Filsafat Cahaya Suhrawardi dan Sejumlah Kritiknya Reportase Tadarus Ramadan JIL Sesi II
Oleh Saidiman Ahmad
Isyraqiyyah, oleh Ulil, digambarkan mirip dengan ilham para nabi. Ia bukan kebenaran yang diperoleh secara gradual sebagaimana dalam tradisi filsafat demonstratif. Ia muncul dalam apa yang disebut “aha moment.” Meski ia datang seperti sekelebat cahaya, tapi sebenarnya bisa diuraikan secara panjang lebar. Isaac Newton, misalnya, memang menangkap ilham sekilas ketika ia melihat apel yang jatuh. Dalam sekejap ia menyadari sebuah kebenaran. Meski peristiwa itu sangat singkat, tetapi Newton kemudian berhasil membangun pengetahuan baru yang melandasi seluruh perkembangan ilmu pengetahuan setelahnya, yakni teori grafitasi.
Komentar
Perang Dunia III dan Armageddon dimulai pada November 2010 tampaknya Imam Mahdi
Bintang Timur meledak di langit pada bulan September 2010 tampaknya menjadi tanda Imam Mahdi -
http://emam-mahdi-1431.blogfa.com/
filsafat dan islam memang sangat erat….. keduanya menjadi bagian yang sulit untuk dipisahkan satu sama lainnya….islam juga memiliki aturan yang mengatur dan menjelaskan norma - norma sosial yang harus dijalankan oleh para pemeluknya. ...... namun islam kok jarang menyentuh sains…..sains biasanya hanya digunakan sebagai pembenar atas dalil - dalil yang dalam alqur’an….dan tidak sebaliknya ( alqur’an dianggap sebagai kebenaran atau tesis yang perlu dibuktikan)...mungkin kalau bisa artikel tentang sains juga dibahas di web ini biar ada variasinya…
Itu adalah kebenaran yg nisbi oleh karena memang jalan shrath mustakim adalah jalan yang mikro maka ilham lah yg membuatnya bisa teridentifikasi..
apakah pengalaman mistis yang terjadi pada beberapa orang adalah suatu yang nyata dan universal, sehingga dianggap mesti benar?ibnu arabi menyatakan bahwa seorang pendaki jalan spiritual harus hati-hati karena bisa saja ia direkayasa oleh kekuatan semu sehingga seolah-olah ia berada di sidratul muntaha padahal tidak.
Waduh, dengan pengetahuan yang saya miliki, saya sebenarnya malu untuk berkomentar, tapi saya sungguh menikmati tulisan ini. Saya cuma bisa bilang: kalau memang benar islam menjadi besar karena persentuhannya dengan peradaban-peradaban besar, apakah boleh saya berpikiran bahwa persentuhan islam dengan peradaban modern ini telah melahirkan suatu bentuk islam kontemporer yang akan membuat islam lebih besar lagi ?. Wah kalau memang begitu, boleh dong saya sedikit berbangga menjadi muslim liberal.
perlu dicek dulu, deh, jangan2 mereka yang mengaku nabi atau wali sebenarnya adalah psikotik: merasa disapa oleh sesuatu yang besar, bertemu tokoh2 besar (ibn al ‘arabi biasa mengaku bertemu khidhir)
@joko: benar sekali jika anda mengatakan demikian bahwa para pengaku wali harus di tes psikotik.
Untuk Ibnu ‘Arabi, karena dia hidup dijaman yang lampu, saya pikir tidak perlu melakukan tes psikotik, apalagi Nabi Muhammad, sangat tidak perlu, karena kita akan menemui pusaranya saja yang berumur 1500an tahun ![]()
Yang jadi pe-er, mungkin bagi ulama’ jaman sekarang perlu diadakan tes psikotik - itu pun bagi yang mereka mengaku wali saja.
Hei…saidiman-ulil cs….. Islam adalah ibarat cahaya putih, dari fungsinya maka cahaya itu menampakan apa-apa yg ada termasuk juga warna-warni benda-benda, hingga kita bisa tau bahwa ini adalah ini….itu adalah itu…(wilayah ini/tampak adalah pengetahuan), namun bukan sebaliknya bahwa apa-apa yg tampak menjadi elemen cahaya itu…ini rancu…hasil olah fikir manusia adalah pengetahuan, sedangkan : ” Ilmu itu tidak bersuara tanpa rupa “. (Hadits Qudsy). Bisa anda bayangkan…. pengetahuan, apa lagi ilmu yg tanpa suara tanpa rupa yg notabene adalah cipta-NYA, sudah sedemikian adanya…..lantas bagaimana dengan Pencipta ilmu itu…....membayangkan saja susah… apalagi hanya dengan berdasarkan tulisan si ini…..si itu….padahal tujuan cipta manusia : ” Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahKU “. Tidak ada manfaat semua pengetahuan di alam kubur nanti apalagi di padang mashar…, kecuali “........maka jika sesorang datang kepada KU dengan pengetahuan dan ilmu-ilmu maka Aku akan mengajukan tuntutan-tuntutan…..... “. (Hadits Qudsy). Ijtihad hanya dibenarkan jika seseorang itu telah terbuka hijab alam fikirnya…...( seperti kitab kedua Imam Syafii, tentu dengan perjalanan spiritualnya). Lantas apa yg bisa kita peroleh dari pemikiran-pemikiran yunani-yunani kuno itu….plato pernah berkata : ” Aku berfikir karena itu aku hidup “. Cobalah ente tanyakan sama aristoteles dan plato :” Apakah kalian sekarang sedang berfikir “. Saya yakin semua ulama-ulama besar menahan sebahagian untuk tidak diberitakan apa yg diketahuinya, karena khawatir akan timbul fitnah yg besar di kalangan umat, bahkan ada yg menyesal….Imam Sofyan attsaury (Raja Fiqh) Hingga sampai kepada kesimpulan Al-Ghazali : ” Hanya Raja yg tau tentang Raja “. Cobalah kalian bedah kitab-kitab yg selama ini kalian enggan meliriknya, saya yakin kalian akan sampai kepada kesimpulan : ” Seseorang tidaklah dianggap bertaqwa hingga ia mengharamkan yg halal karena khawatir dapat mendatangkan haram “.(hadits). Kepintaran seseorang tidak serta merta menyelamatkan ia di alam kubur apalagi di akhirat nanti.
Apa yg kalian rasakan andaikata bertemu dengan Issac newton Albert enstein, Al hllaj, Yaziddun Bustomi, Ibnu Sina, Al Arabi, Atstsaury…. saya yakin kalian pasti merasa orang yg paling bodoh….bagaimana kiranya jika kalian bertemu dengan Pencipta mereka, semua yg kalian bawa tidak ada artinya….....tau apa kalian tentang cahaya…....Tidak ada kewajiban untuk menyerukan bahkan mengajak orang lain untuk sepakat atas ajaran-ajaran para orang-orang yg kalian kagumi, karena mereka sendiri tidak berbuat begitu, kemudian juga karena sudah ada Alquran dan Sunnah.
Rasulullah menahan dari ilmu-ilmu yg khusus dan hanya orang-orang yg khusus di ajarkan. Seakan Rasulullah mengajarkan bahwa menuntut ilmu itu harus mencari guru (orang)..... bukan kepada kitab-kitab, buku-buku dll….kemudian menafsirkan sendiri semaunya…..maka jadilah tulisan-tulisan yg kacau balau nggak ada juntrungannya, comot sana-sini…..agama semaunya…...membingungkan orang bodoh dan membodohkan orang bingung…....
Ilham ?
Akal,ilham,fikiran dll kan cuma soal otak.
Rasa atau hati kan cuma soal sekresi hormonal.
Kemauan n nafsu kan cuma soal thermo static badan.
Aneh2 saja.
Tapi saya mendukung JIL agar kebebasan menjdi dasar etika hidup.
Agar kita bebas mengikuti gaya hidup eropa dan barat yg unggul dlm seleksi alam (sosial).
Agama memang sumber kekacauan.Penyulut perang.
Ketuhanan adalah tahayul candu kehidupan.
Dalam prsaingan hidup antar kelompok,
LIBERALISME adalah satu2 dasar faham bagi kedamaian dunia.
Setiap ciptaan akan kembali pada Sang Pencipta lewat jalan ekspansi ( perluasan kesadaran ), setiap partikel terkecil semesta pun demikian dalam gerak menuju perluasan dan menyatu dengan Sang Pencipta. Semua Agama dan Filsafat pun demikian, di sedang dalam proses bersatu menuju YANG MAHA ESA tersebut.
Saya cuma bisa lihat Gus Ulil di TV. Sejak SMP, saya “merantau” ke wihara, klenteng, dan gereja. Tetapi, setamat SMA, saya gandrung filsafat Islam, tanpa lupa akar saya, “tikyik” NO. Yang saya senang ialah cara berpikir Gus Ulil: Bebas, tapi tetap berpijak pada akar. Memang, ada yang bisa bebas, tetapi tetap ada yang terikat. Jalan (tao, thariq, gnostic) bisa dipinjam, tapi isi (aqidah, iman) tidak. Suhrawardi al-Maqtul menggunakan pijakan “Hayy ibn Yaqshan” Avicenna untuk menjadikan dirinya dijuluki “Guru Pencerah”. Sekali lagi, jalan bisa dipinjam, pencapaian tergantung kemampuan diri. Salam, MMeSeM.
Komentar Masuk (11)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)