Kolom,
14/11/2011

Dari Demokrasi Menuju “Dimuqratiyya”

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Di sini, proses berikutnya menjadi sangat penting: yaitu pribumisasi atas konstitusi – proses di mana nilai-nilai yang dijamin dalam konstitusi mempunyai daya gugah bagi masyarakat karena diterjemahkan melalui nomenklatur budaya yang akrab bagi mereka. Dalam kasus Islam, misalnya, jaminan atas nilai-nilai kebebasan, termasuk misalnya kebebasan beragama, akan mempunyai makna yang mendalam bagi umat manakala nilai itu mendapatkan justifkasi dari ajaran Islam sendiri, sehingga, dengan demikian, nilai itu bukanlah nilai yang asing lagi, tetapi nilai yang sudah mempribumi dalam kerangka simbolik yang mereka pahami – nilai yang legitimate.

14/11/2011 14:17 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (10)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Wahai Ulil, manusia yang telah memilih Islam sebagai pegangan hidup, lebih kurang sama halnya dengan seorang suami yang telah memilih wanita sebagai pasangan hidup [isteri].

Islam punya peraturan, suami pun punya peraturan. Saya yakin bahwa Ulil tidak akan redo jika isteri ulil bersikap liberal [bebas mencerca Ulil, merubah kesepakatan dengan Ulil, bebas berganti pasangan selain Ulil.

Nah! begitu pula dengan Islam dan penganutnya, kebebasan itu pasti ada hadnya; Seorang warga negara bebas berbuat apa saja, kecuali merompak, mencuri, mengganggu isteri orang dan sebagianya. ini menunjukkan bahwa kebebasan itu ada hadd-nya.

Bayangkan saja jika dalam sebuah negara ada sekolompok orang yang menubuhkan sebuah organisasi Perampok atas dasar kebebasan yang Ulil perjuangkan itu?

#1. Dikirim oleh joko  pada  22/11   03:56 PM

Ulasan panjang seputar demokrasi, seperti catatan di atas, semakin mengedepankan satu permasalahan yang seyogyanya dijadikan arahan dalam catatan-catatan seperti ini. Adakah demokrasi menjadi satu tujuan akhir dari kehidupan berbangsa dan bernegara, ataukah ia sekedar media? Menurut Anda sendiri bagaimana, mas Ulil?

#2. Dikirim oleh zulfan  pada  23/11   07:25 PM

Assalamu’alaikum wrwb

Ulama2 Islam kita Indonesia sudah banyak yang tertipu oleh ulama2 dengan ajaran2 Islam yang Violent dan barbar,dari klompok2 Fundamentalis.

Seperti saksikan sekarang,semua negara2 Arab terjadi penindasan2 dan pembunuhan2 sesama sauadara dan sebangsa.

 

#3. Dikirim oleh alatif  pada  25/11   03:20 AM

rekan2 yang berseberangan dg jil banyak yg terlalu berlebihan dlm menginterpretasikan kebebasan yg diusung jil . sepanjang sy lihat kebebasan yg diusung jil masih dalam batas kebebasan bersantun dan beradab. artinya bebas berpendapat/berpaham tanpa mencaci, mengejek pendapat/paham orang lain. bebas memilih agama tertentu tanpa mengolok-olok agama lain. bebas bertindak tanpa menyakiti, merusak orang lain termasuk suami/istri dst…dst…saya yakin kebebasan yang merusak tatanan susila masyarakat seperti free sex dan sejenisnya, jil tak kan pernah setuju.

#4. Dikirim oleh muhnan rais  pada  25/11   05:41 AM

Assalamu’alaikum wrwb

Sesungguhnya Syariat Islam atau peraturan2 ALLAH adalah satu satunya peraturan yg tertinggi di bumi ini.

Namun peraturan2 ALLAH tersebut dikatakan oleh ALLAH sendiri QS 10:90, kamu merdeka dan tidak ada paksaan utk melaksankan nya..

Jadi menegakkan syariat Islam yang murni dan benar adalah apa yg diperjuangakan oleh kelompok2 pembaharu yaitu Islam Progressive: Liberty and justice for all and equality.

Sedangkan syariat Islam yg di applikasikan oleh negera2 Saudi,Iran dan sudan adalah syariat Islam yang dipaksakan dgn undang2,Dari sinilah titik kesalahan syariat Islam a la Islam Fundamentalis Saudi.

#5. Dikirim oleh alatif  pada  26/11   08:14 PM

Asumsi yang utama dari pendirian demokrasi adalah optimisme humanistik, yaitu optimisme yang memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada manusia, karena manusia pada dasarnya baik dan rasional. Ini asumsi yang sangat penting.
Tetapi dalam kacamata teori kritis, ternyata manusia bukanlah subjek sublim yang sepenuhnya rasional, ada alam bawah sadar/libido/hasrat yang begitu besar yang bisa menjadi pembajak utama rasio dalam pengambilan keputusan secara bijak. Oleh karena itu manusia bukanlah subjek yang sublim, tetapi subjek yang rentan, terutama oleh injeksi kekuasaan.
Dalam kacamata ideologi politik liberal, konstitusi adalah kesapakatan rasional yang berusaha mengatur kebaikan masyarakat secara rasional, tetapi bagi teori kritis, konstitusi adalah pendulum kekuasaan.

#6. Dikirim oleh asratillah  pada  27/11   10:43 AM

demokratisasi adalah fondasi pembangunan karakter suatu bangsa, tidak ada peradaban yang dibangun atas tirani otoritarianisme. mestinya semangat demokrasi menjadi inspirasi kita semua untuk menuju bangsa metropolis dan beradab.

#7. Dikirim oleh Mujahid Ahmad  pada  02/12   09:04 AM

Islam liberal adalah islam yg sangat SESAT & MENYESATKAN mereka menafsirkan alquran/islam semau fikiran mereka sendiri dg dalih KEBEBASAN/LIBERAL.

#8. Dikirim oleh Edi  pada  03/12   09:49 AM

Kalau Partai Islam menang,runtuhlah demokrasi kita,tidak ada pemilu.Pada hakikatnya demokrasi sama dengan otoriter.

#9. Dikirim oleh Adib Rofiudin  pada  10/12   08:35 PM

contoh Demokrasi yang benar adalah seperti di jaman kekhalifahan, dimana khalifah di pilih oleh orang2 yang berkompeten/berilmu, dan dalam menjalankan pemerintahannya diawasi oleh Dewan juga yang berisi orang2 yang berkompeten semua…

jadi bukan seperti demokrasi ala barat, yang berdasarkan asal voting dari orang2 yang belum tentu berkompeten!

#10. Dikirim oleh Frontline Defender  pada  29/12   02:43 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?