Kolom,
29/04/2001

Empat Agenda Islam yang Membebaskan

Oleh Luthfi Assyaukanie

Islam dengan wajahnya yang keras, penuh pemaksaan, dan intoleransi tampaknya tak lagi bisa dipertahankan bagi kehidupan kita sekarang ini yang semakin menuntut keterbukaan, toleransi, dan persamaan hak. Begitu juga, wajah Islam yang lusuh, terbelakang, dan ahistoris sudah tak lagi memiliki tempat dalam kehidupan modern yang semakin menuntut adanya rasionalisasi dan pragmatisme dalam setiap bidang kehidupan.

29/04/2001 03:04 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (7)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Pak Luthfi menulis: “Alquran, sebagai kitab suci yang menjadi rujukan teologis kaum muslim, memiliki banyak sekali ayat yang memerintahkan umat Islam untuk, bukan saja menghormati keberadaan agama-agama lain, tapi mengajak mereka mencari kesamaan-kesamaan (kalimatun sawa) (Q.S. 3:64).

Terjemahan dari Q.S. 3:64 adalah sebagai berikut:
“Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.” Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Saya fikir ayat ini adalah sebuah bukti dibukanya ruang dialog antara kaum Muslimin dg para Ahli Kitab tentang ke-Esaan Tuhan. Dimana kaum Muslimin, tidak akan pernah menyembah kepada selain Allah Swt. Adapun para Ahli Kitab, selama mereka meyakini bahwa Tuhan mereka adalah Yesus, ataupun yg lain, selain Allah Swt., maka selamanya tidak akan ada kesamaan dengan keyakinan kamu Muslimin. Ingat, akhir dari ayat tersebut berbunyi: “Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).”

Sementara, pendapat Pak Luthfi tentang para penganut agama-agama lain (seperti Yahudi, Kristen, Sabean) akan mendapatkan pahala sesuai dengan perbuatan baik mereka dan dijamin berada dalam lindungan Allah, dimana Bapak berpijak pada beberapa ayat yaitu, Q.S. 2: 62 dan Q.S. 5: 69, maka kata-kata “Yahudi, Kristen, Sabean” dalam ayat-ayat tersebut, selayaknya tidak diartikan sebagai sebuah agama, tetapi dimaknai sebagai sebuah bangsa atau suku bangsa. Sama halnya seperti suku bangsa jawa, bugis, sunda, batak, asmat, dayak dan yang lainya. Ketika kita menyebutkan suku-suku bangsa tersebut, maka kita tidak mungkin memaknainya sebagai sebuah agama bukan? Wallaahu’alam.

#1. Dikirim oleh Maulana Ibrahim  pada  11/11   01:11 AM

boleh minta artikel atau sejenisnya yang berhubungan dengan politik dengan islam??

#2. Dikirim oleh rima erviana  pada  13/03   03:10 PM

setelah saya membaca sedikit artikel yg pak luthfi tulis , saya ingin memberukan komentar . ga pa2 kan pak….....?
umat islam memang keras , but kerasnya apa dulu ? dalam al-qur’an dikatakan “asyidda u ‘alal kuffaar” jadi orng islam tuh keras trhadap org2 kafir
trus kalo soal pemaksaan , maksudnya pamaksaan apa ?
dalam al-qur’an islam itu ga memaksa org untuk masuk islam , klo ga percaya baca dah surat al-baqoroh yg artinya TIDAK ADA PEMAKSAAN DALAM AGAMA “Laa ikroha fi ddiin”

#3. Dikirim oleh ainx  pada  18/04   02:34 PM

Mas Syaukani yang dimuliakan Allah, Islam tidak berwajah keras, Islam tidak berwajah lusuh. Allah turunkan agama terakhir Islam. Sebuah sikap penyerahan diri kepada Allah. Yang diturunkan-Nya berupa Al-Qur’an. Islam = Al-Qur’an. Al-Qur’an tidak berwajah keras apalagi lusuh. Sikap masyarakat Islam yang keras atau lusuh, tidak mencerminkan Islam itu sendiri. .

#4. Dikirim oleh Solihin  pada  10/07   02:03 AM

Selalu intinya, pada penafsiran ayat dari perspektif sendiri.

#5. Dikirim oleh Deka  pada  24/08   09:01 AM

YAH BEGITULAH ORANG ISLAM SEKOLAH ISLAM DI AMERIKA SEMAKIN MELENCENG DARI ATURAN AGAMA ISLAM.. PAK LUTHFI INSYAF PAK…

#6. Dikirim oleh DINA  pada  17/03   09:34 AM

Isi 4 agenda di artikel ini tidak ada bedanya dengan konsep yang berlaku di negara2 maju yang non-muslim ataupun non-beragama.

Pertanyaannya jadi, apa masih perlu label Islam ditempel dan ayat2 dipaksa-paksakan penafsirannya agar dapat menjustifikasi konsep2 luar itu? Kenapa tidak by-pass saja al-qur’an dan segala label2 Islam, dan langsung usung konsep dan ide2 luar itu sebagaimana adanya demi efisiensi?

Realitanya, masyarakat berpendidikan kita toh kebanyakan mendasari keputusan dan pemikirannya berdasarkan konsep non-Islam, dan diam2 membuat rasionalisasi untuk melindungi self-image masing2 sebagai seorang “muslim”.

So, let’s be honest. Stop cherrypicking, and just leave Islam out of ANY of our social and political life.

In the end, kalau benar nanti ada yang namanya pengadilan hari akhir, tidakkah kejujuran yang salah akan lebih tinggi nilainya dibanding dengan hipokrisi dan rasionalisasi?

Dan kejujuran inilah yang sebenarnya akan membebaskan..

#7. Dikirim oleh Islam modern = hipokrit = delusional  pada  03/01   08:58 PM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?