M. Dawam Rahardjo Geertz Geser Dikotomi Jadi Trikotomi
Oleh Redaksi
Istilah santri dan abangan itu sebenarnya berasal dari kita juga, tapi lewat Geertz-lah ia jadi terkenal. Saya juga membaca karya dia yang juga penting dan diterjemahkan Gramedia dengan judul, Penjaja dan Raja (Paddlers and Princes).
Komentar
Tesis “trikotomisasi” Geertz memang terbuka untuk didebatkan. Salah satu kelemahan (terbesar), setidaknya menurut saya, adalah terdapatnya ketidakparalelan dalam susunan kategorisasi. Di satu sisi terdapat strata “ekonomi” untuk menggambarkan priyayi, sementara kategori “religi” ketika dia menggambarkan santri dan abangan. Di sini dia tidak konsisten. Di era-era 50-an trikotomisasi ini diakui kental. Apalagi bila kita mengkonfrontasi pendapat Geertz dengan buku Herbert Feith dan Lance Castles berjudul “Indonesian Political Thinking 1945-1965”—yang sudah diterjemahkan menjadi Pemikiran Politik Indonesia 1945-1965” (LP3ES,1988). Namun, sebagaimana banyak pendapat yang berkembang pula, bahwa kini terjadi pengaburan pengertian yang cukup signifikan. Sebagai contoh, kini terdapat “santrinisasi priyayi”, juga terjadi “priyayinisasi santri”: untuk menggambarkan banyak orang yang dulu enggan bersentuh dengan Islam tapi belakangan bahkan berhaji, serta banyak lulusan IAIN yang sudah ke luar dari “kepompong ideologisnya” menjadi priyayi tulen. Jangan lupa bahwa kurun antara sejak diintroduksinya trikotomisasi (santri, abangan, priyayi) itu hingga dewasa ini, terdapat prosesi riuh rendahnya, karena peran politik represi Orde Baru juga penting, di samping sekarang ini perlu dikaji lebih lanjut dan detil. Tapi apa pun, dalam banyak hal, bacaan santri, abangan, dan priyayi, masih relevan untuk menjelaskan peta pemikiran politik di Indonesia. Tentu harus pula tetap kritis dalam penerapannya.
Salam: NHS
komentar mas NHS menyebut kesalahan alm. Geertz terutama adalah problem klasifikasi berbasis religi vs sosial ekonomi. “keluhan” lain atas tesis Geertz bisa dibaca dalam buku Mas Yudi Latif, Intelegensia Muslim dan Kuasa—yang melakukan pembacaan secara sinkronis sekaligus diakronis tentang Islam di Indonesia—adalah kemungkinan bermetamorfosanya status dari santri ke priyayi, dsb. meskipun keluhan ini mungkin hanya merupakan derivasi dari problem klasifikasi di atas, namun menarik untuk mencermati kategorisasi Geertz dikaitkan dengan kuasa (dalam perspektif Foucault). terimakasih.
Geertz Geser Dikotomi Jadi Trikotomi.
Assalamualaikum. Menurut pendapat saya, saat ini kehidupan beragama bukan lagi dikotomi, trikotomi, tapi sudah berubah menjadi tetrakotomi. Yang satunya itu adalah penganut “Religion”, bukan “religion”, entahlah, coba perhatikan umat Islam di dunia atau disekeliling kita.
Wassalam
H. Bebey
Terlepas dari berbagai kritik terhadap teori tuan Geertz, kita patut memberikan penghargaan kepadanya atas pandangannya mengenai tipologi masyarakat Indonesia (Jawa). Yang mengejutkan adalah sebuah kenyataan bahwa muslim Indonesia walaupun mayoritas tetapi masih abangan. Ya walaupun mereka konsisten menjalankan ritual. Tipologi Geertz itu seharusnya menjadi peringatan bahwa transformasi masyarakat Indonesia sangat terlambat, terutama juga karena adanya kesenjangan intelektual sehingga banyak Muslim yang minim pemahamannya tentang Islam. Karena itu Muslim Indonesia mengutip judul buku Abdl Karim al-Khatib baru “Muslimuna wa Kafa”, artinya “Cukup Mengaku Muslim”. Karena itu pula Islamnya Indonesia, meminjam istilah Bung Karno, merupakan “Islam Sontoloyo”. Tidak sedikit yang menggunakan agama hanya sebagai pengakuan saja, belum menjadi Islam yang tulen. Dan banyak pula yang menjadikan agama sekedar sebagai tunggangan kepentingan. Tak jarang islam diperalat bagi suatu kepentingan tertentu, baik itu kekuasaan, ekonomi, atau hasrat birahi. Islam belum menjadi satu roh, belum dijadikan satu kekuatan untuk membangkitkan bangsa dari keterpurukan. Kebanyakan masih berkutat pada kulit luarnya, pada fikih saja (fiqh oriented), dan melupakan etiknya. Karena itu, perlulah kiranya kita perhatikan daripada etik Islam supaya Islam kita tidak “abangan” lagi. Terima kasih untuk tuan Geetz.
——-
Itulah kenyataan Islam saat ini terutama di Indonesia, agama belum membumi, agama belum menjadi way of life, baru sekedar alat bersosialisasi, atau daftar riwayat hidup. Islam belum direlevansikan dengan tata-kehidupan, Islam baru ditunggangi nafsu duniawi, atau baru conceptual ukhrawi, yang hanya sekedar ritual belaka untuk menjemput surga di langit, sehingga kita lupa kalau surga itu di mulai di Bumi.
Komentar Masuk (5)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)