Kolom,
11/07/2003

Kritik atas Paham Keagamaan Muhammadiyah Dakwah Kultural vs Imperialisme Islam Murni

Oleh Zakiyuddin Baidhawy

Upaya Muhammadiyah untuk mempersatukan persepsi dalam rangka menciptakan Islam yang sejuk dan bernuansa kultural di negeri ini sangat positif. Upaya semacam ini membuat kelompok abangan menjadi tidak memiliki hambatan mental untuk belajar Islam. Singkatnya, dakwah kultural Muhammadiyah mengakui secara tulus pentingnya menghargai multikulturalisme, keunikan, dan kekhasan setiap lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada dalam kategori abangan.

11/07/2003 02:51 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (14)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Lumayan. Tapi menurut saya, Muhammadiyah sudah berada dalam jalur yang benar dalam komitmen keislamannya. Kita warga Muhammadiyah tidak perlu malu karena “kalah” dari NU dalam hal pemikiran aneh-aneh dalam hal agama, tapi percayalah orang Muhammadiyah “rajanya” ilmu sains, Islam-praktek tanpa banyak omong, dokter, insinyur, doktor dan profesor dalam berbagai disiplin ilmu.

Dibanding NU jago menganehkan agama sehingga kelihatan hebat omong doang. Saya berani jamin seliberal-liberal saudara Ulil Abshar Abdalla, kalau disuruh cium pantatnya Abdurahman Wahid pasiti mau deh.

                              ARIYANTO

                        SARJANA MATEMATIKA MURNI FMIPA UGM.

Redaksi:

Saudara Ariyanto, dengan mengumbar kata-kata tak pantas, Anda baru saja melakukan tindakan yang merendahkan derajat kesarjanaan Anda. Pada gilirannya nanti, sikap Anda tersebut tak akan pernah membuat Muhammadiyah yang Anda cintai menjadi besar. Cobalah bersikap ksatria. Zakiyuddin Baedhowi yang tulisannya Anda baca itu adalah aktivis Muhammadiyah di tingkat akar rumput yang tidak malu mengoreksi kelemahan organisasinya, tanpa cari-cari kesalahan pada orang lain. JIL juga jangan diasosiasikan sebagai kelompok tertentu, karena praktis dari sekian banyak aktivis dan simpatisan berasal dari beragam latar belakang dan bersifat lintas sosial. Terima kasih.

#1. Dikirim oleh ARIYANTO  pada  14/07   05:08 AM

Keberadaan TBC (bid’ah dsb) merupakan sesuatu yang ada dalam nash dan tentunya juga merupakan sesuatu yang akan ada di dalam kehidupan, dan karena itulah TBC dinash-kan

Oleh sebab itu sebuah hal wajar saja jika Muhammadiyah ingin menghilangkannya. Dalam hal ini kekeliruannya adalah caranya dan mungkin juga oknumnya sehingga hal itu adalah sesuatu yang perlu dicatat oleh Muhammdiyah juga.

Sehingga yang perlu dilakukan adalah dialog dengan kepala dingin dan tidak emosional. Untuk berkepala dingin ini memang sulit, bahkan sdr Ulil dalam tulisannya yang ‘kontroversial’-pun masih terkesan emosional.

BTW utk redaksi rasanya sulit untuk tidak meng-asosiasikan- JIL sebagai sebuah kelompok tertentu, bukankah JIL memiliki visi, misi, program, pendukung, pemikiran yang khas, sumber dana dsb ? Bahkan dengan mengambil nama ‘JIL’ secara otomatis penggagasnya telah melahirkan sudah kelompok tertentu ?

Meskipun mungkin nggak ada ketuanya jelas JIL adalah sebuah komunitas tertentu.

Meskipun kontributornya berasal dari dari berbagai organisasi yang lain tetapi bukankah para kontributor tersebut kompak terhadap beberapa gagasan tertentu ( misalnya penolakan terhadap ‘Formalisasi Syariah Islam’)

Lalu, mengapa JIL malu-malu mengaku bahwa dirinya adalah kelompok?

Redaksi:

Kami tak malu-malu mengumandangkan diri sebagai barisan solid untuk mengampanyekan ide-ide Islam yang suportif terhadap demokrasi dan HAM. Yang kami persoalkan adalah identifikasi JIL hanya kepada kelompok atau tokoh tertentu saja. Siapapun juga, baik NU, Muhammadiyah, Persis, Perti, dan lain-lain yang memiliki afinitas visi dan misi, akan kami ajak dalam diskursus besar ini. Terima kasih.

#2. Dikirim oleh Tindyo Prasetyo  pada  16/07   03:07 AM

Apa yang dilakukan Muhammadiyah, adalah untuk menegakkan Al-Quran dan Sunnah sesuai pemahaman salaf. Maka kalau Muhammadiyah memberantas TBC adalah sudah tepat dan akan terus dilakukan. Tuduhan imperialisme kepada pemurnian pemahaman, penghayatan dan pengamalan Islam adalah tuduhan keji yang tidak layak diucapkan oleh seorang Muslim.

Sebaiknya saudaya Zakiyuddin segera bertaubat. Pikiran anda telah dikendalikan oleh konspirasi kaum kuffar (tidak sekadar kafirin), yang dikemas dengan donor dana yang besar dan menggiurkan.  Semoga Allah memberi hidayah kepada anda, begitu juga kepada saudara kami, Ulil Abshar Abdalla—hafidzahullah—dari ketergelinciran lebih jauh. UMS mestinya dibersihkan dari orang-orang seperti itu.

#3. Dikirim oleh PISP IMM Yogyakarta  pada  19/07   01:08 AM

Pertanyaan saya buat anda yang mengklaim orang liberal. Menurut kayakinan anda kalau tidak salah semua yang namanya nilai, ideologi, paham, keyakinan, dan lain-lain harus diberi ruang untuk bebas berekspresi dan berkembang. bahkan demi namanya kebebasan “goyang telanjang bulat , ngebor, ngecor.” Menurut anda sebuah potensi seni yang sangat dahsyat untuk perkembangan suatu seni-budaya dan peradaban. Anda juga menfatwakan bahwa semua agama adalah jalan kebenaran yang nantinya juga menuju tujuan akhir yang sama.

Pertanyaan saya beranikan saudara Ulil, Abdurahman 1, dan anda yang mengaku “warga JI” kalau sudah wafat nanti mewasiatkan pada anggota keluarganya agar jasadnya dibakar, digoreng. Kan sesuai dengan agama dan kepercayaan bersama, menurutkan keyakinan anda? Kalau berani saya baru yakin anda benar-benar “tulus”  dan “kaffah” dalam memperjuangkan Islam JI versi anda, dan kalau tidak saya curiga anda hanya mencari sesuap nasi dari sponsor Barat (Yahudi)  untuk mengucurkan dananya pada lembaga anda.

Redaksi:

Maaf ada satu paragraf yang kami potong karena sama sekali tidak menunjukkan etika masyarakat akademis sama sekali, bahkan menghina insan akademis di manapun. Paragraf tersebut menunjukkan superioritas almamter yang picik dan tak perlu.

Sekali lagi, bagi pengakses situs ini, mari kita rayakan perbedaan dengan nikmat dan santun. Janganlah kebencianmu kepada satu kaum, membuat dirimu berlaku tak adil kepada kaum tersebut, demikian hikmah yang bisa kita petik dari Al-Quran. Terima kasih

#4. Dikirim oleh ARIYANTO  pada  21/07   10:08 AM

Nampaknya dalam banyak isu, yang paling hangat diperdebatkan ialah isu Dakwah Kultur vs Imperialisme Islam Murni.

Disini saya tidak akan buat tanggapan terhadap komentar saudara Zaki. Tetapi izinkan saya membuat sedikit teguran yang ikhlas, yaitu dalam perdebatan atau perbincangan hendaknya kita mengawal emosi kita jangan sampai kita mengeluarkan kata-kata kasar dan cerca-mencerca di antara satu sama lain.

Tugas kita hanyalah menyampaikan dan yang memberi hidayah ialah Allah Swt.

Dan lagi, Nabi Muhammad Saw telah mengatakan perselisihan umatku adalah satu rahmat dan ia akan berpecah kepada 73 golongan selepasku.

Agama yang senantiasa mengalami perdebatan dan perbincangan akan senantiasa hidup dan dinamik dan agama yang tidak ada perdebatan dan perbincangan ia akan menjadi pasif serta lesu.

  Yang penting kita berdebat dengan hujah dan fakta. Kebenaran akan berpihak kepada yang haq. Wallahu alam biswasab.

Wassalam Sa’at b Mohamed Singapore.

#5. Dikirim oleh Sa'at bin Mohamed  pada  25/07   10:07 AM

Semoga apa yang telah dilakukan oleh Zakiyudin Baidlowi dapat mengajak semua orang untuk berfikir jernih. Amien.

#6. Dikirim oleh dani  pada  26/07   03:07 PM

Kalau Muhammadiyah ingin berakrab-akrab dengan kultur lokal, maka Muhammadiyah perlu melakukan koreksi terhadap image yang dibangunnya selama ini sebagai sebuah gerakan Islam puritan. Jargon anti TBC (takhayul, bid’ah dan khurafat) perlu didefinisikan ulang.

Ada 3 hal yang terdapat dalam kultur lokal bila dikaitkan dengan nilai keislaman: bertentangan dengan nilai Islam secara diametral dan tak mungkin didamaikan; secara lahiriah bertentangan dengan nilai Islam namun masih berpeluang untuk didamaikan dengan nilai-nilai Islam; dan bersifat netral. Dari 3 hal ini Muhammadiyah punya peluang untuk 2 hal yang terakhir. Namun yang mesti dibangun oleh Muhammadiyah adalah sikap tidak apriori atau sinis terhadap kultur-kultur lokal.

#7. Dikirim oleh nuh  pada  29/07   11:07 AM

Muhammadiyah harus berani melakukan koreksi terhadap pandangan lama. Bila Muhammadiyah mulai mencoba berakrab-akrab dengan budaya lokal, maka Muhammadiyah harus memiliki pandangan bahwa budaya lokal memiliki 3 aspek : ada yang netral, yang membuka peluang untuk diwarnai dengan nilai-nilai Islam; ada yang kelihatannya bertentangan dengan Islam namun masih ada peluang untuk didekatkan dengan nilai-nilai Islam; dan ada yang nyata bertentangan dengan Islam dan tak mungkin nilai Islam bisa hidup bersama dengan nilai tersebut, sebagai misal tradisi yang mengarah pada paganisme.

Dari 3 aspek tersebut, aspek pertama dan kedua memberi peluang pada Muhammadiyah untuk berkiprah dalam kegiatan dakwah kultural. persoalannya image yang dibangun Muhammadiyah adalah sebagai gerakan purifikasi, anti takhayul, bid’ah dan khurafat. Di sini barangkali Muhammadiyah perlu melakukan redefinisi apa itu takhayul, bid’ah dan khurafat dalam konteks keindonesiaan dan kekinian. Dan saya yakin ini akan menjadi beban psikologis yang teramat berat bagi Muhammadiyah. Tetapi redefinisi atau koreksi itu merupakan conditio sine quanon bagi lancarnya dakwah kultural Muhammadiyah.

#8. Dikirim oleh muhammad nuh  pada  29/07   11:08 AM

Assalamu’alaikum wr. wb.

Sedikit kritik buat sdr Ariyanto. Maaf, jangan pakai ruang ini buat ngelawak. Apa yang anda katakan sungguh-sungguh jauh membuktikan anda sebagai insan akademis yang bisa menjaga etika berdiskusi. Apalagi anda dengan bangganya melabelkan diri anda sebagai sarjana PT terkemuka yang ada di Yogjakarta.

Saya rasa banyak adik anda yang akan kecewa melihat tulisan anda yang sama sekali tidak ilmiah dan terkesan seperti tulisan orang yang sedang frustasi.

Maaf. sesama muslim kita harus saling mengingatkan. Jika kita sama-sama bersyahadat jangan kita saling meremehkan karena bisa jadi kaum yang kita ejek lebih baik dari kita.

Sekali lagi mohon maaf.

Wassalamu’alaikum wr. wb. semoga Allah Swt merahmati kita semua

#9. Dikirim oleh tulus jatmiko  pada  31/07   01:07 AM

Seharusnya yang mengaku intelek NU atau generasi pembebas NU sebelum mengkritik"paham keagamaan” orang lain kritik dulu diri sendiri deh. Pertanyaan saya bagaimana dengan manipulasi keagamaan yang dilakukan oleh para kyai NU (konon sakti mandra guna) di desa-desa, menipu orang kecil yang melarat nan polos dengan jampi-jampi, doa-doa apa aja deh.

Yang impilikasinya pak kyai sendiri kaya-raya, punya istri sampai beberapa ekor. Dan itu fakta yang tidak bisa disembuyikan. maka menurut saya generasi NU yang merasa sudah pintar urus saja rumah tangga sendiri dulu deh baru urus “kesalahan-kesalahan” keagamaan orang lain. Dan sekali lagi pendapat pribadi saya selama paham “ke-NU-an” masih menyelimut bumi indonesia ini jangan mimpi indonesia bisa jadi negara yang sejajar dengan negara maju lainnya.

Dan jangan mimpi pula manusia Indonesia ke bulan, dapat hadiah Nobel di bidang Sains, bukan Nobel di bidang humanisme and pluralisme lho, kalau itu orang NU biangnya (he…he…he ).

#10. Dikirim oleh Ariyanto  pada  07/08   11:09 AM

Sepertinya saudara Zakiyudin Baidlowi perlu mengkaji persoalan metode dakwah kultural yang tengah dikembangkan oleh PP Muhammadiyah. sebenarnya gerakan dakwah seperti ini merupakan tuntutan umum dari kalangan awam untuk lebih merubah paradigma puritanisme yang selama ini telah memberangus keberadaan budaya lokal. selama ini dakwah muhammadiyah terkesan garang, sedikit-sedikit mengatakan haram, apalagi dengan adanya trilogi kemungkaran; takhayul, bid’ah dan khurafat. pemahaman keislaman yang diusung oleh Muhammadiyah selama ini mempersempit ruang gerak dan kreatifitas umat dalam menyelami ajaran Islam sekaligus bersentuhan langsung dengan kebudayaan pribumi. dakwah kultural itu hanya sebatas metode untuk menyampaikan ajaran Islam murni, namun dengan memperhatikan kebudayaan lokal sebagai pirantinya. dalam hal ini banyak persoalan yang belum tergarap seperti tentang perubahan paradigma ushul fiqh yang berbunyi lil wasaili hukmul maqasid. paradigma ini masih sangat saklek (letterlijk) untuk dipahami oleh warga muhammadiyah. apalagi paradigma turunan dari ushul fiqh tersebut seperti konsep sadd al-darai’ dari Imam Malik bin Anas.  sementara itu, persiapan-persiapan dakwah kultural yang kontinyu juga masih perlu pembenahan lebih lanjut. dalam praksisnya, proses dakwah kultural membutuhkan dai’-dai’ pilihan yang menguasai disiplin ilmu sosiologi, antropologi, psikologi dan ajaran-ajaran Islam secara murni. dalam dakwah model yang satu ini, kita tetap berpegang pada prinsip puritan, namun mengaplikasikannya tidak dengan serta merta menjustifikasi beberapa bentuk tradisi pribumi yang dinilai berseberangan dengan ajaran Islam. kita perlu mengenalkan Islam secara murni, namun dengan proses bertahap dengan menggunakan piranti kebudayaan lokal. ibarat kita mengambil sehelai rambut dalam tepung, inilah konsep metode dakwah kultural itu. kita mendapatkan kemurnian islam di antara kebudayaan pribumi yang mungkin berseberangan dengan ajaran Islam murni. namun saya tetap menghargai pendapat saudara Zakiyudin Baidlowi yang mencoba membedah konsep dakwah kultural ini secara argumentatif. saya malah menghargai ini sebagai bentuk sikap seorang intelektualis murni. hanya saja saya kurang sepakat dengan subtansi gagasan saudara ini.
——-

#11. Dikirim oleh mu'arif  pada  13/11   06:11 AM

buat kang zaky, priben je ! Luruskan niat jihad antum fiesabilillah dan setiap langkah, sikap, dan tutur kata berupaya untuk menggapai Ridha-Nya. Islamkanlah ilmumu dan kesarjanaanmu. Semoga Allah senantiasa memberikan Taufik dan Hidayah-Nya. (shohibmu)

#12. Dikirim oleh abu raihan  pada  18/02   06:46 AM

It is useless to give comments to this matter. The other problems like poverty, morality need to be considered deeply by us. Dont waste ur time to argue about this boring matter, ok?

#13. Dikirim oleh Hanif handana  pada  22/06   10:54 AM

saya heran masih ada yang membahasa sesuatu yang itu sudah basi. masalah - masalah keagamaan. Orang akademisi bahasannya seperti preman, seharusnya memiliki jiwa yang santun, beretika, sopan. perbedaan adalah rahmat itu saja. saya kira kita umat Islam jika saling menghargai saya kira tidak akan ada namanya pertengkaran.dakwah untuk ke Islaman semuanya memiliki startegi masing dan itu kita hargai. Jangan mengolok2 orang lain atau oraganisasi lain. belum tentu anda yang terbaik. mungkin orang lain atau oraganisasi lain lebih baik. udahlah jangan menjelekkan NU. biarkan NU berdakwa melalui metode NU. Muhammadiyah silakan dengan metodenya.
Didik HP-Wong NU

#14. Dikirim oleh Didik Hadi Purnomo  pada  23/10   07:35 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?