22/04/2009

Dialog Imajiner Kartini dan Ibnu Rusyd

Oleh Novriantoni Kahar

Kartini mengeluh betapa ia tak dapat memahami Alquran karena pada masanya, kitab suci itu dianggap terlalu suci untuk diterjemah ke bahasa Jawa. Selain itu, dalam sebuah dialog dengan seorang kiai, Kartini jelas mengajukan pertanyaan kritis. Misalnya tentang apa hukumnya bagi kiai yang enggan membagi ilmunya kepada perempuan yang dahaga pengetahuan seperti dirinya. 

22/04/2009 12:39 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (19)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Ada beberapa hal yang mungkin perlu Anda klarifikasi. Anda mengatakan film Le Destine terlalu berlebihan dibuat oleh shahin, tapi tetap anda pakai sebagai rujukan.
Yang kedua, ada beberapa kali menyebut negara utopia, padahal Ibnu Rusyd hidup di negaranya yang eksis? Jadi utopia apa yang Anda maksudkan?
Terima kasih atas klarifikasi Anda..

#1. Dikirim oleh Mohammad  pada  25/04   05:29 PM

Kalo gitu mending pertandingan olahraga jadiin atu aja laki ama perempuan,kalo dipisah kan diskriminatif,feminisme terkutuk!!!

#2. Dikirim oleh anton  pada  25/04   08:57 PM

jika aku bertemu perempuan seperti Kartini dalam dialog imaginer itu, maka aku akan berguru padanya.

#3. Dikirim oleh ochidov  pada  28/04   03:07 PM

Mencermati artikel sdr Kahar,saya tergugah utk berkomentar.Menurut saya peran wanita dlm Islam sebagaimana kita ketahui selama ini memang dibatasi.Kita mungkin familiar mendengar ucapan ulama/hadis,bahwa wanita diciptakan dari tulang rusuk pria,dlm pembagian hak waris bagiannya lebih kecil dari pria,makhluk yg menyebabkan Adam diusir dari Firdaus,haram hukumnya menjadi pemimpin,apalagi imam di masjid,bahkan ada yg berpendapat wanita hanya pengundang syahwat pria. Pendapat /opini ini sudah ditanamkan dlm benak kita sejak kecil,sehingga persepsi kita dlm memandang wanita sudah terbentuk seperti itu. Saya pribadi terus terang menyangsikan pendapat2 seperti itu. Seorang wanita,bagi saya mempunyai hak yang sama dengan pria,baik itu dlm beribadah,berinteraksi dg masyarakat,maupun dlm hal2 yang lain.Sangat tidak masuk akal/tidak adil kalau Allah S.W.T menurunkan peraturan yg menjadikan wanita sebagai makhluk kelas dua,Kalau kita kritis & berani mengkaji peraturan2 itu dg kepala dingin,kita akan menemukan bahwa peraturan2 tsb dibuat sebagai alat legitimasi kaum adam utk menindas kaum hawa,celakanya banyak ustad/ulama kita yg merujuk suatu hadis madzab populer tanpa didasari semangat itjihad serta tidak melihat relevansinya dg budaya lokal.Saya ambil contoh..masalah hijab/jilbab yang dari dulu menjadi polemik panjang di kalangan umat islam,banyak pendapat yg mengatakan pemakaian jilbab bagi wanita adalah suatu keniscayaan/kewajiban& hal ini dikuatkan dg mengacu ke Alquran yg menjelaskan tentang kewajiban memakai jilbab,dlm konteks ini kita harus paham bahwa di dlm Alquran/maupun kitab suci agama2 lain berisi wahyu/petunjuk yg sifatnya universal& kontekstual.Universal berarti bisa berlaku sepanjang masa,spt beramal saleh,membantu orang yg kesusahan,dll .Sedangkan yg kontekstual adalah petunjuk/wahyu yg diturunkan Allah memang untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada zaman/situasi tertentu,jadi jelas peraturan tsb hanya berlaku pada zaman itu.Jadi peraturan pemakaian jilbab pada masa itu memang kewajiban dikarenakan kondisi bangsa arab pada saat itu masih jahiliah/biadab.
Jadi.., menjadi Islam tidak harus meniru total budaya arab,Islam tidak harus berjenggot,bersorban maupun bercelana congklang..!!
Ini yang harus kita pahami sepenuhnya.Islam harus disesuaikan dg budaya lokal tanpa menghilangkan esensinya,seperti dakwah para Walisongo yg memadukan Islam dg budaya lokal,Sunan Kalijaga memahami betul masalah ini,beliau bisa membedakan mana esensi Islam,mana budaya arab sehingga beliau menciptakan baju takwa tanpa harus meniru orang arab yang bergamis panjang.
Esensi Islam adalah agama salam,agama yg menganjurkan kedamaian.Jadi pendapat yang mengatakan wanita adalah makhluk kelas dua/harus dipimpin pria harus kita buang jauh2.Saya berharap generasi mendatang banyak kartini-kartini muda yang kritis,berani mempertanyakan dogma/peraturan2 agama yang dibuat kaum adam untuk menindas mereka.

#4. Dikirim oleh Adhyatma  pada  01/05   09:13 PM

Mencermati artikel sdr Kahar,saya tergugah untuk berkomentar.Menurut saya peran wanita dalam ajaran Islam sebagaimana kita ketahui selama ini memang dibatasi.Kita mungkin familiar mendengar ucapan ulama/hadis bahwa wanita konon diciptakan dari tulang rusuk pria,makhluk yang lemah yg harus dipimpin ,haram hukumnya menjadi imam di masjid,bahkan ada yg berpendapat wanita hanya pemuas nafsu pria.Pendapat /opini ini sudah ditanamkan dlm benak kita sejak dari kecil,sehingga persepsi kita dalam memandang wanita sudah terbentuk seperti itu.
Saya pribadi terus terang menyangsikan pendapat2 seperti itu. Seorang wanita bagi saya mempunyai hak & kewajiban yang sama dengan pria,baik itu dalam beribadah,berinteraksi dg masyarakat maupun dalam hal yg lain.Sangat tidak masuk akal/tidak adil kalau Allah S.W.T menurunkan peraturan yg membatasi peran wanita.Celakanya banyak ulama/ustad kita dalam menyikapi masalah ini merujuk hadis/madzab populer tanpa dilandasi semangat itjihad,beliau2 ini mengadopsi hadis2 tsb tanpa melihat relevansinya dengan budaya lokal.Kita harus bisa membedakan mana esensi agama,mana kultur budaya suatu bangsa,Kalau kita berpikir dengan kepala dingin dalam menyikapi peraturan2 tsb,kita akan menemukan bahwa peraturan2 yg membatasi peran wanita selama ini,hanyalah alat legitimasi kaum adam untuk menindas kaum hawa.Saya ambil contoh,masalah hijab/jilbab yg dari dulu menjadi polemik panjang di kalangan umat Islam,banyak pendapat yg mengatakan pemakaian jilbab bagi wanita adalah suatu keniscayaan/kewajiban,dan hal ini dikuatkan dg merujuk ke Alquran yg memang menjelaskan tentang kewajiban memakai jilbab. Dalam konteks ini kita harus paham bahwa didalam kitab suci Alquran/maupun kitab suci agama2 lain berisi wahyu/petunjuk yg sifatnya universal & kontekstual.Universal berarti petunjuk tersebut bisa berlaku sepanjang zaman,seperti beramal saleh,membantu orang yang kesusahan..dll sedangkan yang kontekstual adalah suatu petunjuk/peraturan yg diturunkan Allah memang untuk menjawab permasalahan yang terjadi pada zaman/situasi tertentu,jelas yang kontekstual hanya berlaku pada saat itu. Jadi pemakaian jilbab pada masa itu memang suatu kewajiban dikarenakan kondisi bangsa arab saat itu masih jahiliah/biadab.Menjadi Islam tidak harus meniru total budaya arab,Islam tidak harus berjenggot,bersorban maupun bercelana congklang..!! Ini yang harus kita pahami sepenuhnya..!! Islam harus disesuaikan dg budaya lokal,seperti eksperimen para Walisongo yg memadukan Islam dg budaya lokal. Contoh,Sunan Kalijaga memahami betul masalah ini,sehingga beliau menciptakan baju takwa tanpa harus meniru orang arab yang bergamìs panjang.Jadi pendapat yang mengatakan bahwa wanita adalah makhluk kelas dua yang harus dipimpin harus kita buang jauh-jauh,Saya berharap generasi mendatang banyak Kartini-kartini yg berpikir kritis,berani mempertanyakan dogma/doktrin agama yang dibuat kaum adam untuk menindas mereka.

#5. Dikirim oleh Adhyatma  pada  03/05   06:08 PM

lelaki paling mulia dan agung adalah Muhammad saw. Terdapat suri tauladan pada diri beliau…
Perempuan paling mulia adalah Khadijah ra, Mariam ra, Aisiyah ra (istri fir’aun) dan fatimah ra. Selebihnya adalah istri2x rasul saw.
Terdapat suri tauladan pd diri mereka semua....
Al ghazali sufi,faqih dan sang filsuf bermadzhab syafi’i.
Ibnu rusyd faqih dan sang filsuf dan bermadzhab maliky..

pilih mana???

#6. Dikirim oleh maulana  pada  06/05   09:55 AM

Kartini itu manusia, kalo mengikuti pendapat Bloom manusia itu terbagi ke dalam beberapa masa sesuai dengan tingkat perkembangan psikologisnya. kartini yang kritis terhadap ajaran agama dalam hal ini al-Quran adalah wajar. coz masa muda biasanya masa-masa kritis seseorang.tapi ingat pada masa-masa akhir hayatnya sifat keibu-ibuannya mulai nampak. ia lebih dewasa, lebih bisa memahami kondisi zaman (zeitgeist). bahkan ia dengan rela hati mendampingi suaminya tercinta.

#7. Dikirim oleh dede setiawan  pada  06/05   12:28 PM

jika aku bertemu perempuan seperti Kartini dalam dialog imaginer itu, maka pasti aku ingatkan tentang siapa Penciptanya, agar tidak terjerumus mengikuti penyembah berhala itu.

#8. Dikirim oleh bejack  pada  07/05   04:20 PM

Hmmmmmmmmmmmmmmmm
saya bergumam saja, orang-orang pada sibuk membanggakan kartini ujung2ny emansispasi.menurut saya emansispasi wanita itu sudah dilakukan oleh Rasulullah. dan bila kita liahat di sebagaian besar negara yang bergama islam nggak ada perbedaan hak antara laki-perempuan. jadi emansipasi apa lagi...coy

#9. Dikirim oleh yasmar-yasri  pada  10/05   09:07 PM

Memang sulit merubah dogma yg telah berusia ratusan tahun bahkan ribuan tahun apalagi dikonfirmasikan oleh para ulama dengan pemikiran yg statis seperti dogma bahwa istri harus nurut dengan suami, saya rasa dogma itu tumbah disini karena kebanyakn orang kurang tepat menafsirkan ayat alquran yg berbunyi"hai istri2 nabi, patuhi tuhan dan patuhi nabi....”. Interpretasi saya pada ayat tersebut adalah kita harus mematuhi pesan tuhan yg disampaikan nabi lewat quran tp mungkin mayoritas menafsirkan tidak sama dengan saya, bila ayat tersebut tujuannya agar para istri patuh terhadap suami kenapa ayat tersebut tidak tertulis “ hai para istri nabi, patuhi tuhanmu dan patuhi suamimu..” Kadang2 dogma2 yg seperti ini yg menimbulkan masalah kdrt yg banyak terjadi sampai hari ini. Salam

#10. Dikirim oleh always  pada  12/05   08:38 PM

Sangat menarik, walaupun itu adalah dialog imajinatif.

Yang menarik disini sepertinya Ibn Rusyd tidak membicarakan soal emansipasi wanita. tetapi lebih mengenai pemberdayaan manusia berdasarkan potensinya.

Sedangkan selama ini emansipasi lebih ditekankan bahwa laki2 sebagai tolak ukurnya. Emansipasi dianggap saat seorang wanita dapat bekerja sekuat pria. Lha ini namanya sudah menentang kodrat.

#11. Dikirim oleh danar rudyn  pada  14/05   07:46 AM

@ danar

Danar menulis: “Sedangkan selama ini emansipasi lebih ditekankan bahwa laki2 sebagai tolak ukurnya. Emansipasi dianggap saat seorang wanita dapat bekerja sekuat pria. Lha ini namanya sudah menentang kodrat.”

Menurut saya perjuangan emansipasi berarah pada kesamaan hak dan kewajiban untuk semua manusia. Nah! Praktek hidup yang dilakukan oleh masyarakat dunia dari dulu hingga sekarang lebih banyak memarjinalisasi kaum perempuan sehingga ketika ada orang berbicara tentang emansipasi kita lalu berpikir tentang hak dan kewajiban wanita. Padahal tidak harus demikian.

Dalam kehidupan sehari-hari kita saksikan ada banyak peraturan/adat dan tradisi yang membatasi ruang gerak sosil wanita. Contohnya dapat dilihat dalam masyarakat Arab dan sebagian negara di Afrika. Kita juga dapat melihat hal ini terjadi dalam masyarakat Indonesia pada masa lampau seperti yang dialami kaum Kartini pada saat itu.Dan juga masih terjadi di dalam masyarakat dan keluarga kita di mana wanita selalu ditempatkan sebagai orang rumah. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, menjaga anak adalah pekerjaan wanita. Laki-laki kerjanya duduk tunggu makan.

Sayang.......! sudah kian lama orang berjuang untuk persamaan hak dan kewajiban di tanah air kita tetapi ada gejalah yang menunjukan bahwa dalam masyarakat Indonesia terdapat semacam gerakan untuk membatasi hak dan kewajiban sebagian manusia. Dengan mewajibkan ini dan itu.

Indonesia masa lalu dan Indonesia moderen telah mampu melahirkan pemimpin-pemimpen wanita yang kliber. Banyak mentri wanita, bahkan kita pernah mempunyai Presiden wanita. Itu bukti yang populer tetapi dalam masyarakat Indonesia diseluruh pelosok tanah air terdapat jutaan manusia wanita yang bekerja keras untuk menghidupkan keluarganya. Bahkan pekerjaan mereka merupakan sumber utama kehidupan keluarga mereka.

Perkembangan dimana hak dan kewajiban pria dan wanita semakin bergerak ke arah kesetaraan ini, jangan dihancurkan oleh paham apa pun.

Ibuku dan saudari-saudariku memiliki derajat yang sama dengan saya dan bapak saya. Saya tidak mau membeda-bedakan. Walaupun adat dan budaya serta kepercayaan kita masih membelenggu hak dan kewajiban kita sehingga sering sulit keluar dari kukungan dogma yang masih tumbuh subur di dalam masyarakat kita.

Sebagai generasi kini apalagi generasi masa depan, kita mesti berusaha untuk keluar dari dogma-dogma yang diciptakan ratuasan atau bahkan jutaan tahun yang lalu, yang barangkali cocok untuk Zaman itu tetapi jelas tidak sesuai dengan Zaman sekarang, apalagi Zaman yang akan datang.

Renungkanlah!

Hila

#12. Dikirim oleh hila  pada  16/05   04:01 AM

sebenarnya kenapa sih kok ahir - ahir ini sering ada perdebatan soal emansipasi wanita?.
apakah sekarang kau pria sudah tidak bisa bangkit lagi sehingga menyerahkan segala urusan kepada wanita....?
mungkin saja begitu…
ada istilah yang mengatakan apakah pria ingin lepas dari tanggung jawabnya????

#13. Dikirim oleh nuke  pada  21/05   02:18 AM

zaman boleh berubah, Hukum Islam tidak berubah/ tetap relevan sepanjang jaman. Kerudung dan jilbab adalah Budaya Islam bukan Budaya Arab.

#14. Dikirim oleh siti fatimah  pada  25/05   03:29 PM

Memang hak dan kewajiban itu harus dipenuhi oleh kaum pria maupun wanita,tapi jangan lupa bahwa derajat kaum laki2 setingkat lebih tinggi dari kaum wanita itu adalah kodrat dan jangan di pungkiri.

#15. Dikirim oleh Wahyu  pada  16/06   01:03 PM

oooii mas mana mungkin Ibnu Rusyd bisa seperti itu ?
Islam mengharamkan emansipasi wanita sama sekali, tapi yang ada adalah pemberian hak!
apa wanita harus memakai pakaian seperti yang dipakai lelaki?
apa lelaki yang mungkin, jika adanya emansipasi gender, mengandung anak ?

#16. Dikirim oleh DZULFIKAR AKBAR ROMADLON  pada  18/06   08:49 PM

1. Suatu yang pantas apabila zaman Kartini, al Qur’an tidak ada terjemahannya. Itu disengaja oleh pemerintah kolonial Belanda agar ummat islam yang mayoritas di negeri ini tidak melakukan perlawanan kepada Belanda dan tidak mengerti akan nilai kandungan dalam al Qur’an. Dalam al Qur’an banyak sekali ayat2 yang memerintahkan jihad kalau dizalimi sebagai pembelaan diri, tetapi karena ummat islam tidak memahami al Qur’an maka perlawanan tersebut tidak pernah ada malah tunduk kepada penjajah. Al hasil Indonesia dijajah sampai 350 tahun.
2. Lebih ironi lagi kiayi2 (bukan ulama lho) yang sudah dibayar oleh Belanda (juga zaman orde baru)sengaja menafsir seta mempelesetkan ayat al qur’an demi keuntungan pribadinya.
3. Cerita nenek saya, bahwa pada zaman Belanda ada kiyai yang sudah dibayar oleh Belanda mengatakan bahwa bambu runcing yang sudah diberinya mantera, apabila ditunjukkan/diarahkan kepada pesawat terbang Belanda yang sedang terbang, maka pesawat itu akan jatuh ber keping keping, apalagi bila diarahkan kepada sosok orang Belanda pasti hancur, sehingga bambu runcing tersebut disimpan diatas lemari sebagai jimat. Semua orang kampung percaya bahwa bambu runcing tersebut sakti, jadi tidak usah lagi belajar ilmu perang (masuk tentara)untuk melawan Belanda.
4. Ketahuannya bahwa kiayi tersebut dibayar Belanda ketika ada seorang pemuda yang rada2 bandel (merro bahasa palembang nya) yang mengarahkan bambu runcing sakti tersebut kepada anjing, anjing itu tidak apa2, lalu dengan kesal pemuda tersebut melempar anjing tersebut dengan bambu runcing sakti tersebut, hasilnya? tidak apa apa, alhasil kiayi bohong dan hasilnya lagi Belanda menjajah Indonesia selama 350 tahun tanpa perlawanan dari ummat Islam yang mayoritas di negeri ini.Ingat juga politik Snoocker Groonje
5. Sekarang al qur’an sudah diterjemahkan dengan maksud yang sebenarnya, namun sayang ummat Islam tidak pernah mau mempelajarinya.

#17. Dikirim oleh abdullah  pada  19/06   05:41 PM

kartini tidak memehami alquran adalh masalah kartini dan budaya jawa bukan kepada islam
sejarah kehidupan cut nyak dien mengatakan bahwa beliau memahami alquran baik bacaan maupun makna
teungku fakinah seorang ulama wanita yang fakih dalam fiqih maupun tafsir jadi tidak ada masalah perempuan memahami alquran
kasus kartini itu karna kartini terkungkung budaya jawa bukan islam lingkungan feodalisme jawa membuat kartini buta akan kehidupan luar sehingga dia tidak memahami islam ketika jiwanya memberontak baru is ingin mempelajari islam namun karna ketidak tahuan kartini terhadap islam sehingga dia beranggapan sama dengan budaya jawa

#18. Dikirim oleh muhammad daud  pada  02/07   01:44 PM

ada penggambaran yang jujur tentang sosok Kartini dari dialog imaniner tersebut. Kartini adalah potret perempuan yang haus akan keseimbangan peran sosial-budaya pada situasi jaman penjajahan yang jelas merugikan potensi-potensi yang dimiliki kaum perempuan saat itu. Keterkungkungan perempuan dalam posisi tersebut mencoba dihubungkan dengan realitas historis masa Ibnu Rusyid yang terjadi di Andalusia. Ternyata ketimpangan antara produk Kolonial Belanda sebanding dengan penekanan yang dilakukan oleh pemerintah Andalusia yang saat itu sudah merasa memahami Quran sebagai pedoman hidup keseharian mereka. Akhirnya kita bisa melihat bahwa hak-hak perempuan dan kesempatan berpolitik dikebiri oleh adanya tafsir-tafsir agama yang sangat bias gender. Mereka yang paham kitab suci pun akhirnya membelokkan segala ayat tsb untuk kepentingan kekuasaan dan tetap melakukan penindasan terhadap perempuan. Di masa kolonial, Kartini yang tidak pernah ‘memegang’ kitab suci pun ternyata lebih bisa memahami semangat Quran dibandingkan dengan figur kyai atau birokrat yang serba hidup dalam keterkungkungan budaya. Dan apa yang terjadi sekarangpun sebetulnya masih tetap sama. Banyak dari kita belum bisa ikhlas sepenuhnya untuk memberikan ruang kebebasan yang sama bagi perempuan untuk maju bersaing secara sehat.

#19. Dikirim oleh Muslichin Hn  pada  08/08   04:28 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?