Reportase,
08/09/2010

Dari Teras Masjid hingga Tiang Salib: Tentang Perjalanan Spiritual al-Hallaj

Oleh Malja Abrar

Imam Jalaluddin as-Suyuthi, salah satu pembela Ibn ‘Arabi yang gigih, mengatakan: “ma kana kabirun fi ‘ashrin illa kana lahu ‘aduwwun min al-safalah (tiap orang besar dalam sejarahnya selalu punya musuh orang-orang bodoh). Kita tahu, al-Hallaj disalahpahami dan karena itu dimusuhi oleh dua otoritas bodoh sekaligus: aliansi tak suci agama dan politik.

08/09/2010 08:08 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (12)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Ana Alhaq berarti aku kebenaran mutlak YaituAllah SWT, karena dalam tata bahasa arab partikel “al” bermakna khusus,jadi ana alhaq bermakna aku adalah Allah SWT

#1. Dikirim oleh Abdurrahman isa bastomi  pada  08/09   02:09 PM

ya.l’histoare se repete. dulu ada syekh st.jenar,kira2 sekarang siapa di indonesia?

#2. Dikirim oleh bhre wirosobho  pada  09/09   11:43 AM

mereka adalah sesuatu yang telah melampui dimensi keilahian….
lantas kita…...
sejak kecil sampai dewasa dan menjadi sarjana   ( kelompok JIL) apakah telah melalui ruang dan waktu ketuhanan ?

#3. Dikirim oleh kahar  pada  14/09   07:21 AM

al halaj dan paham wihdatul wujud,dan masanya.yaitu suatu faham yang mengatakan penyatuaan antara hamba dengan tuhan.mungkin sebagian orang mengatakan ia adalah salah.namun bagi saya itu adalah keliru,karena apa yang di kemukakan itu adalah benar,hanya saja dalam konteks tasawuf.dan bukan dalam konteks syarii.

#4. Dikirim oleh abu bakar  pada  14/09   08:21 AM

Uraian yang bagus tentang suatu cerita sufi dan ujung-ujungnya dipanuti oleh banyak orang termasuk barangkali oleh para pembicara pada diskusi ini.  Namun sayang, ada aroma takhayyul dan khurafat saat Al-Hallaj memulai karir sufinya.  Rasanya janggal bagi JIL yang selalu mengedepankan nalar sebagai panglima, dalam kisah ini JIL terjebak pula dalam mitos, sayang ...

#5. Dikirim oleh Banda  pada  14/09   09:38 AM

“aNA AL HAQ”......SAPERE AUDE…....“CO GITO ERGO SUM”......LETS THE MAN AS ANIMAL REASONS…....JALIKA PAUDZUL ADJIM

#6. Dikirim oleh RUMI  pada  15/09   06:46 PM

jangan hiraukan mereka…ana al haq

#7. Dikirim oleh rinan ar rumi  pada  15/09   07:26 PM

Siapapun, tak terbatas ruang waktu, seperti apapun pemahamannya tentang Tuhan. Yang jelas Tuhan masih memberi mereka kesempatan hidup. Bukan tugas saya untuk menilai pemahaman seseorang, Tuhan yang lebih tahu mana hambaNya yang lebih dekat denganNya mana yang tidak…. Semoga kita selalu dalam kasihNya. Ameen….

#8. Dikirim oleh Fachri Aljupri  pada  18/09   10:43 AM

Ilmu Ma’rifat (hakikat)
yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah Subhanahu waTa’ala kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan “ilmu laduni” di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala MENYALAHI ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf al-Qur’an maupun kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.

Seluruh ulama Ahlussunnah termasuk Syekh Abdul Qodir al-Jailani mengatakan, “Setiap hakikat yang tidak disaksikan (disahkan) oleh syari’at adalah zindiq (sesat).”

Tiada kebenaran kecuali apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Wahai manusia belajarlah, sesungguhnya ilmu itu hanya dengan belajar dan fiqh (faham agama) itu hanya dengan bertafaqquh (belajar ilmu agama/ilmu fiqh). Dan barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka ia akan difaqihkan (difahamkan) dalam agama ini.” (HR. Ibnu Abi Ashim, Thabrani, al-Bazzar dan Abu Nu’aim, hadits hasan). (Abu Hamzah As-Sanuwi).

#9. Dikirim oleh tendy  pada  22/09   06:59 AM

Assalamualaikum
Dapatkah saya melakukan silogisme dalam kondisi yang dialami al Hallaj maupun manusia lain pada saat ini.
Al Hallaj dapat pengalaman bathiniah setelah memahami bagaimana nabi melakukan perjalanan spiritualnya. Itupun pernah dialami juga oleh para ulama tertentu pada saat ini. Pastilah yang sempurna itu yang dialami oleh nabi, kalau para ulama hanya sebatas ketemu nabi saja.
Yang menjadi permasalahannya adalah nabi belajar dan memahami dari mana, ooh pastilah beliau bergaul dan berdiskusi dengan para rabi maupun dengan monotheis lainnya yang ada pada saat itu. Dan hasilnya pengalaman spiritualnya adalah apa yang telah disampaikan nabi merupakan pengulangan/koreksian al Kitab sebelumnya. Intinya samalah tidak berubah, yang berubah adalah riwayat katanyakatanya yang ditulis 100 - 200 tahun kemudian. Di forum ini, banyak cendikiawan muslim yang cerdas, tentunya akan ada diskusi lebih menarik, mengenai peninggalan arkeologi yang penting di mesjid sana’a. Saya bukan ahli, tapi ingin mencari kebenaran laahhh
Wassalam
H. Bebey

#10. Dikirim oleh H. Bebey  pada  26/09   01:20 AM

Pengalaman spiritual Al Hallaj adalah pengalaman khusus, keinginannya telah ditempatkan kepada tempatnya, bukan kepada benda-benda duniawi, berbeda dengan penganggumnya yang hanya lebih banyak membaca,menganggumi dan meriwatkan riwayat-riwayat ulama-ulama besar. Disinilah perbedaannya, bahwa Al Hallaj tidak butuh buku bacaan untuk perjalanan spiritualnya, tidak butuh benda-benda, bahkan lapar adalah temannya, belum terkontaminasi dengan kebendaan duniawi, bersih tauhidnya, bahkan menjauh dari benda-benda yang hancur lebur binasa. Sedangkankita telah tercemar dengan sifat kebendaan duniawi, maka Kata Isa Al masih : Pantaskah seseorang yang ingin menujuh alkhairat melulu melalui jalan duniawi?”. Seringkali kita tak tahu diri dari rasa ingin dan kenyataan. Disinilah bentrok antara ingin dan kenyataan. Berbeda dengan Al Hallaj, fokusnya hanya satu tujuan, sedangkan kita cari makan aja susah, belum biaya anak sekolah, kontrakan dan lain-lain. Jika hal-hal ini tercemar dalam mencari Tuhan maka dapat dikatakan bahwa kita tidak fokus, tidak bersungguh-sungguh, tak tahu diri, berat meniggalkan segala keduniawiaan. Ujung ujungnya kita stress, kemudian terhantui dengan apa yg kita cintai pada perkataan dan perbuatan. Orang yg tidak sependapat dengan kita di lawan dengan segala cara. Padahal orang yg kita kagumi tidak mengajarkan begitu. Bagaimana mungkin kalian ingin mengenal Tuhan sedangkan diri kalian tidak kalian kenal. Ini adalah pertanyaan sekaligus jawaban.Maka jika kalian tau bahwa kalian tidak sanggup mengalami apa yg seperti orang yg kalian cintai, maka mulailah dari diri kalian, bersihkan fikiran hati dan perasaan, bersihkan kata-kata kalian, perbuatan dan tindakan kalian sekaligus bersihkan sifat-sifat keduniawian, kebendaan yg hanya membawa kepada kehancuran dan kebinasaan. Ini masih lebih baik dari posisi melawan, memaksakan pendapat, berdebat, menghujat dll yg kesemuanya itu tidak dicontohkan oleh orang yg kalian kagumi. Mulailah dari yg putih, terserah tergambar apa dalam perjalanan spiritual nanti, maka itulah anda. Dan janganlah lupa bahwa Sesungguhnya orang-orang besar adalah pilihan Tuhan. Jangan sedih kita bukan mereka yg kita kagumi, karena itu adalah ulah kita sendiri.

#11. Dikirim oleh Matt  pada  09/10   04:13 PM

sebenarnya, setiap manusia itu telah bersatu dengan ALLAH. ALLAh dalam tubuh manusia itu berada di atas Lokus Temporal otak yaitu tempat dimana Titik Spiritual manusia berada. disitulah ALLAh bersemayam,

#12. Dikirim oleh Kang Onoe  pada  21/02   06:46 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?