Suara Mahasiswa,
25/05/2011

Dialog Empatik antar Umat Beragama

Oleh Usep Hasan Sadikin*

“Saatnya bagi kita untuk mengucap salam yang tak hanya berarti sapaan, tetapi juga berarti pemberian doa, pengakuan dan penghormatan keyakinan serta perwujudan identitas keagamaan seseorang. Ucapkanlah assalamu’alaikum (damai sejahtera menyertaimu) kepada muslim. Ucapkanlah shalom (damai sejahtera) kepada kristiani. Ucapkanlah namo Buddhaya (terpujilah Buddha) atau namaste (salam kehormatan bagimu) kepada pemeluk Buddha. Ucapkanlah om swastiastu (semoga kita dalam lindungan-Nya) kepada yang beragama Hindu. Begitu pula kepada pemeluk agama lain.”

25/05/2011 15:27 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (16)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Kalau orang kafir memberikan salam kepada orang muslim jawabnya:wa`alaikum.

#1. Dikirim oleh Adib Rofiudin  pada  29/05   11:23 AM

*kafir adalah mereka yang kerap menutupi kebenaran dariNya dan muslim adalah mereka yang berserah diri kepadaNya* Salam adalah ekspresi kultural sesama sebagai wujud dari sebuah keakraban. Adalah lucu bila disebuah negara salam diucapkan bukan dengan bahasa yang mereka mengerti bersama tetapi diucapkan sebagai expresi personal sambil tunjukkan diri dari golongan mana mereka berasal* Cuplikan Kingdom of Heaven memang menyejukkan bagi dunia hari ini, saat perbedaan kerap jadi alasan tindak diskriminatif. Dialog diatas adalah lelucon segar saat perbedaan bisa damaikan jumpa antar budaya. Atas nama Tuhan sekalipun!

#2. Dikirim oleh Iwan CH  pada  02/06   12:57 PM

wah.bisa gaswat tu.
bikin2 aturan sendiri.ya sudahlah.semoga Alloh memberi hidayah dan petunjuk pada kalian

#3. Dikirim oleh someone  pada  02/06   02:26 PM

Pandangan Gus Dur merupakan sikap yang sangat toleran dan luwes,pandangan itu menginspirasi cara memberi salam kepada khalayak yang beragam agamanya atau kepada pribadi yang berbeda agama cukup dengan memberi ucapan “selamat pagi/selamat siang/selamat sore/selamat malam”,atau bisa ditambahkan dengan salam keIndonesiaan yaitu “MERDEKA”. Sikap yang memaksakan “salam agama” kepada orang lain yang berbeda agama atau sebaliknya merupakan sikap yang hanya berbasa basi dengan harapan mendapat pujian bahwa sikap dan perilakunya paling toleran. Selanjutnya yang lebih fatal lagi bila pemeluk Nasrani demi terwujudnya toleransi rela terpaksa beribadat di Kuil-Pure-Klenteng-Masjid (atau sebaliknya pemeluk agama yang lain), perilaku ini sudah keterlaluan. Belajarlah dengan Kitab Sucimu dengan seksama dan paripurna sambil terus laksanakan apa yang terkandung didalamnya dengan baik dan tulus ikhlas. Tebarkan karya nyata yang bermanfaat langsung kepada masyarakat yang hidupnya sudah semakin susah. Jangan mendidik masyarakat ini menjadi MASYARAKAT YANG BERPURA PURA TOLERAN.

#4. Dikirim oleh Krisali  pada  02/06   05:02 PM

apa salahnya jika kita mendoakan orang (baik muslim maupun non muslim)

#5. Dikirim oleh diki  pada  03/06   10:10 PM

“ya toleran sich toleran tapi jangan kelebat batas”
aqidah, syari’at tidak boleh toleran.

#6. Dikirim oleh juara  pada  04/06   02:51 PM

MENGUCAPKAN SALAM KEPADA MUSLIM DAN KAFIR


Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin


Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Tentang hukum mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan ungkapan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda” (semoga kesejahteraan dilimpahkan kepada yang mengikuti petunjuk)? Dan bagaiamana mengucapkan salam kepada penghuni suatu tempat yang terdiri dari muslim dan kafir?

Jawaban
Tidak boleh mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan ungkapan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda”, karena ungkapan ini dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika berkirim surat kepada orang-orang non muslim. Karena saudara anda seorang muslim, maka ucapkan “Assalamu’alaikum”. Jika anda mengucapkan, “Assalamu ‘ala man ittaba ‘a Al-Huda”, berarti mengkatagorikan saudara anda tidak termasuk orang-orang yang mengikuti petunjuk.

Jika orang-orang itu terdiri dari kaum muslimin dan nashrani, maka hendaknya mengucapkan kepada mereka dengan ucapan yang biasa, “Assalamu ‘alaikum” dengan tujuan kepada kaum muslimin.

[Majmu Fatawa wa Rasa’il, Syaikh Ibnu Utsaimin 3/35]

#7. Dikirim oleh Islamholics  pada  05/06   08:02 PM

Kalau memang ingin kebebasan, termasuk membuat aturan-aturan sendiri tentang Islam, mendingan gak usah beragama aja jadi lebih bebas, kalo mampu makan tuh dunia

#8. Dikirim oleh fajar rudhiyanto  pada  09/06   05:12 PM

ajakan simpatikpun akan selalu menuai kontroversi, jika melihatnya tetap dengan kacamata kuda

#9. Dikirim oleh fred  pada  13/06   06:00 PM

Agama datang untuk membebaskan kita dan memotivasi kita untuk berbuat baik. Kalau substansi agama hanya membuat otak menjadi terkotak dan bukan untuk kebaikan dan harmoni alam semesta (termasuk pemeluk agama lain) maka “otak” kita harus diperiksa. Berijtihatlah yang bebas untuk kebaikan. Gunakan hati dan jangan menggunakan otak melulu. Pada waktu sholat atau berdoa, jangan minta rizki rupiah melulu. Mengucap syukurlah untuk keberadaan seluruh agama yang ada. Bernazarlah untuk kebaikan jangan bernazar menjadi seperti Nazaruddin…..

#10. Dikirim oleh Gultom  pada  15/06   01:39 PM

Islam adalah agama keselamatan, dan ekspresi verbalnya adalah salam.  salam yang diucapkan secara normatif dalam penutup shalat adalah salam atau sapaan bagi manusia dan alam sekitar setelah sapaan kita dengan Tuhan (Attahiyatulliaahi salawatu wattayyibat) sapaan dengan nabi (assalamu alaika ayyuhammabiyyu….) dan sapaan bagi orang2 saleh (assalamu alaina waalaa ibadillaahi salihiiiiin). fungsi ibadah adalah sebagai simbol dia menunjuk dan mengingatkan pada suatu yang lain yaitu substansi agama islam sebagai agama keselamatan bagi semua tanpa memandang bulu status, agama bahkan bagi denda mati. makanya salam sebagai ekspresi baginya harus ditujukan bagi semuanya pula.

#11. Dikirim oleh asratillah  pada  18/06   07:53 PM

orang-orang JIL tidak konsekuen seharusnya mereka Minggu ke Gereja, Senin ke Vihara, Selasa ke Kuil, Rabu ke Sinagog, dstr sehingga dalam 1 minggu ritual diberbagai tempat ibadah .......................  and apa ya nama Agamanya…..............  mungkin nama agamanya Agama Campur…............ and Jaringan Agama Campur (JAC)

#12. Dikirim oleh dedi setiawan  pada  19/06   05:50 PM

semoga Allaah memberi petunjuk kepada kalian untuk kembali kepada Al Quran dan Hadits.

#13. Dikirim oleh ROY  pada  15/07   09:32 PM

apa salahnya jika kita mendoakan orang (baik muslim maupun non muslim)
#5. Dikirim oleh diki pada 03/06   10:10 PM

Allah sudah ajarkan bagaimana menjawab salam sesama muslim dan dari kafirin. jika mahu tahu juga apa salahnya?, maka tanya Allah dan Rasulnya, jangan syok pandai “apa salahnya?”.

#14. Dikirim oleh joko  pada  09/08   02:48 PM

emang dasar dunia udah udah mau kiamat kali nih,...ajaran nabi Muhammad SAW,pengen diganti dengan yang sesuai keinginan isi perut buncit yang pengen menggantinya…saya mah berdoa mudah2an yang salah mendapat hidayah apa azab ya…amiinn

#15. Dikirim oleh masbrow  pada  12/08   07:08 PM

kalo saja ajaran agama ini bisa di logika semua maka dalam bersuci mengusap sepatu tentulah yang di usap bawahnya bukan bagian atasnya….
apa yg diajarkan Rasul akutilah, dan apa yang dilarang jauhilah sekuat kalian

#16. Dikirim oleh hakim  pada  15/12   05:34 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?