Mohammed Arkoun Cara Membaca Al-Qur’an
Oleh Cecep Ramli Bihar Anwar
Mohammded Arkoun lahir pada 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, kabilia, Aljazair. Kabilia merupakan daerah pegunungan berpenduduk Berber, terletak di sebelah timur Aljir. Berber adalah penduduk yang tersebar di Afrika bagian utara. Bahasa yang dipakai adalah bahasa non-Arab (‘ajamiyah).
Komentar
JIL tidak teliti. Ini bukan tentang Arkoun, tapi tentang Esack. Artikel ini juga hampir mirip dengan artikel Burhan yang sama, tentang Esack…tidak ada yang aneh. Hampir semuanya hasil reproduksi dari tulisan pertamanya tentang Esack.
Redaksi:
Mohon maaf atas keteledoran kami. Kesalahan bukan pada diri penulis, Burhanuddin. Kesalahan ini merupakan tanggung jawab webmaster kami. Kebetulan baru saja ada desain baru situs JIL yang membutuhkan kecepatan dan ketepatan memindahkan dari desain lama ke baru. Ada yang slip di sini. Artikel “Cara Membaca Al-Qur’an” merupakan karya Cecep Ramli yang “tertindih” artikel Burhanuddin tentang Farid Esack. Terima kasih atas koreksinya.
——-
Cara membaca Al Quran tidak ada duanya kecuali wajib menunggu-nunggu dan tidak melupakan datangnya Allah menggenapi menurunkan Hari Takwil Kebenaran Kitab sesuai Al A’raaf (7) ayat 52,53, dan akan terjadi apabila Allah melalui seseorang menjadikan Al Quran (sebagai wujud isi kitab suci sesuai Al Waaqi’ah (56) ayat 77,78,79, dan Al Baqarah (2) ayat 2) dalam bahasa asing ‘Indonesia’ selain bahasa Arab
dan ditolak oleh orang arab sesuai Al Fushshilat (41) ayat 44 dan Al Quran akan disempurnakan pewahyuannya oleh Allah melalui seseorang ‘Indonesia’, berkat do’a ilmu pengetahuan agama oleh manusia era globalisasi.
Wasalam, Soegana Gandakoesoema, Pembaharu Persepsi Tunggal Agama millennium ke-3 masehi.
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)