Kolom,
30/01/2012

Dua Model Kebebasan

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Dalam pola keberagamaan yang dewasa semacam ini, seseorang didorong untuk bertanggung-jawab secara moral atas segala tindakan yang ia lakukan. Jika yang bersangkutan memutuskan untuk menaati ajaran agama yang ia percayai, maka ketaatannya itu bukanlah disebabkan kerana adanya “polisi moral” yang memaksanya untuk taat. Sebaliknya, ia taat karena ia tahu bahwa ketaatannya itu membawa maslahat yang besar, baik bagi dirinya atau masyarakat secara lebih luas. Ia taat karena dia sadar bahwa dengan itulah dia menjadi manusia yang bermakna.
Dalam pola keberagamaan yang dewasa itu, seseorang dajarkan bahwa pada akhirnya, kesalehan atau ketidaksalehan adalah perkara yang menyangkut hubungan antara dirinya dengan Tuhan. Tak ada orang lain yang berhak mencampuri urusan yang sangat personal semacam ini.

30/01/2012 14:28 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (5)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

“Dragon Parent” sudah mulai harus dientaskan mengingat terus berkembangnya pola ini ditengah masyarakat yang dinamis dan modern. smile

#1. Dikirim oleh michael jourdan  pada  30/01   10:15 PM

berbicara kebebasan, seolah-olah kita boleh bertindak semaunya.
kalau dalam bukunya budhy munawar-rachman, Islam dan Liberalisme, dijelaskan bahwa liberalisme memiliki dua prinsip, pertama kebebasan dan prinsip yang kedua yang sering terlupakan ialah tanggung jawab.
terkadang pola pikir yang sekarang berkembang ketika menyikapi paham liberal itu diawali dengan meninjau perbuatan lantas dikenakan terhadap sebuah paham. saya rasa seharusnya pola pikirnya dibalik, yakni memahami pahamnya lantas kita bisa menilai perbuatan mana yang bersesuaian dengan paham yang telah pahami.

#2. Dikirim oleh Riza Faizal Azmi  pada  31/01   07:09 AM

Kebebasan/freedom menurut kitab2 ALLAH dari Taurat,zabur,injil dan Al quran dijelaskan oleh ALLAH sebagai berikut.

1. Menurut Taurat.

Also as ALLAH said to the Messenger of Moses; Today I am giving you a choice between good and evil, or between a blessing and a curse, between live and death. (Deuteronomy 30; 1,15)

2. Menurut Injil.

He who is unjust, let him unjust still.

He who is filthy, let him be filthy still

He who is righteous, let him be righteous still.

He who is holy,let him be holy stiil.(Rev;22:11)

3.Menurut Al Quran,

(Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan ; Antara jalan yang lurus(ALLAH) dan jalan yang sesat(setan)QS.90: 10.) (kamu merdeka memilih antara 2 jalan itu )

Dari wahyu2 ALLAH diatas itu atau dari ajaran Islam jelaslah bagi kita bahwa ALLAH benar2 memberikan kemerdekaan / kebebasan untuk menentukan cara hidupnya,cara berpekaian,beragama,tidak beragama, berbicara,berexpressi dll.

Selagi masih tinggal di rumah orang tua, selama itu pula anak2 wajib mematuhi aturan2 Orang tua.

Dalam bermasarakat selagi tidak ada perbuatan kriminal maka pemerintah tidak dapat ikut campur hak seseorang.Misalnya gay,lesbian, ajaran dianggap sesat, penodaan agama dll

Setelah anak2 dewasa dan keluar rumah,anak2 merdeka atau bebas memilih jalan hidupnya masing2.Dan orang tua tidak lagi bertanggung jawab atas anak2 dewasa.

Itulah kebebasan menurut Islam.

Contoh kebebasan / freedom / liberty yang terbaik adalah masarakat Amerika.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

salam

#3. Dikirim oleh alatif  pada  31/01   08:48 AM

Gus Ulil,

Bgm kalau ternyata saat ditinggal oleh orangtuanya, si anak tetap sholat krn walaupun diawasi secara ketat, tetapi kerap ditegur dgn lemah lembut. Dia tetap semangat mencari ilmu, krn tanpa diawasipun dia menyadari bahwa orangtuanya benar dalam mendidik dia. Sementara, seorang mahasiswa pasca sarjana yang dibiarkan tanpa pengekangan, akhirnya terjerumus dalam seks bebas, aborsi, narkoba, dan gencar menggembosi keabsahan agamanya. Keduanya sangat mungkin terjadi, dan mungkin ada ratusan varian kemungkinan lagi.

Hanya segini sajakah model kebebasan yang anda tawarkan? Sangat sederhana sekali.

Kalaulah ketidaksukaan anda kpd para ulama hanya krn mereka orang Arab, tidak pernah kuliah di Harvard, dan tidak pernah hidup di negara yang serba boleh sehingga penetapan koridor syariatnyapun bertentangan dgn kebebasan yg anda inginkan, maka seharusnya andapun menggugat bahwa seharusnya Islam tidak diturunkan di Arab, Nabinya bukan orang Arab, Al Qur’an ditulis bukan dalam bahasa Arab, dan kota sucinyapun bukan mekah.

#4. Dikirim oleh Lutfi  pada  31/01   09:54 PM

Gus Lutfi,
Mohon maaf saya terpaksa menghakimi anda.
Selintas saya yakin anda tidak menangkap esensi tulisan Mas Ulil. Rupanya agama dan syariatnya telah menjadi berhala bagi anda. Anda sangat arogan,sinis, dan sombong, mungkin tidak bodoh namun saya yakin sekali produk seperti anda ini bukan karena Islamnya yang salah, tetapi pemahaman anda tentang islam yang mungkin perlu dirubah.
Saya sarankan anda berfikir dahulu baru beriman, bukannya beriman dulu baru berfikir,sebab anda akan selalu melakukan pembenaran2 manakala realitas saat ini tidak sesuai dengan keimanan yang sudah anda mutlakkan.
salam.
Arvi

Salam

#5. Dikirim oleh arvi  pada  04/02   12:37 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?