Kolom,
10/03/2009

Dua Amina

Oleh Luthfi Assyaukanie

Salah satu pandangan misoginis yang terus dipertahankan kaum Muslim adalah doktrin tentang tidak bolehnya perempuan menjadi imam salat. Ini adalah pandangan fikih yang menurut Amina bertentangan dengan semangat dasar Islam tentang kesetaraan. Islam menghargai status dan peran perempuan dan menempatkannya secara setara dengan kaum laki-laki, termasuk dalam urusan ibadah.

10/03/2009 10:34 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (44)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Apa yang sedang kita (umat muslim) hadapi saat ini, yaitu kegamangan dan keraguan akan konsep pembaharuan dalam islam, sebenarnya juga sudah pernah dialami oleh saudara-saudara kita para umat kristiani. Di abad pertengahan Eropa sebagai basis kristiani diseluruh dunia, kehidupannya secara sangat dominan dikuasai oleh gereja. Demikian berkuasanya gereja sehingga argumen ilmiah yang nyata-nyata benar pun harus dipersalahkan (versi kita adalah sesat). Tentu kita semua masih ingat bagaimana nasib ilmuwan terkemuka Galileo Galilei yang mendukung teorinya Copernicus, hidupnya harus berakhir akibat berani melawan gereja dengan teori ilmiahnya yang dikemudian hari terbukti benar dan tak terbantahkan. Berbeda dengan kita, umat kristiani berani melakukan revolusi dan pembaharuan yang dipelopori oleh Marthin Luther yang akhirnya melahirkan agama Kristen Protestan.

Bagaimana kita saat ini? Kalau mau menjawab jujur kita sebagai umat muslim masih mengalami masa-masa Eropa di abad pertengahan. Apa yang tadinya begitu ditakuti dan diharamkan (versi kita adalah sesat), sekian ratus tahun lalu di eropa akhirnya diperbaharui. Pertanyaannya saat ini adalah beranikah kita melakukan revolusi dan pembaharuan tanpa mencederai makna dasar dari Islam itu sendiri?

Berkaitan dengan topik diatas, adalah beranikah kita sebagai umat muslim di Indonesia memulai membiasakan diri dengan Imam perempuan? Saya melihat teman-teman dari umat Hindu dan Budha sudah terbiasa kalau ritual keagamaannya dipimpin oleh seorang perempuan. Para umat Kristen Protestan pun sudah ada yang mempunyai pendeta seorang perempuan.Umat Katolik saya lihat belum berani melakukan hal itu.

Pada awalnya setiap pembaharuan dalam bidang apapun akan selalu mendapat reaksi perlawanan dari golongan yang anti pembaharuan tersebut. Tapi seiring dengan berjalannya waktu dan apabila terbukti pembaharuan itu yang benar, maka suara-suara penolakan itu lambat laun akan hilang dengan sendirinya.

Kira-kira 3 tahun yang lalu di harian Kompas ada artikel yang ditulis oleh seorang Mahasiswa Teologi Harvard University yang berasal dari Indonesia, yang menulis pentingnya pembaharuan dalam Islam. Judul opininya sangat bersemangat, MARTHIN LUTHER DALAM ISLAM. Sayangnya sikap sebagian besar para ulama kita akan demikian “galaknya” terhadap setiap ide-ide pembaharuan. Setiap bentuk pembaharuan atau perbedaan yang menurut versi mereka adalah menyimpang, maka stempel sesat dan haram akan langsung ditempelkan. Tidak cukup dengan itu, kadang mengerahkan masa yang dengan galaknya melakukan pengrusakan acap kali terjadi.

Sekian ratus tahun yang lalu, orang-orang di Eropa berani mengambil keputusan yang sangat penting dan bersejarah. Sekian ratus tahun sesudahnya, kita umat muslim masih belum berani mengambil keputusan tersebut. Apakah masih diperlukan waktu sekian ratus tahun lagi, agar kita punya keberanian melakukan pembaharuan?

Mari kita bersama-sama dengan jujur merenungkan semua ini.

#1. Dikirim oleh amina  pada  10/03   11:30 AM

jika perempuan menuntut untuk memimpin dan menjadi imam, harusnya boleh juga kan laki-laki menuntut untuk melahirkan dan menyusui anaknya ?

#2. Dikirim oleh nden mung  pada  11/03   09:59 AM

Sebuah wacana yang lumayan hangat mas Luhtfi, dalam kondisi masyarakat Islam sekarang ini, memang wacana2 segar harus sering digulirkan, namun pada akirnya, sebetulnya apa dasar dari wacana ini?sekedar memang mencari jati diri atau autokritik terhadap kemapanan Islam saat ini?saya setuju dengan eksploitasi terhadap potensi perempuan, dalam ranah2 yang bijaksana. Bukankah di jaman Nabi dicontohkan betapa Khadijah seorang wanita feminis yang spesial, bahkan Nabi Muhammad S.A.W pun berguru dalam ilmu berdagang pada Khadijah. Tetapi apakah lantas serta merta nabi bermakmum pada Khadijah?
mari berfikir dan beramal dalam aktivitas yang lebih produktif..kesetaraan bukan berarti memaksakan semua aspek yang tidak mungkin, tetapi mengoptimalkan potensi2 yang ada pada perempuan.
Salam hangat..

#3. Dikirim oleh Sofiyan  pada  11/03   10:01 AM

Amina wadud seorang intelektual yangtidak dapat memahami alquran secara ilmiah dan komperhesip. Alquran menempatkan wanita dalam posisi yang sangat terhormat, dimana wanita dalam islam sangat dilindungi dari exploitsi sexual oleh laki2. Karena sudah menjadi hukum alam bahwa wanita sehebat apapun dia secara fisik dan sexual lebih lemah dari laki2.

Dalam pandangan islam manusia hidup didunia untuk beribadah kepada alloh swt, dalam rangka mencari bekal pahala untuk hidup diakherat. Disinilah islam sangat menempatkan wanita pada posisi yang terhormat, dimana wanita untuk mendapat pahala yang sama dengan laki2 tidak perlu melakukan pekerjaan yang sama beratnya dengan laki2 disegala aspek kehidupan.

Contoh seorang wanita tidak perlu pergi kemasjid solat berjamaah cukup berjamaah dirumah untuk mendapat pahala berjamaah, demikian halnya solat jumat apalagi sampai harus menjadi imam solat. Dan kalau kita mau jujur kepada hati nurani yang paling dalam, jangankan fisik suara wanita saja dpat menarik secara sexual bagi laki2, tdk dpt dibayangkan apabila wanita berdiri didepan laki2 mengimami jamaah laki2.

Mungkin alasan ini tidak tepat, tetapi alloh swt dan rosululloh muhammad saw memberikan tuntunan bahwa laki2 pemimpin wanita dan antara laki2 dan wanita ada hubungan muhkrim atau bukan. Dalam islam kita diperintahkan mendengar dan lakukan dalam menyikapi perintah alloh swt dan rosululloh muhammad saw.

Bukan berarti wanita tidak boleh pintar, wanita harus pintar karena dia adalah madrasah buat anak2nya, bagaimana masa depan manusia kalau gurunya dalam keluarga tidak pintar.  Demikian islam mengatur kehidupan manusia sampai dengan hal-hal yg kecil sekalipun , apabila semua itu dipatuhi, pasti manusia akan selamat didunia dan akherat. Bukan hanya selamat didunia tetapi diakherat celaka, apalagi celaka didunia dan celaka diakherat. Islam mengajarkan bahwa kehidupan manusia tidak berakhir begitu dia mati, tetapi masih harus dilanjutkan di akherat disanalah kehidupan yang sebenarnya akan berlangsung yang kekal abadi tiada berujung dan bertepi.

#4. Dikirim oleh habibbah azzahro  pada  11/03   12:30 PM

Apa yg di lakukan Amina Wadud sebetulnya bukanlah sesuatu yg baru dalam kasus wanita menjadi imam shalat, namun hanya skalanya saja yg mungkin berbeda. Jika Amina menjadi imam secara umum dalam shalat jum’at, dahulu pada zaman Nabi ada seorang wanita bernama Ummu Waraqah yg juga pernah menjadi imam shalat bagi keluarganya yg diantara ma’mumnya adalah laki-laki dewasa.

Mayoritas fuqaha, termasuk imam madzhab yg empat, hanya membolehkan laki-laki yg sudah baligh untuk menjadi imam shalat secara umum, sedangkan wanita hanya di perkenankan untuk menjadi imam shalat bagi wanita-wanita lainnya, tetapi tidak bagi laki-laki, walaupun keluarganya sendiri. Namun demikian, ada juga sebagian fuqaha yg membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki.

Mereka yg tidak membolehkan wanita menjadi imam shalat berpedoman dgn hadits Nabi yg di rawikan oleh Ibn Majah, “Janganlah seorang wanita menjadi imam bagi laki-laki”, namun, beberapa pakar hadits mendhaifkan hadits ini yg berakibat pada tidak bolehnya hadits ini di pakai sebagai sandaran hukum. Ada juga beberapa hadits yg menjadi sandaran bagi mereka tp hadits-hadits tersebut tidak menyentuh substansi tentang kepemimpinan wanita dalam shalat.

Imam Nawawi dalam bukunya Al-Majmu’, mengutip perkataan Qadhi Abu Thayyib dan Al-Abdari, bahwa beberapa fuqaha madzhab Syafi’i seperti Abu Tsur, Al-Muzanni, juga Ath-Thabari membolehkan wanita menjadi imam shalat bagi laki-laki dgn bersandar pada hadits yg di riwayatkan oleh Abu Daud yg bersumber dari Ummu Waraqah, bahwa Nabi kerap berkunjung kerumahnya, jika waktu shalat tiba, Nabi menunjuk muadzin baginya dan kemudian Nabi menyuruh Ummu Waraqah untuk menjadi imam bagi keluarganya. Keterangan yg mirip dgn ini bisa juga di lihat dalam buku Bidayah Al-Mujtahidnya Ibn Rusyd atau Subul As-Salamnya Ash-Shan’ani.

Pada pendapat saya, boleh saja seorang wanita menjadi imam shalat dalam keluarganya jika suaminya sedang tidak ada, atau suaminya sama sekali tidak bisa menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat secara umum di suatu daerah jika di daerah tersebut tidak ada satupun laki-laki yg mampu menjadi imam shalat. Atau bisa juga menjadi imam shalat kapanpun, dimanapun dan dalam kondisi apapun jika memang mayoritas fuqaha kontemporer menyetujuinya dan memberi toleransi pada kasus seperti ini. Yg terpenting, apa yg di lakukan Amina Wadud jangan dulu dianggap sesat, Amina hanya menerapkan sesuatu yg dahulunya memang pernah ada. Tuduhan sesat adalah kalimat yg sangat berat dan sebetulnya hanya Tuhan yg tau tentang siapa yg sesat. Wallahu a’lam bis-shawab, wa’ilmuhu atam.

#5. Dikirim oleh Fatur rafael  pada  11/03   01:13 PM

Alquran adalah sumber tuntunan hidup bagi agama islam yang diturunkan oleh Allah swt yang maha sempurna yang artinya semua firmannya juga tidak akan salah.jadi apakah orang2 yang menganggap wanita boleh jadi imam sholat bagi laki2 dan perempuan sedang menggugat Allah swt?.Islam tidak lekang oleh zaman dan Islam tidak perlu pembaharuan.jika ada yang merasa aturan2 dalam islam membatasi gender tertentu,menurut saya yang bermasalah adalah orangnya bukan quran ataupun agamanya.janganlah anda menjadi anak panah yang lepas dari busurnya seperti sabda rasulullah saw.

#6. Dikirim oleh fani  pada  11/03   05:07 PM

Assalamu Alaikum,..
Tidak di ragukan lagi bahwa dengan kedatangan Islam telah mengangkat martabat wanita setara dgn lelaki.
Tetapi Al-Quran sendiri menjelaskan ttg aspek kekurangan wanita soal fisik dan emosi….dengan kekurangan tersebut Allah Swt menjadikan hikmah dengan memberikan keringanan dlm soal ibadah tetapi di berikan ganjaran pahala besar seperti yg telah di uraikan oleh saudari habibbah azzahro.Bukankah Allah Swt mwncintai hambanya mengambil keringanan yang di berikan. Komentar Fatur rafael ttg soal wanita jadi imam sholat dalam situasi tertentu, saya yakin dan percaya para ulama pun sepakat tetapi persoalannya ada serumit itu sehingga tiada lagi lelaki yg bisa di jadikan imam, kita tak boleh bersandar terhadap akal semata karena banyaknya orang sesat akibat dari terlalu taksub terhadap akalnya.Al-Quran dan Hadist adalah petunjuk paling utama, kesepakatan ulama pun kalau terjadi persilisihan kita kembalikan kepada syuro dan ahlinya. Agama bukan semua harus di akal-akali ada sesuatu perkara kita harus ridho apa adanya,kenapa kita harus berdiri,ruku,sujud dalam sholat itu kita ridho sesuai ajaran Nabi kita yg bersumberkan wahyu Allah Swt.Seharus untuk lebih memartabatkan wanita potensi yang ada pada dirinya di optimalkan bukan menyeratakan sesuatu dgn pemaksaan dengan tipu daya syaitan yg mungkin kita tidak sadari(tertipu dalam beramal). Yang paling menyedihkan saudari aminah ingin menyamakan MARTHIN LUTHER dalam kristian sehingga lahirlah protestan. saudari harus sedar Islam dan Al-Quran di jamin kesuciannya bukan seperti bible yg begitu banyak buatan/tambahan manusia….
makanya wajar aja kalau ada sesuatu aliran yg bertentangan dgn Akidah Islam maka protes dari segenap lapisan masyarakat.Maka itu wanita bisa jadi imam bagi keluarganya kalau tiada lelaki dan sesama wanita sendiri tetapi secara umum apalagi Jum’at tiada satu pun Al-Quran dan Hadist yg menyokong baik secara langsung maupun tidak.

#7. Dikirim oleh Haspa  pada  12/03   05:52 AM

Islam tidak perlu pembaharuan berfikir.
Islam seharusnya diterapkan dengan baik untuk landasan berfikir.
Kesetaraan gender jangan dipahami laki-laki dan wanita adalama = (sama dengan, atau jangan dipahami sebagai sama dan sebangun. Baaahaaayaaa.
Laki-laki dan wanita beda.
Peran yang berbeda.
Saling mengisi.
Terapkanlah, nanti akan menemui keindahan Islam yang sesungguhnya.

#8. Dikirim oleh widada  pada  12/03   05:59 AM

sungguh, telah sesuai fitrah sebagai manusia, fitrah juga sebagi laki-laki, fitrah juga sebagai perempuan untuk masing-masing berperan dalam kemanusiaan, kelakian, keperempuanannya. Maka sesuai fitrah itu pula, Muhammad s.a.w, - yang kepadanya Allah menurunkan al-Qur’an, tidak kepada manusia yang lain - menyampaikan petunjuk aturan dan contoh siapa yang menjadi imam sholat, dan hal tersebut telah menjadi suatu yang syar’i. Jika mengingat kepentingan hidup di dunia saja, sah-sah saja hal yang fitrah tersebut diterjang, tidak ada masalah, dan mungkin sama saja masalahnya, dengan apabila tatacara ibadah kepada Allah diubah-ubah, misalnya shalat, gimana kalo tidak menghadap qiblat, atau dikurangi rakaatnya, atau puasa diubah jadwalnya dari subuh sampai dhuhur saja, atau bahkan cukup dengan eling saja, dan lainnya .. sedikitpun tidak bermasalah bagi manusia tersebut untuk kepentingan hidupnya di dunia… Namun apabila dihubungkan dengan ketentuan dari Tuhan Semesta Alam, dengan upah akhirat surga dan neraka yang mana berhubungan dengan keridhoan Tuhannya atas tingkah polah makhluknya, tentu sebaiknya hamba Tuhan yang masih ingin kehidupannya selamat di akhirat berusaha sesedikit mungkin merasakan keriuhan neraka, itupun jika akhirnya ia masuk ke surga ... dan siapa manusia yang paling mengerti tentang keridhoan Tuhannya, tentu manusia yang sangat diberi kepercayaan Tuhannya untuk menyampaikan risalahnya, yang tidak akan mendurhakai Nya, karena itu al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad s.a.w, tidak kepada manusia yang lain ...

#9. Dikirim oleh bejack  pada  12/03   06:37 AM

” Saya kagum dengan Amina, meski berpikiran sangat modern dan maju, ia tetap mengenakan jilbab dan melontarkan ayat-ayat al-Quran dengan sangat fasih.”


Meskipun saya memahami bahwa jilbab is debatable,
kenapa ya modern dan maju itu ditandai dengan mencopot jilbab? apakah tidak memakainya merasa lebih bebas? saya melihat banyak orang latah soal tidak memakai jilbab ini.
Dalam pertemuan-pertemuan internasional, diam2 kulihat perempuan Indonesia yang memakai jilbab yang konsisten, karena mau di eropa, di timteng,. Afrika maupun dimana saja meeting-nya, mereka tetap memakai jilbab yang khas di Indonesia. melebihi identitas batik, kain sari dsb.
malah ada yang sering bertanya; menjadi feminis kok masih pake jilbab?
he22 memang napa?

#10. Dikirim oleh Ala'i  pada  12/03   06:28 PM

Agama Islam itu sudah sempurna sejak zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. 
Firman Allah SWT “...Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu….”
Agama Islam juga merupakan agama terakhir yang diturunkan Allah SWT yang menyempurnakan agama-agama sebelumnya seperti Yahudi dan Nasrani. Itulah mengapa Allah menurunkan kitab suci yang berbeda yang menerangkan kitab sebelumnya.
Agama Islam telah menempatkan perempuan dengan posisi yang setara dengan laki-laki. Setara itu tidak berarti sama persis tetapi sama luhurnya sesuai dengan kodrat/fitrahnya masing-masing. Hewan-hewan herbivora dan carnivora pun mempunyai fitrah masing-masing. Coba bayangkan kalau hewan-hewan herbivora ingin mempunyai hak dan perbuatan yang sama persis dengan hewan-hewan carnivora yang terjadi adalah matinya ekosistem.
Allah SWT telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan. Yang satu mempunyai kewajiban dan hak yang saling melengkapkan yang akan menjaga kesetimbangan alam. Ada siang ada malam. Bagaimana kalau tidak ada malam? Atau tidak ada siang? Kalau malam ingin menerangi bumi sebagaimana halnya siang? Atau siang tidak mau menerangi bumi sebagaimana halnya malam? Maka tidak akan ada kehidupan di bumi ini.
Semoga amina wadud lebih arif memikirkan kejadian di alam semesta ini sehingga bisa lebih arif lagi menempatkan dirinya sebagai satu bagian kecil dari alam semesta ciptaan Allah SWT.

#11. Dikirim oleh aminah  pada  13/03   10:44 AM

Kalau memang wanita itu diperbolehkan menjadi imam, tentunya Rasulallahlah yang pertama memerintahkan Chadijah istrinya atau Fatimah anaknya untuk mengimami para lelaki Qiraisy dijamin itu.

#12. Dikirim oleh Joko  pada  16/03   02:00 PM

kedatangan Islam telah mengangkat derajat wanita yang sebelumnya tak lebih dari barang ataupun jelmaan iblis sebagaimana sabda para filsuf yunani kuno. Namun Islam juga menentukan bagaimana peran dan posisi wanita secara individu maupun masyarakat. Karenanya tidak pada tempatnya kalau perspektif gender barat beserta emansipasinya kemudian di copy paste ke dalam masyarakat Islam. Terlebih dalam masalah ibadah. Diantara syarat di terimanya ibadah adalah ikhlash dan ada contoh dari Rasulullah saw. kalau tidak begitu bisa dipastikan ibadahnya tidak smapai ke tempat tujuan, ibarat kirim surat alamat yang di tuju telah salah dari awalnya.

#13. Dikirim oleh abinehanafi  pada  17/03   09:20 AM

Nabi pernah mengeluarkan sbuah hadits yg berhubungan dg wanita dan laki ketika berada dalam kebersaan ketika sholat. Yaitu sholat berjama’ah.
Disitu nabi bersabda:“Sebaik2nya barisan laki2 adalah didepan”.
“Adapun sebaik2nya barisan wanita adalah dibelakang”.
Kurang lbh bgtu kutipan hadits yg sy ingat.
Nah kalo memang kesetaraan wanita dg laki2 dipahami mutlak secara sama rata,tak ada beda tanpa melihat fitrah yg ada,maka tdk benar..
Sy kira kalo sdh menyentuh tentang ibadah,qta tetap tdk bs lepas dr alqur’an maupun hadits atau mgkn menukil dr pendapat2 sarjana2 islam terdahulu…
Seliberal apapun qta,qta tetap harus tunduk pada peraturan2 yg tlah dibawa oleh rasul saw.
Sbg contoh yg lain qta tdk bs mengatakan bahwa hak waris wanita dan laki2 disama ratakan!!
Atau wanita menjadi pemimpin dlm mslh rumah tangga..
Wanita lah yg menceraikan suami..
Ini tdk bisa,krn islam sdh mempunyai rumusan itu.
Memang islam tdk memandang ras atau gender,namun kita tetap tdk bisa menerjang peraturan2 yg tlah dibawa rasul itu..

#14. Dikirim oleh Maulana  pada  19/03   09:41 AM

Tidak boleh dan tidak ada dasar syar’inya. Perempuan adalah perhiasan termasuk juga suaranya. Inilah kelebihan kaum wanita yang dapat menggetarkan seluruh jama’ah di masjid, maka daripada hilang konsentrasi lebih baik dan memang di Haramkan jika tidak ada sebab syar’inya

#15. Dikirim oleh arema singa islam  pada  19/03   02:46 PM

Justru duo aminah inilah yg telah bisa memahami ruh (sari pati) ajaran Islam yg diperkenalkan oleh Rasulullah s.a.w.Kebanyakan muslim skrg apalagi yg ngaku secara keras pembela Islam cuman tahu kulit (simbol)nya saja.Mereka bersikeras yg simbol itulah yg substansi, ha..ha….ha . (andai saja mereka bisa melihat sedikit lebih dalam….....)

#16. Dikirim oleh dedy muller  pada  19/03   06:10 PM

amina?
banyak orang bernama amina yang saya kenal…
tapi saya sangat trtarik dengan perempuan yang bernama amina wadud..
mnurut saya, setara bukan berarti harus sama..salah sekali kalau harus diartikan seperti itu.
perempuan dan laki2 sudah jelas berbeda dari segi apapun.baik fisik atau psikis. oleh karena itu tentu akan menimbulkan status dan peran yang berbeda pula.tidak akan pernah bisa disamakan.namun bkan berarti salah satu diantara keduanya lebih tnggi atau lebih rndah.. dalam Q.S. Al Hujurat 13 Allah berfirman bahwa manusia diciptakan berbeda adalah untuk saling mengenal,hingga bisa saling melengkapi satu sama lain. bukan untuk saling membanggakan diri atau merendahkan yang lain. karena yang paling tinggi di mata Allah adalah orang yang paling takwa. entah itu laki-laki atau perempuan, tak ada batasan.. dan disinilah Islam punya pandangan bahwa semua manusia adalah setara, dalam arti sama-sama punya peluang untuk menjadi orang yang mulia di sisi Allah.
saya harap kaum feminis bisa lebih memahami makna dari kesetaraan itu sendiri…

#17. Dikirim oleh yuliana  pada  20/03   08:25 AM

Untuk apa Tuhan menciptakan laki-laki dan wanita berbeda fisiknya??tujuannya sudah jelas karena dalam menjalani kehidupan nantinya mereka akan saling membutuhkan karena masing-masing memiliki peran yang berbeda. kalau wanita dan laki-laki disamakan status/kedudukan/fungsinya untuk apalah Tuhan menjadikan manusia dua jenis. Yang merasa umat islam tidak usah ngeyel ngikutin revisi-revisi atau perubahan-perubahan yang dilakukan umat lain toh sudah terlihat jeleknya kalau dilakukan. Kita ini manusia tidak usah sok tahu mau mengubah-ubah hukum yang datangnya dari Yang Kuasa.

#18. Dikirim oleh noah  pada  23/03   08:56 AM

@ abinehanafi

Terkadang saya kurang mengerti ketika orang mengatakan “...gender barat…” ketika kita berbicara tentang kesamaan hak antara pria dan wanita.

Yang saya paham adalah issue kesamaan hak anatara pria dan wanita adalah issue universal. Tidak dimiliki oleh si Barat atau si Timur. Masalah kesamaan hak adalah milik semua manusia beradab.

Hila

#19. Dikirim oleh hila  pada  24/03   12:47 PM

Amina harusnya seorang lelaki, kalau tidak bagaimana dia bisa menyatakan secara objectif tentang misoginis kaum lelaki. Secara logika setiap gender pasti akan membicarakan kesalahan lawannya dan jarang membicarakan kelemahan diri sendiri

#20. Dikirim oleh ces_la_vie  pada  25/03   10:31 AM
Halaman 1 dari 3 halaman 1 2 3 > 

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?