus yang takkan habis untuk disedot. Karena masing-masing orang punya “tafsir” sendiri mengenai hal itu. jadi, tidak usah dicabut filmnya percuma! Biarkan saja seperti inul yang terus ngebor nanti lama-kelamaan bintangnya redup. Jangan sok atas nama moral dan dalil agama lantas melarangnya. Basi! Jadi pahlawan kesiangan, sebelumnya kemana aja? terhadap tayangan-tayangan tv,iklan,dll yang jenisnya mirip BCG.

#11. Dikirim oleh tri sulistyo  pada  30/08   11:08 AM

Produser Multivision Plus (MVP) Raam Punjabi, menurut saya, adalah aktor intelektual dari kerusakan moral anak muda kita. Lihat saja sinetron-sinetron untuk kalangan remaja yang ia produseri, tidak satupun yang menggusung tema edukatif. Sebaliknya setting sekolah, ia jadikan model pembangkangan terhadap nilai-nilai penghormatan kepada guru. Sinetron lainnya hanya mengangkat tema rumah tangga, persilingkuhan, perebutan harta, balas dendam, padahal kehidupan sesungguhnya tidak sesederhana Punjabi menokohkan peran protagonis dan antagonisnya. Saya tidak tahu bagaimana pertanggungjawaban moral dia nanti di hadapan Tuhan.

Kasus terbaru adalah film Buruan Cium Gue. Dengan logika terbalik, ia berusaha membahasakan urgensi film itu di masyarakat, dengan gayanya yang oligarkis. Saya sudah muak dengannya. Sebaiknya di-deportasi saja.

#12. Dikirim oleh adinda farah  pada  03/09   04:10 AM

Saya ..adalah ” pencinta film ” dalam artian hobbie nonton film . Namun khusus film dari dunia Hollywood, yang saya anggap berkwalitas. Secara tegas saya ingin katakan , Saya tidak suka Sinetron dan film buatan anak negeri, yang sampai sekarang saya anggap tidak ada satupun yang berkwalitas dan gak jauh beda ama Film buatan Bollywood ( baca : kacangan ). Lalu muncul fenomena ini .. “buruan cium gue ” ..ada apa ini? saya coba cari tau film tersebut, dengan bantuan seorang teman saya dapatkan film itu dalam versi copy ( terpaksa, karena versi original susah di peroleh lagi ). dan sekali lagi ..( gak heran sih ) ceritanya jelek,gak menarik, pemainnya adalah aktor aktor kacangan yang sama sekali gak bisa akting dan cuma jual tampang! ” FILM ITU JELEK ! ” Lalu kenapa heboh? Ow..rupanya itu !!.haha… maaf… kalo soal adegan ciuman, vulgar , mungkin sebaiknya semua film hollywood juga di larang aja tayang di sinema negeri ini !.. sebelom anak negeri semakin rusak dengan budaya barat ( buat yang gak punya filter sih). namun untuk film BCG ini, saya sangat setuju aja..kalo di “grebek” dan di tarik dari peredaran ...udah ceritanya jelek abis, akting nya jelek abis.. malah cuma andalkan adegan adegan gitu sebagai nilai jual! Suatu hari saya akan coba bikin film bagus berkwalitas dengan judul “Jangan Terburu Cium Gue (Tunggu Penghulu Setuju)” ..haahaha..Amien!

#13. Dikirim oleh DEDDIE EMINEM  pada  06/09   10:10 AM

Saya sepakat dengan yang diungkapkan saudara Novriantoni. Tetapi saya juga bersyukur bahwa di balik kontrol yang berlebihan dari para tokoh agama tersebut, ada semacam shock terapi bagi Raam Punjabi.

Saya belum menonton BCG. Tetapi yang selama ini sangat saya prihatinkan justru sinetron-sinetron yang diproduseri Raam Punjabi. Semakin hari sinetron yang diproduksi semakin penuh dengan adegan kekerasan. Setiap relasi yang dibangun antar tokoh selalu tak lepas dari relasi penuh kekerasan. Adegan jambak-menjambak rambut, memukul tangan anak kecil, menendang, memukul sekujur tubuh hingga membunuh dan memperkosa adalah adegan yang tampil hampir (mungkin di semua) sinetron yang diproduserinya.  Perempuan juga selalu ditampilkan sebagai sosok yang begitu kejam, berperangai buruk bahkan terhadap sesama perempuan sekali pun.

Padahal, sinetron-sinetron ini adalah konsumsi utama para penonton televisi Indonesia, sadar atau tidak sadar, nilai yang dibawa sinetron ini kemudian masuk ke pikiran kebanyakan penonton, terutama jiwa-jiwa muda yang masih mencoba membangun kepribadian, bisa dengan mudah mencari contoh watak dalam sinetron tersebut. Tetapi, harapan tokoh yang ideal pun sulit dicari, karena tokoh yang ditampilkan dalam sinetron semacam itu selalu saja tokoh yang ‘hitam-putih’. hitam berarti jahat, penuh kekuasaan, menindas, merendahkan, dsb. putih berarti lemah, tak berdaya, tak mampu melawan, pasrah pada apapun yang terjadi, pada penindasan yang ditimpakan padanya. Tak bisa ditemukan tokoh yang punya integritas pribadi yang kokoh, mandiri, mampu menentukan kemauan sendiri, mampu bersikap, mampu berpikir cerdas, berani melawan ketidakadilan yang ditimpakan kepadanya. lalu mau dikemanakan generasi kita ini kalo konsumsinya hanya sinetron semacam itu.

Harus ada kajian dan kritik yang berkelanjutan terhadap materi sinetron semacam itu, dan tidak berhenti sampai disitu saja, yang lebih penting lagi adalah justru mengalirkan tema-tema dan wacana-wacana yang lebih mendidik, semacam pembelajaran moral (saya bukan sedang dan tak pernah berniat menjadi hakim moral) yang membangun karakter manusia yang lebih manusiawi.

#14. Dikirim oleh nuning  pada  14/09   01:09 AM

segala sesuatu yang berhubungan dengan karya seni selalu dikaitkan dengan kritikan, caci maki dan tentunya ada pemberangusan apabila karya tersebut telah melecehkan bahkan merusak martabat seseorang. Tetapi itu semua dapat ditepis dengan adanya penjelasan ke berbagai media masa bahwa film seperti ini belum selayaknya dipertontonkan untuk anak yang belum matang bahkan untuk orang yang belum berkeluarga sekalipun,  karena hal ini menyangkut kesiapan mental spiritual dari si anak untuk bisa menangkap pesan moral yang terkandung di dalamnya. Yang menjadi titik penekanan pada kasus seperti ini tentunya lembaga film yang mengeluarkan ijin sehingga film seperti ini dapat beredar luas di bioskop-bioskop indonesia. Tentunya dengan penjagaan alur peredaran film di Indonesia dibuat lebih ketat dan melibatkan berbagai macam pihak sehingga tidak terjadi sesuatu yang basi. Dikritik setelah beredar. Perlu menjadi perhatian, bagi para penikmat seni semakin dikritik maka semakin banyak dicari orang. Nah siapa yang akan disalahkan?. Utamanya adalah anggota keluarga kita, jangan sampai kita membiarkan sesuatu terjadi pada mereka tanpa adanya penjelasan lebih lanjut. Kita tidak untuk mengijinkannya, tetapi pengertian yang diberikan kepada mereka sedini mungkin akan mengembangkan nalar masing-masing untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk dengan menjelaskan resiko masing-masing. Film masih sekedar film, tetapi apabila film dikategorikan sebagai penggugah rasa itu benar, karena di dalamnya ada sebuah peran yang menonjolkan karakter emosional. Film juga dapat menggugah khayalan seseorang untuk berbuat diluar norma-norma kemanusiaan, karena itu perlu diperbaiki pula perangkat-perangkat hukum yang lebih bisa mengontrol peredaran film-film yang sarat akan nilai asusila.

#15. Dikirim oleh koko suhendro  pada  14/09   06:10 AM

Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang tahu aturan dan tidak melanggar aturan. Masyarakat Indonesia yang dewasa adalah masyarakat yang tahu bahwa salah satu unsur dari dasar negara Indonesia adalah Ketuhanan Yang Maha Esa sehingga tahu aturan Tuhan dan tidak melanggar aturan Tuhan. Jadi kalau masih banyak yang suka membuat dan menonton film porno, melanggar lalulintas, melanggar HAM, melakukan KKN, manipulasi, teror, maka hal itu menunjukkan bahwa masyarakat kita belum dewasa sehingga jelas masih banyak memerlukan pihak-pihak yang mewakili mereka untuk menerangkan soal baik-buruk. Tidak perlu berkecil hati untuk mengakui kenyataan itu.

Apakah saya sebagai anggota masyarakat termasuk sudah dewasa atau masih kanak-kanak? Jawabannya mudah. Kalau saya memberikan dukungan saat ada orang yang lebih dewasa menerangkan soal baik-buruk kepada orang yang belum dewasa, maka saya termasuk dewasa. Tetapi kalau saya protes dan mempertanyakan keabsahan orang yang lebih dewasa menerangkan soal baik-buruk kepada orang yang belum dewasa, maka pasti saya termasuk belum dewasa.

Kalau kita mau kehidupan keagamaan dan mengikuti banyak ceramah dan aktifitas kalangan agamawan secara rutin pasti kita tahu bahwa kalangan agamawan tidak hanya peduli dan bereaksi terhadap soal pornografi dan pornoaksi saja melainkan juga atas isu-isu moral kemanusiaan lainnya seperti penggusuran, diskriminasi, manipulasi, korupsi, dan lain sebagainya. Kalau ada kesan bahwa kalangan agamawan lebih gesit dan lantang terhadap soal pornografi dan pornoaksi saja dibandingkan reaksi atas isu-isu moral kemanusiaan lainnya, maka itu hanya persepsi orang per orang saja. Dalam isu-isu lainnya mungkin kalah gaungnya dibanding dengan reaksi kalangan LSM, Komnas HAM, ICW, polisi, kejaksaan dan lain-lain. Sedang dalam isu pornografi dan pornoaksi belum banyak LSM yang bergerak sehingga yang tampak bereaksi hanya kalangan agamawan saja.

#16. Dikirim oleh Hari Danarbroto  pada  15/09   01:09 AM

Saya pikir ada masalah yg lebih mendalam dari sekedar apakah “ciuman” itu dilarang atau tidak, yang menjadi permasalahan kristis disini sebenarnya adalah “siapakah yang berhak menentukan standar Moralitas masyarakat” apalagi di suatu negara yang Pluralis seperti di Indonesia dewasa ini…

#17. Dikirim oleh Adiwidya Imam Rahayu  pada  15/09   01:09 AM

kata Nietzche, Tuhan itu hanya dugaan. tidak ada Baik dan buruk. yang ada hanya baik dan buruk. tidak ada Kebenaran, yang ada hanya kebenaran. dunia ini kacau, chaos. dunia ini hanya kehendak untuk kuasa. ah, moral itu hasil ciptaan seorang ‘pencipta’ satndar baik dan buruk.

#18. Dikirim oleh basuki rahmat  pada  31/10   08:11 AM

Jangan sekali-kali berkhianat thdp amanah yang teleh dibebeankan kpdmu wahai manusia. Sesungguhnya kamu sangat lemah dan tak berdaya. Ilmu Allah melebihi di atas segalanya dan Dialah yang maha berilmu. Kalau berucap, pikirkan akibat yang akan kamu terima di dunia dan di akhirat
——-

#19. Dikirim oleh Imam almarghoni  pada  29/03   08:03 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?