Editorial,
09/01/2012

Fundamentalisme Yahudi

Oleh Ulil Abshar-Abdalla

Apa yang diperlihatkan oleh kelompok Yahudi ultra-Ortodoks ini sebetulnya menunjukkan bahwa gejala fundamentalisme bukanlah khas pada agama tertentu, tetapi ada pada agama-agama besar dunia. Ada di Yahudi, ada di Kristen, dan ada pula di Islam.

09/01/2012 13:31 #

« Kembali ke Artikel

Komentar

Komentar Masuk (13)

(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)

Halaman 1 dari 1 halaman

Tulisan Ulil selalu berisi dan mantap.

#1. Dikirim oleh Ahmad Tohpati  pada  08/01   09:43 PM

Saya setuju sekali bahwa pemahaman agama fundamentalis itu ada dimana mana,bukan di Islam saja.

Berbahayanya pemahaman agama fundamentalis ini adalah melakukan kekerasan atau tidak menghormati keyakinan orang lain.

Dalam dua negera yang dipimpin oleh Fundamentalis sudah dapat dipastikan akan bermusuhan bahkan melakukan peperangan…seperti Bush dan Sadam Husen.

Salam

#2. Dikirim oleh alatif  pada  08/01   10:25 PM

Sekedar Gagasan
Jika kita mau mengkaji ulang dengan bijaksana …
Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika adalah sebuah harapan dan cita-cita luhur dari pendiri bangsa Indonesia sebagai tujuan akhir dari perjalanan bangsa inonesia, yang sebenarnya itu juga adalah harapan dan cita-cita dari seluruh Negara didunia. Jadi itu bukanlah jalan itu sendiri atau “ cara “ sehingga banyak orang yang hanya mensaktikan atau mengkultus-kultuskannya
Kalaulah sebelumnya oleh tokoh-tokoh tertentu , dalam upaya pencapaian tujuan pancasila dan Bhineka Tunggal Ika dibebankan diatas pundak TNI dan POLRI yang selama ini berupaya untuk mewujudkannya dengan bersimbah darah mereka dan rakyat, jelas terbukti itu tidak efektif dan beradab, bahkan terlalu banyak menimbulkan korban,  walaupun ada hasilnya meski dalam ketertekanan, namun demikian itu juga perlu   dalam situasi dan kondisi tertentu, meski bukan prioritas,  demikian juga yang diupayakan oleh para pemikir dan penyair selama ini ternyata hanyalah sebuah wacana dan hiburan belaka. Namun cita-cita dan harapan bangsa yang ingin dicapai secara adil dan beradab, belumlah sepenuhnya terwujud secara nyata dan berkesinambungan.
    Sebenarnya masih ada jalan atau cara lain yang dapat ditempuh yaitu dengan memfasilitasi dan mendorong Agama-Agama yang ada agar memotifasi para tokoh-tokoh Agama tersebut dan pengikutnya untuk sadar dan kembali konsentrasi dan focus pada tujuan mereka beragama sesuai yang disampaikan dan diajarkan oleh para pencetus Agama yang mereka anut sebagai konsekwensi logis dari tujuan mereka beragama dan setiap dana atau fasilitas yang diberikan pada mereka harus dipertanggung jawabkan secara riil, dan mengawasi dengan ketat dana yang disuguhkan “ dihidangkan” kepada atau melalui mereka ! sampai tingkat yang paling rendah melebihi instansi-instansi atau lembaga-lembaga lain, bahkan sampai ketempat ibadah yang terkecil sekalipun karena mereka adalah sebagai rujukan dan contoh riil dari aplikasi keberagamaan yang berbasis vertical dan horizontal “ sosial “. karena sampai saat ini terbukti tidak setiap orang yang mengaku menganut Agama tertentu mencerminkan tujuan luhur dan suci dari Agama yang mereka ikuti, meskipun terkesan mereka mengikuti ritual-ritual dari Agama yang mereka anut dengan tekun,  tak jarang justru mereka menjadi contoh yang buruk bagi orang lain dalam hal kebajikan sosial dilingkungannya.
Kita semua bisa dan berhak mempertanyakan dan menggugat setiap tokoh-tokoh Agama, meski apapun julukan, gelar dan kedudukan mereka , dengan pertanyaan “ Apakah mereka beragama untuk mencari nafkah , harta dan kedudukan atau sebuah pengabdian ikhlas guna mencari nilai-nilai kebajikan dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari guna untuk kemaslahatan bagi sesama ? atau Apakah upaya yang mereka usahakan selama ini telah banyak menghasilkan orang-orang yang “ Sadar Agama” ?  karena terbukti sebahagian mereka ada yang telah mengambil upah materi , didepan, dari Negara, dll atau uang sedekah orang!

#3. Dikirim oleh Muhammad Dharmawan  pada  09/01   11:26 AM

Tentu harusnya berbeda cara pandang dan cara kerja serta motifasi dari orang-orang yang mengabdi pada Agama dan mengabdi pada Negara.  Jelas, Bagi orang-orang yang mengabdi pada Negara jika mereka tidak diberi upah atau imbalan yang sesuai,  jelas tidak semua mereka mau mengabdi dengan rela, bahkan kebanyakan mereka tidak pernah merasa cukup dan mencuri dengan berbagai cara yang elegant,
Tetapi terbukti dengan orang-orang yang mengabdi dan berbakti pada Agama dengan tulus ikhlas, sebahagian mereka nyata dengan rela mengeluarkan pikiran, waktu, tenaga bahkan uang atau nyawa sekalipun demi untuk mengamalkan perintah-perintah dalam Agamanya tanpa mengharapkan imbalan dari sesamanya.
  Jika abdi Negara mencari upah dari hasil kerjanya,  itu wajar! Dan merekapun diminta pertanggung jawaban atas upah yang mereka terima dan hasil dari kerja mereka tentu akan dievaluasi,  tetapi abdi Agama,  mereka seharusnya mencari nilai-nilai kebajikan serta kerelaan dari yang mereka abdi dan sembah selama ini, dan dipastikan mereka tidak akan miskin dengan berusaha dengan usaha-usaha positif sebagaimana yang dilakukan orang lain.  sebagai tanggungjawab dan rasa syukur mereka atas ilmu-ilmu agama yang mereka miliki , yaitu   dengan amalan ikhlas Memberi kepada sesama bukan Peminta-minta !  “Pengemis mulia atau Pedagang nasehat dan doa-doa” ! kecuali mereka sendiripun sebenarnya selama ini dalam keadaan ragu dengan Keadilan, pertolongan dan KasihSayang dari yang mereka abdi dan sembah selama ini !
Dan dalam sejarah kitab-kitab suci samawi , tidak satupun dari “para pencetus agama” yaitu para Nabi dan Rasul yang meminta upah materi pada sesamanya untuk menopang kehidupan mereka,  ketika menyampaikan risalah dan ajaran-ajaran mereka, bahkan mereka memberi dan berkorban bagi kabajikan dan kemaslahatan sesama, sebagai contoh nyata !  sehingga mereka tidak diminta pertanggungjawaban dalam penyampaian ajaran mereka baik didunia dan akhirat demikian jugalah sifat dan prilaku orang-orang yang mendapat petunjuk diantara pengikut mereka.
Dan diharapkan dari pengikut-pengikut Agama yang telah sadar dan tercerahkan oleh kemurnian ajaran Agamanya inilah yang dapat mewujudkan dengan nyata “ cita-cita dan harapan”  dari leluhur pendiri bangsa Indonesia dan kita semua secara adil dan beradab dan penuh rasa persaudaraan antar sesama, yaitu makna yang tercakup dalam Pancasila, dan lain-lain, dengan karakter “  Jujur,  Kasihsayang, Adil dan Beradab serta Bertanggungjawab ! orang-orang yang digembleng dengan karakter yang diproduksi dari pencerahan Agama inilah yang akan memperbaiki segala system dalam ketatanegaraan, seperti pendidikan, perekonomian, peradilan, dll.
Jelas ! dalam perjalanan setiap Agama “ Sang pencetus Agama”  itu sendiripun ternyata dalam hidupnya tidak sanggup membuat setiap orang pada jamannya mengikuti apa yang diajarkannya !  jadi apakah kita sanggup, dengan memaksakan kehendak atau dengan kedustaan dan iming-iming ?
jadi jelas konsep QS: “ Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku “  (Mari ! kita buktikan Agama mana yang dapat lebih membawa tokoh-tokoh dan pengikut Agama tersebut menuju kebajikan dan keselamatan baik didunia dan akhirat dan Agama mana yang membawa umatnya menuju kehancuran moral dan prilaku = “ Akhlak”  dan kehidupan ? ) dengan satu tekad bulat “ dalam bingkai 4 pilar berbangsa ” yaitu urusan kebajikan dalam   kehidupan dunia dan kebernegaraan kita bersaudara dan saling membahu dan tolong menolong dan mencerahkan. Dan urusan akidah dan ibadah maka itu urusan masing-masing Agama dan marilah kita saling intropeksi kedalam dan buktikan ! dalam dan demi waktu yang terbatas ini !!! 
NB:  gagasan ini tidak bermaksud merendahkan atau menghina siapapun, tetapi ada ungkapan “ Kebenaran itu pahit dan getir awalnya namun manis buahnya sebaliknya kepalsuan itu manis awalnya tetapi pahit dan getir akhirnya “ , nah, Jika apa yang selama ini dilakukan itu lebih baik atau ada gagasan yang lebih baik,  maka lupakanlah semua ini !
                                                                             

                                                                                Banda Aceh,  January 2012
                                                                              Oleh : Muhammad Dharmawan

 

#4. Dikirim oleh Muhammad Dharmawan  pada  09/01   11:27 AM

menarik. dibutuhkan sikap egaliter dan elegan untuk mengakui kelemahan yang ada dalam diri, termasuk fundamentalisme dalam agama. well done, Gus!

#5. Dikirim oleh M. Robeth Fuad  pada  09/01   02:32 PM

Kasus2 fundamentalism dlm agama memang ada di setiap lini kehidupan.
Kasus pada hindu bisa dilirik saat kasus pembunuhan Mahatma Ghandi misalnya. Dalam kristen, mungkin bisa dilihat juga dlm kasus bom norwegia tahun lalu itu.
Dan ini memanglah gejala yg ‘cukup alami’ tetapi disaat yg sama akan mengancam eksistensi yg lainnya.
Indonesia yg menjadi sarang keberagaman, tentunya sudah lama sekali dirongrong oleh kasus2 fundamentalism dlm agama. Mulai dari yg ingin menghancurkan orang2 yg berbeda keyakinan, hingga ingin memaksakan syari’at islam scr paksa kedalam UU scr formal.
Maka dari itu, perlu lah kita menerapkan metode2 deradikalisasi pelajaran agama di setiap sekolah2.

#6. Dikirim oleh Rasyid Ridha Saragih  pada  09/01   02:51 PM

Kristen Saja Menolak Pluralisme Agama

Redaktur Eramuslim.com, Muhammad Pizaro meminta Umat Islam untuk tidak sungkan atau malu mengatakan bahwa lslam hanyalah satu-satunya agama yang benar. Maraknya kalangan Barat dan para pengasong sepilis agar umat Islam menerima faham pluralisme agama adalah langkah absurd. Karena pada kenyataanya, agama-agama lainnya seperti Kristen sendiri mengklaim diri paling benar, lebih-lebih Yahudi.

”Dari dulu Kristen tidak setuju faham pluralisme agama. Dalam konsili vatikan kedua (tahun 1962-1965, red.), misalnya, Kristen sudah mengatakan bahwa siapa yang tidak mau masuk ke dalam gereja Katolik maka ia tidak bisa diselamatkan. Ini artinya di luar mereka sesat,” ungkapnya dalam Kajian Umum Menghadapi Fitnah Akhir Zaman, di Mesjid At Taqwa, Vila Pamulang, Ahad (08/01/2012).

Hal itu kemudian ditegaskan kembali oleh Paul Yohanes Paulus ketika menulis buku Crossing The Threshold of Hope.

“Disitu Paus mengatakan bahwa Islam bukanlah agama penyelamatan (Islam is not a religion of redemption). Dalam Islam, kata Paus, tidak ada ruang untuk salib dan kebangkitan Yesus. Yesus memang disebut, tetapi hanya sebagai nabi yang mempersiapkan kedatangan Nabi terakhir,” ungkapnya.

Karena itulah, simpul Paus, bukan hanya dalam teologi, tetapi dalam antropologi, Islam sangat berbeda dengan Kristen. (not only the theology but also the anthropology of Islam is very distant from Christianity). Dan tentang al-Quran, Paus menyebutkan, bahwa siapa pun yang membaca Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, dan kemudian membaca al-Quran, maka akan menemukan bahwa Kitab ini (al-Quran).

“Jadi jika Agama Kristen saja pede menganggap diri agama terbenar, mengapa kita harus malu?” tanyanya.

Menurut Muhammad Pizaro, inilah fitnah yang sedang menimpa umat di akhir zaman. Umat Islam berada diujung tanduk yang tidak hanya diserang secara politik tapi juga pemikiran. Karena itu, Allah sudah menjelaskan program utama setan untuk menjauhkan manusia dari petunjuk, “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Qur’an ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan (mereka).” (Al Fushilat ayat 26)

“Jadi sekarang kita harus yakin untuk mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Rizki Ridyasmara, pengamat Zionisme dan penulis yang produktif menulis novel konspirasi, menyatakan bahwa maraknya pengasong liberalisme Islam tidak lepas dari motif ekonomi.

Hal ini pernah ia buktikan semasa aktif menjadi wartawan di sebuah majalah Islam. Saat itu, penulis The Jacatra Secret ini mendapat kesempatanuntuk mewawancarai pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla. Menariknya, selepas wawancara Ulil mengakui bahwa keputusannya masuk kepada area liberal, murni atas dorongan ekonomi. “Nanti deh, jika uang saya sudah banyak, saya insyaf (dari Islam liberal),” ujar Rizki meniru ucapan Ulil kepadanya. Para jama’ah pun larut dalam tawa. (A. Hakim)

#7. Dikirim oleh Cicharito  pada  09/01   04:47 PM

Assalamu’alaikum wrwb

Dari pengamatan saya bertahun2 baik di Indonesia maupun diluar negeri, ada ciri2 Islam Funadmentalis
dalam menafsirkan ayat2 ALLAH dan banyak menggunakan hadist2 palsu utk menjustify perbuatan2 kekerasan,diskriminasi dll

1.Ciri pertama yaitu ingin menegakan Syariat Islam,Islamic law dengan menjadikan al Quran sebagai konstitusi atau peraturan2 ALLAH dijadikan peraturan pemerintah.Misalnya.Wanita wajib berburqa,kalau tidak melakukan akan ditangkap.Demikian seterusnya.

2.Ciri2 kedua yaitu tidak menghormati / menerima perbedaan2 dlm menafsirkan ayat2 ALLAH,siapa yang menetang penafsiran pemerintah di hukum.

3. Ciri2 ketiga yaitu kalau berdiskusi suka mengkafirkan,berkata kasar,buruk,dan fitnah.

4. Ciri2 keempat yaitu bersikap bermusuhan dgn orang2 muslim minoritas dan orang2 yahudi,nasrani dan non Islam lain2nya.

Sesungguhnya bayak pebedaan2 yang menyimpang dari ajaran Islam yang Murni.Untuk lebih jelasnya silakan buka blog saya ini.

http://muslimbertaqwa.blogspot.com/

Untuk meminimize pemahaman Islam garis Keras ini tidak lain dgn dimulai pendidikan disekolah2,TV dan billbord dijalan2 yaitu menghormati pluralism atau perbedaan2 keyakinan, suku,dan gender dll
Wassalamu’alaikum wrwb

#8. Dikirim oleh alatif  pada  09/01   07:44 PM

satu lagi ciri para fundamentalis yaitu tidak humoris babar blas

#9. Dikirim oleh dwitarto  pada  11/01   02:49 PM

sdr Cicharito

Orang2 kristen yang anti dgn Pluralist itu yaitu klompok Kristen Fundamentalis,sama dgn klompok Yahudi

Jadi klompok2 Fundamentalis inilah biang kerok kerusuhan, tidak menerima perbedaan2 dlm masarakat

BENAR BUKAN?

#10. Dikirim oleh alatif  pada  11/01   07:03 PM

Suhento Liauw,D.R.E., Th.D
Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)
Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE

Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun 70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa pengertian.

Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan hanya dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran itu ternyata membuat sebagian orang tersinggung, yang dapat kami katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah pendapat kami. Apakah mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan? Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal sehat, seharusnya tidak ada.

Siapakah Kristen Fundamentalis?
Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang teguh Alkitab tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.***

http://kristen-fundamental.blogspot.com/2008/11/siapakah-kristen-fundamentalis-itu.html

#11. Dikirim oleh Agustinus  pada  31/01   10:10 PM

SIAPAKAH KRISTEN FUNDAMENTALIS ITU?

Suhento Liauw,D.R.E., Th.D
Rektor GRAPHE INTERNATIONAL THEOLOGICAL SEMINARY (GITS)
Gembala Gereja Baptis Independen Alkitabiah (GBIA) GRAPHE

Kebanyakan orang Kristen di Indonesia tidak mengenal Kristen Fundamentalis. Yang dikenal adalah kaum Injili, Liberal, Pantekosta, dan Reform atau Protestan. Tahun 70-an di mata sebagian orang Kristen Indonesia, yang alkitabiah adalah yang Injili sedangkan yang Liberal itu salah tanpa pengertian.

Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun, melainkan hanya dengan tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran. Dan jika kebenaran itu ternyata membuat sebagian orang tersinggung, yang dapat kami katakan hanyalah “mohon maaf, yang sebesar-besarnya.” Itu adalah pendapat kami. Apakah mengemukakan pendapat itu sebuah kesalahan? Apakah ada negara yang melarang orang berpendapat? Kalau memakai akal sehat, seharusnya tidak ada.

Siapakah Kristen Fundamentalis?
Orang yang hanya percaya kepada Alkitab dan memegang teguh Alkitab tanpa kompromi, berapapun harga yang harus dibayar untuk itu.***

http://kristen-fundamental.blogspot.com/2008/11/siapakah-kristen-fundamentalis-itu.html

#12. Dikirim oleh Agustinus  pada  31/01   10:16 PM

perlu rasanya diperjelas lagi apakah itu fundamentalis…..karena jika hanya memakai istilah itu saja, tentu akan ada peng-kaburan makna funda mentalis itu sendiri…..

#13. Dikirim oleh andi kusuma  pada  03/03   11:51 AM
Halaman 1 dari 1 halaman

Tulis Komentar

Nama:

Surat-e:

Lokasi:

Situs:

Ingat data pribadi saya

Ingin dikirim setiap umpan balik komentar yang masuk?