Lakhdar Brahimi: Demokrasi Penting, Supremasi Hukum Lebih Penting
Oleh Redaksi
Lakhdar Brahimi (72) adalah diplomat kelas dunia asal Aljazair. Jabatan terakhirnya adalah penasehat Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Ia mengabdikan diri di PBB sejak 1994 hingga 2005. Brahimi juga pernah menjadi perwakilan khusus PBB di Afganistan (20001-2004). Karena berhasil di Afganistan, ia ditugaskan ke Irak, namun segera hengkang karena banyak berseberangan dengan kebijakan Amerika Serikat di sana. Berikut petikan wawancara Novriantoni dan M Guntur Romli dari Jaringan Islam Liberal (JIL), Jum’at lalu (7/4).
Komentar
Pada akhirnya, Islam sebagai suatu perangkat lengkap yang didalamnya menyajikan norma pedoman kehidupan manusia, pasti (qothi) menyinggung pula makna demokrasi dan hukum. Demokrasi tentu ditafsirkan dari ayat-ayat yang memerintahkan adanya ‘musyawarah’, pencarian titik temu (kalimatun sawa) dan prinsip Islam rahmatan lil alamin. Sementara hukum jelas pada ayat-ayat yang menegaskan prinsip-prinsip syariah seperti larangan berzina, membunuh tanpa sebab yang dihalalkan, berzina dan sebagainya.
Problemnya, manusia yang diberi kewenangan menelisik lebih jauh hal-hal teknis dari hukum dan demokrasi tadi, sering terjebak untuk meminggirkan prinsip dasarnya. Islam memang menghargai rasionalitas tapi tidak untuk membantah pewahyuan. Disinilah letak pertengkaran antara fuqaha dan pembaharu Islam yang beraliran melawan pewahyuan.
Tak heran, jika Al Quran maupun Hadits selalu mengingatkan bahwa manusia dalam menjalankan rasionalitasnya (banyak ayat yang menggunakan kata ‘bagi kaum yang berpikir’ menunjukan rasionalitas dihargai) mesti memohon pula agar diberikan hidayah atau cahaya jalan yang lurus. Agar tafsir tak sesat bahkan merusak tatanan prinsip. Tinggal berbalik pada nurani kita, bagaimana menjalani hidup secara kaffah Islami atau berdamai dengan syahwat meski mesti melawan wahyu?
menurut saya akal tidak untuk dipertentangkan dengan wahyu. sepeninggal Rasullullah SAW tidak ada jalan lain bagi umat Islam untuk memahami wahyu kecuali dengan akal terkecuali orang2 yang taklid buta.sekarang tinggal kembali kepada nurani kita; menjadikan Islam rahmatan lil alamin dengan akal dan demokrasi atau fanatis formalistik terhadap Islam dan menjadikannya la’natan lil alamin
——-
Komentar Masuk (2)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)