Pdt. Kuntadi Sumadikarya M. Th: Generalisasi Berlebihan Berarti Gagap Agama
Oleh Redaksi
Agenda agama-agama propagandis-misionaris acapkali ditentukan oleh seberapa besar kesuksesan yang dicatat dalam mengkonversi agama orang lain. Paradigma yang diusung tak pernah beranjak dari konsepsi lama bahwa “Tak ada keselamatan di luar Kristus.” Doktrin kuno yang sudah ditanggalkan oleh banyak kalangan Kristen mainstream ini justru dipakai oleh kaum evangelis Kristen untuk menjustifikasi penyuapan rohani (spiritual bribery).
Komentar
Yah, saya kira sudah saatnya kita mempraktekkan kepercayaan (agama-agama), kita secara benar (pendalaman secara benar), mengacu kepada “Allah Yang Esa”, dan benar sekali yang penting adalah pengkabaran, bukan pemaksaan atau mengambil kesempatan pada saat orang kesusahan (memberi bantuan, tapi ada maksudnya untuk memaksa masuk agamanya), memaksa orang, menghina orang (kepercayaan lain), menyatakan bahwa dirinya paling selamat, orang lain tidak (kesombongan), itu pun saya kira tidak diajarkan oleh Kristus.
Bahwa pendalaman agama harus lebih ditingkatkan, karena dalam kitab Injil juga mempunyai pengetahuan yang sangat luas. Pengkabaran yang baik tentang/mengenai “Allah Yang Esa”, dan dalam menafsirkannya juga harus yang benar. Kadang orang kristen sendiri masih banyak sekali yang kurang pendalamannya/menafsirkannya, apalagi yang secara keturunan sudah didoktrin sedemikan rupa, pokoknya saya orang Kristen terus selamat, orang lain tidak, tanpa ada penjelasan-penjelasan yang jelas mengenai keselamatan tersebut, tanpa mau menggali lagi ayat-ayat di dalam Injil secara jelas, serta menafsirkannya secara semaunya sendiri.
Pendalaman dan penafsiran yang benar, saya kira dapat (agar bisa) untuk mendialogkannya ke saudara yang muslim (minimal mencari kesamaan yang ada, walaupun mungkin ada perbedaannya). Yang berbeda ya tidak usah didialogkan. Tetapi yang penting menjelaskan (mengabarkan) secara sebenar-benarnya, tanpa ada paksaan atau cara-cara yang malah tidak populer (menolong tapi ada maksudnya), tetapi dengan pendalaman Injil secara benar, misalnya mengetahui bahasa Ibrani, yang merupakan bahasa asli dari Injil, serta maksud dari kata-kata huruf Ibrani. Contoh huruf besar kecil berpengaruh seperti “Tuhan (Adonai) beda dengan “ADONAI (TUHAN)”, seperti kata “Gusti” dalam bahasa jawa, ada “Gusti pangeran Diponegoro”, beda dengan “GUSTI ALLAH”. Dalam bahasa Ibrani, saya kira orang-orang Kristen perlu pendalaman atau pencarian yang lebih. Bukan sekedar berkeyakinan tapi tidak memiliki pengetahuan, yang cuma akan melahirkan fanatisme yang buta.
Mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya, kalau ada kata yang salah.
Sekian
Sebagai umat Islam yang moderat terutama para cendekiawan-cendekiawan muslim, tentunya mereka harus berpikir lebih Islami dalam artian tentang upaya-upaya mengembangkan dan membesarkan agama Islam itu sendiri, serta antisipasi terhadap adanya intervensi dari luar (non Islam). Jangan asal ngomong tentang prinsip-prinsip Islami tapi tanpa ada aplikasinya sama sekali.
Menurut saya sekarang bagaimana caranya kita sebagai umat Islam bisa menjalin kerukunan antar umat Islam apapun aliran Islam yang kita anut, karena apapun aliran Islam tersebut tetap bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Selama umat Islam tidak bersatu dan masing-masing kelompok saling mencari-cari kekurangan atau kesalahan tentunya akan menjadi sasaran yang empuk bagi umat Kristen untuk menjalankan misi Kristenisasi dengan memanfaatkan kelemahan-kelemahan yang kita buat sendiri.
Umat Islam sekarang ini cenderung bersifat individual dan egois demi kepentingan kelompoknya. Kerukunan antar muslim masih kurang satu contoh waktu Iraq di invasi oleh AS dan sekutunya sebagian umat Islam hanya diam seperti patung tanpa bisa berbuat banyak untuk bisa membantu Iraq dengan alasan yang sangat meggelikan yakni takut apabila AS dan sekutunya berbalik menyerang negara-negara muslim yang membantu perjuangan rakyat Iraq yang notabene negara Islam yang sebagian rakyatnya beragama Islam.
Di mana solidaritas kita sebagai sesama muslim sesama umat Nabi Muhammad. Seharusnya kita hanya takut kepada Allah karena hanya Allah-lah yang berkuasa atas semua makluk yang ada di muka bumi ini. Sekarang apa kita berani mengakui kesalahan kita sendiri?
Contoh sehari-hari adalah umat Islam yang mampu (secara materi) jarang sekali bahkan hampir tidak pernah memberi bantuan atau shodaqoh terhadap sesama muslim yang kekurangan disekitar kita…dan shodaqoh dianggap sebagai suatu formalitas yang kebanyakan umat Islam lakukan hanya untuk gugurnya kewajibannya dan itupun setahun sekali. Padahal kaum kita yang kekurangan apa juga setahun sekali untuk bisa makan, minum dan berpakaian yang layak sebagai manusia?
Saya tidak menyalahkan gerakan Kristenisasi yang masuk sampai kampung-kampung hingga desa-desa yang terpencil dengan dalih bantuan sembako. Kalau kita beranggapan bahwa gerakan Kristenisasi dengan dalih bantuan sembako ke kampung dan desa terpencil itu salah, karena melanggar aturan memeluk dan menyebarkan agama menurut saya pendapat tersebut salah, karena kalau kita tidak mau kehilangan umat dalam artian jumlah kenapa kita tidak berbuat seperti mereka yang bisa memberikan bantuan sembako untuk masyarakat yang membutuhkan toh umat Islam juga banyak yang mampu dalam hal materi (mudah-mudahan mampu juga dalam hal Aklaqul Khorimah).
Kita tidak bisa menyalahkan umat Islam yang tinggal di kampung dengan segala keterbatasan dan kekurangannya yang dengan mudah bisa berbalik memeluk agama yang menjadi musuh (waktu terjadi perang salib) kita. Karena mereka (warga kampung) lebih bisa bersikap realistis dengan alasan kenapa saya memeluk agama Islam toh dengan agama Islam kehidupan saya tidak berubah, sedang tetangga saya yang memeluk agama Kristen bisa hidup lebih baik atau layak sedangkan mata pencaharian kita sama?
Bukan berarti saya membenarkan gerakan Kristenisasi tersebut tapi cobalah kita menengok kebelakang kepada diri kita sendiri apakah kita umat Islam sudah benar-benar Islam (sudah mengamalkan Islamnya dalam kesehariannya?)
Biarlah mereka melakukan Kristenisasi. Toh Allah berfirman “Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku”. Yang terpenting bagaimana umat Islam sekarang lebih bisa Islami dan kerukunan tetap terjalin antar umat Islam itu sendiri sehingga tidak timbul perpecahan yang nantinya bisa menimbulkan celah-celah yang bisa dimanfaatkan oleh mereka (kaum kafir) untuk menyerang dan menghancurkan kita….saya ingat salah satu hadist Rosull yang menyatakan bahwa ”suatu masa akan datang dimana Islam akan dianggap asing oleh umatnya sendiri” Apa masa itu sudah datang?
Sekarang ini Islam dipakai tunggangan politik untuk kepentingan segelintir orang atau kelompok tertentu, dan masing-masing aliran Islam saling menyalahkan dan menganggap golongannyalah yang paling benar. Apa itu sudah benar-benar umat Islam yang Islami?
Apa kita hanya mengacu atau beranggapan bahwa besarnya suatu agama itu karena jumlah umat bukan kualitas umatnya?
Kalau acuan kita itu jumlah, anggapan atau acuan itu salah besar…karena percuma kita punya umat banyak tapi bodoh dan mudah dibodohi malah akan merusak Islam itu sendiri dan Islam tidak akan bisa berkembang karena kita tidak bisa menggali ajaran-ajaran yang ada di dalam Al-Qur’an, sedangkan apabila kita mempunyai umat yang berkualitas tentu akan lebih mudah menggali ajaran-ajaran yang ada didalam Al-Qur’an dan menerapkannya untuk kesejahteraan umat. Semua itu dengan catatan bahwa umat Islam harus benar-benar Islam dalam kehidupannya yang tentunya harus dimulai dari dirinya sendiri.
Insya Allah apabila kita sudah benar-benar Islami dalam kehidupan sehari-hari baik hablun min-Allah maupun hablun mi al-nas adanya gerakan Kristenisasi tidak akan membuat kita kuatir akan kehilangan umat bahkan mungkin kita bisa melakukan gerakan Islamisasi.
Saya sebagai generasi muda Islam tidak setuju dengan Kristenisasi, apalagi saat ini gerakan tersebut sudah membabi buta, cenderung kasar dan (maaf) kurang ajar. Mereka meniru cara-cara yang lazim dilakukan oleh umat Islam, seperti : memakai kopiah, berjilbab dll, bahkan ada satu sekte kristen - Kristen Ortodox Syria (KOS) yang ibadahnya persis seperti sholat, tilawatil Injil dll.
Gerakan seperti ini patut kita waspadai. Saya khawatir satu saat nanti Islam hanya tinggal nama.
Sebelum kita dibodohi oleh-oleh cara-cara Kristenisasi seperti ini, jangan berikan mereka ruang gerak yang lapang, tutup semua pintu kita dari kemungkinan seperti itu. Jangan mudah terpengaruh oleh sifat-sifat mereka yang pura-pura baik, padahal ujungnya mereka sangat berbisa sekali.
Saat ini juga banyak sekolah-sekolah yang mempelajari islam secara seksama, yang pada akhirnya bertujuan untuk mengkristenkan umat Islam sebanyak-banyaknya, ada STT Kalimatullah dll.
Kalau melihat gerakan mereka yang sistematis, kita harus merapatkan barisan menghadapi hal ini. Jangan terpengaruh dengan manisnya toleransi beragama yang mereka ucapkan, karena bila kita lengah mereka secara licik mulai melaksanakan kegiatan kristenisasi ini.
Gerakan mereka biasanya menyerang saudara-saudara kita yang miskin, diiming-imingi indomie, uang dll bahkan ada suatu tempat yang berkedok penyembuhan korban narkoba padahal ujung-ujung tempat untuk mencuci otak umat muslim yang tertipu oleh bujuk rayu mereka.
Sekali sekali kelihatannya kita harus keras kepada mereka. Usul saya buat anda orang-orang JIL, jangan terlalu liberal amat yaa, soalnya mereka senang dengan JIL ini. Alasannya JIL lebih toleransi, padahal di balik itu mereka menyusun kekuatan melumpuhkan umat Islam. Jadi waspadalah saudara-saudaraku ...........!!!
Redaksi:
Terima kasih atas usulannya.
Saya setuju saran Sdr. Rully Zaini. Saya punya pengalaman sendiri mengenai Gaya Kristenisasi. Waktu itu saya sedang Kuliah Kerja Nyata di daerah Blitar. Di situ saya melihat sendiri cara kristenisasi yaitu dengan cara mengumpulkan orang ke suatu tempat dengan telah dipersiapkan kursi tamu dan makanan yang terbilang mewah bagi ukuran masyarakat desa dan disediakan televisi kira-kira 29 inc untuk menyetel film kisah Yesus. Kebetulan tempat acara kristenisasi di tempat di mana kami dipondokkan oleh Pak Lurah setempat. Jadi kami melihat langsung. Tapi Alhamdulillah cara tersebut gagal berkat kerja keras kami yang mengumpulkan anak-anak untuk kami ajak mengaji bersama, dan acara tersebut nihil dalam arti tidak satupun penduduk setempat yang datang. Mungkin mereka sadar bahwa itu adalah acara kristenisasi.
Buat JIL mungkin Anda sudah tahu dari investigasi Anda tentang cara2 kristenisasi. Tolong diberi wawasan buat orang-orang yang lemah aqidahnya agar tidak mudah terperosok ke jurang kemurtadan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama sebagai umat Islam yang menjujung tinggi kebenaran. Semoga JIL mendapat rahmat dari Allah, agar bisa berperan sebagai media informasi umat, dan bukan media untuk membingungkan umat. Umat Islam di Indonesia itu mayoritas tapi apakah Anda sadar kalau pengetahuan tentang Islam mereka minim? Karena bagi mereka Islam cuma Ibadah Sholat & Puasa. Untuk itu marilah kita terangi alam pikiran mereka supaya tidak terperosok oleh tipu daya orang yang benci Islam.
Sdr. Andi, tugas mulia dan “naluri” setiap agama adalah menyebarkan agama untuk “menyelamatkan” umat manusia. Islam, Hindu, Budha, demikian juga Kristen. Tak ada salah dengan penyebaran agama Kristen, seperti juga Syiar dalam agama Islam.
Yang salah adalah para ulama kita yang cenderung mementingkan diri sendiri, cari selamat sendiri, cari kaya sendiri.
Orang Kristen melakukan Kristenisasi bukan hanya di Blitar tapi juga di seantero dunia. Bahkan di pedalaman Irian Jaya, di tengah hutan gung liwang liwung. Para missionaris tinggal di atas pohon puluhan tahun dalam rangka mengkristenkan mereka.
Memangnya ada ulama yang berbuat yang sama ke sana?
Saya Islam, dan saya tidak cemas dengan Kristenisasi. Seandainya mereka menyebar juga why? Mungkin cocok dengan kebutuhan bangsa ini, di saat ini? Saya sendiri tetap Islam, bangga dengan Islam. Sampai sekarang. Orang pindah agama tak semudah ganti pesawat atau sepeda motor. Mereka punya alasan kuat.
Wake up, Man! Anda bukan tinggal Negeri Taliban yang seluruhnya Islam dan hidup seperti di zaman Nabi. Wajib piara jenggot, dan wanitanya pakai burqah. Ini abad 290 di Indonesia. Negara melindungi 5 agama besar. Sejauh mereka baik, its okey. Orang Kristen, Budha Hindu kalau mendatangkan kesejahteraan bersama, ketertiban, saling memberikan kontribusi untuk kemajuan and gaul ‘kan okey? Daripada ngaku-ngaku Islam sejati tapi ngebom-ngebom, membunuh orang gak berdosa. Menjarah kafe, ngrampas-ngrampas handpone pengunjung. Bikin malu!
Wake up, man. Anda hidup di abad 20 di Indonesia!!!
Sdr. Pangestu,
Wake up man (mengambil istilah anda) kelihatan sekali anda sangat ketinggalan. Siapa bilang ulama kita tidak ada yang menyebar ke daerah-daerah pelosok, banyak bung ..!! Anda bisa cek ke desa-desa terpencil di Kalimantan, Sumatra dll. Mereka itu lulusan pesantren yang punya tugas mulia membangun manusia berakhlak dengan cara yang sederhana tanpa banyak gembar-gembor bahkan mereka mengorbankan jiwanya demi kejayaan Islam.
Wake up man, kalau anda bilang banyak orang Islam yang ngebom dll, itu oknum bung, dalam ajaran Islam tidak ada ketentuan seperti itu, pasti mereka salah mengartikannya, dan juga sekarang ini kita semua tahu masalah bom, bukan lagi agama tapi sudah bergeser ke wilayah politik, bisa juga ini rekayasa Barat / Kristen dan Yahudi (?) untuk memecah belah umat Islam (??).
Wake up man, Kristenisasi saat ini sudah mengkhawatirkan, karena mereka sudah tidak lagi mengindahkan ketentuan yang diatur pemerintah, bahkan ada yang pakai mengancam, memperkosa atau meracuni pemuda/pemudi dengan narkoba baru kemudian dimurtadkan, wake up man, apakah sdr. Tumbuk sudah membaca semua fenomena ini.
Jadi wake up man, ini memang abad 20 dan kita hidup di Indonesia, tapi kita juga harus waspada dengan bahaya kristenisasi, karena mereka tidak akan senang sebelum kita mengikuti mereka. Jadi wake up ya Sdr. Tumbuk ............. (Janganlah anda mengecilkan umat anda sendiri man ..!!!)
Membaca tuduhan apriori dari anda, saya pikir tidak sedangkal itu motivasi kristen. Kristen bertugas memperkenalkan “the love of Jesus” kepada siapa saja yang mau. Tidak ada manipulasi seperti yang anda tuduhkan. Ketakutan islam di indonesia ini terhadap isu kristenisasi yang sering dijadikan alasan untuk membakar gereja, membunuh orang Kristen, tidak memberi izin mendirikan sekolah, rumah sakit sebagai pelayanan umum masyarakat terlalu berlebihlebihan. Kalau islam sungguh berakar dalam masyarakat indonesia saya pikir ketakutan yang berlebihlebihan tidak perlu ada dan tidak perlu ada penindasan kepada sesama manusia demi nama Allah. Allah kok dibelabela. Biarkan saja Allah membela dirinya. Kok manusia ciptaan mau membela penciptanya. Saya jadi heran melihat perilaku islam indonesia. Saya sudah hidup di timur tengah, tidak ada sikap islam seperti di indonesia. Anda harus tahu agama kristen jelas berpihak kepada orang marginal. Tiada pilihan selain mengasihi mereka dengan motivasi memperkenalkan kasih Jesus Kristus. Jadi tidak perlu kita mencari kambing hitam dalam beragama. Terimakasih. Tuhan memberkati saudara.
Anda menuduh memabi buta, pada hal anda yang juga lebih membabi buta. Menuduh yang bukan-bukan dengan syak wasangka itu dosa pak. Anda belum mengenal siapa orang kristen, dan mengapa mereka mengasihi orang lain. Kristen mengasihi karena dia percaya bahwa Allah telah memberi banyak berkat untuk dia. Maka ia harus mempersembahkannya kembali kepada Allah apa yang dia dapatkan melalui mengasihi sesama manusia sama seperti sendiri. Bukan seperti perkataan sdr “kurang ajar”, “harus dihajar keras” bukan orang beragama itu. Preman di pasar saja yang tidak jelas agamanya apa juga tidak seperti ungkapan sdr tersebut yang menyebut dirinya beragama. Janganlah begitu pak. MariLAH kita bercermin setiap saat, apa kita memang lebih baik dari orang lain. Kita sama-sama orang berdosa, penuh kelemahan di hadapan Tuhan. Apalah kita ini. Semua manusia adalah ciptaan Tuhan. Tuhan saja sang pencipta tidak semenamena kepada ciptaanya. Namun gaya sdr sudah seperti sang Penguasa seolaholah lebih tinggi dari Tuhan. Bercerminlah. Tuhan memberkati sdr.
——-
saran: sebelum saudara-saudara memberikan komentar ada baiknya kita simak baik-baik secara positif thinking maksud si penulis. tapi jangan dalam komentar ini menjadi ajang untuk saling menyudutkan, menghakimi dsb. mari kita bangun dialog yang saling membangun tapi bukan untuk menjatuhkan satu sama lain. trima kasih aku cinta Indonesia
Komentar Masuk (9)
(Tampil semua komentar, ascending. 20 komentar per halaman)