Dimensi Filsafat dalam Wahyu
Oleh Pradana Boy ZTF
Dalam tradisi filsafat Islam, wahyu bahkan bertindak sebagai sumber pengetahuan (Bakar, 1997). Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui wahyu memiliki status yang spesifik, karena seorang penerima pengetahuan melalui wahyu adalah orang yang memiliki otoritas keagamaan tinggi yang sering diistilahkan dengan Nabi. Sementara manusia biasa menerima keberadaan wahyu sebagai rukun iman yang harus dipercayai secara taken for granted, para filosof berusaha untuk mendudukkan wahyu sebagai realitas keilmuan yang bisa dikaji secara teoretis.
Komentar
Berbicara filsafat adalah berbicara masalah akal atau cara berpikir yang benar. Dalam ayat2 AlQuran sangat banyak anjuran bahkan perintah untuk menggunakan akal secara optimal. Allah tidak menginginkan manusia hanya menggunakan wahyu sebagai sumber kebenaran. Allah menghendaki keseimbangan antara penggunaan akal dan wahyu.
Bagaimana kita membuktikan keberadaan Allah ? Apakah dengan mengacu kepada wahyu (dalil naqli)? Bagaimana mungkin ? Mungkinkah kita mengimani wahyu padahal belum bisa membuktikan ada-Nya Allah yang membuat wahyu?
Oleh karena itu kita memerlukan dalil aqli untuk membuktikan keberadaan Allah sebagai landasan Iman. Sementara posisi wahyu adalah untuk mendukung proses akal.
Akal dan wahyu berasal dari Allah. Yang satu Rasul Batin (Ruhul Kudus/Ruh alAzm) dan yang lainnya Rasul Fisik (para Nabi dan Rasul).
——-
Komentar Masuk (1)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)